
Mentari bersinar menyinari negeri tropis di kawasan Asia bagian tenggara ini. Udara hangat berembus saat Aira membawa anak-anaknya berjemur di sekitar pantai. Dengan cekatan, dia membenahi penutup kepala Aya yang tertiup angin. Sementara Sakura dan dua rekannya ikut tersenyum, menyaksikan jemari mungil bayi perempuan itu yang seolah ingin menyingkirkan kain tipis yang menutupi perut gembulnya.
"Nona sangat menggemaskan," cetus Sakura sambil meletakkan Akari ke dalam box.
"Benar. Mereka juga sangat tampan." Mao, rekan kerja Sakura ikut menanggapi, merujuk pada Akari dan Azami. Aira yang mendengarnya hanya tersenyum simpul. Ketiga bayinya memang begitu imut, memiliki aura masing-masing.
"Mereka mewarisi ketampanan ayahnya." Suara Ken tiba-tiba terdengar, membuat Sakura, Mao, dan seorang rekannya menundukkan kepala.
Ckiitt
"Dasar genit!" bisik Aira sambil mencubit perut rata Yamazaki Kenzo yang tak tertutup apapun. Dia bertelanjang dada, memamerkan perut kotak-kotak yang dimilikinya.
"Ah, itai!"
(Sakit!)
Sakura dan dua rekannya tersenyum, menyaksikan interaksi pasutri muda ini. Mereka selalu saja terlihat mesra seperti sekarang ini.
"Kalian boleh pergi." Ken mengusir tiga orang yang sedari tadi mendampingi istrinya menunggui baby triplet.
"Dimana pakaianmu?" ketus Aira, menatap penampilan suaminya yang terlihat seperti seorang pria penggoda.
"Apa kamu tergoda melihat tubuhku yang begitu memesona?" tanya Ken, mengabaikan pertanyaan Sang Istri.
"Astaga!" Bola mata coklat pekat itu membola. Dia tidak habis pikir kenapa pria ini begitu over confidence. Atau memang itulah pembawaannya sejak lahir? Entahlah.
Ckiit
Cubitan kedua kembali Aira lesatkan di pinggang Sang Suami, membuat pria itu berjengit seketika. Dia tidak menyangka Aira tiba-tiba menyerangnya. Wanitanya ini memang terkenal barbar, tanpa ampun, bahkan pada suaminya sendiri.
"Berhenti membual atau aku akan mendiamkanmu lagi!" Aira yang sedang tidak ingin bercanda jadi merasa kesal. Dia sebal karena pria ini menjadi semakin manja setelah ketiga malaikat kecil mereka lahir ke dunia ini. Bahkan, dia menunjukkan sikapnya dengan terang-terangan di depan semua orang seperti barusan. Sejak kapan gangster muda berbahaya ini menjadi pria humoris yang suka tersenyum? Roda benar-benar berputar!
"Baiklah. Aku tidak akan berani." Ken berjongkok di depan Aira, membuat satu lututnya sebagai pijakan di atas pasir. "Tolong ampuni hamba, Permaisuri. Hamba bersalah dan pantas dihukum."
Plakk
Aira memukul kepala suaminya dengan keras, membuat pria itu meringis sambil memegangi bekas sentuhan cinta dari Sang Istri.
"Terus saja seperti itu. Aku akan kembali ke Jepang sekarang juga dan mengacaukan rencana kakek!"
Netra sipit itu membola. Ken terhenyak mendengar ancaman Sang Istri. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Apa kamu gila?" Ken segera berdiri, mencengkeram lengan istrinya dengan erat. Pria ini seolah tak akan membiarkan wanitanya pergi, apapun alasannya. Tatap matanya berubah serius, menatap manik mata istrinya sungguh-sungguh.
Srett
__ADS_1
"Kamu yang gila!" Aira menarik tangannya dari cekalan Ken, membuat tubuh pria ini menegang. Dia semakin waspada, takut kalau-kalau Aira sudah mempersiapkan kepulangannya ke Jepang tanpa dia ketahui.
"Kamu bercanda, 'kan?" Ken tidak bisa tenang sebelum memastikan bahwa apa yang wanita ini ucapkan hanya ancaman palsu.
Brukk
Aira mendudukkan diri di atas kursi, mengabaikan pandangan tajam yang Ken tujukan padanya. Tadinya hubungan mereka baik-baik saja, tapi tiba-tiba terasa penuh ketegangan seperti sekarang. Ah, lebih tepatnya hubungan mereka baru saja membaik semalam. Sejak Ken membawa Aira pergi dengan paksa, wanita ini sempat mendiamkannya selama beberapa waktu, membuat Ken frustrasi.
