
"Apa yang terjadi?" tanya Shun sambil menahan bahu Ken.
"Bukan urusanmu!" Ken menyentak pegangan tangan Shun dengan kasar. Ia berjalan cepat menuju kamar tempat ia biasa istirahat dengan Aira.
PRAANG
Guci kuno di depan pintu itu kini hancur berkeping-keping akibat tendangan Ken yang tengah emosi. Ia tidak peduli berapa kompensasi yang harus Kosuke bayar pada pemilik rumah terkait kerusakan benda antik itu. Ken hanya ingin melampiaskan emosinya.
Ia sudah bersabar selama berjam-jam mengikuti Aira dan Mone berbelanja. Baru saja ia merasa nyaman karena bisa berduaan dengan Aira, bahkan bisa memberikan sedikit hukuman manis untuknya saat tiba-tiba lidahnya terasa ngilu. Ya, Aira menggigit daging tak bertulang itu yang berhasil membuat Ken melepaskan istrinya.
BRAKK
Dan pintu kamar Ken-Aira kembali menjadi korban kemarahan pria lesung pipi itu. Selain guci antik tadi, tampaknya Kosuke juga harus menghitung biaya perbaikan pintu. Tidak peduli benda apa saja yang menjadi pelampiasan kemarahan tuannya, Kosuke hanya perlu menghitung total biayanya dan menggunakan uang milik Ken untuk membayar kompensasinya. Selalu begitu.
Ken merebahkan badannya di ranjang dan menyembunyikan kepalanya dengan bantal. Ia tidak boleh egois. Meskipun ia sangat marah sekalipun, ia tidak boleh bersikap kasar apalagi sampai menyakiti Aira. Ia sudah bertekad untuk membahagiakan wanita Indonesia itu. Tidak peduli betapa menyebalkannya situasi ini, Ken harus memikirkan kebahagiaan Aira dan bersabar menghadapinya. Harus!!
Terlebih lagi, kondisi kesehatan istrinya baru pulih. Ia harus menjaga mood baiknya agar sistem imun di dalam tubuh wanitanya itu tetap kuat. Sedikit saja ia bersedih atau merasa tidak senang, imunitas tubuhnya melemah dan berbagai bahaya mungkin bisa membahayakan keselamatan calon anak-anaknya. Ya, ia hanya perlu bersabar dalam beberapa bulan lagi sampai jagoannya lahir. Setelah itu ia bisa puas 'bermain' dengan Aira.
Nafasnya mulai teratur dan kantuk datang menderanya, membuatnya segera memejamkan matanya dan masuk ke alam bawah sadar detik berikutnya. Ken tertidur dengan tubuh tertelungkup di atas ranjang. Jangan lupakan sepatu yang masih melekat di kedua telapak kakinya dan baju tebal yang melingkupi tubuhnya. Ia terlalu lelah dan langsung terlelap tanpa sempat berpikir hal yang lain.
Sementara itu di pelataran rumah bergaya klasik ini, Mone menggandeng lengan Aira sambil memainkan kunci mobil di sebelah tangannya. Wajahnya tampak sangat bahagia berhasil mengerjai kakak iparnya.
"Apa kamu berulah? Kenapa dia bisa seperti itu?" tanya Shun menghadang Mone dan Aira. 'Dia' yang Shun maksud disini adalah Ken. Ia heran apa yang bisa membuat Ken begitu marah dan melampiaskan emosinya pada benda-benda tak bersalah di rumah ini.
"Siapa suruh menghukum kak Aira? Aku tidak akan membiarkan siapapun menindasnya." jawab Mone percaya diri, membuat kerutan di kening Shun semakin dalam.
"Aku mengambil jalan pintas, memangkas perjalanan pulang dari Red Square yang seharusnya satu jam menjadi 15 menit saja. Sepertinya kakak ipar marah karena ia belum selesai dengan kak Aira. Bahkan mungkin mereka belum memulainya." canda Mone.
Penjelasan Mone membuat kerutan di kening Shun menghilang, berganti dengan senyum yang terukir di wajah tampannya. Ia mencubit hidung adik angkatnya dan memiting tubuh mungil itu di bawah ketiak, membawanya masuk dengan paksa untuk mendapat hukuman. Shun selalu melakukannya saat Mone melakukan kesalahan.
