Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Oura Ring


__ADS_3

Ken berhasil menangkap orang yang menyuntikkan obat bius dosis tinggi pada istrinya, namun kabar buruk harus ia dengar karena kondisi Aira semakin melemah. Obat bius dari Kaori berhasil mengaktifkan sisa venom/racun bisa ular yang ada di tubuhnya.


Pihak dokter sudah mengupayakan cara terbaik, namun mereka tidak berani memberikan obat antivenom pada Aira. Terlalu berbahaya untuknya dan janin di perutnya. Pada akhirnya Ken memutuskan membawa Aira kembali ke Jepang. Fasilitas kesehatan di negaranya jelas lebih maju dan bisa memberikan harapan hidup yang lebih tinggi, meskipun ia tahu hidup dan mati seseorang sudah diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.


"Bertahanlah istriku..." bisik Ken setelah menciumi wajah istrinya dengan mata berkaca-kaca. Ingatannya kembali pada pertemuan pertama mereka saat Aira sedang jogging. Ia yang terburu-buru tidak sengaja menabrak Aira dan membuat ponsel mereka tertukar. Kesalahpahaman ibunya membuat pernikahan mereka terjadi. Baik Ken maupun Aira tidak menginginkan pernikahan ini, tapi keadaan memaksa mereka harus tetap menjalaninya. Dominasi Ken membuat Aira terpaksa bertahan dengan segala luka yang harus ia alami.


Tok tok


Kosuke mengetuk dinding kaca di depannya, meminta Ken untuk keluar. Ia melaporkan bahwa pesawat pribadi yang membawa mereka ke Jepang akan siap dalam satu jam. Ken hanya mengangguk pelan dan kembali masuk menemani Aira yang masih tak sadarkan diri.


Semua hal ia serahkan pada Kosuke dan Minami, termasuk penanganan Kaori yang akan ia bawa untuk menukar Yu. Beberapa menit yang lalu, Yoshiro menghubunginya dan memberitahu bahwa Yu menghilang. Ken yakin itu pasti ulah Shun, ia ingin memperkeruh keadaan agar ia dan Yoshiro bersedia kembali ke dunia gelap bersamanya. Hal yang sangat keduanya hindari.


Sejak kematian Erina, baik Ken maupun Yoshiro berusaha membenahi kehidupan mereka dan menjaga jarak dari para mafia yang ingin mengacaukan kehidupan damai mereka. Ya, Ken berusaha menikmati kehidupan indahnya sebagai manusia biasa, bukan pewaris tahta klan yakuza paling berpengaruh di Jepang.


*******


Tokyo, Jepang


The University of Tokyo Hospital merupakan salah satu rumah sakit terbaik yang ada di Jepang, bahkan di dunia. Semua tenaga medis yang ada di rumah sakit ini memiliki standar tinggi dalam hal pelayanan dan pengobatan masyarakat.


Rumah sakit ini juga memiliki sejarah yang cukup panjang dalam hal pelayanan kesehatan. Dilansir dari laman resminya, pada 1858 silam rumah sakit ini telah berdiri dan diawali dengan pelayanan vaksinasi bagi masyarakat setempat. Pada saat itu ilmu tentang vaksin di Jepang merupakan hal baru, sehingga tidak semua dokter dapat memahaminya.


Kini, The University of Tokyo Hospital menjadi salah satu rumah sakit terlengkap dan terbaik di dunia. Ranking diberikan pada kualitas pengobatan, pelayanan, dan tentu pada kualitas tenaga medis yang bekerja di rumah sakit tersebut.


Seorang perawat masuk ke ruangan VVIP membawa troli berisi obat-obatan untuk pasien. Lengkap dengan sarung tangan dan masker sebagai APD (alat pelindung diri) yang wajib dipakainya saat menangani pasien.


Perawat itu dengan cekatan menyuntikkan obat melalui pipa kecil yang ada di punggung tangan Aira. Detik berikutnya ia mencabut spike dari botol infus yang akan segera habis dan memindahkannya ke botol infus yang lain.


*Spike/Penetrate Needle Infuse adalah jarum infus/tranfusi set yang berfungsi sebagai pembolong botol infus dan juga sebagai penghubung pertama cairan infusan.


Ken mengamatinya dalam diam, tangannya terus menggenggam jemari Aira yang belum sadarkan diri. Entah berapa hari lagi ia harus menunggu istrinya untuk siuman. Meskipun kondisinya sudah lebih baik dari pada seminggu yang lalu saat pertama kali masuk ke rumah sakit ini, tapi belum ada tanda-tanda kesadarannya kembali pulih. Pihak dokter sudah melakukan yang terbaik, tapi nampaknya belum membuahkan hasil.


"Yamazaki-san, seseorang mengirimkan ini untuk istri Anda." ucap perawat itu memberikan sebuah kotak berwarna hitam pada Ken tanpa membuka masker di wajahnya. Seketika kewaspadaannya meningkat. Ia mengeluarkan pistolnya dan segera menodongkannya di depan kening wanita itu.


