
"Siapa kamu?" Yu mencekal lengan Aira yang beranjak pergi.
"Bukan siapa-siapa," ucapnya seraya tersenyum hangat. Menampilkan wajah polos bak malaikat yang membuat Yu bergidik ngeri. Wajah tanpa dosa itu seolah menyadarkannya bahwa gadis di depannya bukan orang sembarangan. Mungkin prinsip yang ia yakini hampir sama dengan Ken, menjauhi orang yang tersenyum padanya. Buktinya, Yu melepaskan cengkeraman tangannya begitu melihat Aira tersenyum tadi.
'Dunia yang berbahaya ini, lebih baik berhadapan langsung dengan senjata daripada dengan senyuman iblis yang penuh siasat'
"Apa kamu takut padaku?" Aira menahan tangan Yu yang bergerak menjauh, "Aku bukan ancaman untukmu, mungkin kita bisa berteman," ucap Aira ramah.
Yu mengibaskan lengan mungil Aira dan pergi tanpa sepatah katapun. Membuat Aira mengangkat bahunya dan menggeleng tak mengerti.
Aira berbalik dan mendapati sebuah pistol berwarna gold berada tepat di depan keningnya. Tak lain dan tak bukan, pria berbaju kuning yang sesaat lalu menghadangnya. Wajahnya merah padam dengan pandangan mata penuh selidik.
"Siapa kamu?" tanya Jerry tanpa mengalihkan pandangan dari manik coklat bulat di depannya.
Aira tersenyum dan mengarahkan pistol itu ke dada kirinya dengan tenang, "Disini lebih mematikan,"
Sontak hal tersebut membuat mata sipit itu membulat tak percaya. Gadis ini tak takut pada kematian. Ia bisa saja menarik pelatuknya saat ini juga dan dalam beberapa detik nyawanya telah beralih kepemilikan menjadi hak malaikat maut.
"Sudah ku katakan. Aku bukan musuh. Aku hanya ingin belajar dengan tenang. Hanya 3 bulan saja, setelah itu kalian tidak akan melihatku lagi. Jadi, nona Yu apa kamu mau menjadi temanku?"
Glek
Jerry menelan ludahnya dengan susah payah.
'Apa dia punya mata di belakang kepalanya?' batinnya. Jelas-jelas Yu baru berbalik ke arah mereka saat Aira sudah menghadapnya. Artinya Aira membelakangi Yu, bagaimana mungkin ia tahu saat ini Yu sedang menatap keduanya.
Yu hanya bisa mematung setelah mendengar dengan jelas pertanyaan Aira barusan.
"Disini panas. Mau temani aku berenang?" Aira menarik tangan Yu menjauh. Menyisakan Jerry yang masih mematung di tempatnya.
"Dia sama dengan 'orang itu'. Iblis paling mematikan yang tak pernah membunuh orang." gumamnya lirih.
*******
__ADS_1
09.30 WIB
Ken memasuki ruang rapat dengan wajah datar andalannya. Semua menunduk takzim termasuk seorang pria berbaju biru yang mencoba menyembunyikan matanya yang ingin menyelidiki setiap inchi gestur tubuh pimpinannya itu. Ken bukannya tak tahu, dia menyeringai 0.2 detik saat netranya bersitatap dengan pria itu. Detik berikutnya ia bersikap biasa saja.
Pertemuan rutin kali ini berjalan sebagaimana biasanya. Mendengarkan laporan bulan lalu, perkembangan bulan ini dan rencana sampai 3 bulan ke depan.
Setiap kepala bagian/manager melaporkannya dengan sangat baik. Tiba giliran pria dengan kemeja biru yang maju ke depan membawakan laporannya. Ya, dialah Yudha. Atasan Aira yang sekaligus mantan pacarnya. Orang yang paling menentang pernikahan Aira dan Ken.
Tak ada orang lain yang tahu, tapi Ken dengan jelas bisa membaca aura tak menyenangkan yang Yudha tunjukkan. Ken sengaja memutar-mutar cincin pernikahannya saat Yudha tengah menyampaikan presentasi laporannya. Hal itu membuat Yudha semakin tidak nyaman dan dengan cepat mengakhiri laporannya dan kembali ke tempat duduk.
Semua staff selesai melaporkan hasil dan rencana kerja mereka. Beberapa mendapat apresiasi dari Ken, dan sisanya hanya mendapat anggukan. Bahkan satu-dua harus direvisi jika dirasa tak akan mendatangkan keuntungan yang signifikan bagi perusahaan kosmetik mereka.
"Terima kasih atas kerja keras kalian. Hari ini aku sedang berbahagia, jadi kalian boleh pulang lebih awal. Tidak boleh ada karyawan yang kerja lembur walau satu detik pun."
Ken meninggalkan ruangan itu sambil menyeringai, merasa menang banyak dari cinta pertama istrinya.
12.55 WIB
Tok tok...