*memiting \= mengapit atau menjepit dengan kaki atau lengan, seperti gerakan mengunci lawan dalam olahraga beladiri.
"I.. Itai..." lirih Mone berusaha melepaskan hidungnya dari siksaan Shun. Namun nyatanya tenaganya tak sebanding dengan pria itu. Ia kalah dan hanya bisa melambaikan tangannya pada Aira yang kini terpaku di tempatnya berdiri. Tanpa mereka sadari, sepasang muda-mudi berbeda usia tengah menertawan mereka.
*itai : sakit
__ADS_1
"Ai-chan..." panggil Yoshiro yang ada di balkon lantai 2 rumah ini sambil melambaikan tangannya. Ia dan Yu masih saja menertawakan kejadian di depannya. Meski berjarak beberapa meter, mereka masih bisa mendengar dengan jelas percakapan ketiga orang di halaman bersalju itu. Mone bisa membuat Ken semarah itu, dia pasti sungguhan adik sepupu Aira. Tidak diragukan lagi.
Aira menatap ke arah Yu dan Yoshiro. Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum, "Apa yang kalian lakukan di sana?" tanya Aira sedikit mendekat ke arah keduanya.
"Tidak ada. Kami hanya sedang menghitung butiran salju yang turun dari langit." jawab Yu sembarang membuat Aira mengangkat sebelah alisnya. Sahabatnya di akademi benar-benar berubah, ia kini jadi lebih banyak bicara. Dan Aira menyukai perubahan itu.
Yu di akademi tampak seperti batu karang kokoh yang membuat kapal mana saja memilih berbalik haluan agar tak terbalik. Tapi, kehadiran Yoshiro di sisinya perlahan mengubah gadis itu menjadi wanita seutuhnya. Bisa membuatnya tersenyum, tertawa, bahkan sedikit candaan juga keluar dari mulutnya. Padahal Yu yang dulu hanya bisa mengucapkan kata-kata sarkasme yang mengerikan untuk membuat lawan bicaranya ketakutan dan segera pergi menjauhinya.
"Nona, masuklah. Udaranya semakin dingin." Minami muncul di belakang Aira. Mengingatkan nonanya agar segera masuk ke dalam rumah karena malam semakin larut. Ia mendekat dan memberikan baju hangat tambahan untuk Aira. Sebelah tangannya memegang payung untuk melindungi Aira dari butiran salju yang mungkin akan menumpuk di pundak. Asisten yang sangat memperhatikan kesehatan puannya.
"Kalian istirahat juga. Besok kita akan kembali ke Jepang." ucap Aira sambil melambaikan tangannya pada Yu.
Gadis 22 tahun itu tersenyum menatap punggung Aira. Ia merebahkan badannya ke belakang, membiarkan tubuhnya bersentuhan dengan lantai marmer yang terasa dingin.
"Aku iri padanya." ucap Yu sambil menatap gugusan bintang di angkasa yang semakin terlihat memudar sinarnya. Tampaknya benda itu akan segera musnah dari pandangan manusia di bumi.
"Kenapa?" tanya Yoshiro. Ia ikut berbaring di arah yang sebaliknya dengan Yu, membuat kepala mereka saling bersisian. Tangannya meraih pipi Yu dan membelainya dengan lembut.
"Ada apa?" tanya Yoshiro. Ia menempelkan keningnya di sebelah kelopak mata Yu tepat sebelum bulir bening itu mengalir deras.
"Yu.." panggil Yoshiro. Ia menatap gadis itu dari samping, hanya berjarak beberapa centimeter saja. Ia tertegun melihat Yu menangis dalam diam. Belum lagi pegangan tangannya yang semakin erat membuat Yoshiro semakin bertanya-tanya apa yang tengah dipikirkan kekasihnya itu.
