
Kosuke bersama Minami mendatangi kediaman Mone di sebuah gedung pencakar langit. Keduanya berniat mengungkapkan tentang permasalahan serius yang diam-diam menghantui kehidupan mereka yang tadinya damai.
Berkali-kali Kosuke mengambil napas panjang, seolah mengondisikan fisik dan mentalnya untuk bertemu Mone. Dia tahu gadis itu bukan wanita sembarangan. Dia Black Diamond, mesin pembunuh paling ampuh yang tidak mengenal ampun. Meski belum pernah melihat aksinya secara langsung, tapi ketenaran namanya membuat siapa saja bergidik ngeri.
"Ada apa denganmu? Nervous?" Minami mengamati wajah suaminya dari samping. Beberapa bulir keringat mengalir melalui pelipisnya.
Kosuke mengangguk. Dia tidak bisa menyembunyikan apapun dari wanita kesayangannya ini.
Minami tersenyum. Dia mengambil tisu dari dalam tasnya dan menyeka wajah calon ayah dari anak-anaknya ini. "Dia tidak akan menggigitmu, kenapa harus takut seperti itu?"
Candaan Sang Istri tidak bisa membuat Kosuke menghilangkan rasa gugupnya. Dia memiliki beban besar di pundaknya, terkait masalah Anna, Shun, dan Yuki. Mereka membuat pria 27 tahun ini harus memutar otaknya dan mencari solusi terbaik untuk permasalahan pelik mereka.
"Dia Black Diamond." Kosuke masuk ke dalam lift diikuti oleh Minami di belakangnya.
"Apa masalahnya. Dia hanya gadis yang imut."
Kosuke menatap Minami sekilas, tidak tahu kenapa wanitanya ini seolah begitu tenang tanpa beban sama sekali. Tanpa dijelaskan sekalipun, dia pasti tahu sepak terjang pembantai itu.
"Kenapa gedung ini tinggi?" Minami meraih lengan Kosuke, mengajaknya bermain perumpamaan.
"Kenapa?"
"Karena kita melihatnya dari bawah." Minami tersenyum, melanjutkan kalimatnya. "Dan kenapa pemandangan di bawah terlihat begitu kecil, atau bahkan tidak bisa kita lihat sama sekali?"
Kosuke tidak menjawab pertanyaan wanita hamil ini. Dia mengerutkan keningnya, mencari tahu kemana arah pembicaraan wanita ini.
"Karena kita melihatnya dari atas gedung."
Perlahan, Kosuke coba mencerna apa yang Minami sampaikan. Pasti itu berkaitan dengan kekhawatirannya kali ini.
"Kamu terlalu takut untuk bertemu dengan nona Kamishiraishi karena kamu melihatnya sebagai Black Diamond yang mengerikan itu."
Lift mulai bergerak, membawa dua insan bernyawa ini naik ke lantai 7, tempat Mone berada.
"Tapi, jika kamu melihatnya sebagai adik nona Aira, mungkin penilaianmu akan lain lagi."
Kosuke bungkam. Dia baru menyadari kekeliruannya ini dan akhirnya setuju dengan pernyataan istrinya. Dia terlalu takut untuk menghadapi Mone, padahal jika dipikir-pikir, Aira lebih diwaspadai. Kemampuannya sebagai seorang agen khusus dan juga hacker, pasti berkali-kali lipat lebih berbahaya dibanding adik sepupunya itu.
"Mereka ada di atas kapal yang sama dengan kita, bukan orang jahat sama sekali. Jadi, tidak akan terjadi apapun yang berbahaya. Kalaupun nantinya nona Kamishiraishi murka, masih ada tuan muda Yamaken yang bisa mengendalikannya."
Kosuke merasa beban berat di hatinya mulai terangkat. Tadinya dia khawatir dengan keberadaan Yamaken, tapi orang itu justru kemungkinan besar akan membantunya.
"Sudah clear?" Minami menatap Kosuke dengan wajah bersinar yang dijawab anggukan oleh suaminya.
Ting
Tepat saat itu, pintu lift terbuka, menampilkan koridor pendek di hadapan mereka.
