Gangster Boy

Gangster Boy
Kamu ingin membunuhku?


__ADS_3

"Ku dengar semalam kamu menginap di paviliun? Tidak ada hal buruk yang kamu lakukan padanya kan? Aku percaya padamu" pungkas Kento sebelum berlalu, sambil melambaikan tangan tanpa berbalik. Ken menutup mukanya dengan kedua tangan.


FLASHBACK


Semalam setelah melihat Aira menangis di pelukan bibi Tsu, ia masuk ke kamar dan pura-pura tidur. Sampai pagi Aira tidak masuk lagi ke kamar. Bahkan untuk mengambil pakaian yang hari ini ia kenakan untuk ujian kelulusan ini, bibi yang mengambilkannya.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Ken sesaat sebelum bibi membuka lemari pakaian berwarna coklat itu.


Bibi menggeleng lemah tanpa mengatakan apapun.


"Dimana dia sekarang?"


"Sedang menyiapkan sarapan," bibi Tsu menjawab dengan datar, tidak seperti biasanya yang selalu bersikap ramah.


"Bibi, apa ada yang salah denganmu hari ini?" Ken berjalan mendekati pelayan yang sangat ia kenal itu.


"Saya harap anda bisa membahagiakan nona Aira. Bagaimanapun juga, anda sudah memutuskan untuk mengambil tanggung jawab sebagai suaminya," bibi Tsu menunduk hormat. Sikapnya kali ini benar-benar asing.


"Bibi, tolong katakan apa salahku. Kenapa, ada apa dengan sikapmu ini? Kita tidak seasing itu. Aku sudah menganggap bibi seperti ibuku sendiri, tapi kenapa tiba-tiba...?"


Bibi Tsu menghela nafas beratnya, "Hari ini adalah ujian akhir yang akan menentukan nasib Aira-chan di tangan Tuan Besar. Setelah 3 bulan penuh penderitaan, kenapa anda menghancurkannya dalam semalam? Tidak bisakah anda kembali hari ini saja. Setidaknya itu tidak akan mengganggu konsentrasinya,"


Ken menunduk menyadari kesalahannya, "Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya ingin melihatnya lebih awal,"


"Sebelum semuanya terlambat, cobalah perbaiki keadaannya,"


Ken memutuskan untuk mencari udara segar. Langkah kakinya mengarah ke kolam ikan koi di tengah taman. Di bawah temaram lampu ia duduk termenung sampai pagi.


Ingatannya kembali saat ia masih bersama Erina. Mereka pertama bertemu saat SMA. Erina gadis manis yang banyak dikagumi teman sekolahnya, sedangkan Ken adalah preman sekolah yang paling ditakuti. Kilasan ingatan itu membuatnya semakin terpuruk karena pada akhirnya ia yang menjadi alasan Erina bunuh diri.


"Sarapannya sudah siap," suara lembut itu menginterupsi lamunan Ken. Ia memutar kepalanya dan mendapati Aira berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.


Puk puk


Ken menepuk kursi kayu di sampingnya, "Duduklah," pintanya lirih.


Aira menuruti kemauan suaminya tanpa ingin memikirkan lebih jauh apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia duduk di samping Ken yang memandangnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Ada apa?" Aira bersuara karena sejak tadi Ken terus memandanginya dalam diam.


"Kepalaku sedikit sakit, bisakah kamu memijatnya?" Ken meletakkan kepalanya di pangkuan Aira dan mulai memejamkan matanya.


Aira memijat kepala Ken perlahan, mengamati wajahnya yang rupawan. Seperti malam itu saat di bukit. Aira menyentuh hidung Ken dengan jarinya, kemudian naik ke alis sebelah kirinya, memainkannya dari ujung kembali ke ujung lagi membuat pipi pria itu menghangat. Tangannya terhenti di depan mata Ken, urung memegang bulu mata suaminya.


Ken membuka matanya, "Kenapa berhenti?"


"Jangan muncul di depanku saat ujian nanti," pintanya.


"Heih, kenapa?" Ken menarik tangan Aira dan menempatkannya di pipi.

__ADS_1


"Aku membencimu. Jika aku melihatmu, itu hanya akan membuatku tidak bisa fokus," Aira mencium kening Ken, "Dan satu hal lagi, jangan jatuh cinta padaku,"


Deg


Ken melepaskan genggamannya dan duduk dengan perasaan tak menentu. Terlambat. Ia sudah jatuh hati sejak ia mencium Aira yang tengah terlelap setelah berhadapan dengan para tetua hari itu. Dan malam ini, ia jatuh semakin dalam, Aira mencuri hatinya dan Ken terjebak dengan hasratnya yang selalu ingin berada di dekat Aira.


FLASHBACK END


"Dia membuatku gila," ucap Ken sambil menatap Aira dari kejauhan. Dengan berat hati ia meninggalkan tempat persembunyiannya.


Sementara di tempat lain, tepatnya di sebuah gedung mewah bernuansa gold ini, Naru sibuk menyiapkan perayaan untuk Ken dan Aira tanpa keduanya tahu.


"Bagaimana dengan gaunnya, sudah datang?" tanya Sumari setelah sampai di samping putrinya.


"Ah, mereka dalam perjalanan kemari bu. Hmm.. Apa ibu yakin kakak akan datang? Dia tidak pernah suka acara seperti ini. Dan sepertinya kakak ipar juga bukan gadis yang biasa datang ke pesta,"


"Aku akan membawa Ken kemari bagaimanapun caranya" jawabnya sambil tersenyum penuh siasat, "Soal Aira-chan, dia gadis yang bertanggungjawab. Dia tahu apa yang harus dilakukan meski dia tidak menginginkannya,"


"Bu, tidakkah ibu takut pada kakak ipar? Tatapan matanya saat marah lebih mengerikan dari Ken atau kakek, saat di rumah sakit dia bahkan..."


