
Artikel kesehatan lagi. Yang ngga suka, skip aja 😉😋
Selamat membaca 🤗
...****************...
"Aku bisa makan sendiri," ucap Aira sebal.
"Aku tidak menerima penolakan!" paksa Ken.
"Aku juga tidak menerima pemaksaan." Aira memalingkan wajahnya, menolak perlakuan manja suaminya.
"Sayangku, kamu tahu apa yang akan aku lakukan jika kamu menolak makanan ini. Aku bisa menyuapimu dengan cara yang lain. Kamu yang paling tahu apa yang akan aku lakukan." Ken bersiap melahap bubur di tangannya. Ia akan menyuapi istrinya dari mulut ke mulut.
"Dasar pemaksa!" ketus Aira. Ia merebut mangkuk di tangan Ken dan langsung melahap bubur itu.
Ibu tersenyum gemas menatap Ken dan Aira yang tengah bertengkar.
"Apa kalian selalu bertengkar seperti ini saat di apartemen?" nyonya Sumari menatap putranya yang sedang mengelus kepala Aira.
"Dia itu keras kepala sekali, Bu. Jika tidak dipaksa seperti ini, dia akan menunggu bubur itu sampai dingin. Apa enaknya bubur hambar jika sudah dingin?" Ken mengambil tisu dan membersihkan noda di sudut bibir istrinya.
"Ish, kalau bukan demi anak-anakmu, mana mungkin aku makan makanan ini?" Aira mendesis, kesal karena Ken mengadu pada ibunya.
TAK!
Aira meletakkan mangkuk di tangannya ke atas meja dengan sedikit kasar. Ia jengkel karena Ken menyudutkannya.
"Sopan santunmu, Sayang." Ken mengingatkan Aira, melirik keberadaan ibunya.
"Ah, oh maaf, Bu. Aku tidak bermaksud berlaku tidak sopan di depan ibu." Aira merasa tak enak hati pada ibu mertuanya. Tindakannya barusan itu termasuk dinilai kasar dan kurang sopan.
"Tidak masalah, Sayang. Ibu tahu kamu tidak sengaja melakukannya." Nyonya Sumari mengelus punggung tangan Aira yang ada di depannya. "Ken, berhenti menggoda istrimu!" tegas wanita dengan kimono kelabu di badannya.
Ken hanya tersenyum mendengar gertakan ibunya. Ia mencubit pipi tembam istrinya dengan gemas.
"Singkirkan tanganmu!" ketus Aira, berusaha menjauhkan diri dari jangkauan suaminya. Ia beranjak pergi, menjauh dari pria menyebalkan itu.
Bukannya menuruti kemauan Aira, Ken justru berdiri di depan istrinya. Ia menghadang pergerakan wanitanya dan mencubit kedua sisi wajah chubby itu detik berikutnya, membuat kulit wajahnya memerah.
"KEN?!" pekik Aira. Tangannya menahan kedua lengan Ken agar berhenti mengerjainya. "Lepaskan!"
"Tidak akan! Katakan kamu mencintaiku, maka akan ku pertimbangkan." Ken masih terus menggoda istrinya, tidak peduli pada pandangan ibunya di belakang sana. Wanita itu menggelengkan kepala, heran dengan perilaku putra sulungnya yang luar biasa.
"YAMAZAKI KENZO!!" geram Aira.
TAK!
DUK!
Ken jatuh detik itu juga. Lututnya menempel pada lantai paving di bawahnya setelah Mone tiba-tiba menendang lutut bagian belakang pria itu.
__ADS_1
"Jangan menindas kakakku!" Mone berdiri menjulang di depan Ken, menjadi penghalang antara kakak iparnya itu dengan Aira. Ia bahkan berkacak pinggang dengan memasang wajah garang.
"Mone-chan?!" Aira terkejut mendapati adik sepupunya tiba-tiba ada di sini.
"Mone? Kamu Kamishiraishi Mone?" tanya nyonya Sumari yang langsung berdiri saat mendengar ucapan Aira barusan.
Deg!
Tubuh Mone menegang saat melihat nyonya Yamazaki menanyakannya. Mungkinkah kakek sudah mengatakan sesuatu padanya? Atau justru Yamaken yang mengadu tentang penolakan darinya?
Seketika Mone menundukkan badannya, "Selamat pagi, Nyonya. Maaf atas ketidaksopanan saya karena sudah mengganggu Anda."
"Tidak-tidak. Kamu tidak mengganggu sama sekali. Ayo kita bicara di tempat lain saja." Nyonya Sumari membawa Mone dan Aira dari tempat itu. Meninggalkan Ken di tempatnya seorang diri.
Ketiga wanita itu sampai di ruang tengah saat tiba-tiba Aira berhenti berjalan sambil memegangi perutnya. Ia merasa tidak nyaman dan memutuskan untuk berhenti sejenak.
