Gangster Boy

Gangster Boy
Gerbang Dewa


__ADS_3

Jam digital di atas nakas menunjukkan angka 07.00 pagi saat Ken mengerjapkan matanya beberapa kali. Tangannya meraba sisi tempat tidur yang lain dan membuat keningnya berkerut.


'Aira sudah bangun.' batinnya.


Ken duduk di ranjang dan tersenyum mengingat kejadian semalam. Ya, ia memandangi wajah istrinya sampai terlelap.


Setelah peristiwa penyerangan itu, Aira pingsan dan Ken menungguinya. Ia tidak sengaja tertidur. Ya, bagaimanapun juga tubuhnya butuh istirahat lebih setelah berbagai kejadian yang menimpa mereka beberapa hari ini.


Ken keluar kamar setelah membasuh wajahnya dan berganti pakaian dengan yang lebih nyaman. Sebuah sweater tutle neck berwarna hijau lumut. Membebaskan tubuhnya dari baju formal yang dipakainya sejak kemarin pagi. Namun keningnya berkerut saat ia tidak menemukan Aira di meja makan, hanya terlihat Kakek, Ayah, Ibu dan Naru.


"Ken, kemarilah. Kita makan bersama" ajak ibu.


Ken memeriksa ke sekeliling ruangan itu, namun tetap tak menjumpai istri tercintanya. Minami juga tak nampak disana.


'Apa mungkin Aira pergi?' batinnya. Ken merasa tidak nyaman dengan prasangkanya sendiri.


"Dimana Aira?" tanya Ken pada ibunya.


Nyonya Sumari tampak terkejut namun segera menundukkan pandangan. Tak ingin balas menatap putranya dan berpura-pura sibuk mengambilkan minum untuk suaminya.


"Itadakimasu.." ucap mereka setelah berdoa, mengabaikan pertanyaan Ken seolah tak mendengarnya.


(Selamat makan)


Ken mendengus kesal dan meninggalkan meja makan dengan geram. Ia berlari mengelilingi rumah tradisional ini dan membuka setiap pintu yang dilewatinya, tapi hasilnya nihil. Tak ada tanda keberadaan Aira atau Minami. Ia yakin pengawalnya itu pasti akan selalu ada bersama Aira.


Ken berlari dengan sekuat tenaga ke atas bukit yang ada di belakang rumah, mungkin Aira sedang menikmati sunrise disana. Tapi dugaannya salah, tidak ada siapapun disana.


Ken mengatur nafasnya di bawah pohon yang meranggas tak ada satu daun pun disana. Menyisakan batang yang terlihat mengering tak ada tanda-tanda kehidupan. Sama sepertinya sekarang, kehilangan Aira membuat kakinya tak bisa berpijak lagi. Tubuhnya limbung di atas tanah bersalju, menatap langit biru yang terhampar luas tanpa tepi.


Awan bergerak perlahan membawa ingatan Ken pada awal pertemuannya dengan Aira. Ia memejamkan matanya, merangkai semua kenangan mereka setengah tahun lalu. Saat tanpa sengaja keduanya bertabrakan dan Ken berlari meninggalkannya. Juga Aira yang membersihkan darah yang mengering di punggung tangannya malam itu,membuat Ken jatuh cinta.


Ken membuka kelopak matanya, sebulir tetesan bening merembes dari ujung matanya yang tampak sayu. Ia ingat dengan jelas saat menodongkan pistol ke kening Aira yang berakhir mengenaskan, Aira memeluknya. Melindunginya dari trauma akan kehilangan Erina.


Di bawah pohon ini pula mereka pertama kali berciuman, ah lebih tepatnya Ken mencuri ciuman istrinya. Ken menutup matanya dengan lengan, berharap semua kilatan kejadian di masa lalunya tak berlanjut. Tapi semakin ia ingin melupakannya, memorinya bekerja lebih cepat dan membuat Ken bersimpuh di tanah karena tak bisa menahan emosinya. Hari-hari Aira bersamanya tak ada yang menyenangkan, semuanya berakhir dengan luka. Berkali-kali ia membuat istrinya menangis.


"AI-CHAAAANNN" teriak Ken frustasi sembari menenggelamkan wajahnya ke tumpukan salju di depannya. Ia tak bisa menemukan Aira dimanapun. Dan semua orang menyembunyikan keberadaan istrinya itu. Dosanya tak termaafkan.


*******

__ADS_1


Angin bertiup lembut menerbangkan ujung jilbab pashmina yang Aira kenakan. Wanita itu berdiri di hamparan pasir putih di tepi pantai. Pandangannya tertuju pada palang kayu berwarna putih yang terlihat kontras dengan keadaan sekelilingnya. Orang Jepang biasa menyebutnya Torii atau gerbang dewa. Biasanya berwarna merah atau putih. Mereka percaya, itu adalah batas antara dunia manusia dan tempat tinggal para dewa.



"Anda tidak boleh kesana, nona." Minami berucap saat Aira melangkahkan kakinya yang telanjang. Ya, Aira melepas sepatunya beberapa saat lalu dan berjalan di atas pasir tanpa alas kaki. Membiarkan jemarinya menyatu dengan bulir pasir yang terasa dingin. Minami sudah mencegahnya, tapi bukan Aira namanya jika ia tidak keras kepala.


"Kenapa? Ada kutukan di gerbang itu?"tanya Aira tanpa berbalik. Matanya tak lepas dari sana, justru semakin tertarik untuk mendekat.


"Lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan ke penginapan." ajak Minami.


"Hmm..." Aira menggeleng kuat, "Apa dewa akan marah padaku?"