"Ayo!" Minami menarik tangan suaminya, membawa langkah pria itu menuju salah satu pintu di depan sana. Seorang Kosuke yang terbiasa tenang di setiap situasi, bisa juga merasa gentar sebelum menghadapi seorang Mone.
Ting tong
Kosuke menekan tombol berwarna putih di bagian kanan pintu, dia kembali merasa sedikit tegang, tapi segera teredam begitu melihat senyum indah istrinya. Keduanya saling melengkapi satu sama lain, benar-benar pasangan yang serasi.
Hanya dalam hitungan detik, pintu berwarna putih tulang itu terbuka, menampilkan sosok Yamaken yang tampan dan rupawan.
"Selamat siang, Tuan." Kosuke dan Minami kompak menundukkan kepalanya, menyapa tuan muda keluarga Yamazaki ini.
"Siang. Ayo masuk." Pria kelahiran 28 tahun yang lalu ini membuka pintu lebih lebar, membiarkan kedua tamu kekasihnya untuk masuk lebih dalam ke unit apartemen ini.
"Kalian sengaja datang kemari?" tanya Yamaken basa basi. Dia tahu, pasti ada urusan penting sampai dua orang ini meninggalkan perusahaan demi bertemu calon istrinya.
__ADS_1
"Benar. Maaf jika itu membuat Anda terganggu." Masih tetap Kosuke yang menjawab pertanyaan itu. Minami masih diam, memperhatiakan dekori rumah mewah yang dimasukinya ini.
Yamaken tertawa. "Ahaha. Tidak perlu sungkan seperti itu padaku."
Dari belakang sana, Mone tampak mendekat setelah mengeringkan tangannya. Dia baru saja selesai makan siang dan membasuh tangannya.
"Kalian datang lebih cepat dari dugaanku." Mone tersenyum menyambut kedua tamunya.
"Maafkan kami, Nona." Kali ini Minami yang bersuara.
"Ayo duduk."
Yamaken meninggalkan pasangan suami istri ini bersama Mone, sementara dia kembali ke dapur untuk menyiapkan minuman. Di musim panas seperti sekarang, udara di luar ruangan yang panas pasti membuat kedua tamunya haus.
"Minami-chan, bagaimana keadaanmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu." Mone duduk di sebelah Minami, menatap wajah yang tampak sedikit berisi itu dengan antusias.
"Saya baik, Nona. Hanya saja sedikit mudah lelah akhir-akhir ini." Minami tersenyum canggung, Dia tidak mudah dekat dengan orang. Terlebih pertemuannya dengan Mone bisa dihitung dengan jari. Itupun tidak pernah berbincang dekat satu sama lain dan membahas hal pribadi seperti sekarang ini.
"Ah, iya. Bukankah itu wajar untuk wanita berbadan dua sepertimu?"
Minami mengangguk. "Benar, saya mulai kesusahan tidur. Belum lagi saat seseorang menuntut ini itu, membuat saya harus terjaga lebih lama. Itu sedikit menyebalkan."
Blush
Wajah Kosuke merah merona. Dia tahu Minami tengah menyindirnya, karena akhir-akhir ini mereka sering olahraga malam selama berjam-jam. Memang benar pada awalnya Kosuke yang meminta, tapi di akhir justru wanita hamil itu yang merasa belum terpuaskan, meminta lagi dan lagi. Di usia kandungan yang menginjak trimester kedua ini, libido di tubuhnya memang bertambah banyak dengan pesat. Dan Kosuke tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, mendapat kepuasan berkali-kali sampai pagi.
"Murasawa-san, apa seseorang itu kamu?" Mone sengaja melongokkan kepalanya ke arah Kosuke, membuat pria itu salah tingkah dan menolehkan kepala ke arah lain. Dia malu karena Mone sengaja menyerangnya.
"Ah, apa aku boleh menyentuhnya?" Tatap mata Kamishiraishi ini tertuju pada perut buncit di depannya. MInami yang duduk satu jengkal darinya, membuat perut itu ada dalam jangkauan Mone.
Minami mengangguk. "Saya akan senang jika Anda bersedia memegangnya."
Mone sedikit terhenyak. Dia merasa wanita ini terlalu menyanjungnya, padahal dia hanya gadis biasa, bukan oranga yang patut untuk dimuliakan. Itu yang ada di dalam kepalanya.