"Kakak, ada apa?" tanya Mone spontan.
Ken mendekat dan melihat wajah istrinya sudah pucat pasi.
"Bawa istrimu ke rumah sakit!" perintah ibu dengan panik. Beliau kemudian berlari guna mengambil baju hangat untuk menantunya.
Ken memasukkan Aira di kursi belakang dengan hati-hati, Mone segera masuk dari pintu yang lain.
"Kak, pegang tanganku. Buka matamu, ambil napas pelan-pelan," ucap Mone sembari menggenggam tangan Aira erat-erat, menjaga agar kakak sepupunya itu tidak kehilangan kesadaran.
Aira menarik napas perlahan seperti arahan Mone. Bagaimanapun juga, adiknya itu sedikit lebih tahu tentang dunia medis. Ia terlihat tenang saat Ken dan ibu begitu panik beberapa saat yang lalu.
Tiga puluh menit kemudian,
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Ken saat dokter Tsukushi dan dua orang perawat keluar dari ruangan di area instalasi gawat darurat rumah sakit ini.
Wanita 52 tahun itu tersenyum, "Dia baik-baik saja. Hanya kram perut karena melewatkan senam ibu hamil beberapa hari ini."
"Hanya kram perut? Bukan kontraksi karena akan melahirkan?" Nyonya Sumari tampak kecewa dengan penjelasan dokter berkaca mata itu.
"Mari silakan masuk. Akan saya jelaskan," ucap dokter Tsukushi. Beliau masuk bersama Ken, Mone dan nyonya Sumari.
"Sayang," Ken mendekat dan langsung mencium kening Aira. Ia merasa lega karena istrinya itu baik-baik saja.
"Maaf membuatmu khawatir," ucap Aira tak enak hati. "Maaf, Bu." Aira menatap nyonya Sumari dengan wajah sendunya.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Kami semua mengkhawatirkanmu." Nyonya Sumari mengelus pubggung tangan menantunya.
"Anda tidak perlu khawatir. Kondisi Nyonya Aira memang sedikit lemah, tapi ketiga bayinya baik-baik saja. Hanya perlu istirahat dan besok bisa dipastikan sudah boleh pulang." Dokter Tsukushi memberikan penjelasan.
"Apa penyebab istri saya seperti ini?" tanya Ken ingin tahu.
"Sepertinya beberapa hari ini nyonya Aira melewatkan kelas yoga untuk ibu hamil. Itu sebabnya ia mengalami kram perut dan ketiga bayinya merasa sedikit tidak nyaman dengan hal itu."
"Ah, menantuku agak demam beberapa hari ini. Jadi aku tidak mengizinkannya pergi sampai kondisinya membaik." Nyonya Sumari angkat bicara. "Baru kemarin demamnya turun."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Nyonya. Sekarang semuanya sudah berlalu. Kedepannya, nyonya Aira perlu sedikit berjalan kaki jika tidak bisa mengikuti kelas yoga. Hal itu untuk mencegah agar ketiga bayinya tidak bosan di dalam sana. Dengan banyak berjalan, mereka merasa seperti di ayun. Sedangkan jika ibu hamil hanya berdiam diri, bayi di dalam perutnya akan mengalami depresi karena kurang bergerak."
"Jadi itu bukan tanda-tanda menjelang kelahiran, Dok?" tanya Mone berinisiatif.
"Bukan. Ada tiga tanda utama saat seorang ibu akan melahirkan. Yang pertama adalah pembukaan. Adanya pembukaan mulut rahim ditandai dengan keluarnya lendir (mucus) berwarna kemerahan atau kecoklatan. Teksturnya seperti lendir ingus yang kental. Dalam bahasa medis disebut bloody show karena lendir ini bercampur darah. Itu terjadi karena di masa ini terjadi pelunakan, pelebaran, dan penipisan mulut rahim." Dokter Tsukushi mulai menjelaskan.
"Umumnya pada bumil dengan kehamilan pertama, terjadinya pembukaan ini disertai nyeri perut. Sedangkan pada kehamilan anak kedua dan selanjutnya, pembukaan biasanya tanpa diiringi nyeri. Rasa nyeri (atau tak nyaman yang dialami) terjadi karena adanya tekanan panggul saat kepala janin turun ke area tulang panggul sebagai akibat kelanjutan melunaknya rahim."
Ken dan Mone tampak memperhatikan penjelasan dokter, sedangkan Nyonya Sumari tampak sibuk dengan ponselnya.
"Nyonya Aira akan merasakan ingin sering berkemih dan buang air besar. Untuk memastikan telah terjadi pembukaan, tenaga medis biasanya akan melakukan pemeriksaan dalam (vaginal touche)."
