Gangster Boy

Gangster Boy
Penculikan


__ADS_3

Aira membuka matanya dan beranjak bangun begitu menyadari hari sudah pagi. Cahaya matahari menerobos jendela kaca beberapa meter dari tempatnya berada. Ia memandang sekeliling namun tak ada siapapun. Hanya secarik kertas yang tergeletak di meja makan,


'Ada urusan penting, nikmati sarapanmu. Naru akan datang menemanimu,'


Aira tersenyum mendapati segelas susu vanila dan 2 potong roti bakar di meja. Rotinya masih hangat, artinya Ken pergi belum lama. Ia tersenyum menertawakan dirinya sendiri yang tersentuh oleh hal sederhana seperti ini.


"Bodoh," ucapnya sambil menikmati sarapan yang sudah Ken siapkan.


*******


12.07 p.m


Matahari tepat berada di atas kepala saat Aira mengambil tas jinjingnya. Ia melihat pantulan wajahnya di cermin sebelum pergi.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar. Aira menautkan keningnya begitu membuka pintu. Seorang pegawai hotel berdiri di depannya sambil tersenyum, tapi Aira merasa ada yang janggal. Pria itu membawa troli berisi makanan, padahal ia tidak memesannya.


"Maaf, aku tidak pesan makanan. Lagi pula aku akan segera check...." belum selesai Aira menjelaskan, sebuah pistol teronggok di depan keningnya.


"Masuk!" perintahnya.


Aira mundur selangkah, ia pura-pura menuruti kemauan orang itu sambil mencari waktu yang tepat untuk merebut pistolnya. Bukan hal yang sulit jika hanya merebut benda yang kini berjarak beberapa centimeter darinya. Lagipula hanya seorang saja lawannya, seharusnya bukan hal yang sulit.


"Ah, Naru-chan..." Aira melambaikan tangannya ke arah pintu, seolah menyapa seseorang. Pria itu melihat ke belakang sekilas, ke arah pandangan sanderanya.


"Baka" ucap Aira detik itu juga. Tangannya sigap merebut pistol itu dari tangan kriminal di depannya dan berbalik menodongkannya kembali tepat di keningnya.


(Bodoh)


"Siapa kamu?" tanya Aira dengan ekspresi setenang mungkin. Satu tangannya bersembunyi di belakang badan, memanggil Naru yang ada di lobby dengan ponselnya. Ia hanya perlu mengulur waktu sampai Naru datang. Saat ini kemungkinannya hanya 50:50 jika ia memaksakan diri melawan orang itu. Pria di hadapannya ini pasti bukan orang biasa.


Pria itu tersenyum dan mengangkat kedua tangannya, "Tembak saja, tidak ada peluru di sana," ucapnya meremehkan.

__ADS_1


Klek klek


Aira menarik pelatuknya berkali-kali. Nihil. Dia tidak berbohong, pistol itu hanya jebakan. Sontak Aira mundur beberapa langkah dari pria itu, melawannya tidak akan mudah. Perbedaan fisik mereka terlalu jauh, satu pukulan darinya mungkin bisa membuat Aira pingsan.


"Apa kamu takut? Bukankah nilaimu sempurna saat di akademi? Hahaha..." tawa garingnya terdengar dari ponsel Naru.


Aira tidak bisa berpikir jernih saat pria itu semakin dekat. Tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali melawan, "Naru-chan, ada pria gila disini," ucapnya sebelum melempar ponselnya sembarang demi menangkis tangan yang berusaha menariknya. Ia berjibaku melawan tapi tetap saja tidak bisa memukulnya, ia hanya bisa menghindar dan berbelit mengulur waktu.


Duk


"Menyusahkan saja," pria itu memukul tengkuk Aira yang hendak lari setelah berhasil ia seret menuju pintu keluar. Ia mengangkatnya di atas bahu, membawanya melewati tangga darurat.


