
Ken sibuk di dapur saat pintu utama terbuka, menampilkan Kosuke, Minami dan tiga orang wanita yang sepertinya akan dipekerjakan menjadi pengasuh bayinya.
"Tuan, mereka sudah datang," lapor Minami pada atasannya yang kini sibuk di dapur.
"Urus sisanya. Mereka akan mulai bekerja malam ini juga." Ken menatap sekilas pada kelima orang yang menundukkan badan di depannya. Pandangannya tertahan pada wanita di tengah, yang berambut sebahu. Ken merasa wajah wanita ini tidak asing.
"Tunggu!" cegah Ken saat rombongan kecil itu bersiap pergi. "Siapa nama kalian?"
"Saya Mayumi Nagasaki. 35 tahun," jawab wanita rambut panjang yang diikat seperti ekor kuda.
"Saya Sakura Kobayashi. 27 tahun," aku wanita di tengah yang sedari tadi Ken perhatikan.
Ken menganggukkan kepalanya, paham siapa gadis ini. Dia adalah salah satu putri tuan Kobayashi, kepala pelayan di kediaman kakeknya. Pantas saja Ken merasa wajahnya tidak asing.
"Saya Mao Uchida. 31 tahun." Wanita terakhir menjawab dengan menundukkan kepala.
"Apa ada arahan khusus, Tuan?" tanya Kosuke yang kini berdiri tiga langkah di samping tuannya. Matanya memperhatikan gerakan Ken yang begitu lihai memotong berbagai sayuran di depannya, ada brokoli, wortel dan tomat.
"Istriku masih terlalu lemah, ia hanya akan menyusui mereka bergantian. Selain itu, semua pengasuhan ketiga anakku menjadi tanggung jawab mereka. Aku tidak ingin ada kesalahan sedikit pun!" ucap Ken sembari memasukkan sayuran yang dipotongnya ke dalam panci. Uap panas seketika naik ke udara saat tutupnya dibuka.
"Baik. Saya mengerti." Kosuke menganggukkan kepalanya, paham benar maksud tersembunyi dari tuannya. Ia tahu Ken akan memonopoli Aira kedepannya, tidak ingin waktu pribadinya terganggu, bahkan oleh ketiga anaknya sendiri.
'Mengerikan!' gumam Kosuke dalam hati, menyadari betapa toxic atasannya ini. Sekali dia menginginkan sesuatu, dia pasti akan berusaha sekuat tenaga menyingkirkan segala penghalang yang akan menghadangnya.
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Ken sembari mengacungkan pisau di tangannya ke depan wajah Kosuke. Ujungnya yang lancip hanya berjarak beberapa centimeter dari hidung, membuat asistennya itu harus menahan napas detik ini juga.
"Maaf, saya akan segera pergi." Kosuke mundur beberapa langkah dan segera pergi dari hadapan tuannya yang begitu berbahaya.
"Bawa mereka menemui istriku." Ken meneruskan aktivitas memasaknya dan memberikan isyarat dengan tangan agar Minami membawa ketiga pengasuh putranya pergi.
...****************...
Minami terdiam sepersekian detik di tempatnya berdiri. Ia menatap wajah lelah Aira yang terpejam. Ya, ibu tiga anak ini tertidur saat menyusui putranya, Azami. Sepertinya ia begitu kelelahan dan tidak sadar tertidur dengan posisi tangan masih memeluk putra sulungnya itu.
Minami dengan hati-hati memindahkan ketiga bayi itu ke dalam box dan menyelimuti mereka. Tak lupa, ia juga menyelimuti Aira sebatas perut.
"Nyonya Aira sedang tidur. Perkenalannya kita lakukan lain kali saja, kalian bisa istirahat di kamar masing-masing," tutur Minami. Ia membawa ketiga pengasuh itu ke kamar mereka, persis di belakang tangga penghubung lantai satu dan lantai dua.
"Apa ada pertanyaan?" Minami menatap ketiganya bergantian, menunggu pertanyaan yang mungkin mereka ajukan.
"Apa nyonya Yamazaki akan tetap di sana sepanjang malam?" tanya Sakura.
"Tuan akan membawa nyonya keluar setelah dia selesai di dapur. Kalian bisa bergantian menjaga mereka. Ini ponsel untuk kalian bertiga, gunakan untuk memanggil satu sama lain saat diperlukan." Kosuke tiba-tiba muncul di belakang istrinya dan menyerahkan tiga buah paper bag pada penghuni baru rumah ini.
