Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Terlalu Banyak, Terlalu Dalam


__ADS_3

Ken mengalami kecelakaan tunggal yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Ia mengalami patah tulang di pergelangan kaki kanannya dan beberapa luka di bagian tubuh yang lain. Ia berkendara di bawah pengaruh alkohol, membuatnya kehilangan fokus dan akhirnya menabrak bahu jalan.


Meski jantungnya sempat berhenti saat menjalani operasi, nyatanya Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuknya. Ia selamat dan berhasil melewati masa kritisnya.


Tubuh Ken masih terbaring di ranjang perawatan rumah sakit saat Aira masuk ke dalam ruangan. Ia membawa kotak bekal di tangannya.


"Okaeri," ucap Ken setelah membuka kedua kelopak matanya. Ia tersenyum cerah dan lngsung mendudukkan diri, bersandar pada kepala ranjang.


*Okaeri : selamat datang kembali (sambutan orang yang ada di rumah saat ada anggota keluarga yang pulang dari bepergian)


Aira menunjukkan senyum manisnya. Ia senang Ken sudah siumandan kondisinya perlahan membaik. Ini adalah hari kedua ia dirawat di tempat ini.


"Apa kamu sudah lapar?" tanya Aira sembari mencuci tangannya di wastafel yang ada di sudut ruangan, sebelah kiri pintu masuk.


"Um. Aku benar-benar kelaparan." jawab Ken sambil mengangguk-anggukkan kepalanya seperti anak kecil.


"Saya akan menunggu di luar." pamit Minami saat Aira berjalan melewatinya. Wanita berambut sebahu itu cukup tahu diri. Saat tuan mudanya bersikap kekanakan seperti barusan pada Aira, tandanya mereka butuh waktu pribadi. Minami tidak boleh menjadi lalat yang mengganggu keduanya.


"Ah, Minami-chan.." panggil Aira, ia spontan berbalik menghadap asisten pribadinya.


"Ya, nona?"


"Sudah waktunya makan siang. Ini cukup untuk kalian berdua." Aira memberikan kotak bento buatannya pada Minami. Ia sengaja masak banyak untuk orang-orang yang selama ini mendukungnya tanpa pamrih.


"Tapi, Anda membuatkan ini khusus untuk tuan muda. Kami tidak berhak.." Minami kembali menyodorkan kotak segi empat berwarna hitam pada Aira. Ia tidak sampai hati mengambil makanan itu karena Ken terlihat tidak rela jika makanan buatan Aira harus dimakan orang lain.


"Pergilah. Kosuke sudah menantikan kedatanganmu." Aira membalik tubuh Minami dan mendorongnya keluar dari ruangan ini. Jika tidak dipaksa, Minami pasti akan terus menolaknya.


"Ai-chan..." panggil Ken, ia merajuk karena istrinya justru asik mengobrol dengan Minami yang terus menolak bento buatannya.


"Sampai jumpa. Nikmati makanannya." ucap Aira sebelum menutup pintu berwarna biru di depannya. Ia berjalan menghampiri suaminya yang kini memandang ke arah lain. Sepertinya ia marah.


"Mau makan sekarang?" tanya Aira sengaja menggoda suaminya.


"Huh!"


Bukannya menjawab pertanyaan Aira, pria itu justru memutar tubuhnya 90°. Ia kini duduk membelakangi istrinya sambil mengeratkan tangan di depan perut. Benar-benar menggemaskan seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Puftt..." Aira menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menyembunyikan tawanya.


"Huh! Apanya yang lucu?"


Tul tul


Aira menghentikan tawanya, ia menusukkan jari telunjuknya pada punggung Ken, "Mau makan tidak?"


"Aku tidak lapar." jawab Ken ketus. Ia memasang wajah datarnya, berharap Aira membujuknya untuk makan.


"Ya sudah. Kebetulan sekali, anak kita juga sudah lapar." Aira membuka bento milik Ken dan bersiap memakannya.


"Selamat makan, anak-anak." ucapnya sambil mengelus perutnya dengan sayang. Ia kini duduk di kursi bundar di sebelah ranjang Ken dan mulai menikmati sushi roll kesukaan suaminya.


Glek


Ken hanya bisa menelan ludahnya kala mendengar suara mulut Aira yang tengah menikmati makanan miliknya.

__ADS_1


'Sial! Aku benar-benar lapar.' umpat Ken dalam hati.


"Anak-anak, meskipun tidak seenak buatan koki, ibu harap di masa depan kalian tidak suka memilih-milih makanan seperti ayah kalian yaa." pancing Aira.