Beberapa detik kemudian, Naru keluar dari lift dengan tergesa-gesa dan segera berlari ke kamar tempat kakak iparnya menginap semalam. Terlambat. Tak ada siapapun disana, hanya ponsel dan tas Aira yang tergeletak sembarang di lantai. Ia mencari ke sekelilingnya tapi tak ada tanda-tanda keberadaan mereka.


Naru berlari kembali ke resepsionis dan meminta mereka menutup semua akses keluar hotel. Tak lupa ia meminta izin melihat rekaman CCTV setelah menghubungi Ken.


Brakk


"Cari istriku sampai dapat. Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan membunuh kalian semua. PERGI !!" teriaknya pada barisan pria berbaju hitam tak kurang dari 30 orang. Mereka adalah pengaman yang kakek utus semalam, tapi Aira menolaknya. Ia merasa tidak nyaman saat di sekitarnya berdiri orang asing. Jadi mereka hanya berjaga di lobby.


"Kosuke, tutup semua akses dari hotel itu sejauh 500 meter. Jangan biarkan mereka lolos," perintahnya sambil berjalan ke ruang CCTV.


Terlihat seorang pria datang membawa troli makanan dan tak lama kemudian orang itu keluar memanggul Aira di bahunya.


"Berhenti. Zoom orang itu." pinta Ken.


Kosuke, asisten pribadi Ken segera melaksanakan perintahnya dan mereka bisa melihat sebuah tato naga hitam di leher belakang pria itu.


"Naga hitam? Hancurkan sampai ke akar-akarnya." ucapnya geram.


Sementara di sebuah ruangan gelap gulita, Aira membuka matanya perlahan. Ia merasakan tangannya kebas, seperti terikat, atau terborgol? Rasa nyeri juga menjalar dari punggung ke lehernya. Mungkin akibat pukulan di tengkuk lehernya oleh pria itu.


'Ah, orang itu'

__ADS_1


"Mimpi indah gadis kecil?" ucap seseorang yang muncul dari kegelapan.


Klik


Pria itu menjentikkan jarinya dan saat itu juga semua lampu menyala, membuat Aira harus menutup matanya karena terkejut. Netranya tidak terbiasa dengan cahaya menyilaukan di depannya. Saat ia membuka mata, pria itu ada tepat di depan wajahnya. Aira memalingkan wajah, menetralisir rasa gugupnya. Selain terkejut, sebenarnya ia juga takut apa yang akan orang ini lakukan padanya.


Klik


Pria itu menjentikkan jarinya lagi, borgol tangan Aira terlepas dan membuatnya terjerembab ke lantai putih bersih itu. Dagunya menghantam lantai dan bibirnya mengeluarkan darah karena tidak sengaja tergigit.


"Hahahaha.... Apa itu sakit?" Pria itu jongkok di depan Aira sambil mengeluarkan smirknya, "Ini baru permulaan," ucapnya sambil mengelap darah di bibir Aira dengan ibu jari lalu menjilatnya.


Aira menatap orang di depannya dengan pandangan jijik. Hanya orang gila yang melalukan hal aneh seperti itu. Mana ada manusia normal menjilat darah manusia. Ia segera menguasai diri dan duduk bersila dengan tenang.


"Apa yang anda inginkan?" tanya Aira menatap lurus mata pria di depannya. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan kejadian tadi.


"Ah, gadis yang unik. Pantas saja Ken menyukaimu," pria itu meraih dagu Aira tapi langsung ditepisnya.


"Jangan sembarangan menyentuh barang milik orang lain.." Aira menatap orang itu dengan tajam.


"Barang?"


*********


G'night mina-san...


Author kembali lagi 🤗 thanks yang bersedia mampir ke lapak unfaedah ini, hehe


Ada yang nungguin Aira-Kenzo? Sstt, sabar yaa. Pelan pelan sajaaaa.... *nyanyi 😂


See you next chapter,


Hanazawaeaszy 😘😘

__ADS_1


__ADS_2