
Jam di atas nakas menunjukkan pukul tiga pagi saat Ken meraba tempat tidur di sampingnya. Tidak ada siapapun di sana, membuat pria itu membuka matanya.
"Ai-chan," panggilnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
Hening
Tak ada yang menyahut, membuatnya harus menatap sekeliling ruangan berwarna coklat ini. Sosok istrinya tak terlihat. Ia terpaksa bangun dan menuju kamar bayinya di ruangan sebelah.
"Tuan Muda, ada yang bisa saya bantu?" tanya Sakura saat mendapati Ken membuka pintu geser di samping tempatnya duduk. Ia tetap terjaga sepanjang malam, karena ini gilirannya.
Saat Sakura berjaga, maka dua rekannya diizinkan tidur. Mereka bergiliran setiap tiga hari sekali. Ya, ketiga pengasuh bayi itu sengaja diatur sedemikian rupa oleh nyonya Sumari. Ia mewajibkan salah satu dari tiga pengasuh cucunya untuk tetap siap siaga sepanjang malam, mengantisipasi adanya hal-hal tak terduga yang mungkin terjadi. Tentu saja tugas utamanya membantu Aira mengasuh putra putrinya.
"Apa Aira di sini?" tanya Ken dengan wajah tanpa ekspresi miliknya.
"Ya," jawabnya. Ia melebarkan pintu itu semaksimal mungkin, mempersilakan tuan muda keluarga Yamazaki untuk masuk dan menemui istrinya. Namun Ken tak bergerak sedikit pun.
"Jam berapa dia datang kemari?"
"Sekitar jam dua belas. Nona Ayame menangis dan tidak mau berhenti menyusu. Stok ASI yang nyonya muda perah siang tadi, sudah habis. Jadi saya terpaksa membangunkannya," ucapnya tak enak hati. "Nyonya baru tertidur satu jam yang lalu. Dia terlihat begitu lelah. Saya benar-benar minta maaf."
"Tidak masalah. Memang seperti itulah tugasmu. Sekarang mereka aman bersamaku. Kamu boleh pergi." Ken memberi kesempatan pengasuh anak-anaknya ini untuk istirahat.
Sakura menunduk, "Terima kasih. Saya undur diri," ucapnya sebelum keluar dari ruangan ini.
Ken melangkah melewati pintu kayu di depannya. Netranya langsung tertuju pada seorang wanita dalam balutan piyama tidur tanpa lengan bermotif bunga sakura. Sebelah tangannya membentang, berusaha mendekap ketiga anaknya. Hal itu membuat Ken tersenyum. Hatinya menghangat mendapati tiga bintang dan satu mataharinya terlelap dalam tidur nyenyak di atas ranjang.
Ken mendekat ke arah Aira, duduk di tepi ranjang. Ia membenahi rambut istrinya yang sedikit berantakan dan mengecup kepalanya sekilas, takut membangunkannya.
Pria lesung pipi itu menatap wajah tidur istrinya yang tampak begitu damai. Pipinya terlihat bulat, tak berubah sejak pertama kali mereka bertemu di Indonesia. Namun, tulang di puncak lengan dan pergelangan tangannya terlihat menonjol, sepertinya ia kehilangan berat badannya cukup banyak setelah melahirkan.
Mengurus tiga bayi bukanlah hal yang mudah. Aira seringkali hanya tidur tiga atau empat jam. Bahkan terkadang bisa kurang dari itu jika ketiga bayinya terus minta makan. Apalagi putrinya, Ayame. Ia yang paling kecil di antara ketiganya, tapi ialah yang paling banyak menyusu. Sungguh membuat Ken heran.
"Akari-kun, kita kembali ke keranjangmu, ya," bisiknya sembari mengangkat putra sulungnya yang tertidur pulas. Ia meletakkan bayi merah itu ke keranjang yang Aira beli bersama ibu tempo hari. Hal yang sama juga ia lakukan pada Azami, si Bungsu. Tersisa Aya di dalam dekapan Aira, tapi putrinya ini begitu dekat dengan ibunya. Ken takut akan membangunkan Aira jika ia tetap memindahkan si Cantik berpipi tembam ini.