"Siapa yang suka pilih-pilih makanan? Aku bisa makan apa saja." ucap Ken sembari berbalik dan merebut kotak makan dari tangan Aira. Ia melahap hidangan rumahan itu dengan cepat.


"Pelan-pelan. Tidak akan ada yang berebut makanan denganmu." Aira menyodorkan segelas air putih pada suaminya. Ia senang karena Ken akhirnya bersedia makan setelah dramanya sepanjang pagi ini. Ya, pria itu begitu manja pada Aira dan menolak makan apapun jika bukan Aira yang memasaknya. Sungguh kekanakkan, lagi dan lagi.


"Kamu suka?" tanya Aira saat potongan terakhir makanan berbalut nori itu mendarat di mulut Ken. Ia mengambil alih wadah hitam dari tangan Ken dan menggantinya dengan air putih.


Gluk gluk


Segelas air tanpa warna itu telah tandas, menyusul sushi roll, tamagoyaki (telur gulung) dan ayam teriyaki yang kini mulai masuk ke saluran pencernaan Ken.


"Anak pintar." Aira mengelus pipi Ken dengan lembut. Ia berlagak jika pria di depannya ini adalah seorang anak kecil yang baru saja menyelesaikan makan siangnya.


"Sudah merasa lebih baik sekarang?" lanjut Aira. Tangannya dengan sigap membereskan kotak bekal itu dan menyimpannya di kotak khusus. Ia akan membersihkannya di rumah nanti karena ada larangan bahwa tidak boleh mencuci alat makan di wastafel rumah sakit. Hal itu untuk menjaga kebersihan tempat ini dari sisa-sisa makanan yang seringkali menimbulkan bau yang tidak sedap.


Puk puk


Ken mengangguk. Ia membenahi duduknya dan menepuk ranjang tempatnya berada.


"Hmm?" tanya Aira dengan gumaman.


Puk puk


Pria itu mengulangi gerakan tangannya. Ia bahkan sedikit menggeser badannya ke samping, memberikan ruang kosong yang lebih luas.


"Apa? Minta ganti seprei? Perawat sudah menggantinya pagi ini." Aira berpikir Ken merasa alas ranjangnya kotor karena sempat ada bulir nasi yang jatuh tadi.


"Ai-chan..."


Puk puk


"Apa?" tanya Aira pada akhirnya. Ia bukan cenayang yang bisa membaca kata hati manusia, tentu saja ia tidak tahu apa yang Ken inginkan dengan menepuk matras itu sampai tiga kali.


"Naik." jawab Ken singkat.


"Naik? Aku?" Aira menunjuk hidungnya.


"Aku tidak suka mengatakan hal yang sama dua kali." ketus Ken.


"Kenapa marah? Baiklah, baiklah aku naik sekarang."


Ken membantu Aira naik ke atas ranjang yang sedikit lebih tinggi dari panggul istrinya itu. Kini keduanya saling berhadapan. Aira duduk menyamping dari tubuh suaminya.


"Berbalik!" perintah Ken. Wajah tanpa ekspresinya benar-benar menakutkan, membuat Aira mengerutkan kening karena heran. Pada akhirnya Aira mengalah dan menuruti perintah suaminya tanpa tapi.


Grep


"KEN?!" Aira terkejut karena tiba-tiba Ken mengunci pergerakan Aira dengan jalinan tangannya yang kini ada di depan dadanya.


"Terima kasih." ucap Ken sembari memeluk istrinya dari belakang. Ia meletakkan dagunya di atas pundak Aira, "Terima kasih karena tidak meninggalkanku."


Ken memejamkan matanya, hidungnya sibuk menghirup aroma lavender yang menempel di leher istrinya. Aroma ini sepertinya menjadi candu untuknya, selain tubuh Aira.

__ADS_1


"Kamu sudah mengatakan hal itu berkali-kali sejak kemarin." cetus Aira.


"Jangan pernah meninggalkanku." lirih Ken. Pelukannya semakin mengerat, menyalurkan rasa cintanya yang begitu besar dan menggebu-gebu.


"Aku tidak akan pergi. Yang ada, aku akan kehabisan nafas karena kamu memelukku terlalu erat." protes wanita hamil 4 bulan itu.


"Ah, gomenasai." Ken mengendurkan tautan tangannya pada Aira.


*gomenasai : maafkan aku


"Ada apa?" tanya Aira to the point. Ia paham perilaku suaminya. Ia akan bermanja-manja sebelum mengatakan/meminta sesuatu yang penting.


"Kenapa kamu begitu baik padaku? Tak terhitung berapa kali aku mengecewakanmu. Aku bahkan begitu lemah dan melanggar janjiku sendiri. Kenapa kamu masih bertahan di sisiku?"