"Nyonya hanya akan menyusui mereka secara bergantian, karena kondisi fisiknya yang masih lemah. Selebihnya, semua tanggung jawab ada pada kalian, termasuk menyiapkan dan memberi makan saat usia mereka sudah di atas enam bulan nanti," titah Kosuke lebih lanjut.
Ketiganya mengangguk bersamaan, menyanggupi perintah khusus yang terdengar oleh telinga mereka.
Kosuke dan Minami meninggalkan ketiga pengasuh yang seharusnya baru tiba di rumah ini esok siang. Keduanya berpamitan pada Ken untuk pulang ke tempat tinggal mereka sendiri.
"Ini, minum vitaminmu dulu. Kamu juga harus menjaga kesehatanmu." Kosuke memberikan dua tablet multivitamin setelah duduk di dalam mobilnya. Obat itu didapat dari dokter kandungan yang memeriksa istrinya beberapa hari yang lalu.
"Terima kasih. Aku baik-baik saja. Tidak perlu mencemaskanku." Minami tersenyum sambil menatap wajah suaminya yang penuh kekhawatiran. Ia segera menelan vitamin di tangan Kosuke dengan bantuan air mineral.
"Bagaimana bisa aku tidak mencemaskanmu? Nyonya sudah memintamu libur, kenapa masih berkeliaran kesana kemari? Aku bisa melakukan semuanya sendiri." Kosuke kesal karena istrinya tidak mau mengambil cuti yang diberikan.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan ambil libur besok. Jangan marah-marah lagi yaa."
Cup
Minami mencium pipi Kosuke sembari memakaikan sabuk pengaman di depan badan suaminya itu. Perlakuan tiba-tiba tersebut membuat wajah pria 27 tahun itu merona merah, malu.
"Ayo pulang," ajak Minami setelah menatap arloji di tangannya yang menunjukkan pukul tujuh malam.
"Sudah waktunya makan malam, kamu mau makan di luar?" tanya Kosuke menawarkan istrinya.
"Boleh. Dimana?"
"Ada satu restoran China yang baru dibuka di dekat sini. Pemiliknya adalah teman tuan Yamaken. Kita bisa kesana sekarang. Mau kesana?" Kosuke menawarkan sambil membawa mobilnya keluar dari pelataran rumah Ken.
"Boleh."
...****************...
Ken selesai berkutat di dapur. Ia mencuci tangannya setelah memasak beberapa menu kesukaan istrinya, salad sayur dan sup ayam.
"Tolong bawa makanannya ke kamar. Kamar utama, bukan kamar anak-anak," pinta Ken pada seorang pelayan yang sedari tadi stand by tak jauh darinya. Dia adalah pengurus yang nyonya Sumari tempatkan di rumah ini.
"Baik."
Ken melenggang bebas ke kamar anak-anak setelah melepas apron di tubuhnya dan melemparkannya ke keranjang pakaian kotor. Ia sampai di sana dan mendapati salah satu pengasuh anaknya yang sedang sibuk menimang Ayame dalam gendongan.
"Dia bangun?" tanya Ken pada Sakura, gadis yang beberapa kali ia temui saat ada perayaan di kediaman kakeknya.
"Iya. Sepertinya nona kecil lapar. Dia ingin menyusu," ungkap Sakura.
"Aya-chan, kamu lapar? Kamu yang paling kecil, kenapa porsi makanmu yang paling banyak?" canda Ken sembari mendekat ke arah istrinya.
"Saya akan menunggu di luar." Sakura menundukkan kepala, berniat keluar dari ruangan ini. Tidak etis rasanya melihat tuan dan puannya di ranjang yang sama, mungkin mereka butuh privasi. Sakura mengingat jelas semua pelajaran etika yang disampaikan oleh ayahnya.
"Tidak perlu. Ada sesuatu yang ingin aku katakan," cegah Ken segera. "Tunggu sebentar."
Ken meletakkan putrinya di depan Aira dan membangunkannya dengan hati-hati. Ken menepuk pipi istrinya pelan.
"Sayang, bangunlah. Putrimu lapar."
"Hmm?" Aira membuka matanya dan menatap wajah suaminya yang hanya berjarak dua puluh centimeter darinya.
"Apa aku tertidur?" tanya Aira spontan saat menyadari kedua bayinya tak lagi ada dalam jangkauan tangannya. "Dimana Akari dan Azami?"