"Ayo kita menikah." ucap Yu dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bayangan senyum manis Erina kembali menghantuinya, membuat Yu tersiksa dengan perasaannya sendiri. Di satu sisi, ia ingin selalu bersama Yoshiro dan membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih dekat. Namun di sisi lain, ia akan merasa bersalah dan seolah mengkhianati Erina, gadis yang menjadi cinta pertama Yoshiro sekaligus kakak kandungnya sendiri. Selama ini Yu menyimpan hidden feelings itu rapat-rapat dalam hatinya.
*hidden feelings : perasaan tersembunyi
"Yu.." Yoshiro beranjak bangun dan segera menarik Yu dalam pelukan. Ia tahu apa yang kini gadis itu pikirkan. Itu sebabnya ia ragu ketika akan melamar Yu sebelumnya. Ia memilih memberikan cincin bergambar bulan bintang pada gadis itu tanpa mengatakan apapun, khawatir akan membuatnya depresi jika ia mengajaknya menikah saat itu juga.
Sungguh kematian Erina memberikan efek besar di kehidupan orang-orang di sekitarnya, bukan hanya ayahnya atau Yu, juga pada Ken dan Yoshiro. Mengakhiri hidup bukanlah jalan untuk menyelesaikan masalah yang ada, justru akan membuat masalah baru yang lebih kompleks. Setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. Jadi tidak ada pembenaran sedikitpun untuk para pelaku yang memilih mengakhiri hidupnya sendiri. Mereka hanyalah orang-orang egois yang mencari pembenaran atas keputusasaan yang mereka rasakan.
Yu melepas pelukan Yoshiro, ia memilih pergi dari tempat itu dan segera masuk ke dalam kamarnya. Semakin dalam ia terlibat dengan Yoshiro, maka semakin kuat penyesalan di dalam dadanya karena menggantikan posisi Erina di hati Yoshiro. Ia tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
...****************...
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh malam saat Ken membuka matanya. Ia merasa ada tangan mungil yang sedang memijat betisnya.
"Ai-chan.." panggil Ken seraya membalikkan badannya. Ia duduk di depan Aira yang tersenyum manis padanya, "Apa yang kamu lakukan?"
"Memijat kakimu." jawab Aira, "Bukankah kamu kelelahan tadi karena mengikuti kami berbelanja?"
Ken meraih kedua tangan Aira dan lngsung menciumnya. Ia merasa bersalah karena sudah membuat jemari mungil itu memijat kakinya saat ia terlelap dalam tidurnya.
"Tidak. Aku tidak lelah sama sekali. Aku akan mengantarmu kemanapun kamu mau." Ken menatap istrinya penuh cinta. Ia akan menuruti semua keinginan Aira, "Bahkan jika kamu ingin pergi ke benua antartika sekalipun, aku akan bersedia menemanimu." ucap Ken.
Aira tersenyum mendengar candaan suaminya, "Terima kasih. Tapi aku akan membeku di sana."
Ken ikut tersenyum mendengar penuturan istrinya. Ia tahu Aira adalah wanita terbaik untuknya. Tuhan benar-benar mengirimkan wanita ini untuk mendampinginya, memberikan support saat ia terpuruk, menenangkan saat ia kalut, dan membuatnya tersenyum saat ia berpikir bodoh seperti barusan.
"Hoam." Aira menutup mulutnya yang menguap dengan tangan. Salah satu adab seorang muslim adalah menutup mulut saat menguap atau batuk. Semua itu demi menjaga harkat dan martabatnya di hadapan orang lain.
"Mau tidur sekarang?" tanya Ken. Ia merebahkan Aira perlahan dan menyelimuti wanitanya itu. Ia memijat kaki dan tangan Aira bergantian. Ken akan membalas kebaikan Aira berkali lipat. Membuat istrinya itu nyaman dan tertidur lelap.
...****************...
Yeyyy update lagi.. 💃
Satu masukan yang pengen author sampaikan di sini : seberat apapun jalan hidup yang kita rasakan, jangan pernah putus asa apalagi sampai mengakhiri hidup (bunuh diri)
Allah menciptakan sakit beserta obatnya, maka sebuah masalah pun pasti ada jalan keluarnya.
Keep healthy ya teman-teman semuanya 🤗😘😘
Please like, vote & komen yaa
With love,
Hanazawa easzy 💜
__ADS_1