
Ken sampai di pusat perbelanjaan pukul sebelas siang. Tampak beberapa pengunjung mulai memadati tempat ini. Mereka datang bersama keluarga dan pasangan. Tak jarang pula gadis-gadis remaja yang sengaja pergi ke tempat ini bersama teman-teman seusianya. Mereka tampak begitu bahagia, berjalan sambil mengobrol hal-hal tidak penting sehari-hari, entah itu tentang idol grup kesukaan mereka, anime, dorama live action, atau bahkan pacar masing-masing.
Ya, anak muda Tokyo sama halnya dengan remaja di negara-negara lain yang mulai terpengaruh budaya dunia barat. Mereka tak lagi canggung menunjukkan kemesraan bersama kekasih mereka. Orang-orang yang dianggap sebagai someone special meski pada kenyataannya tidak sesempurna itu. Mereka hanya terbuai pada angan semu yang mereka ciptakan sendiri. Melupakan hati nurani yang memberontak atas kebodohan otak mereka.
Ya, budaya barat secara tidak langsung mengikis rasa malu yang dimiliki anak-anak muda jaman sekarang. Mereka dengan percaya diri bergandengan tangan, berjalan bersisian bersama, bahkan mungkin lebih dari itu. Beberapa dari mereka berakhir dengan menyedihkan beberapa bulan kemudian. Bahkan ada yang sampai mengakhiri hidupnya saat hubungan cintanya berakhir. Ah, sungguh hubungan yang ironis.
"Tuan, sebelah sini." Kosuke menunjukkan arah kemana Ken harus melangkah. Mereka masuk ke salah satu klinik kecantikan di bawah naungan Miracle Corporation.
*Corporation/korporasi adalah badan usaha yang sah atau badan hukum. Secara lebih rinci, korporasi merupakan perusahaan atau badan usaha yang sangat besar atau beberapa perusahaan yang dikelola dan dijalankan sebagai satu perusahaan besar. (KBBI)
"Selamat datang, Tuan," sapa seorang wanita dengan pakaian biru laut yang melekat di tubuh proporsionalnya. Ia menyambut kedua orang yang ia anggap sebagai pelanggan ini. "Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya sopan.
"Kami... "
"Apa layanan kalian yang paling unggul?" tanya Ken memotong ucapan asisten pribadinya.
"Tuan," bisik Kosuke.
Ken mengangkat tangannya ke atas, meminta Kosuke untuk diam. Ken ingin diperlakukan sebagai pelanggan biasa, bukan pemilik perusahaan yang menaungi tempat ini. Ia ingin tahu seperti apa dan bagaimana pelayanan mereka pada pelanggan. Itulah sebabnya ia sengaja memakai masker untuk menutupi mulut dan hidungnya agar orang tidak mengenalinya.
Meskipun identitasnya sebagai wakil presdir Miracle Corporation tidak banyak diketahui orang awam, tapi wajahnya yang sama persis dengan Yamaken dipastikan akan sukses menggemparkan seluruh mall ini. Bukannya melakukan riset pasar, justru ia akan sibuk dengan para fans adiknya ini seperti yang pernah terjadi di taman bermain saat berkencan dengan Aira.
"Ada banyak paket yang kami tawarkan. Anda bisa melihatnya di sini." Pegawai wanita itu menunjukkan katalog yang berisi berbagai macam paket perawatan kulit dan kecantikan yang mereka andalkan.
"Siapkan paket perawatan terbaik kalian!" tegas Ken sambil membuka katalog di depannya. Matanya dengan jeli melihat harga dan detail paket yang ditawarkan.
"Untuk berapa orang, Tuan?"
"Satu. Untuknya." Ken mengisyaratkan kepalanya, menunjuk pria yang berdiri di sampingnya.
"Na... nani?" tanya Kosuke tergagap. Ia begitu terkejut dengan pernyataan Ken yang menunjuknya sebagai pelanggan yang akan melakukan perawatan kali ini.
(A... apa?)
"Baik. Untuk sekarang atau di lain hari? Anda bisa memesannya untuk satu minggu ke depan. Kami akan memasukannya dalam buku agenda dan mengonfirmasi hal itu pada Anda sehari sebelumnya."
"Hari ini. Sekarang juga," jawab Ken lugas.
"Atas nama?" tanya wanita itu menatap Ken dan Kosuke bergantian.
"Kosuke Murasawa." Ken memberikan kartu identitas milik Kosuke yang entah sejak kapan ada di dalam kuasanya. Kosuke sendiri terhenyak, tidak menyadari dompetnya yang telah raib, berpindah ke tangan Ken.
__ADS_1
"Tuan Kosuke, Anda pelanggan baru kami. Apakah Anda ingin bergabung dengan kami? Ada diskon khusus untuk setiap pelanggan yang memiliki kartu member," tawarnya menatap Kosuke.