"Tenanglah. Mereka ada di sana." Ken melirik keranjang bayi tempat kedua putranya berada.
Aira mengembuskan napas lega. Ia mulai menyusui putrinya setelah memastikan kebenaran apa yang suaminya sampaikan.
"Apa kamu pengasuh anakku?" tanya Aira pada Sakura yang kini berdiri di samping pintu.
"Benar. Saya Sakura Kobayashi," jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Ah, ibu sudah mengatakannya padaku sebelumnya. Kemarilah, tidak perlu bersikap terlalu formal saat hanya ada kita bertiga."
"Baik." Sakura mendekat dan duduk di kursi yang Ken tunjuk.
__ADS_1
"Jadi, kamu putri bungsu tuan Kobayashi?" tanya Aira membuka percakapan.
"Benar, Nyonya."
"Ku dengar kamu juga belajar di akademi? Jadi kamu bisa beladiri?" Aira mengonfirmasi info yang ibunya sampaikan kemarin.
"Ya. Saya bisa melakukannya meski tidak sebaik Tuan dan Nyonya."
Aira tersenyum. Ia menatap penampilan gadis yang terlihat sederhana ini. Dia tidak memakai riasan di wajahnya, hanya sedikit sapuan lipstik warna peach di bibirnya.
"Simpan ini!" Ken mengulurkan sebuah pistol revolver pada pengasuh bayinya ini, memintanya menjadi pengawal khusus bagi Aira dan ketiga bayinya.
*Pistol atau senjata api genggam dibagi menjadi dua jenis utama. Revolver, yang menggunakan kamar peluru yang berputar. Dan pistol biasa, yang kamar pelurunya menyatu dengan laras. Pistol merupakan senjata yang berlaras pendek, ringan, praktis,Β dan mudah dibawa. Pistol biasa dengan kaliber peluru yang kecil saja sudah cukup mematikan. Perlu latihan dan pengalaman dalam menggunakan senjata api jenis ini.
"Tuan?"
"Itu pistol dengan peredam suara. Aku tidak bisa mendampingi istri dan anak-anakku sepanjang hari, jadi tolong jaga mereka dengan baik."
Sakura mengambil senjata api itu dengan sedikit perasaan getir. Meski sudah bisa. menduga hal ini akan terjadi, tapi ia tidak tahu akan begitu cepat ia mendapat tanggung jawab ini.
"Anda mempercayai saya?" tanya Sakura, menatap Ken dan Aira bergantian.
"Diantara kalian bertiga, aku paling mengenalmu. Kamu tidak mungkin berkhianat 'kan?" celoteh Ken sambil tersenyum.
"Mohon bantuanmu kedepannya, Sakura-chan," pinta Aira. Ia mengulurkan tangannya, mengajak gadis ini berjabat tangan.
Sakura mengulurkan tangannya, menyambut tangan Aira dengan sedikit gemetar. Ini tugas yang cukup berat untuknya, tapi bagaimana pun juga, kedua tuan dan puannya sudah mempercayakan hal ini padanya.
"Tidak perlu terlalu takut. Masih ada pengawal yang aku tempatkan di luar rumah. Kamu bisa meminta bantuan mereka saat hal darurat terjadi." Ken berucap sambil menatap ke luar jendela dimana ada tiga orang pria yang sedang berjaga di depan pintu gerbang
Sakura mengangguk. Ia tahu hal itu, bahkan ada pengawal bayangan yang Ken siapkan di kediamannya ini.
"Sakura-chan, tolong jaga putriku. Aku harus mengurus bayi besarku sekarang." Aira menyerahkan putrinya pada Sakura saat melihat isyarat mata yang Ken tunjukkan.
"Baik."
HAP
Ken mengangkat Aira ke dalam gendongannya detik itu juga.
"Ken?!" protes Aira. Wajahnya merona merah. Ia malu karena Ken begitu aktif mendominasi meski di depan orang lain. Masih ada Sakura di sana.
"Kobayashi-san, jaga mereka dengan baik!" titah Ken pada Sakura yang hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan senyum.
Plakk!
"Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!" protes Aira sambil menepuk dada suaminya. Namun hal itu tak berpengaruh sama sekali pada Ken. Ia tetap membawa Aira ke kamar utama.
...****************...
Whoaa, ada pengawal khusus buat baby triplet ini yaa. Ngga sabar mau buat adegan action lagi πππ
Sabar... Sabaaaarrr.....
__ADS_1