Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Ninja Palsu


__ADS_3

Shun bertelepon dengan Yoshiro, mencari tahu petunjuk tentang keberadaan tuan Harada. Sayangnya, Yoshiro kehilangan kartu nama yang diberikan oleh pria pemilik club house sebelum pria itu mengembuskan napas terakhirnya. Ada seseorang yang memukulnya dari belakang, bahkan melemparnya ke laut. Dia kehilangan semua identitas yang melekat di tubuhnya, termasuk ponsel dan kartu panti pijat Thailand dimana tuan Harada bersembunyi. Untung saja dia segera sadar dan bisa menyelamatkan diri. Jika tidak, mungkin nasibnya sama seperti pria tambun itu, menjadi makanan makhluk dasar laut.


"Jadi, kamu benar-benar tidak mengingatnya?" Shun mencoba menggali ingatan sahabatnya ini.


Yoshiro diam sejenak. Dia berusaha mengingatnya, memutar kembali memori di dalam otaknya.


"Zen Zen Massage and Spa," cetus Yoshiro setelah berhasil mengingatnya. Ia sempat membacanya sekilas sebelum memasukkan kertas segi empat itu ke dalam saku.


Deg!


"APA?!" Shun berdiri dari duduknya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga. Otaknya berputar cepat, menggabungkan berbagai kemungkinan yang terjadi.


Ada berapa banyak tempat spa dengan nama itu? Mungkinkah tempat yang Yoshiro sebutkan adalah lokasi yang sama dimana Kaori berada?


"Jangan bercanda! Kaori ada di sana!" pekik Shun detik berikutnya.


Dia mulai berlari setelah memutuskan panggilan sepihak. Terhitung sudah dua puluh menit berlalu sejak ia meninggalkan Kaori di panti pijat dan spa itu. Pria 29 tahun itu terus berlari menuju lokasi yang sebelumnya ia percaya sebagai tempat paling aman untuk istrinya. Pencarian tuan Harada tak lebih penting dibandingkan keselamatan Kaori. Shun harus bergerak cepat, ingin memastikan istrinya baik-baik saja.


Shun menyalakan earpiece di telinganya yang terhubung dengan para pengawal bayangan yang ia tempatkan di sudut-sudut tertentu. Setidaknya ada 20 orang yang akan membantunya mengamankan Kaori. Itu pun jika ia belum terlambat.


"Peringatan! Blokir semua akses keluar masuk kawasan ini. Jangan biarkan satu orang pun pergi dari sini. Temukan istriku atau kalian semua mati!"


Ancaman Shun membuat beberapa pria, yang sebelumnya menyamar sebagai warga sipil, bergerak cepat. Tiga orang melakukan pemblokiran jalan masuk, membuat para wisatawan yang ada di sana terkejut. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai membuat pintu utama kompleks perbelanjaan dan pusat street food ini ditutup.


Shun merangsek masuk ke dalam panti pijat dimana ia meninggalkan Kaori 25 menit yang lalu. Dia menatap petugas resepsionis yang ada di belakang meja dengan pandangan tajam, seolah siap mengulitinya hidup-hidup. Dia bukan orang yang bertugas sebelumnya. Sial!


"Selamat datang, Tu ... "


"Dimana istriku?" Shun menarik kerah baju wanita itu, mengabaikan pandangan pengunjung yang kebetulan sedang ada di sana. Dari postur tubuh dan wajahnya, dua tamu itu kemungkinan besar berasal dari Eropa, mungkin Inggris atau Italia. Meski tidak tahu apa yang Shun ucapkan, namun dari bahasa tubuh yang ia tunjukkan, terlihat jelas bahwa pria Jepang ini tengah emosi. Hal itu membuat dua turis berkulit putih itu segera pergi, enggan berurusan dengan masalah di tempat ini. Mereka bisa mendapat tempat massage lain yang lebih aman dibandingkan tempat ini


"Tuan, tolong kendalikan diri Anda!" Seorang petugas keamanan berusaha melepaskan cengkeraman tangan Shun dari rekan kerjanya. Sudah menjadi tanggung jawabnya untuk menjaga agar tempat ini tetap aman terkendali.


DUKK!


BRUKK


Shun menghempaskan wanita resepsionis itu ke lantai setelah menendang petugas kemanan tempat ini. Emosinya memuncak, dia tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Dengan langkah lebar, Shun masuk ke ruangan yang lebih dalam dan mulai menyibak tirai yang terpasang di depan pintu. Ia membuka setiap ruangan dengan tergesa, tak peduli pada pelanggan lain yang merasa terusik.


"Tuan, tolong berhentilah. Anda tidak bisa ... "


"Tidak bisa apa?"


BUGH!


Sebuah pukulan yang begitu keras menghantam seseorang yang berusaha menghentikan pencariannya. Shun sudah kehilangan akal sehat dan ketenangan yang selalu ia tampilkan selama ini. Rasa khawatir yang memuncak membuatnya bisa melakukan apa saja asal melihat istrinya selamat.