Yudha masuk dan menunduk sebelum berjalan mendekat ke arah Ken yang masih berkutat dengan dokumen di depannya.
"Maaf mengganggu. Apa saya bisa meminta waktu anda 5 menit?" tanya Yudha setelah dipersilahkan duduk oleh Ken melalui isyarat tangannya.
'Cepat atau lambat dia pasti akan datang,' batin Ken seraya melihat jam di tangannya.
"Ada masalah apa?"
"Apa Aira baik-baik saja?" ucapnya getir. Ia tak ingin berbasa-basi dengan waktu berharganya ini.
"Bukan masalah pekerjaan ya?" Ken menyeringai, salut pada karyawannya ini yang berani bertanya to the point. Dia menyandarkan punggungnya ke belakang, membuat kursinya sedikit mundur beberapa cm.
"Desas desus bermunculan karena dia tiba-tiba resign dan tidak pernah muncul lagi seminggu ini. Saat kembali nanti aku khawatir...,"
__ADS_1
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan istri orang lain. Terlebih lagi, orang lain itu atasanmu sendiri," sambar Ken sebelum Yudha menyelesaikan kalimatnya. "Dia adalah tanggung jawabku sekarang. Kami akan melangsungkan resepsi 3 bulan ke depan. Sampai waktu itu tiba, kamu hanya perlu diam. Ada yang lain?"
Yudha mematung di kursinya. Ya, dia seharusnya tidak mengacau seperti ini. Lagipula ia tak ada urusan lagi dengan Aira. Terlebih statusnya yang hanya manager pemasaran, sedangkan Ken adalah salah satu pemegang saham di perusahaan ini. Tentu posisi keduanya sangat berbeda.
Perlahan Yudha mengangsurkan buku kecil seukuran kertas memo ke arah Ken, "Saya sudah membuat daftar hal-hal yang Aira sukai. Kami tumbuh bersama sejak kecil, jadi mungkin itu akan membantu hubungan Anda dengannya. Tolong jaga dia. Saya permisi," Yudha mundur teratur sebelum punggungnya menghilang di balik pintu.
Ken membuka memo itu perlahan. Menampilkan nama-nama makanan dan minuman yang disukai Aira. Segaris senyum terukir di bibirnya, "Aku akan mengingatnya," ia kemudian memasukkan memo itu ke dalam saku jasnya dan melanjutkan pekerjaannya memeriksa dokumen yang sudah ia abaikan sejak 2 minggu yang lalu.
*******
Aira memyembulkan kepalanya dari kolam untuk ke sekian kalinya. Ia menikmati aktivitasnya kali ini dengan ditemani seorang teman. Ya seseorang yang ia paksa kemari sejam yang lalu. Tak lain adalah Yu, gadis asli Jepang yang sedari tadi hanya mematung di pinggir kolam.
Aira naik dan menyambar handuknya sebelum pergi ke ruang bilas. Yu mengikutinya di belakang dan duduk di antara loker di ruang ganti.
10 menit berlalu, Aira keluar dengan kimono mandinya dan berganti pakaian di depan loker, membelakangi Yu. Mata Yu terbelalak saat netranya tak sengaja melihat parut bekas luka di punggung Aira. Ada banyak garis-garis panjang yang membelah punggung mungil itu. Seperti luka sayatan atau bekas cemeti. Namun pemandangan itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum Aira memakai tank topnya dan kaos berwarna lavender di bagian luarnya. Dengan gerakan yang cekatan, sebuah jilbab sudah terpasang rapi di kepalanya. Yu tetap diam, dalam hatinya ia sedang merapalkan berbagai pertanyaan yang sejak tadi menghantuinya.
"Aku lapar, ayo makan," Aira melangkah mendahului Yu yang mengikuti 3 langkah di belakangnya.
"Kamu mau apa?" Aira memperhatikan menu di papan yang bertuliskan berbagai macam jenis olahan ayam dan ikan.
"Bento," ucap Yu kepada seorang pria di belakang meja.
"Aku juga," Aira menimpali sebelum orang itu pergi mengambil pesanan Yu.
Mereka makan siang bersama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aira menyelesaikan makannya lebih dulu dan berdiri hendak pergi.
"Aku membuatmu tidak nyaman kah? Terima kasih untuk hari ini. Sampai jumpa," Aira berlalu pergi dari kantin setelah mencuci peralatan makannya sendiri di wastafel.
Yu melihatnya sampai tubuh mungil itu menghilang di ujung koridor.
*******
Hi minna-san...
__ADS_1
Jumpa lagi kita. Ngga mau banyak omong, cuma mau mengingatkan sedikit, "Saat orang lain merasa tidak nyaman dengan keberadaan kita, alangkah baiknya kita menjaga jarak dengan mereka. Bukan karena mereka membenci kita, tetapi lebih kepada membiarkan perasaan mereka berkompromi dengan ego dan hatinya sendiri."
Sampai jumpa...