
Hai hai hello 🤗 Ogenki desu ka?
(Apa kabar?)
Jumpa lagi sama episode bonus yaa kaya yang dulu. Author sengaja kasih ekstra part buat ending season ini 😋
Ada beberapa readers yang gemes sama Aira yang selalu nolak Ken waktu minta 'itu'. Sebenernya ada beberapa alasan sii kenapa author seolah membatasi interaksi Ken-Aira ini.
Pertama, author ngga berpengalaman sama sekali tentang hal 'itu' jadi takutnya aneh kalo bahas ke arah sana & ngga sesuai fakta yang ada. Author yakin, banyak readers yang lebih tahu karena mereka sudah berumah tangga. Kan ngga lucu kalo author bilang A ternyata kenyataan di dunia nyata B.
Alasan kedua, author belum punya ilmunya karena belum searching di google. Jadi author ngga berani bikin adegan Ken-Aira ... (you know lah yaa 😁) Nah, ini sengaja author cari artikel di internet. As usually (seperti biasa) kalo yang ngga suka baca artikel, penjelasan atau sejenisnya, bisa langsung di skip aja. Buat yang masih bersedia membacanya, author ucapkan terima kasih atas atensi kalian 🙇
Ah, karena ini author ambil dari dunia maya, jadi mohon maaf jika ada informasi yang keliru. Sungguh author ini masih pemula dan masih ingin terus belajar, ayo kita belajar bareng.
Selain itu author juga gampang kena writers block syndrome. Kadang ada komentar yang pedes dikit langsung bikin author insinyur loh 😢😭😭 Eh, insecure maksudnya 😂😂 Jadi mohon jangan terlalu frontal kalo mau komplain yaa, takutnya aku ngambek dan ngga feel nulis lagi. Kan bahaya buat dompet *eh? canda deng, hehe.
Buat semua readers yang masih meluangkan waktu buat baca tulisan ini, semoga Allah membalas kebaikan kalian semua karena bersedia membantu seseorang mendapatkan rezekinya dari menulis novel online. Jujur, author menggantungkan banyak mimpi besar di sini. Tanpa kalian karya ini bukan apa-apa.
Author minta maaf yang setulusnya jika selama 2 season ini banyak hal yang terjadi, entah itu membuat kalian ngga nyaman, dimarahin emak karena main hp mulu (ini sii author curhat 😅), jalan ceritanya ngga sesuai ekspektasi, sering typo, nulis bahasa asing tapi lupa ngga ada artinya, atau apapun itu. Hontou ni gomenasai 🙏
Semoga kedepannya, karya ini bisa lebih baik lagi. Aamiin.
Buat kalian yang mau japrian sama author juga boleh kok, chat aja 08980767250 atau DM instagram Hanazawa Easzy. Author seneng punya banyak temen, lintas daerah, lintas pulau, apalagi kalau lintas negara 💃 Makin banyak temen, banyak ilmu yang bisa di dapat.
Akhir kata... Big thanks buat kalian semua 🙏
I purple you 💜😘😘
Selamat membaca,
Hanazawa easzy 💜
...****************...
Ken berdiri di balkon sambil menatap langit yang mulai terlihat terang. Asap putih berhembus dari mulutnya, menguar di depan wajah dan menghilang di udara. Ia kembali menyesap gulungan tembakau itu dalam-dalam dan menghembuskan asap dari mulutnya. Hal itu ia lakukan berulang-ulang. Bahkan sudah ada dua puntung rokok yang tandas di atas asbak. Ini adalah batang ke tiga yang hampir ia habiskan pagi ini, hanya dalam hitungan beberapa menit saja.
"Sejak kapan kamu merokok?" tanya Kaori sambil mendekati pria yang sedikit lebih muda darinya itu.
__ADS_1
"Apa masalahnya untukmu?" tanya Ken ketus. Ia tidak suka waktu pribadinya diganggu siapapun.
Kaori tersenyum hambar sambil membenahi pakaian hangatnya. Sebagai dokter dan psikolog, ia tahu kondisi emosional Ken sedang tidak baik saat ini.
"Tidak masalah untukku atau untukmu, tapi mungkin akan bermasalah untuk Aira dan bayi kalian." jawab Kaori dengan tenang.
"Yang benar saja. Apa kalian bekerjasama membodohiku?" tanya Ken tetap dengan nada dingin tak bersahabat sama sekali.
"Aku tidak membodohimu. Kenyataannya, kondisi kehamilan Aira memang beresiko." ucap Kaori lirih. Nada kekhawatiran terdengar jelas dari mulutnya.
"Apa maksudmu?" tanya Ken, netranya menyipit mencari kebenaran dari perkataan dokter cantik itu. Ia mematikan rokoknya dan fokus pada penjelasan Kaori. Ken mendengarkan dengan seksama apa yang akan dikatakan oleh wanita 29 tahun itu.
"Rahimnya kuat, bayi kalian sehat, tapi ketahanan fisik Aira tidak lagi maksimal." jawab Kaori, telapak tangannya menangkap butiran salju yang turun dari langit, "Meskipun antivenom itu bekerja dengan baik, bukan berarti tubuh istrimu terbebas dari bahaya. Dia menjadi terlalu sensitif dengan kondisi di sekitarnya, panas, dingin, bahkan angin, semua bisa membuatnya tumbang."
"Kamu ingin menakutiku?" Ken meragu
Kaori menggeleng, "Itu fakta."
Ken meremas rambutnya dengan kasar. Ia tidak pernah berpikir kondisi istrinya begitu rentan bahaya. Secara kasat mata, wanitanya itu terlihat baik-baik saja. Tidak ada sesuatu pun yang mencurigakan.
"Apa itu artinya kami juga tidak bisa berhubungan? Apa itu akan membahayakan nyawanya?" tanya Ken setelah berhasil menguasai diri dan kembali memasang wajah tanpa ekspresi.
"Dia menolakmu?" tanya Kaori. Ia berusaha menyembunyikan senyum di wajahnya. Ken yang tak kenal ampun di dunia gelap, ternyata tidak bisa menaklukkan istrinya.
"Tidak. Bukan begitu. Dia selalu menghindar saat aku berusaha mendekatinya." jawab Ken canggung.
"Berhubungan dengan pasangan saat hamil tetap dapat dilakukan agar keharmonisan tetap terjalin dengan baik. Hanya saja, ada hal-hal yang harus diperhatikan, terutama saat sedang hamil muda seperti Aira sekarang." Kaori memilih duduk di kursi besi yang ada di belakang Ken, membelakangi pintu. Ia menatap semburat merah yang muncul di timur, membiaskan warna jingga di langit yang menyerupai kipas setengah lingkaran.
"Berhubungan saat hamil muda pada umumnya aman dilakukan. Ingat, pada umumnya!" Kaori mengulang kata-katanya agar Ken memahami penjelasannya, "Hanya saja, sebagian ibu hamil merasa enggan untuk melakukan karena beberapa hal, entah itu karena takut, gairah mereka menurun, mood-nya berubah-ubah, atau badannya yang terasa lemas. Terlebih lagi, Aira memiliki trauma tersendiri sebelumnya. Apa kamu lupa apa yang kamu lakukan pada istrimu sampai Yoshiro membawanya pergi dengan paksa?"
Ken mencengkeram besi berulir di depannya, tampaknya ia tidak sabar mendengar inti penjelasan dari Kaori. Tapi dia juga tidak berani memotong kalimat yang diucapkan wanita ini. Semua yang diucapkan olehnya adalah ilmu yang baru untuk Ken. Hal yang sama sekali belum pernah ia dengar sebelumnya.
"Jangan terlalu memaksakan diri Ken." nasihat Kaori, "Efek traumatik yang diderita setiap orang berbeda-beda. Dengan segala luka fisik maupun batin yang kamu torehkan waktu itu, mungkin perlu bertahun-tahun untuk melupakannya. Bersyukurlah karena Aira masih mau menerimamu dan tetap ada di sisimu sampai detik ini. Aku pikir dia takut sisi monstermu akan menguasai seperti sebelumnya, jadi dia selalu membuat dinding tak kasat mata saat kamu menunjukkan sinyal-sinyal tertentu."
Ken meraup wajahnya dengan kasar. Apa yang Kaori katakan semuanya benar. Ia juga masih ingat betapa ganasnya monster itu memporakporandakan pertahanan Aira, membuatnya terluka begitu dalam. Bahkan, mendengar suara Ken saja membuat tubuh Aira bergetar hebat karena ketakutan.
"Sebagai seorang suami, kamu juga harus mengenali kondisi istrimu. Selama kehamilan, ada berbagai perubahan yang terjadi pada tubuh ibu hamil. Salah satunya adalah leher rahim menjadi semakin sensitif. Jika hubungan dipaksakan saat hamil muda, maka bisa terjadi perdarahan melalui ******. Hal itu akibat kondisi leher rahim yang sensitif dan permukaan organ reproduksi wanita yang terluka."
__ADS_1
BAMM
Ken memukul pagar besi setengah badan di depannya. Ia merasa begitu bodoh dan tidak tahu apa-apa tentang kondisi kehamilan istrinya itu. Dia mudah marah karena Aira menghindarinya, tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya yang mungkin membahayakan keadaan Aira dan bayi mereka.