__ADS_1


Satu per satu bilik sudah ia periksa, termasuk ruang sauna di belakang sana. Namun, keberadaan Kaori tak tertangkap oleh matanya. Semuanya seolah sudah diatur dengan sempurna, Kaori menghilang tanpa jejak sama sekali. Entah apa yang terjadi padanya.


"Dimana kalian menyembunyikan istriku?" Shun menarik kerah baju petugas keamanan yang sedari tadi mengikutinya dalam diam. Pria itu sudah berusaha menghentikan Shun, tapi tidak berhasil dan malah menjadi korban kebrutalan laki-laki ini.


"Tuan, tenanglah. Kita bicarakan ini dengan kepala dingin." Pelayan berpakaian putih mendekat. Ia mencoba bersikap setenang mungkin, sementara petugas keamanan masih setia di sampingnya sambil menahan rasa sakit akibat pukulan tamu ini di pipinya.


"Omong kosong! Kalian berusaha mengulur waktuku. Benar 'kan?" Shun berusaha menjauh dari orang ini. Ia melangkah ke arah pintu keluar saat mendapati lima orang berpakaian serba hitam menghadangnya. Shun mengerutkan kening. Sebuah senyum miring terukir di bibirnya, menatap musuhnya yang memakai pakaian ninja.


"Akhirnya kalian menampakkan diri?!" Shun menggeram emosi. Dia sudah tahu, pasti hal seperti ini akan terjadi padanya, tapi tidak menyangka akan melibatkan Kaori. Pencarian tuan Harada ia lakukan dengan hati-hati, namun tampaknya masih bisa terendus juga oleh orang-orang ini.


Dan sialnya, Shun hanya seorang diri sekarang. Meskipun dia bisa mengalahkan orang-orang ini, bukankah itu artinya Kaori masih belum aman? Belum ada satu pun pengawal bayangan yang melapor padanya.


"Tuan, kita bisa membicarakan ini baik-baik. Ikutlah dengan kami dan mungkin Anda bisa segera bertemu istri Anda." Pria di belakang Shun masih berusaha membujuknya. Dia seolah tak terganggu sama sekali dengan kedatangan lima orang yang kini berjaga di depan pintu. Para ninja itu sepertinya ada di pihak yang sama dengan pria petugas keamanan dan wanita berbaju putih, artinya mereka memiliki kekuatan lebih besar di sini jika dibandingkan Shun yang hanya seorang diri.


"Bicara baik-baik? Dalam mimpimu!" ketus Shun yang sudah terpancing emosinya. Dia merangsek maju ke depan, mengabaikan para ninja itu yang kini mengelilinginya. Shun tersenyum sarkas, menunjukkan sisi iblis yang ada dalam dirinya. Dia bisa membantai ketujuh orang ini, lagipula ini bisa sekaligus melampiaskan emosinya yang memuncak.


Shun berjalan memutar di tempatnya berdiri, memperhatikan kelima musuhnya dan senjata yang mereka gunakan. Sebuah katana menjadi senjata kelima orang yang hanya tampak matanya ini. Namun, ada yang membuat Shun tergelitik. Cara mereka memegang katana terlihat aneh seperti takut dan ragu-ragu, berbeda dengan para samurai Jepang yang memegang senjata tajam itu dengan mantap dan penuh keyakinan. Bahkan jiwa mereka terhubung dengan pedang masing-masing. Berbanding terbalik dengan orang-orang ini. Shun yakin bisa mengatasinya.


Tit


Shun menekan tombol kecil yang ada di jam tangannya. Benda itu memancarkan sinyal darurat yang akan diterima oleh para pengawal di luar sana. Mereka akan segera datang ke lokasi ini berkat panduan GPS yang ada.


"Kita lihat sejauh apa kalian bisa bertahan!" Shun mulai menyerang, membuat seorang musuhnya terkejut karena gerakannya terlalu cepat.


BUGH


BRAKK


DUK


Perkelahian tak terelakkan lagi. Pria petugas keamanan yang ia pukul sebelumnya, ikut mendekat. Shun seorang diri menghadapi lima orang bersenjata di sekitarnya. Dengan kemampuan bela dirinya itu, bukan hal yang sulit menghadapi para ninja jadi-jadian ini. Pergerakan mereka tidak terlalu cepat, berbeda jauh dengan kualitas para ninja di bawah naungan keluarga Yamazaki. Pastilah orang-orang ini bukan kawannya, melainkan lawan yang harus ia musnahkan. Mereka adalah orang-orang tuan Harada yang berlatih di akademi ilegal. Pasti!


PRANG!


Seorang pria kembali Shun lumpuhkan, bahkan ia terlempar ke salah satu bilik spa dan menghantam peralatan pijat yang terbuat dari keramik. Satu set benda mengilap itu berbenturan satu sama lain, membuat wewangian minyak aromaterapi menguar ke udara dan tertangkap sampai indera penciuman Shun yang tajam.


Ting!


Sebuah ide brilian muncul di kepalanya. Dia tahu bagaimana cara mencari istrinya berkat mencium wewangian itu. Tapi, terlebih dahulu ia harus membereskan orang-orang ini.