"Ao... wa waa...." Suara Aya menggema, menyapa kedua orangtuanya yang tengah bersitegang. Lagi-lagi gadis mungil ini seolah sengaja menarik perhatian Ken dan Aira seperti sebelumnya. Dia mengajak kedua orangtuanya untuk 'berbicara'.
Ken mendekat, berjongkok di samping box tempat putri kesayangannya dibaringkan. Jemari mungil gadisnya dia ciumi satu per satu, membuat Aira salah tingkah. Entah kenapa emosinya mereda, berganti dengan getaran halus di dalam dirinya kala mengingat bahwa pria ini pernah melakukan hal yang sama padanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Aira segera menarik tangan mungil Ayame dari mulut Sang Suami. Dia merasa geli melihat hal itu, membuatnya bernostalgia pada cumbuan Ken di tubuhnya.
"Apa?" Dengan wajah tanpa dosa, Ken mempertanyakan sikap istrinya barusan. Dia heran kenapa wanita ini seolah membatasi interaksinya dengan anak gadisnya sendiri.
"Apa apanya?" Aira membalas pertanyaan Ken dengan ketus, membuat kening pria ini berkerut dalam.
'Ada apa dengannya?' batin Ken bertanya-tanya. Sikap Aira begitu cepat berubah. Dalam hitungan detik, dia marah tanpa sebab. Dan sekarang bahkan membawa Aya dalam dekapannya. Aneh.
Aira mengabaikan pandangan Sang Suami yang penuh keheranan. Dia memilih bungkam daripada harus berdebat dengan pria pemilik hatinya ini.
"Ai-chan," Ken meraih jemari istrinya, berjongkok di depan pangkuannya. "Ada apa? Katakan padaku jika kamu punya masalah." Ken merendahkan diri, menekan egonya demi berbicara pada wanita yang telah memberikannya tiga orang malaikat tak bersayap ini.
"Tidak ada!" jawabnya cepat.
"Bagaimana dengan pembicaraan kita semalam?" Aira sengaja mengalihkan pembicaraan, membahas hal lain tentang Anna, Yuki, dan juga Shun Oguri.
Ken duduk di samping istrinya, berbagi kursi yang sama sebelum mengambil alih penguasaan Aya dari ibunya.
"Semua berjalan seperti yang kamu perkirakan. Anna benar-benar menghasut Yuki. Itu sebabnya dia tiba-tiba datang ke rumah dan ingin meminta bantuanku," jawab Ken. Jemarinya asik bermain-main di depan wajah mungil Aya, membuat bayi tiga bulan ini membuka mulutnya.
Aira bungkam. Dia tahu hal itu akan terjadi. Yang tidak ia ketahui adalah respon Yuki selanjutnya. Pria itu mungkin saja termakan hasutan wanita berkebangsaan Rusia yang terlihat bagaikan seorang malaikat.
"Shun dan Kaori juga sudah kembali ke Jepang. Mereka akan datang menemui kakek secepatnya. Kondisi kesehatan Kaori tidak begitu baik setelah peristiwa waktu itu."
Aira menatap wajah Ken dari samping. Peristiwa yang suaminya maksud pastilah peristiwa penculikan atau semacamnya waktu itu. Aira tidak tahu dengan jelas apa yang terjadi, karena baik dia maupun Ken tidak ikut dalam misi itu.
"Shun tidak terkejut sama sekali saat aku mengatakan bahwa Anna kembali." Ken menatap istrinya, membuat netra keduanya bertumbuk di titik yang sama. "Justru sama sepertimu, dia mengkhawatirkan Mone."
Lagi-lagi Aira tak berkomentar. Dia tahu apa yang Shun rasakan. Mone masih labil emosinya. Di usianya yang sekarang, dia belum bisa bersikap dewasa. Terbukti dari kejadian dengan dokter di yayasan beberapa minggu yang lalu. Dia membutuhkan kasih sayang, makanya mudah menerima orang asing yang bersikap baik padanya.
"Bagaimana dengan kakek?"
Ken menggeleng. "Tidak ada. Kakek tidak berhasil membuat Yamaken berlatih beladiri. Dia seolah membiarkan hubungan Yamaken dengan Mone terjalin alami. Mungkin takut akan menjadi kisah mengerikan seperti rumah tangga kita."