"Siapa yang mengirimmu?" jantung Ken berdegup dengan kencang. Ia mengabaikan panggilan Shun karena ingin fokus menemani Aira. Orang itu pasti tidak akan tinggal diam karena keinginannya tak terwujud. Ken tahu seniornya itu pasti akan datang dan memiliki maksud lain dengan mengirimkan perawat wanita ini.


"Anda akan segera tahu." jawabnya dengan tenang.



Tiit


Atensi Ken segera beralih pada sebuah monitor di sebelah kanan ranjang perawatan Aira. Monitor hemodinamik dan saturasi itu menampilkan gelombang denyut jantung, tekanan darah, oksigen yang diserap tubuh, dan temperatur yang perlahan bergerak naik. Data tersebut diperoleh dengan cara menempelkan elektroda di tubuh Aira, untuk dihubungkan ke monitor dengan kabel.

__ADS_1


"Apa yang kamu berikan pada istriku?" tanya Ken panik. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada Aira setelah mendapat suntikan obat dari wanita asing ini.


"Jangan khawatir. Kondisinya akan segera membaik." jawabnya santai sambil meletakkan kotak hitam mungil di tangannya ke atas nakas. Ia bergegas pergi tanpa mempedulikan Ken yang masih memandangnya dengan penuh tanda tanya.



Ken membuka kotak yang wanita itu tinggalkan. Tampak cincin hitam bertuliskan ucapan "Love you" yang ia tunggu-tunggu beberapa hari ini. Ia mengambil benda berbentuk lingkaran itu dan memakaikannya di jari tengah istrinya. Cincin mungil berbahan logam yang kini melingkar di jari Aira sebenarnya adalah sebuah alat kesehatan berteknologi tinggi yang dikenal dengan nama Oura Ring.


Berdasarkan situs perusahaan tersebut, cincin yang digunakan oleh Aira itu merupakan salah satu teknologi tercanggih di dunia, yang bisa melacak setiap langkah dan gerakan lainnya, pola tidur, waktu istirahat dan pemulihan. Cincin itu juga bisa membantu mengatasi jet lag dengan sangat baik saat berpergian keliling dunia.


Cincin yang terbuat dari bahan titanium tersebut ditawarkan dalam dua pilihan gaya dan empat warna berbeda, namun Ken memilih warna hitam kesukaannya. Cincin tersebut bekerja dengan melacak suhu tubuh penggunanya dan mencatatnya setiap menit ketika mereka tidur. Kemudian membandingkan suhu pada malam sebelumnya dan melacak variasinya. Cincin ini juga menggunakan sensor inframerah untuk mengukur tekanan darah langsung dari arteri di jari.


Ken memesannya dari situs online beberapa waktu yang lalu, tapi kenapa wanita misterius itu yang membawakannya kemari?


"Aku yang membuatnya. Apa kamu menyesal telah memberikan banyak uang untukku?" tanya seorang pria yang memasuki ruang perawatan Aira dengan senyum terkembang di wajah putihnya, berhasil membuyarkan lamunan pria berlesung pipi itu. Namun Ken tak menjawab. Ia menatap Shun dengan pandangan mematikan.



"Obat penawar yang aku berikan tampaknya bisa diterima dengan baik oleh istrimu. Apa kita bisa membuat kesepakatan sekarang?" tanya Shun sambil memamerkan 5 buah tabung reaksi berisi antivenom buatannya dengan warna yang berbeda-beda. Salah satu botol itu tampak berkurang sedikit isinya.


Ken seketika berdiri sambil menggertakkan giginya dengan tangan terkepal di sisi badan. Ia masih menimbang keputusan yang harus diambilnya untuk menyelamatkan Aira. Satu sisi ia tidak ingin berhubungan dengan pria di depannya ini. Ia tidak ingin berurusan dengan orang-orang di masa lalunya dan membuat pertumpahan darah seperti yang sudah-sudah. Tapi di sisi lain, ia ingin Aira terselamatkan bagaimanapun caranya.


Baik dokter di Indonesia atau di Jepang sekalipun, semuanya tidak berani menjamin keselamatan janin dalam rahim Aira jika ingin menetralisir venom/racun bisa ular di tubuhnya. Hanya Shun yang yakin dengan efektifitas antivenom buatannya sendiri.


"Hari ini, anggap saja sebagai promosiku padamu. Antivenom yang masuk ke dalam tubuh istrimu hanya 2mL dan itu sudah membuat jantungnya kembali normal. Pikirkan baik-baik penawaranku. Bekerjalah denganku maka aku akan menyembuhkan istrimu dan menyelamatkan anakmu." bujuk Shun sambil menatap Aira yang terbaring di ranjang dengan segala peralatan medis di tubuhnya.


Untuk beberapa saat Shun merasa hatinya tidak nyaman. Wajah bulat di depannya seolah menarik kesombongan dalam hatinya yang selama ini ia tunjukkan di hadapan semua orang dan menggantinya dengan perasaan berdebar.


'Apa-apaan ini?' batinnya ragu. Ia segera mengalihkan pandangannya pada Ken yang masih terdiam tak bergeming sedikitpun. Ia bimbang akan keputusan yang harus diambilnya saat ini. Jika ia menyetujui kesepakatan itu, akan ada tugas besar yang menantinya dan itu pastilah berhubungan dengan mafia yang mengancam nyawanya. Tapi jika ia tidak menyetujuinya, kemungkinan besar ia akan kehilangan istri atau calon buah hatinya, atau bahkan keduanya?