"Itu... itu tidak perlu. Aku tidak akan... "
"Apa ada golongan tertentu? Daftarkan dia di golongan member terbaik yang kalian punya." Lagi-lagi Ken memotong kalimat yang keluar dari mulut Kosuke.
"Baik, silakan tunggu. Kami akan segera menyiapkan pesanan Anda." Wanita berkulit putih khas negeri sakura ini mempersilakan pelanggannya untuk menunggu di kursi yang ada di sisi lain ruangan ini, dua meter dari tempat Ken berdiri sekarang.
"Tu.. Tuan," Kosuke tampak ingin protes pada keputusan tuannya. Ia tidak pernah melakukan perawatan sebelumnya. Ia hanya membersihkan wajahnya di rumah, tidak pernah terpikirkan untuk mendapat treatment khusus seperti sekarang.
"Ada apa? Kamu keberatan?" tanya Ken setelah duduk di kursi panjang berwarna hitam ini. Ia menatap Kosuke dengan tajam, tidak menerima penolakan.
"Tidak," jawab Kosuke lirih.
"Kamu datang untuk bekerja 'kan? Jadi lakukan saja dengan profesional seperti biasanya!" tegas Ken.
"Baik." Kosuke menundukkan kepalanya, tahu diri akan kekeliruannya yang tidak bersikap profesional sebelumnya. Ia gugup, merasa canggung karena ini pertama kali untuknya.
Kosuke sadar bahwa sejak awal tujuan kedatangan meraka ke tempat ini memang untuk bekerja. Mencari tahu seperti apa keadaan di lapangan, bukan hanya mengandalkan laporan dari mulut bawahannya.
"Tuan Murasawa, silakan." Seorang wanita berwajah bulat tampak keluar dari ruang perawatan, mempersilakan pelanggannya itu untuk masuk.
Kosuke tampak ragu untuk melangkah karena Ken diam di tempat duduknya.
"Bukankah Anda juga masuk ke sana?" tanya Kosuke ragu-ragu.
"Untuk apa? Melihat wajahmu memakai masker? Aku tidak sesenggang itu," jawab Ken ketus. "Pergilah, laporkan padaku setelahnya!"
Kosuke hanya bisa mengembuskan napas kasar sebelum masuk ruangan bertirai putih itu. Entah apa yang akan mereka lakukan padanya, semoga hanya sebatas perawatan wajah, tidak ada yang lain..Kosuke sudah menduganya, Ken pasti akan mengorbankannya. Dalam hal ini, ia dijadikan tumbal untuk mengorek informasi lebih dalam tentang pelayanan di sini.
Sementara Kosuke masuk ke ruangan yang lebih dalam, Ken mulai sibuk dengan tablet di tangannya. Ia membuka laporan quartal pertama perusahaan yang dipimpinnya. Dari data yang ada, pendapatan klinik kecantikan ini adalah yang paling rendah dibandingkan yang lain. Ken penasaran kenapa hal itu bisa terjadi.
Tepat saat itu ada dua orang remaja yang masuk ke tempat ini, mungkin usia mereka sekitar 15 atau 16 tahun.
"Selamat datang, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita resepsionis di balik meja. Ia wanita berwajah oval yang melayani Ken sebelumnya.
"Apa ada perawatan untuk wajah berjerawat?" tanya salah satu gadis yang memakai sweater merah. Ken menajamkan pendengarannya tanpa melepas pandangan dari layar pipih di tangannya.
"Ada. Silakan dilihat. Kami memiliki perawatan dasar untuk menghilangkan flek hitam di wajah, mengatasi wajah berjerawat, dan berbagai masalah lainnya. Treatment yang paling banyak disukai adalah fruit facial, anti acne facial dan mouisturizing facial. Ini adalah mengobati jerawat sekaligus membuat wajah Anda lebih sehat."
*Treatment : perawatan
__ADS_1
"Selain itu, ada perawatan yang lain seperti biolight terapy untuk menghilangkan flek hitam yang membandel. Kami menggunakan high technology treatment dengan menggunakan sinar laser yang aman untuk menghapus flek hitam dengan cepat," jelas pegawai itu sambil menunjukkan katalog yang sebelumnya ditunjukkan pada Ken.
"Apa ada perawatan yang bisa dilakukan di rumah?" tanya remaja yang lainnya.
"Tentu saja ada, Nona. Kami menyediakan bubuk organic facial dan O2 Bubble mask facial. Anda bisa mengaplikasikan masker ini di rumah setiap hari. Tapi, saya sarankan untuk anda mencoba combination treatment seperti yang saya sarankan di awal tadi. Itu jauh lebih efektif untuk mengatasi masalah jerawat seperti yang terjadi pada wajah Anda."
Ken menggelengkan kepala, ia agak pusing dengan istilah-istilah yang disebutkan oleh wanita itu. Meski bukan kata yang sulit dipahami, nyatanya ia tidak pernah mendengar atau bahkan merasakannya. Ia tidak tahu apa perbedaan masing-masing.