__ADS_1
Aira tak berkomentar. Dugaan Ken mungkin saja benar. Sejak Aira menunjukkan identitasnya, Ken tak lagi menjadi prioritas kakek saat ada misi khusus seperti pencarian Tuan Harada waktu itu. Justru yang menjadi senjata andalan kakek adalah dia dan beberapa pengawal bayangan kepercayaannya.
"Kakek takut jika Yamaken dan Mone akan bertarung satu sama lain seperti yang terjadi pada kita." Ken lebih memperjelas prasangkanya. "Jadi, lebih baik tidak memaksakan kehendaknya. Itu yang lebih baik."
Aira mengangguk. Dia setuju dengan pemikiran suaminya. Dengan sikap Mone yang masih mudah terpengaruh, Yamaken yang lebih dewasa mungkin akan kesulitan mengendalikan sosok mungil kecintaannya itu.
"Aku merasa mereka tidak akan berjodoh." Ucapan Aira berhasil membuat Yamaken terhenyak. Dia tidak menyangka istrinya akan mengatakan hal itu.
"Tidak berjodoh? Apa maksudmu?" Kening Ken berkerut dalam. Entah kenapa Aira bisa berpendapat seperti itu tentang adiknya sendiri. Tapi, dia juga tahu bahwa insting wanita ini begitu kuat. Dia tidak mungkin sembarangan bicara.
Kali ini Aira menggeleng. Dia tidak memiliki alasan apapun. Feelingnya mengatakan demikian. Tidak tahu masalahnya ada di Mone, Yamaken, atau kakek. Entahlah.
"Sudah waktunya membawa mereka masuk." Aira membenahi pakaian anak-anaknya, bersiap membawa mereka kembali ke rumah.
"Ah, aku sudah mengirim pesan pada ibu. Beliau akan datang besok. Tolong kirimkan seseorang untuk menjemputnya." Permintaan itu Aira ucapkan sambil mengambil bayi mungil dari dalam dekapan Ken, membuat pria ini merasa hampa.
Ada dua hal yang membuatnya merasa kehilangan. Satu, Aya dan segala tingkah menggemaskannya yang tiba-tiba Aira ambil dari dekapan tangannya. Dua, sikap hangat yang Aira miliki, kini lenyap tak bersisa. Sejak membicarakan permasalahan pelik tentang Anna, dia berubah menjadi begitu waspada. Sama seperti ekspresi seorang agen khusus yang tengah memburu mangsanya.
Ken hanya bisa meneguk salivanya dengan paksa. Atensinya menatap punggung Aira yang semakin menjauh, meninggalkannya seorang diri dengan segala pemikiran yang ada.
'Apa yang haru aku lakukan?' batin Ken berbisik. Dia masih tetap sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak bisa menandingi Aira. Pesonanya sebagai seorang pemburu begitu kentara, berbeda dengan dirinya yang bisa bergerak setelah mendapat informasi lengkap dari bawahannya, Kosuke.
Seorang asisten rumah tangga mencegat langkah kaki Aira dan dua pengasuh bayinya.
"Nyonya, ada telepon untuk Anda dari Minami-san."
"Minami?" ulang Aira. Dia tidak menyangka akan mendapat telepon dari ibu hamil yang kini bekerja membantu Sang Suami mengurus Miracle.
"Benar. Silakan."
"Baiklah. Kalian bisa masuk lebih dulu." Aira menerima benda pipih itu dan segera menjauh dari pelayan dan para pengasuh bayinya. Dia sendiri tidak tahu kenapa Minami tiba-tiba menghubunginya. Apakah itu untuk urusan bisnis? Atau ada masalah yang lainnya?
Ken ikut heran. Dia tidak tahu siapa yang menghubungi wanitanya kali ini. Mungkinkah itu ada hubungannya dengan insting wanita ini tentang apa yang akan terjadi pada Mone dan adik kembarnya? Haruskah dia mencari tahu dengan siapa Aira berbicara saat ini?
* * *
Akhirnyaaaaa.........
Hello holla haiiiiii.... Akhirnya Author bisa kembal menyapa kalian setelah hiatus beberapa abad (ah, lebay!!)
Semoga kalian masih ada yang mau baca karya unfaedah ini yaa. Maaf jika masih banyak kekurangan. Semoga kedepannya bisa lebih baik lagi. Minta doanya juga semoga mood Author baik terus biar bisa halu terus dan kisah Ken-Aira bisa berlanjut.
Big love buat kalian semua. See you next day. Salam sayang dari Author tercinta kalian...
__ADS_1
Hanazawa Easzy