"Tanda-tanda menjelang kelahiran yang lainnya adalah terjadinya kontraksi. Menjelang melahirkan, bumil juga akan mengalami kontraksi yang konsisten (teratur). Kontraksi terjadi pada otot-otot rahim (myometrium) sebagai pengaruh dari meningkatnya produksi hormon oksitosin menjelang persalinan. Kontraksi ini sebagai suatu proses yang mendorong janin untuk keluar secara perlahan melalui uterus bawah hingga akhirnya keluar atau lahir."
"Kontraksi yang dialami bumil terasa makin sering, makin lama waktunya, dan makin kuat terasa, diserta mulas atau nyeri seperti kram perut. Perut bumil juga terasa kencang. Nyeri yang dirasakan terjadi pada bagian atas atau bagian tengah perut atas atau puncak kehamilan (fundus), pinggang dan panggul serta perut bagian bawah."
Ken mengelus kepala istrinya dengan lembut, membuatnya tenang.
"Kontraksi bisa terjadi kapan saja. Perlu dibedakan dengan konstraksi semu atau kontraksi palsu (braxton hicks) yang umumnya terjadi pada akhir trimester kedua. Biasanya kontraksi palsu berlangsung pendek waktunya (kurang dari satu menit), tidak terlalu sering atau tidak teratur, tidak terlalu kuat, tak bertambah kuat seiring bertambahnya waktu, serta tanpa rasa nyeri atau mulas."
"Kontraksi palsu terjadi pada paha bagian dalam, punggung dan bukan pada perut bagian bawah. Kontraksi ini terjadi sebagai suatu mekanisme latihan dari rahim untuk lebih bersiap-siap kelak ketika tiba waktunya melahirkan. Jadi kontraksi palsu takkan menyebabkan lahirnya bayi. Umumnya rasa tidak nyaman ini hilang atau berkurang bila bumil berjalan atau mencoba berbaring."
"Bagaimana cara mengetahui jika itu hanya kontraksi palsu, Dok?" Kali ini Aira yang bersuara.
"Demi memastikan apakah yang dirasakan bumil kontraksi asli atau palsu, saat terjadi kontraksi, catatlah frekuensinya, kekuatan dan lamanya kontraksi tersebut dengan memanfaatkan stopwatch atau jam tangan. Suami bisa membantu bumil melakukan pencatatan ini." Dokter Tsukushi tersenyum menatap pasien VVIP DI hadapannya.
"Sekali lagi, kontraksi menjelang persalinan ditandai dengan kontraksi secara berkala, lama, dan kuat. Lamanya 45-75 detik dengan kekuatan kontraksi semakin lama bertambah kuat. Saat mulas, jika ibu menekan dinding perut dengan telunjuk akan terasa perut mengeras. Sedangkan interval kontraksinya akan bertambah sering, permulaan 10 menit sekali kemudian dua menit sekali."
"Yang terakhir adalah Pecah ketuban. Satu tanda lagi yang menyertai persalinan adalah pecahnya membran atau ketuban kala kanting amniotik pecah. Seperti diketahui, di dalam selaput ketuban (korioamnion) yang membungkus janin, terdapat cairan ketuban sebagai bantalan bagi janin agar terlindungi, bisa bergerak bebas dan terhindar dari trauma luar."
"Cairan ketuban umumnya berwarna bening, tidak berbau, dan akan terus keluar sampai ibu akan melahirkan. Keluarnya cairan ketuban dari jalan lahir ini bisa terjadi karena berbagai hal. Misal karena bumil mengalami trauma, infeksi, atau bagian ketuban yang tipis (locus minoris) berlubang dan pecah."
"Bila sudah terjadi pecah ketuban berarti selaput ketuban sudah ada "hubungan" dengan dunia luar dan membuka potensi kuman untuk masuk. Karena itulah bumil perlu segera mendapatkan penanganan dan dalam waktu maksimal 24 jam diharapkan bayi sudah bisa dilahirkan. Seiring pecahnya membran ini, ibu akan mengalami kontraksi atau nyeri yang lebih intensif. Jika itu terjadi, harus segera mendapat pertolongan medis, terlebih lagi dengan kehamilan kembar tiga seperti ini," pungkas dokter senior itu.
(Tabloid Nakita/Hilman Hilmansyah)
"Setelah kondisi Anda membaik, saya akan kirimkan instruktur yoga ke rumah untuk membimbing Anda."
"Terima kasih, Dok."
"Selamat istirahat, Nyonya. Saya permisi," pamit dokter Tsukushi.
Ken mengantar dokter yang telah memeriksa istrinya keluar ruangan.
...****************...
Banyak banget ilmu berkaitan dengan ibu hamil. Jadi, emang sengaja author ulas lagi.
Maaf yaa buat yang ngga suka hasil copas gini, bisa langsung skip aja. Author gapapa kok 😁💃
Jaa mata ne,
__ADS_1
Hanazawa Easzy 💞