Aira meraih jemari tangan Ken dan meletakkannya di atas perut, "Demi mereka." jawab Aira jujur.


"Apa kamu berniat meninggalkanku?"


Hening


Aira tertegun mendengar pertanyaan dari suaminya yang begitu tiba-tiba, "Apa yang..."


"Aku mendengar semua percakapanmu dengan Mone. Kamu tidak mencintaiku, benar kan?" lirih Ken dengan suara serak. Ia menahan gemuruh di hatinya, "Kamu bertahan denganku demi mereka, bukan demi dirimu sendiri?"


"Itu benar. Apa kamu ingin tahu alasannya? Meskipun tidak ada pria lain lagi dalam mimpi masa depanku, tapi bukan berarti kamu bisa dengan mudah bertahta di sana." jawabnya datar.


"Ai-chan.." kini Ken yang shock dengan jawaban istrinya.


"Aku berkali-kali mencoba untuk jatuh hati padamu, berusaha tulus menerimamu dengan segenap hatiku. Tapi..." Aira menghela nafas panjangnya, "Aku hanya manusia biasa Ken. Semua luka yang kamu torehkan, tidak bisa aku lupakan dengan mudah."


"Ai..."


"Aku tidak tahu diri ya?" tanya Aira sarkas, penghinaan itu ditujukan untuk dirinya sendiri, "Aku begitu munafik karena selama ini menerima semua cintamu yang begitu tulus. Sebagai balasannya, aku justru menganggapmu sebagai bagian dari tanggung jawab semata, bukan sebagai suami yang ku cintai."


"Hentikan!" Ken meraih tubuh istrinya, membuat mereka saing berhadapan. Ia tidak ingin mendengar apapun yang akan Aira ungkapkan. Hal itu akan membuat hubungan mereka berdua menjadi renggang, dan Ken tidak menginginkannya sama sekali, "Itu semua salahku. Aku yang terlalu memaksakan diri. Maafkan aku." Ken membawa istrinya dalam dekapan setelah menghapus bulir bening yang mengalir di pipi bulatnya.


Ken menyadari kesalahannya. Ia berharap Aira mengaku bahwa wanita itu mencintainya. Padahal jelas-jelas Ken tahu ada begitu banyak luka dan air mata yang harus Aira lalui sejak mereka bersama. Belum lagi trauma masa kecil dimana ia tidak memiliki ayah dan ibu layaknya anak-anak seusianya, hal itu pasti membuatnya tidak lagi percaya akan cinta dan sejenisnya. Ia memiliki luka yang terlalu banyak dan terlalu dalam.


"Maaf." lirih Ken sembari mencium puncak kepala istrinya yang tertutup kain segi empat berwarna navy, "Apapun yang terjadi, ingatlah ada aku yang selalu mendukungmu."


...****************...


Hai hai hello... Gimana kabar kalian setelah berbulan-bulan hidup berdampingan dengan si 'Coro'? Semoga semuanya aman terkendali yaa. 🤗


Meskipun di rumah aja, bukan berarti kalian menjadi malas-malasan dan kerjaannya cuma rebahan aja yaa. Ada banyak hal yang masih bisa kita lakukan di era pandemi seperti ini, misalnya cuci baju, cuci piring, cuci motor, cuci mata *eh? canda 😂


Yang masih sekolah, harus tetap belajar. Minimal baca-baca buku pelajaran atau sejenisnya. Jangan main ponsel mulu!! Masa depan kalian, ada di tangan kalian sendiri!! *dengan seizin Allah pastinya.


Yang kerja, ayo semangat!!


Udah clear ya kenapa Aira masih ragu sama Ken, itu karena ngga sedikit pengalaman pahit yang selama ini dia alami. Ada ketakutan tersendiri di dalam hatinya, apalagi pernikahan mereka masih terlalu awal, bahkan belum genap satu tahun. Dan seperti trauma, perasaan itu tidak akan mudah dihilangkan. Mungkin perlu waktu bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun. Jadi, jangan nilai Aira sebagai wanita yang ngga tau diri atau semacamnya ya.


Semua yang terjadi di dunia ini berlaku hukum sebab akibat. Perilaku Ken yang tidak terkendali dan ayah Aira yang tidak bertanggungjawab, menyebabkan Aira tidak mudah membuka hatinya. Ia cenderung tertutup dan sulit mempercayai orang lain. Gitu...


Author tunggu like, vote dan komentar kalian.

__ADS_1


Jaa mata ne,


Hanazawa easzy 🍁


__ADS_2