"Apa jaminannya?" tanya Ken pada akhirnya. Tidak ada opsi lain untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai saat ini selain mengandalkan Shun.


"Ambil nyawaku jika ini gagal." jawab Shun tanpa ragu. Ia sangat yakin Ken tidak akan menyerah jika berhubungan dengan pengobatan Aira, "Bagaimana? Kamu menyetujuinya?"


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ken lugas.


"Kita bicarakan ini di tempat lain. Aku akan menghubungimu." Shun pergi tanpa menunggu persetujuan Ken. Ia sempat melirik sekilas ke arah Aira dan kembali merasakan perasaan tak nyaman seperti sebelumnya.


*******


Hamparan salju menutupi hampir seluruh jalanan membuat mobil petugas kebersihan kewalahan. Setiap satu jam sekali mereka berkeliling membersihkan salju dari jalanan untuk mencegah terjadinya kecelakaan.


Tak jauh dari sana, tiga orang pria duduk mengelilingi meja berbentuk bulat di restoran Italia. Ialah Ken, Yoshiro dan tentu saja Shun.

__ADS_1



"Mone Kamishiraishi. Dia mengilang 5 tahun yang lalu saat ulang tahunnya yang ke 15. Jejaknya terakhir ada di Italia, selebihnya tidak ada petunjuk yang lain." ucap Shun sambil meletakkan selembar foto di atas meja.


"Italia?" tanya Ken sarkas. Apa Shun sengaja menjauhkannya dari Aira? Entahlah.


*******


Jam dinding menunjukkan pukul 12 malam saat Aira membuka matanya. Ia melepaskan alat bantu pernafasan yang sebelumnya melingkupi kepalanya. Tampak Ken tertidur di samping ranjang perawatan Aira dengan wajah lelahnya.


Aira siuman dua jam setelah Shun memberikan antivenom buatannya. Jemari mungilnya meraba surai hitam Ken membuat si empunya terbangun.


"Ai-chan..." panggil Ken antusias. Ia segera bangkit dari duduknya dan menciumi wajah istrinya membabi buta, menyalurkan rasa cinta, haru dan bahagia yang menyelimuti perasaannya sekarang. Aira tersenyum lemah melihat perlakuan Ken padanya.


Ken memencet bel berwarna merah yang tertanam di dinding. Tak berapa lama kemudian, seorang dokter dan dua orang perawat masuk ke ruangan khusus 'orang berada' itu. Mereka memeriksa keadaan Aira dan melepas alat yang sebelumnya menempel di dadanya. Kondisinya baik, bahkan sangat baik membuat para perawat heran dengan kecepatan pemulihan Aira. Padahal sebelumnya, Aira tak ubahnya mayat hidup yang tergeletak tak berdaya di tempatnya.


"Kondisi pasien sudah stabil, hanya perlu istirahat yang cukup." pesan dokter itu sebelum pergi.


Ken membantu Aira duduk dan terus menatap wajah chubby istrinya yang tampak sedikit tirus. Selain karena morning sickness yang dialaminya, seminggu ini juga tidak ada makanan yang masuk ke perutnya selama ia tak sadarkan diri.


"Terima kasih.." ucap Ken sambil mencium punggung tangan istrinya denga penuh cinta. Aira membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu namun tak ada yang bisa ia ucapkan. Suaranya seolah tertahan di tenggorokan.


"Ada apa?" tanya Ken khawatir.


Aira tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Ia menunjuk tenggorokannya yang terasa kering. Ken segera mengambilkan air putih dari atas nakas untuk istrinya itu.


Puk puk


Aira menepuk ranjang di sebelahnya, meminta Ken duduk di dekatnya. Hal itu membuat kening Ken bertaut karena heran. Sebelumnya Aira selalu mandiri, tak pernah manja seperti ini.


Puk puk


Aira kembali melakukan hal yang sama membuat Ken mau tidak mau menuruti permintaannya, naik ke atas ranjang berwarna putih dan berbagi busa/matras berukuran 200 x 90 cm itu.


"Aku merindukanmu, Ai-chan.." lirih Ken saat ia membawa istrinya dalam pelukan. Dekapannya semakin erat seolah tak ingin melepaskannya. Aira tak menjawab namun balas melingkarkan tangannya di punggung Ken. Keduanya diam selama beberapa menit, menikmati kedekatan masing-masing sebelum mereka berpisah. Ken mengurai pelukannya dan menempelkan keningnya pada Aira.


"Please trust me..." Ia menatap tepat di manik hitam Aira seolah meyakinkan istrinya ada sesuatu yang akan terjadi. Aira mengangguk sebagai respon bahwa ia percaya.


(Percayalah padaku..)


"Sudah larut malam, ayo istirahat lagi." Ken merebahkan badannya dan membiarkan Aira tidur dalam dekapannya hingga pagi menjelang.


*******

__ADS_1


Made with love,


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2