
Aira menarik diri setelah mencium Ken beberapa detik lalu. Pipinya memerah karena malu. Ken mematung di hadapannya dengan pandangan terluka. Ya, disaat Ken mulai menikmatinya, secara sepihak Aira tersadar dan melepaskan tautan mereka.
"Maaf..." lirih Aira. Ia bergegas naik dari kolam air panas itu karena merasa tak nyaman. Ia sendiri yang membuat suasananya jadi canggung seperti ini.
"Siapa yang mengijinkanmu pergi?"
Byurr
Ken menjangkau jemari Aira dan menariknya masuk lagi ke dalam kolam. Aira yang terkejut dengan perlakuan Ken yang tiba-tiba tak bisa menjaga keseimbangannya dan tenggelam ke dalam kolam detik itu juga.
"Uhukk uhukk..." Aira bangkit dengan dibantu oleh Ken. Ia terbatuk dan hidungnya menghisap air cukup banyak barusan. Ken membantunya dengan menepuk-nepuk punggungnya perlahan sambil tersenyum. Ia sangat menikmati wajah istrinya yang tak berdaya itu. Memerah seperti kepiting rebus.
Aira meliriknya dengan pandangan sengit, "Apa kamu ingin membunuhku lagi?" teriaknya di sela-sela nafasnya yang tak beraturan.
Ken menariknya dalam pelukan dan menepuk punggung istrinya dengan irama yang konstan, "Maaf, aku terlalu bersemangat." bisiknya di telinga Aira.
Aira mencoba melepas rengkuhan suaminya itu namun sia-sia. Ken terlalu kuat menahannya. Kini ia berpindah memeluk Aira dari belakang dan menyingkirkan helaian rambut istrinya ke sisi lehernya yang lain. Tangannya bersemayam di perut Aira, menahannya agar tidak bergerak sedikitpun.
"Kamu berhutang satu jawaban padaku." lirih Ken sambil menatap lurus ke depan. Memandang kerlip lampu kota di kejauhan. Mereka ada di pegunungan, jadi bisa melihat pemandangan kota yang lebih rendah. Cahaya lampu gedung pencakar langit di pusat kota seperti kunang-kunang di angkasa, kecil dan tak bisa ditangkap. Pemandangan yang menakjubkan.
Aira menutup mulutnya tak ingin merespon suaminya yang mulai melewati batas ini. Mereka tak pernah sedekat ini sebelumnya. Ah, semua karena kesalahannya sendiri yang terlalu menganggap remeh pria bertato kupu-kupu di punggung kanannya ini.
"Kamu harus menjawabnya. Pernahkan kamu bahagia saat bersamaku? Meskipun itu hanya dalam hitungan detik.." lirih Ken dengan suara parau. Ia pasti menahan gemuruh di hatinya. Bagaimana tidak? Tubuhnya yang shirtless sedang bersentuhan dengan punggung istrinya yang berbalut pakaian renang tipis. Dan ia laki-laki normal. Ia berusaha mengenyahkan semua pemikiran kotornya dan membuat Aira tetap nyaman di sisinya. Untuk sementara waktu.
Aira mengangguk pelan mengiyakan pertanyaan Ken. Ia mengingat semua kebaikan suaminya selama ini. Diluar sifat kasarnya, ia adalah pribadi yang sangat baik dan penuh perhatian. Ken tersenyum melihat respon istri kesayangannya itu.
Ya. Dia masih memiliki peluang untuk mempertahankan Air tetap di sampingnya.
"Terima kasih..." Ken mencium pipi istrinya sekilas dan meletakkan dagunya di pundak Aira dengan penuh cinta. Ken duduk dan memaksa Aira duduk di pangkuannya. Mereka menikmati kolam ini sampai pagi menjelang.
*******
Mentari terbit di ufuk timur menyiratkan sinar berwarna kuning kemerahan. Udara pagi yang sejuk khas pegunungan bertiup lembut di sekitar penginapan sekaligus tempat spa ini. Sorang wanita tengah duduk di kursi kayu yang menghadap ke laut. Ya, dialah Aira.
__ADS_1
"Aku bisa melakukannya sendiri." ucapnya saat Ken datang dan melepaskan handuk di kepalanya. Ken dengan cekatan mengeringkan rambut panjang istrinya dengan hairdryer yang ia dapatkan dari resepsionis beberapa saat lalu.
"Biarkan saya melayani anda, Tuan Putri." Aira tersenyum mendengar candaan suaminya. Ken merasa sangat senang bisa tetap bersama Aira sampai detik ini. Terlebih mereka bisa lebih dekat dari sebelumnya.
Tok tok
Sebuah ketukan terdengar dari pintu di sisi kanan keduanya. Dua orang pramusaji datang membawa nampan berisi makanan dan meletakkannya di meja. Mereka undur diri setelah mendapat anggukan dari Ken.