Dukk
Calon buah hati Minami dan Kosuke menendang, membuat Mone merasakan getaran di dalam sana.
"Ah, dia menyapaku," ucap Mone, menundukkan badannya dan bersiap berbicara menghadap perut yang terhalang pakaian warna khaki itu.
"Hello, baby..." Mone menghentikan kalimatnya. Dia menengadah, menatap Minami, "Ah, dia laki-laki atau perempuan?"
"Kami belum memeriksanya. Biarlah itu menjadi kejutan untuk kami. Laki-laki perempuan sama saja, itu buah hati kami."
Mone tertawa tanpa suara. Dia setuju dengan kalimat terakhir Minami. Ya, meskipun peralatan medis sekarang begitu maju, tapi ada beberapa pasangan suami istri yang justru tidak ingin mengetahui identitas atau jenis kelamin bayinya. Mereka ingin itu menjadi kejutan spesial untuk keduanya saat lahir nanti. Dan dokter juga dengan senang hati menjaga rahasia itu.
"Baiklah, aku anggap dia laki-laki saja." Mone kembali merunduk. "Hey, Baby boy. Whats up?" Gadis itu mengelus perut Minami dengan gemas, seolah tengah menyentuh puncak kepala bayi yang ada di dalam sana.
Dukk
Lagi-lagi sebuah tendangan terasa dari kandungan enam bulan ini. Bayi di dalam sana begitu aktif, seolah tahu seseorang tengah memperhatikannya dari luar sana.
"Minami-chan, lihat dia menjawabku." Mone tampak begitu bahagia.
Yamaken yang datang membawa tiga gelas minuman dingin dan satu gelas air putih, tersenyum melihat interaksi Mone dengan tamunya. Calon istrinya itu tersenyum lebar, berceloteh semaunya sendiri di depan perut Minami.
Srukk srukk
"Kamu juga akan memilikinya kelak." Pria rupawan itu mengacak puncak kepala gadisnya setelah meletakkan nampan di atas meja.
Seketika wajah tembam itu merona. Dia kembali tersanjung dengan perlakuan Yamaken padanya. Pria ini begitu lembut, bisa memposisikan dirinya di segala situasi. Terkadang sebagai teman, pasangan, dan sekarang seperti seorang kakak.
__ADS_1
Kosuke dan Minami saling pandang sepersekian detik. Keduanya tidak menyangka Yamaken begitu pengertian pada kekasihnya. Sungguh, Mone ini gadis paling beruntung yang pernah terlahir di dunia ini. Calon suaminya adalah idaman seluruh wanita di muka bumi. Sikapnya seperti mentari pagi, menghangatkan bumi.
"Silakan minumannya, Kosuke-kun, Minami-chan." Yamaken menyajikan air putih itu untuk Minami dan air berwarna merah untuk pria yang duduk di sebelahnya.
Sesaat Mone bungkam, perhatiannya teralihkan. "Kenapa hanya air putih?" Protes itu terucap begitu saja, heran karena Yamaken membedakan jenis minuman untuk kedua tamunya. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa seorang wanita hamil tidak boleh minum es sirup atau sejenisnya. Mereka boleh mengonsumsinya selama tidak berlebihan jumlahnya.
"Tidak masalah, Nona. Saya memang tidak bisa minum minuman seperti itu sejak lama. Justru saya harus berterima kasih karena Tuan Muda masih mengingat hal itu untuk saya."
Lagi-lagi Mone terhenyak, tidak menyangka jika calon suaminya ini perhatian pada Minami yang notabene-nya hanya asisten pribadi atau setara dengan para pelayan di kediaman keluarga besarnya.
Ckiit
"Oeyy, jangan menunjukkan wajah jelekmu itu." Yamaken mencubit pipi kanan Mone, membuat empunya mengernyit. Dia masih sibuk dengan isi kepalanya sendiri, tidak menyadari tangan calon suaminya yang mendekat dan menjahilinya.
"Singkirkan tanganmu!" Mone berusaha menepis jemari Yamaken yang masih menempel di wajahnya.
Bukannya menuruti permintaan Mone, pria 178 cm itu justru menggunakan tangan yang satunya untuk mencubit pipi lainnya.