Ken mengetuk-ngetukkan jarinya di atas kursi sofa ini. Keputusannya untuk datang sendiri ke tempat seperti ini nampaknya belum tepat. Sasaran utama klinik kulit dan kecantikan seperti tempat ini adalah wanita, bukan pria. Meskipun ada perawatan untuk pria, nyatanya Ken juga tidak tahu apa bedanya dengan klinik perawatan yang lainnya.
Ken harus memutar otak, mencari cara terbaik untuk bisa mendapatkan data yang akurat. Ia ingin tahu kenapa nilai pendapatan mereka bulan Maret kemarin turun drastis dibandingkan dua bulan sebelumnya.
"Kenapa mahal sekali?" tanya gadis sweater merah dengan nada yang agak tinggi, berhasil membuat atensi Ken tertuju padanya.
"Kami menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi yang pasti aman. Jadi harganya sebanding dengan manfaat yang diberikanan. Selain itu, produk kami menggunakan merek dagang yang sudah dipatenkan dan hanya tersedia di gerai-gerai khusus kami. Tidak semua orang bisa mendapatkannya," jelas wanita berpakaian biru itu lagi.
"Sebelumnya aku pernah membelinya, tapi tidak semahal ini." Gadis dengan dress hijau sebatas lutut ikut protes, mendukung pernyataan temannya yang mengatakan bahwa produk itu mahal. Ken tidak tahu produk apa yang sedang mereka bicarakan.
"Nona, biaya hidup semakin naik, begitu juga biaya produksi bubuk masker ini. Demi menjaga kualitasnya, kami tetap memakai bahan yang sama seperti sebelumnya meski harga bahan utamanya naik. Maka, kami juga terpaksa harus menaikkan harga produk ini untuk menutupi biaya produksinya." Wanita itu mencoba menjelaskan alasan kenaikan harga produk yang ditawarkannya ini. Ia juga hanya pekerja di sini, ia tidak tahu menahu kenapa produk unggulan mereka ini semakin melejit harganya.
"Kita cari tempat lain saja. Disini terlalu mahal. Itu setara dengan uang jajanku selama satu bulan, mana mungkin aku bisa membelinya. Haha tidak akan memberikan uang tambahan padaku bulan ini." Gadis sweater merah menarik temannya untuk keluar dari tempat ini. Ia terlihat jengkel karena tidak bisa mendapatkan produk perawatan untuk menyembuhkan wajahnya seperti yang ia inginkan.
*Istilah Haha dan Okaasan sama-sama berarti ibu. Perbedaannya adalah panggilan Okaasan terdengar lebih menghormati dibandingkan Haha. Tapi, saat berbicara dengan orang lain, biasanya seseorang akan rendah diri dan menyebut ibunya sendiri dengan sebutan Haha.
"Selamat jalan. Terima kasih atas kunjungannya." Wanita wajah oval itu menundukkan sedikit badannya, mengucapkan salam pada pengunjung yang mungkin saja tidak mendengar kalimatnya itu. Ia hanya menjalankan prosedur yang seharusnya.
Ken mengamatinya dalam diam. Dari segi pelayanan, tempat ini melakukannya dengan sangat baik. Entah pelanggan mereka itu menyenangkan atau menyebalkan sekalipun, wanita itu memperlakukan mereka dengan semestinya. Ia menangkap satu hal, kemungkinan pendapatan mereka turun adalah karena adanya kenaikan produk yang gadis itu inginkan. Sepertinya ia harus menugaskan staf khusus untuk mencari tahu penyebab kenaikan harga produk-produk yang dikeluarkan oleh Miracle Cosmetics, salah satu anak perusahaannya yang juga terdapat di Indonesia.
Ken menatap benda bulat di pergelangan tangannya. Tiga puluh menit sebelum waktu makan siang tiba. Ia tidak akan terlambat untuk makan siang bersama istrinya jika ia pulang sekarang. Lagi pula, ia bisa menugaskan orang lain dalam misi kali ini, tidak harus turun tangan sendiri.
Pria 28 tahun itu melenggang pergi setelah meninggalkan kartu miliknya untuk membayar biaya perawatan wajah Kosuke. Ia menaiki taksi untuk pulang ke rumah, enggan menunggu Kosuke keluar dari ruangan khusus itu.
"Sayang, aku lapar," gumam Ken lirih saat mobil yang ia tumpangi mulai membelah jalanan kota Tokyo. Ia menatap wallpaper ponselnya yang berisi potret Aira dalam balutan sweater biru dongker, warna kesukaan istrinya.
...****************...
Author puyeng kalo bikin cerita yang berkaitan dengan dunia bisnis si Abang ganteng ini. Ribet, rempong dah ah kalo urusan gituan 😂😂
See you next day,
__ADS_1
Hanazawa Easzy 🐣