Dengan gerakan cepat, Shun membantai orang-orang yang sudah menghalangi jalannya ini. Keenam orang itu tergeletak meregang nyawa dengan darah yang membanjiri lantai. Si Wanita yang berpakaian putih segera kabur. Dia pergi melalui pintu belakang dengan langkah cepat, membuat Shun menggeram. Jarak mereka terlalu jauh, akan buang-buang waktu jika ia mengejarnya.


Drap


Drap

__ADS_1


Drap


Dua puluh orang kembali datang, sepuluh dari pintu depan dan sisanya muncul dari pintu belakang yang dilalui wanita yang kabur itu. Shun mencengkeram jemarinya erat-erat. Musuhnya kembali berdatangan, menandakan bahwa waktu pencarian istrinya harus tertunda lagi.


BRAKK


Salah satu dinding kayu tipis-di sebelah kiri Shun-roboh ke lantai. Lima orang pria berdiri tegap, segera melindungi tuannya. Mereka berjaga-jaga mengelilingi Shun, mengamankan boss mereka ini.


"Pergilah, Tuan. Sampah ini biarkan kami yang mengurusnya!" Seorang pria yang baru datang itu menyuruh Shun pergi, sekaligus meminta perintah untuk menyelesaikan orang-orang ini. Shun menganagguk mantap. Dia mengeluarkan pistol di balik punggungnya, bersiap membersihkan halang rintang di depannya dengan jalan pintas.


Dor


Dor


Dor


Tiga buah tembakan mendarat tepat di jantung ketiga orang yang berusaha menghadang Shun. Mereka tumbang begitu saja sebelum memberikan perlawanan. Kelima orang yang dibawah kendali Shun, segera melawan ninja palsu itu. Mereka memang memakai pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh, hanya menyisakan bagian mata yang terlihat, dan juga membawa katana. Tapi kemampuan mereka sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan para ninja sesungguhnya dari Jepang. Kemampuan orang-orang ini sungguh payah, tak bisa diandalkan sama sekali.


Shun berlari menyusuri jalanan yang kini terlihat sedikit lengang. Orang-orangnya berhasil mengondisikan kawasan padat ini sedemikian rupa. Entah penjelasan apa yang mereka sampaikan, membuat orang-orang asing ini percaya dan kini berkumpul di satu titik.


Dua orang petugas kepolisian mendekat ke arah Shun. Mereka membawa serta dua buah anjing pelacak untuk mencari Kaori. Ya, begitu Shun menghidupkan sinyal darurat beberapa menit yang lalu, orang-orangnya segera mencari keberadaan Shun. Sebagian yang lain terus mencari keberadaan Kaori, dan satu orang melapor pada petugas setempat. Dan di sinilah dua orang polisi itu berada.


"Selamat malam, Tuan." Seorang polisi berpakaian navy menyapa.


Langkah kaki Shun terhenti. Dia mengatur napasnya yang memburu sembari menelan ludahnya guna membasahi kerongkongan yang terasa begitu kering.


"Saya mendapat laporan bahwa istri Anda menghilang."


"Benar. Kami berpisah di panti pijat setengah jam yang lalu." Shun menganggukkan kepalanya. Ia menyerahkan sapu tangan milik istrinya yang selalu ia bawa kemanapun. "Ini sapu tangan miliknya. Mereka bisa mencarinya 'kan?" tanya pria itu sambil melirik dua anjing pelacak di sebelah kanannya.


"Akan kami usahakan semaksimal mungkin. Anda bisa istirahat sejenak selagi kami mencarinya."


Shun menggeleng, "Aku akan ikut mencari dengan kalian."


Saat mencium tumpahan minyak aromaterapi tadi, Shun berinisiatif akan meminta bantuan anjing pelacak. Hewan ini pasti bisa menemukan keberadaan Kaori, berbekal aroma parfum yang dipakai oleh wanita itu, yang bisa tercium juga dari sapu tangan putih ini. Dan ternyata anak buahnya memiliki pemikiran yang sama dengannya, terbukti dengan kedatangan dua orang ini bersama hewan pelacak paling andal di muka bumi ini.


Dua petugas berwajib itu hanya bisa mengangguk. Mereka mengerti kekhawatiran seorang suami yang kehilangan istrinya, terlebih ini tempat asing untuk keduanya. Dilihat dari struktur wajah Shun, jelas dia bukan orang Thailand.


Shun bersama dua orang polisi dan anjing pelacak itu segera bergerak. Mereka menyusuri jalanan yang mengarah ke utara, mencoba mencari jejak keberadaan Kaori. Shun terus merapal doa di dalam hatinya. Semoga wanita kesayangannya baik-baik saja.


...****************...


Duuuhhh ikut deg degan rasanya. Kaya langsung ada di tempat kejadian aja 😥😂😂


See you, nantikan keseruan selanjutnya yaa. Ini belum ketemu si bapak Harada loh yaa. Gimana kalo ketemu nanti, baku hantam lagi? Are you ready? Haha. Canda. Otak Author berasap lho kalo bikin adegan action macam ini. Makanya jangan lupa tinggalkan jejak kalian yaa. Bye-bye,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2