"Aaagh! Itai!" Mone mencengkeram tangan calon suaminya, menatap pria itu dengan pandangan sebal dan kesal. Pipinya memang tebal, tapi bukan berarti Yamaken boleh mencubitnya seperti tadi.
*Itai = sakit
Kosuke dan Minami tersenyum. Pasangan ini terlihat begitu menggemaskan, mematahkan segala prasangka yang menganggap Mone sebagai gadis yang menyeramkan. Dia sama seperti gadis lain pada umumnya, mudah tersanjung, pipinya merona saat digoda, juga sikap kekanakkan yang ia tunjukkan saat ada seseorang yang menindasnya.
Minami mencondongkan badannya ke arah Sang Suami, berkata dengan pelan, "Benar 'kan apa yang aku katakan sebelumnya? Dia tidak semenyeramkan bayanganmu. Lagipula, tuan muda ada bersama kita."
Kosuke mengangguk. Dia setuju dengan pendapat Minami. Gadis ini berhasil menyembunyikan identitas monsternya dengan baik, seolah dia hanya gadis lemah dan manja yang tidak tahu apa-apa. Padahal, sekali tebas, sepuluh atau lima belas orang langsung meregang nyawa.
Yamaken tertawa lepas kala Mone mengerucutkan bibirnya. Salah satu momen paling menyenangkan bagi aktor tampan ini adalah saat gadisnya marah. Dia menantikan momen itu sepanjang waktu.
Gluk gluk gluk
Mone meneguk minuman di depannya sampai tandas, habis tak bersisa. Dia kesal karena Yamaken terus mempermainkannya seperti anak kecil. Gelas milik Yamaken juga ia ambil, bersiap meminumnya sekarang juga.
"Aku akan menciummu sekarang juga jika kamu berani meminumnya."
"Uhukk uhukk." Mone tersedak. Satu tegukan minuman manis itu sudah ada di dalam mulutnya, siap meluncur melewati kerongkongan saat Yamaken mengatakan ancamannya.
"Uhukk uhukk." Gadis cantik itu masih terbatuk-batuk, mencengkeram tangan Yamaken yang kini memegangi tangannya.
Puk puk
"Pelan-pelan. Aku hanya bercanda." Yamaken menepuk-nepuk punggung gadisnya, berharap keadaan wanita ini kembali membaik. Dia tidak menyangka candaannya tadi akan membuat Mone tersedak air minum darinya. Mana mungkin dia akan mencium Mone sekarang juga? Jelas-jelas ada Kosuke dan Minami di sana. Dia cukup tahu diri untuk tidak mengumbar kemesraan di depan orang lain.
"Menyebalkan!" Mone melesatkan satu pukulan ringan ke arah Yamaken, membuat pria itu tersenyum.
"Baiklah. Aku minta maaf untuk itu. Aku tidak akan melakukannya lagi."
Hening seketika. Baik Kosuke maupun Minami memilih bungkam. Mereka tidak berniat menyela Yamaken dan Mone, mengganggu kemesraan keduanya.
"Jadi, untuk apa kalian datang kemari?" Yamekn memecah keheningan, mempertanyakan maksud dan tujuan dua asisten pribadi kakaknya datang kemari. Pastilah karena sesuatu yang penting.
Kosuke mengambil napas dalam-dalam. Tatap mata Yamaken berhasil membuat nyalinya sedikit menciut. Entah kenapa jika dilihat lebih seksama, mata pria ini sama tajamnya seperti milik Sang Kakak, Yamazaki Kenzo.
Jika saja keduanya bertukar peran, pastilah tidak akan ada yang menyadarinya. Entah kebetulan atau apa, keduanya sama-sama memiliki tahi lalat di pipi kanan dan gigi gingsul yang menjadi ciri khas tersendiri. Tuhan menciptakan keduanya sama persis, hanya membedakan karakternya saja. Benar-benar luar biasa.
"Ekhmm. Sebenarnya kami datang kemari untuk..."
* * *
Hmmm... kira-kira gimana yaa jawab pertanyaan Yamaken ini? Penasaran?
__ADS_1
Yuk nantikan episode berikutnya. See yaa,
Hanazawa Easzy