"Ayo makan. Aku lapar," ajak Aira.
"Aku belum selesai mengeringkan rambutmu," cegah Ken, "5 menit lagi."
Aira tersenyum dan menuruti kemauan Ken. Benar saja, 5 menit kemudian rambutnya sudah kering sempurna. Ken menyisirnya perlahan takut menyakiti istrinya. Aira tersenyum dalam diam. Ah, mereka seperti dua sejoli yang sedang dimabuk cinta.
Keduanya berajak ke meja makan. Ken duduk dan mulai mengambil sumpit di sebelah kanan mangkuknya. Sementara Aira terpaku beberapa langkah darinya. Pandangannya terpaku pada selembar obat yang tergeletak di sisi kiri makanan mereka. Obat berwarna orange yang membuatnya hampir kehilangan nyawa semalam.
Ken mengikuti pandangan Aira dan membimbing istrinya untuk duduk. Ia menyunggingkan senyum membuat lesung pipi pria itu nampak jelas.
"Aku tidak akan marah. Maaf sudah membuatmu takut. Aku hanya ingin menikmati waktu kita, tidak masalah jika kita harus berpisah nanti."
"Tapi.."
"Minumlah. Jika kamu hamil, kamu tidak akan bisa pergi. Dunia kami terlalu berbahaya untukmu. Bukankah kamu ingin bebas?" Ken mengelus puncak kepala istrinya sebelum memberikan obat kontrasepsi itu. Ya, mereka terbawa suasana saat di kolam air panas dan berlanjut ke kamar. Aira juga tidak bisa mencegahnya, sejujurnya Aira juga menikmatinya.
Aira meminumnya dengan ragu-ragu. Ken tersenyum dan menggenggam tangan istrinya dengan erat. Ia berusaha merelakan egonya demi kebahagiaan yang Aira inginkan. Ia akan melepaskan Aira. Sayonara.
Mereka tidak tahu ada rencana besar ibunya di balik obat 'buatan' itu. Keduanya melanjutkan sarapan dalam diam.
*******
"Disneyland , Disneysea, Fuji-Q Highland atau Universal Studio?" tanya Ken di balik kemudi. Mereka keluar dari pemandian air panas 30 menit yang lalu dan sekarang berkendara menuju pusat kota. Masih dengan mobil Yoshiro tentunya.
"Apa bedanya? Semua sama saja bagiku."
__ADS_1
"Disneyland dan Disneysea khusus penggemar semua hal Disney, tapi aku bahkan tidak yakin kamu menonton filmnya." ejek Ken pada gadis jilbab biru yang duduk dengan tenang di bangku sebelah.
Aira tersenyum. Benar yang dikatakan Ken, ia bahkan tidak tahu nama-nama dari para putri cantik itu. Satu-satunya yang ia tahu mungkin hanya Mickey Mouse. Itu pun sekedar tahu judulnya, ia bukan penggemar serial 2 dimensi dari negeri Paman Sam itu.
"Ada banyak wahana ekstrem di Fuji-Q Highland, sedangkan Universal Studios berhubungan dengan Harry Potter. Jadi mana yang ingin kamu datangi?"
"Terserah..." jawabnya ringan. Sebuah senyum terukir di wajahnya dengan tulus. Entah kenapa hatinya terasa lebih ringan sekarang. Tadinya ia takut Ken akan mendiamkannya, tapi pria di sampingnya ini justru bersikap sebaliknya. Ia sangat memanjakannya dan berjanji tidak akan melarang apapun yang ingin Aira lakukan.
"Ken.."
"Hmm..." jawabnya dengan gumaman.
"Terima kasih." Aira menatap suaminya intens. Ken menangkup pipi Aira dengan sebelah tangannya dan mengelusnya penuh cinta. Ya, ia harus membuat kenangan indah sebelum mereka berpisah. Setidaknya ia bisa hidup sendiri di masa depan dengan kenangan yang ia miliki bersama Aira.
*******
Di apartemen, seorang pria bersepatu hitam memasuki ruang kerja Ken. Ia berjalan dengan tenang dan mengambil stopmap biru yang tersimpan di laci paling bawah. Bukan hal yang sulit untuk membobol pengaman yang Ken tempatkan di sana. Ia membuka stopmap biru itu dan tampak lembaran kertas dengan tanda tangan Aira disana.
"Sudah ku duga, dia belum menandatanganinya."
Sebuah smirk tercetak di bibirnya, "Kita lihat apa yang bisa kamu lakukan dengan ini, Ken."
*******
Hai gaess... Kira-kira siapa yang ambil surat pengajuan perceraian Ken sama Aira ya?
Btw, itu Ken beneran mau relain Aira pergi? Author nyesek bayangin kalo mereka bakal pisahan beneran 😢😢
See you next chapter yaa,
Arigatou 😚
Hanazawaeaszy ^^
__ADS_1