Minami tak bergeming, ia tahu nona-nya tidak percaya pada dewa. Ya, sejujurnya ia sendiri sama. Ia lebih percaya pada Tuhan, dibandingkan kepercayaan masyarakat setempat yang masih memuja dewa dan segala hal mistis lainnya. Tapi bukankah lebih baik ia mencegah sebelum terjadi hal yang buruk pada nona-nya? Mereka hanya datang untuk menikmati liburan sebelum kembali ke Indonesia, itu yang Aira katakan pada kakek semalam. Bukan untuk melakukan hal-hal aneh seperti ini. Tadinya Aira bilang ingin melihat laut, jadi mereka berhenti sejenak.


Aira melangkah tanpa ragu melewati Torii dan duduk di atas batu karang. Menjulurkan kakinya ke laut dan membiarkannya tersapu ombak. Rasanya tenang, mendengarkan suara deburan air yang menabrak karang. Melupakan sejenak semua permasalahan yang ia temui di negeri sakura ini.


"Anda terlalu berani, nona." tegur seorang pria yang berdiri di belakang Aira. Gadis itu menoleh dan melihat pria berpakaian aneh, ah sepertinya ia seorang biksu. Terlihat dari butiran manik di tangannya yang terlihat seperti tasbih. Juga manik yang lebih besar ia pakai sebagai kalung di lehernya. Ya, rasanya Aira pernah melihat orang dengan penampilan seperti itu di film Jepang atau China, biasanya mereka adalah biksu di kuil.


Air memandang sekeliling, tapi tak nampak ada kuil di sekitarnya. Jadi, dari mana pria ini berasal? Suasananya terasa sedikit aneh, membuat bulu kuduknya meremang. Aira segera berdiri dan mencari keberadaan Minami dengan matanya, tapi ia tak bisa melihat siapapun kecuali biksu tadi.


"Siapa yang anda cari? Pengawal pribadi?" tanyanya lagi. Tatapan tanpa ekspresi itu membuat Aira terpaksa menelan ludahnya.


"Dia tidak akan bisa menolongmu. Kita ada di dimensi lain." lanjutnya.


'Apa mitos itu benar? Aku sudah melanggar larangan mereka,' batin Aira, 'Ya Allah, tolong hamba-Mu ini.'


Biksu itu tersenyum, "Kamu boleh kembali."


"Apa?"


"Aku melihat kalian berbahagia di masa depan, jadi jangan biarkan sedikit luka menjadi batu sandunganmu. Melompatlah dengan segenap kekuatanmu." Biksu itu mengarahkan tangannya di depan perut rata Aira, membuat gadis berjilbab itu mundur 2 langkah.


Matanya menatap pria tua itu penuh waspada, bersiap untuk kemungkinan terburuk sekalipun. Ia belajar dari wanita cenayang palsu itu, ia tidak ingin mempercayai kata-kata orang asing yang tak jelas seperti sebelumnya.


"Jaga ibu kalian baik-baik," pria itu masih menatap perut Aira seolah sedang berbicara dengan sesuatu di dalam sana, "Kalian beruntung memiliki seorang ibu yang kuat." pungkasnya sambil mendekat ke arah Aira dan memakaikan sebuah gelang berwarna hijau di pergelangan tangannya.


"Nona..." terdengar suara Minami memanggilnya namun tak ada siapapun di sekitarnya, "Nona, anda bisa mendengarku?" Aira menoleh dan mendapati Minami berdiri di sampingnya dengan mencengkeram lengannya.


"Nona..." panggilnya untuk yang ke tiga kali.

__ADS_1


"Hmm.." Aira mengangguk lemah. Ia berdiri satu langkah di dalam gerbang putih itu, sedangkan Minami masih berdiri di luarnya. Pria tua tadi menghilang tanpa jejak membuat Aira tertegun.


"Apa nona baik-baik saja?"


"Apa yang terjadi?" tanya Aira penasaran. Logikanya menolak pendapatnya sendiri yang mengatakan ia baru saja pergi ke dunia lain.


Minami membimbing Aira kembali, menjauhi gerbang keramat itu dan mengajaknya masuk ke dalam mobil yang membawa mereka dari kediaman Yamazaki beberapa jam yang lalu.


"Sebaiknya kita meneruskan perjalanan sekarang. 5 menit lagi kita akan sampai di penginapan." Minami menghidupkan mobilnya dan mulai meninggalkan tempat itu.


Aira mengarahkan pandangannya ke luar jendela dan melihat biksu itu tersenyum padanya di bawah Torii. Aira meraba gelang di tangan kirinya dan menyembunyikan hal itu dari Minami. Biarlah ini menjadi rahasia.


*******


Hai minna-san. Genki desu ka?


Kalian sehat kan? Selamat membaca..


Ah, author mungkin ngga bisa update tiap hari seperti kemarin karena kesibukan lain di dunia nyata. Jadi, sambil nunggu Ken-Aira update, kalian bisa mampir ke cerita author yang lain. Klik profil author & pilih cerita yang ada :


*Pernikahan Impian?


*Snow & Fire


*Diam


*Miracle of Secret


*Nothing to Love


*Another Story Between Us


Tapi gomen ne, hampir semua slow update, bahkan ada yang 3 bulan belum release episode berikutnya 😢😢 Mungkin udah ada sarang laba-labanya kali yaa disana, karena emang fokus utama author ke cerita ini.


Author akan melanjutkan cerita-cerita itu nanti, setelah mendapat inspirasi, mau dibawa kemana hubungan kitaa~~ *eh kok malah nyanyi 😅😅


Ok, see you next episode. Thanks buat kalian yang mau mampir apalagi kasih jempol. Daisuki dayo 😗😗😗


Jaa,

__ADS_1


Hanazawaeaszy ^^ 😘😘


 


__ADS_2