"Sst... Tidak baik membicarakan orang lain di belakang. Ibu percaya padanya, dia yang kakakmu butuhkan," ibu menepuk bahu Naru sebelum berlalu meninggalkannya.


Drrtt drrtt


Naru mengambil ponsel di dalam sakunya, ada sebuah pesan yang Kento kirimkan.


Naru : Apa?


Kento : Aira melesatkan 10 anak panah dan 10 tembakan semuanya tepat sasaran.


Naru terkejut, matanya membulat sempurna.


"Ibu... bu..." Naru berlari menghampiri ibunya yang sedang menata bunga di pintu masuk, "Lihat, kakak mengirim pesan," Naru memberikan ponselnya pada Sumari.


"Ada apa?" tanya wanita 47 tahun itu sambil tersenyum. Ia menerima ponsel Naru dan segera membaca pesan dari putranya. Seketika senyumnya sirna, ia terduduk di kursi yang ada di belakangnya.


"Ya Tuhan, dia..."


Kembali ke akademi, Aira meletakkan pistolnya ke atas meja dan melepas penutup telinga yang dipakainya. Ia berlalu ke ruang ganti setelah membungkuk pada guru penguji dan semua murid akademi yang ada di kursi penonton.


"Apa itu tadi? Aku tidak sedang bermimpi kan?" tanya Jerry sambil mencubit pipinya, "Aww sakit. Ini bukan mimpi,"


Yu tidak menjawabnya, dia juga masih terkejut melihat kejadian di depannya barusan. Sempurna. 3 tahun di akademi, baru kali ini dia melihat hasil ujian yang tanpa cacat seperti ini. Terlebih lagi, Aira hanya berlatih 3 bulan saja. Sedangkan ia yang sudah berlatih 3 tahun saja tidak bisa mendapat nilai sempurna dan selalu gagal di target terakhir.


"Hanya manusia tanpa hati yang bisa melakukannya," ucap gadis berbaju hitam itu lirih sambil berlalu meninggalkan kursinya.


"Yu... tunggu aku," Jerry berlari menyusul gadis pujaannya.


Yu berjalan cepat masuk ke ruang ganti menghampiri Aira yang sedang meneguk air mineral dari dalam botol, "Iblis macam apa yang bersembunyi di balik wajah polosmu itu?" tanyanya tajam.

__ADS_1


Jerry terpaksa berhenti di pintu, mengawasi keduanya takut terjadi hal yang tak diinginkan. Ia tidak bisa masuk karena itu ruangan ganti untuk wanita.


Aira menatap keduanya bergantian dan berlalu ke loker untuk mengambil baju gantinya. Tak ingin menjawab pertanyaan Yu, ia masuk ke salah satu bilik yang tertutup tirai dan mulai melepas jilbabnya. Hendak berganti baju.


Sreett


Yu menyibak tirai berwarna biru itu ke samping.


"Bagaimana bisa kamu menembak ibumu sendiri? Meskipun itu hanya gambar virtual, tidakkah kamu merasa bersalah padanya?" Yu menatap Aira dengan pandangan tak percaya. Ya, ia selalu gagal di papan terakhir. Disana sengaja diatur gambar orang yang paling mereka sayangi.


Aira tidak mempedulikannya dan tetap melepas bajunya. Yu membuka mulutnya lagi hendak mengumpat saat ia melihat lagi bekas luka di punggung Aira. Meskipun bukan pertama kali melihatnya, ia masih saja merasa iba dan memilih pergi setelah menutup tirainya seperti semula.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Yu begitu Aira keluar dari bilik. Ia berdiri bersandar tembok di samping loker milik Aira.


Aira masih menutup mulutnya tak berniat menjawab pertanyaan tak penting itu. Dengan wajah datarnya ia memakai sepatu yang ada di loker paling bawah.


"Luka di punggungmu, itu menggangguku. Jangan menunjukkannya lagi," pungkasnya dan berlalu pergi. Meninggalkan Aira yang terpaku di kursinya. Gerakan tangannya terhenti saat itu juga, dengan sebal ia melempar sepatu yang sedang ia gunakan. Melampiaskan kemarahan yang sejak tadi ia tahan.


Aira masuk ke kamar mandi dan mencuci mukanya, sedikit meredakan emosinya. Dengan langkah gontai ia keluar dari kamar mandi.


Hap


Seseorang memeluk Aira dengan erat. Aroma lavender menyeruak dari jasnya yang berwarna hitam. Aroma favorit Aira sejak dulu dan orang ini sekarang memakainya.


Hening


Tak ada suara selain detak jam dinding di atas pintu. Pelukan itu semakin erat dan sesekali pria itu mencium puncak kepalanya.


"Kamu ingin membunuhku?" tanya Aira sarkas.


*******


Hai minna-san. Genki desu ka?


Author berterimakasih untuk kalian yang masih mau membaca coretan unfaedah sampai episode 17 ini.


Hontou ni arigatou 🤗🤗


Btw, author cuma mau bilang, kita seringkali terlalu mudah menyerah di awal. Padahal kita bisa menaklukkan semuanya dengan baik jika kita lebih memantapkan diri lagi. (eh ngomong apaan sii gue? hehe gomen ne)


Btw, buat readers semua jaga kesehatan yaa. Do our best in everything we do.


Yosh, Ganbareba dekiru !!


Bye 😙😙


With love,


Hanazawaeaszy

__ADS_1


__ADS_2