Ken mengalah, memilih membiarkan Aya tetap di sana. Perlahan pria ini naik ke atas ranjang dan memijat kaki Aira dengan hati-hati. Seperti saran yang ibunya berikan, ia harus membantu meringankan beban istrinya ini. Bagaimanapun juga, Aira kelelahan karena mengurus buah hatinya, ketiga bayi hasil perbuatannya sembilan bulan yang lalu.
Ya, pertama kalinya Ken 'menyentuh' Aira adalah saat di akademi. Malam sebelum ujian akhir kelulusan. Ia tidak tahu, bahwa malam itu ratusan atau bahkan ribuan benih yang ia tanam di rahim istrinya, akan berkembang menjadi bakal calon ketiga anaknya ini. Itu masa subur Aira, membuatnya hamil hanya dengan sekali berhubungan. Entah Ken yang luar biasa atau Aira yang tak terkira. Entahlah, itu bukan hal yang penting lagi sekarang.
Bayang-bayang kejadian masa lalu berkelebat di kepala Ken. Ia mengingat setiap momen yang ia lalui bersama Aira. Ada begitu banyak luka yang ia torehkan kala itu, membuatnya merasa begitu bersalah.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Ken?" tanya Aira saat membuka matanya. Ia mendapati Ken tengah duduk bersila di sebelah kakinya, memijatnya perlahan.
"Apa aku membangunkanmu?" tanya Ken pada wanita yang kini duduk di hadapannya.
"Tidak," jawab Aira singkat. Ia segera menarik kakinya, tidak ingin Ken melanjutkan kegiatannya lagi.
"Apa kamu mencariku atau membutuhkan sesuatu? Apa kamu lapar? Aku bisa memasak untukmu sekarang. Mau makan apa?" Pertanyaan Aira yang bertubi-tubi itu justru membuat Ken tersenyum. Ia selalu suka saat Aira mengkhawatirkannya seperti ini. Ia merasa Aira masih memperhatikannya meski sibuk mengurus ketiga buah hati mereka.
"Mau memakanmu, boleh?" tanya Ken sengaja menggoda istrinya.
Ckiit
Aira mencubit lengan suaminya, membuatnya mengernyit saat itu juga.
"Terus saja mengatakan hal-hal seperti itu. Tidak akan mempan lagi untukku!" ketus Aira, merasa sebal karena Ken menanggapi pertanyaan seriusnya dengan candaan. Ia benar-benar khawatir Ken kelaparan karena ia melewatkan makan malamnya setelah Kosuke menelepon. Suaminya itu harus kembali ke perusahaan. Ada hal penting yang terjadi di sana. Sampai Aira terlelap, pria lesung pipi itu belum pulang juga.
"Maaf, aku tidak menunggumu pulang dan tidur lebih dulu," ucap Aira sambil beranjak bangun. Ia memindahkan Aya ke dalam keranjang berwarna pink yang ada di tengah kedua keranjang saudaranya.
"Tak apa. Aku yang seharusnya minta maaf karena ingkar janji padamu. Bagaimana kalau kita kesana sekarang? Pemandangan matahari terbit dari atas bukit pasti belum pernah kamu lihat, 'kan?" Ken mendekat dan memeluk istrinya dari belakang.
"Tidak mau. Tidak ada stok ASI, aku tidak bisa meninggalkan mereka." Aira membiarkan Ken meletakkan dagu di atas bahunya. Jemarinya menangkap tangan Ken yang mengekang pinggangnya.
Aira tersenyum. Memang benar ia lelah, tapi ia juga sadar bahwa ini adalah tanggung jawabnya sebagai seorang ibu. Ia tidak bisa membiarkan mereka tak terurus.
"Justru kamu yang terlihat kelelahan. Apa ada masalah?" tanya Aira, ia mengelus rahang kokoh suaminya yang terlihat lebih tirus dari sebelumnya.
"Umm," Ken mengangguk. Ia memeluk istrinya dengan erat, berharap beban di hatinya sedikit terurai.
Aira menepuk-nepuk punggung suaminya, memberikan kenyamanan pada ayah dari anak-anaknya ini. Sebagai seorang istri, sudah seharusnya ia memberikan dukungan saat suaminya terpuruk.
"Ayo duduk. Katakan apa yang terjadi, mungkin aku bisa membantumu." Aira membawa Ken duduk di ranjang yang ia tinggalkan sebelumnya.
"Ada masalah apa?" tanyanya lembut.