"Aira tidak sepenuhnya bersalah karena sudah menolak keinginanmu. Ada beberapa kondisi yang dapat membuat ibu hamil sebaiknya menghindari berhubungan saat hamil muda, seperti plasenta previa, solusio plasenta, pernah melahirkan prematur, pernah keguguran, rahim terbuka sebelum waktunya, atau karena kehamilan kembar yang dimungkinkan ada janin lebih dari dua di dalam rahimnya."
Ken mengurut pelipisnya, meredakan denyutan di kepalanya yang mulai terasa setelah mendengar istilah medis yang Kaori ucapkan. Ia benar-benar bodoh.
"Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Selama ibu hamil dalam keadaan yang sehat dan tidak memiliki riwayat gangguan kehamilan atau keguguran sebelumnya, berhubungan badan saat hamil muda sebenarnya aman dilakukan. Tetapi gairah ibu hamil muda biasanya akan menurun akibat beragam gejala dan perubahan yang dialami pada kehamilan trimester pertamanya. Maka dari itu, langkah yang harus dilakukan adalah menciptakan suasana yang nyaman terlebih dahulu." Kaori kembali berdiri, menyejajarkan badannya dengan Ken di belakang pagar besi yang membatasi mereka agar tidak terjatuh ke bawah. Ya, keduanya tengah ada di balkon lantai dua rumah sewa ini yang terasa seperti vila di Indonesia.
"Apa lagi?" tanya Ken antusias. Ia berharap bisa mempraktekkannya nanti saat sudah ada di Jepang.
(Note : ini ilmu dalam dunia medis, bukan bermaksud membahas hal buruk/hal tabu atau sejenisnya. Be smart readers yaa 😉)
Kaori tersenyum, "Pastikan suhu ruangan nyaman, ada alas yang aman dan nyaman untuk berbaring, dan jauh dari aroma yang menyengat. Kamu juga bisa menyalakan lilin atau musik untuk membuat suasana makin nyaman. Selain itu, posisi badan memainkan peran penting dalam berhubungan saat hamil. Hal ini karena adanya janin atau bayi dalam kandungan, sehingga posisi yang dilakukan tidak boleh sembarangan. Sebaiknya lakukan hubungan dalam posisi yang nyaman untuk ibu hamil. Posisi berbaring menyamping dan woman on top dapat menjadi pilihan. Pastikan tidak menekan atau mengimpit perut ibu hamil, seperti pada posisi misionaris atau telentang." jelas Kaori.
Ken menganggukkan kepalanya dua kali, mengingat saran Kaori dengan jelas.
"Agar semakin nyaman, jangan terburu-buru dan usahakan untuk selalu relaks. Bila perlu, gunakan pelumas ******. Hal ini akan membantu ibu hamil merasa tidak sakit ketika penetrasi dilakukan. Jangan memaksa ibu hamil untuk berhubungan jika memang ia sedang tidak mood. Bersabarlah dan tunggu momen yang tepat. Untuk meminimalkan bahaya berhubungan saat hamil muda, ibu hamil sebaiknya memeriksakan diri secara rutin ke dokter kandungan. Jika masih ragu, tanyakan ke dokter kandungan apakah perlu menghindari hubungan sama sekali saat hamil muda." pungkas Kaori sambil tersenyum. Ia menjelaskan hal yang membuat Ken lega. Kemarahan di dadanya menguap tak bersisa saat ini.
"Terima kasih atas penjelasannya. Aku akan meminta Kosuke mengirimkan tanda terima kasih padamu begitu sampai di Jepang. Apa ada yang kamu inginkan saat ini?" tanya Ken.
"Apa kamu akan memberikannya padaku secara cuma-cuma?"
"Mungkin. Katakan saja." jawab Ken.
"Aku menginginkan 50% saham milikmu yang ada di Miracle, apa itu mungkin?" canda Kaori.
"Bagaimana kalau aku mengakuisisi rumah sakit milik ayahmu terlebih dahulu? Ah, semua rumah sakit cabang juga akan ada di bawah kendaliku." balas Ken spontan.
Kaori terkejut dengan serangan balik dari Ken. Keduanya tertawa bersama tanpa mengetahui wanita berjilbab yang berdiri di balik pintu. Aira tidak sengaja mendengar semua percakapan Ken dan Kaori. Ia menggigit bibir bawahnya, kebiasaan saat ia merasa takut atau khawatir.
...****************...
Cuap-cuapnya udah ada di atas, jadi sekarang cuma mau ngomong : Please like, vote & tinggalkan jejak yaa biar author makin cinta sama abang Ken, eh maksudnya makin tjinta sama readers semua 😅😃😃😆😆
Mata ashita ne,
__ADS_1
(Sampai jumpa besok)
Hanazawa easzy 💜