"Keluarga dokter Olivia menuntut Miracle atas pencemaran nama baik," jawab Ken lirih.
"Eh, bagaimana mungkin?" Aira tak percaya dengan apa yang di dengarnya. "Bukankah mereka tahu bahwa Miracle juga menjadi korban di sini? Lagipula dia sudah keluar dari Miracle Aesthetic Center yang ada di Osaka, jadi dia bukan bagian dari Miracle lagi. Kematiannya tidak ada hubungannya dengan kita," ketus Aira kesal.
"Tenang sayang." Ken membelai rambut hitam panjang Aira yang sedikit ikal di ujungnya. "Justru kita bisa menangkap 'otak' yang merencanakan semua ini."
__ADS_1
"Otak?" Aira tampak berpikir, terlihat dari keningnya yang berkerut cukup dalam. "Maksudmu ada seseorang di balik semua ini?"
"Benar!" jawab Ken tegas.
Aira membulatkan matanya. Ia penasaran dengan penemuan yang suaminya dapatkan. Masalah yang terjadi akhir-akhir ini cukup pelik. Selain harus mengurus keuangan perusahaan yang mengalami penurunan pendapatan dibanding awal tahun kemarin, Ken juga harus berjibaku menangkap pembunuh dokter Olivia.
"Ada yang sengaja mengirim seseorang untuk berpura-pura sebagai dokter Olivia. Dan mereka sengaja menyasar istri tuan Harada, salah satu politisi yang akan maju dalam pemilihan anggota parlemen awal tahun depan. Tapi ternyata respon nyonya Suzuki tidak seperti yang mereka harapkan. Bukannya membuka kasus ini ke publik, ia justru datang langsung ke Miracle untuk menemuiku."
Aira menyimak dengan seksama penjelasan yang Ken sampaikan.
"Itu sebabnya tiba-tiba ada berbagai berita miring di internet, mengatakan bahwa Miracle mengeluarkan produk kosmetik palsu. Padahal yang mengetahui hal ini hanya nyonya Suzuki dan putrinya. Dan mereka sudah berjanji akan tutup mulut sampai penyelidikan selesai." Ken mengembuskan napas kasarnya. Masih ada begitu banyak teka-teki yang belum ia pecahkan.
"Jadi, mereka sengaja ingin menembak dua burung dengan satu peluru?" tanya Aira. Ia mulai paham situasinya sekarang
"Benar. Sayang sekali peluru itu justru merenggut nyawa dokter Olivia lebih dulu. Mereka membunuhnya agar ia tidak bisa menjadi saksi atas propaganda ini."
"Tunggu!" cegah Aira. "Ada yang janggal di sini." Ia tampak berpikir keras.
"Ada apa?" tanya Ken tak mengerti.
"Katamu sejak dokter Olivia resign dari tempat perawatan kecantikan itu, dia tidak pernah merawat siapapun. Ia sibuk mengurus yayasan thalasemia?"
"Ya. Itu benar. Kosuke sudah mengonfirmasi hal itu."
"Lalu, siapa yang menghubungi nyonya Suzuki dan menawarkan perawatan di rumah?" Aira ingin tahu lebih banyak.
"Aku belum menemukannya. Dari rekaman CCTV di rumah nyonya Suzuki, orang itu selalu memakai masker dan kacamata. Penampilannya terlihat sama persis seperti dokter Olivia. Penyamarannya sempurna." Ken mengingat hasil rekaman kamera pengawas di rumah nyonya Suzuki.
"Bukan itu. Maksudku ponselnya. Orang itu memakai nomor ponsel dokter Olivia. Apa mungkin ada satu nomor yang digunakan oleh dua orang? Apa mungkin seseorang meretasnya?"
Netra Ken membola seketika. Ia mengabaikan satu fakta tersembunyi yang penting ini. Ia segera berlari ke kamar demi mengambil laptopnya. Pria itu segera menghidupkan benda elektronik di depan Aira, memeriksa hasil scanning ponsel milik dokter itu. Yu berhasil menyelamatkannya.
"Ini dia!" ucap Ken dengan mata berbinar, seolah menemukan harta karun di depannya. Ini fakta tersembunyi yang ia cari.
...****************...
Berhenti baper-baperan! Lanjut pusing mikir teka-tekinya. Dasar Author kurang kerjaan 😂😂
Like n komen ya. See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy