Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Magazen


__ADS_3

"Ada satu tempat yang ingin aku kunjungi bersamamu." Yoshiro menarik tangan Yu keluar dari penginapan. Keduanya berlari seperti dua orang anak kecil yang sedang bermain.


Sepasang muda mudi itu terhenti seratus meter dari rumah yang mereka tempati semalam. Nafas keduanya terengah-engah akibat pasokan oksigen mulai menipis. Mereka saling pandang dan tertawa bersama. Sepertinya udara hangat awal musim semi ini membawa aura cinta untuk keduanya.


Langkah kaki mereka menapak tanah yang kering dan padat, persis di sebelah salah satu sungai dangkal yang mengalirkan air jernih.


"Apa yang kamu tertawakan?" tanya Yoshiro pada gadis di hadapannya. Ia menatap wajah Yu dengan barisan gigi putih seperti biji timun yang tertata rapi, tanpa kawat gigi, atau apapun yang menghalanginya.


"Wajahmu merah. Itu lucu," jawab Yu sembari mencubit kedua pipi tirus milik Yoshiro. Kedua tangannya menangkup rahang kokoh Yoshiro membuat jarak mereka semakin dekat.


Deg!


Deg!


Lagi-lagi Yoshiro jatuh cinta pada gadis ini. Perasaannya semakin bertambah setiap harinya, terlebih lagi saat melihat senyum bahagianya seperti sekarang. Ingin rasanya segera meresmikan hubungan mereka di catatan sipil.


"Ayo!" Yoshiro melepas tangan Yu dari wajahnya. Ia menarik gadis itu untuk berjalan menyusuri sungai sambil menikmati indahnya bunga sakura yang mekar. Ia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak mencium Yu jika posisi mereka sedekat ini.


Yu berjalan mengikuti langkah Yoshiro dengan hati buncah oleh rasa bahagia. Ia merasakan seperti hidup kembali setelah mendapat perhatian dari pria ini. Padahal, semalam ia merasa hancur sehancur-hancurnya saat mengetahui fakta masa lalu ibunya yang telah mengkhianati tuan Ebisawa.


"Terima kasih." Yu mengeratkan genggaman tangannya. Ia merasa sangat beruntung karena Yoshiro masih ada di sisinya.


Awalnya, Yu berpikir masa depannya sudah tamat saat mendengar rahasia tersembunyi itu. Ia juga bersiap jika harus kehilangan orang-orang yang selama ini menyayanginya dengan tulus. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, Yoshiro masih ada bersamanya meski tahu latar belakang yang tuan Ebisawa ungkapkan semalam.


"Aku tidak melakukan apapun untukmu. Itu semua untuk diriku sendiri." Yoshiro membawa Yu duduk di salah satu kursi panjang yang ada di tempat ini. Kursi besi itu khusus ditempatkan di sana agar para pengunjung bisa menikmati sakura yang tengah bermekaran. Musim semi kali ini berhasil menyulap Okinawa menjadi berwarna pink jika dilihat dari atas.


"Untukmu sendiri?" Yu tidak bisa menangkap maksud pria ini.


"Hmm. Aku tidak ingin kalah dari Ken dan Aira. Jika ketiga jagoan mereka lahir, aku akan semakin dikucilkan dan kesepian. Itu sebabnya aku menahan seseorang untuk tidak pergi." Yoshiro menjawab dengan malas pertanyaan Yu.


"Menahan seseorang agar tidak kesepian? Hanya itu saja?" tanya Yu tidak puas. Sejujurnya ia ingin mendengar pernyataan cinta dari Yoshiro, atau setidaknya pria itu seharusnya mengatakan hal-hal yang sedikit manis. Tapi tampaknya itu hanya khayalannya semata. Dengan karakter Yoshiro yang tidak memiliki sisi romantis sama sekali, bagaimana mungkin dia mengerti akan hal-hal sepele yang bisa membuat wanita melayang itu.


"Benar. Tidak ada alasan lain." tegas Yoshiro.


Jawaban Yoshiro membuat Yu kesal. Ia tidak senang karena keberadaannya disini hanya untuk mengantisipasi agar Yoshiro tidak kesepian. Padahal hanya cukup menjawab, 'Aku menginginkanmu', maka Yu akan menyerahkan jiwa raganya tanpa tapi.


'Dasar pria egois!' umpat gadis itu dalam hati, 'Kenapa aku begitu bodoh bisa jatuh cinta pada pria seperti dia.'


Yu menarik tangannya dengan paksa dari genggaman Yoshiro. Ia berdiri dan segera pergi dari sana. Namun baru beberapa langkah berjalan, ia terhenti.

__ADS_1


'Sial! Darimana aku datang tadi?' Yu menatap penginapan beberapa puluh meter di depannya yang tampak sama. Ia tidak tahu dimana ia dan Yoshiro menginap semalam. Ia begitu kelelahan setelah perjalanan panjang dari Tokyo ke Okinawa. Belum lagi mereka sampai ditempat ini saat dini hari yang cukup temaram.


Yoshiro tersenyum menatap punggung gadisnya yang kini mematung di tempat. Ia tahu Yuzuki akan kesulitan mengenali penginapan mana yang ia huni semalam.


"Kenapa? Kamu tidak tahu dimana tas dan sepatumu berada, benar 'kan?" tanya Yoshiro dengan senyum tertahan. Ia sungguh merasa gemas pada gadisnya yang sedang marah ini.


Pertanyaan Yoshiro seketika membuat Yu menundukkan kepalanya. Matanya memandang kesepuluh jari kakinya yang kini menapak tanah yang ia pijak.


"Baka!" lagi-lagi Yu hanya bisa menghina dirinya sendiri. Ia tidak sadar bahwa ia bertelanjang kaki keluar dari penginapan. Belum lagi pakaiannya yang kusut masai dengan rambut yang berantakan. Astaga!


(Bodoh)


Meskipun Yu adalah seseorang yang selalu acuh tak acuh dan cenderung tidak memperhatikan penampilannya, tapi ia bukan gadis bodoh. Setidaknya ia akan menyesuaikan penampilannya dengan momen saat itu. Ia akan memakai baju formal saat ada agenda rapat penting atau jika harus mengurus dokumen resmi ke lembaga pemerintahan.


Ia juga memiliki butik langganan saat membutuhkan gaun pesta. Tak jarang para rekan bisnis tuan Ebisawa mengadakan jamuan para putri mereka, membuat Yu terpaksa hadir untuk mewakili ayahnya.


Dalam kesehariannya sebagai peretas sistem yang santai, atau mungkin bisa disebut sebagai pengangguran-karena Yu lebih suka menjadi pekerja freelance-ia seringkali hanya mengenakan kaus longgar dan celana jeans. Bahkan di musim panas, di rumahnya sendiri, ia biasanya hanya memakai kemeja oversize sebatas lutut dengan celana hotpans yang tertutup pakaian atasannya. Ah, bukankah penampilan seperti itu sudah biasa bagi gadis-gadis Jepang? Tentu itu tidak pantas jika dipakai oleh para wanita di Indonesia yang terkenal menjunjung tinggi nilai kesopanan.


"Silahkan tanyakan satu per satu petugas di setiap penginapan. Setidaknya ada seratus rumah sewa di kawasan ini," cetus Yoshiro karena beberapa menit berlalu tapi Yu tampaknya tidak akan kembali menemuinya.


Gadis itu memiliki ego yang cukup tinggi. Terlebih lagi ia sedang marah saat ini, bagaimana mungkin ia akan merendahkan harga dirinya demi bertanya pada Yoshiro? Itulah permainan tarik ulur yang sengaja pria itu lakukan pada wanitanya.


"Urus urusanmu sendiri!" ketus Yu sebal.



Yu berjalan cepat ke tepi sungai dan menjulurkan kakinya ke dasar sungai. Air yang bening itu membuat jemarinya masih terlihat dari atas. Gadis itu seketika tersenyum dan melupakan kemarahannya pada Yoshiro.


Jemarinya perlahan menyelam sepuluh cm dari permukaan, membuat arus air yang tenang itu sedikit terkoyak, menciptakan riak baru yang segera hilang detik berikutnya.


'Ah, ini sungguh menyenangkan.' Yu berucap dalam hati. Senyum lebarnya terkembang begitu saja. Ia selalu senang bermain air saat kecil, terlebih saat berenang bersama Erina. Mereka akan beradu kecepatan untuk sampai di ujung kolam, dan Yoshiro lah yang menjadi jurinya.


Ingatan masa kecil itu membuat senyum Yu memudar. Ia kembali merasakan sebuah belati menghunjam jantungnya. Hal itu membuat gerakan jemari lentiknya di dalam air terhenti. Ia malu sekaligus merasa bersalah pada kakak perempuannya yang kini hanya tinggal nama. Meskipun keduanya terlahir dari rahim yang sama, nyatanya mereka memiliki perbedaan yang sangat jauh. Erina jelas-jelas putri kandung tuan Ebisawa Oda, sedangkan dia?


'Apakah aku masih pantas tersenyum? Bahkan aku merasa bahagia atas kepalsuan statusku selama ini. Yang benar saja!' kesal Yu. Ia hanya bisa mengumpat dirinya sendiri dalam hati.


BYURR!


Yu tercebur ke dalam sungai yang memiliki kedalaman sebatas lutut orang dewasa. Ia terkejut dan seketika berbalik mencari tersangka yang sudah mendorongnya untuk mandi dengan paksa. Ia terlalu fokus berkutat dengan pemikirannya sendiri sampai tidak menyadari langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Sebelumnya, ia selalu tahu pergerakan orang yang mungkin bisa membahayakan nyawanya. Tentu instingnya itu terlatih saat di akademi. Tapi sekarang?

__ADS_1


Hanya karena beberapa kalimat yang ia dengar semalam, membuat kewaspadaannya musnah. Ia tidak bisa berpikir jernih dan selalu terpaku pada statusnya sebagai 'anak haram'.


Yu mendengus kesal kala melihat Yoshiro yang kini tengah tersenyum sambil menatap tubuhnya yang basah kuyup. Pria itu bahkan tak segan-segan mengabadikan momen memalukan itu menggunakan ponsel pintar miliknya. Entah foto atau video, Yu tidak peduli. Yoshiro jelas-jelas sengaja membuat masalah dengannya, memancing batas kesabarannya.


Hal itu membuat kemarahan Yu sebelumnya kembali datang. Ia mencebikkan bibirnya, marah, kesal dan sekaligus malu. Sweater yang melekat di tubuhnya kini menempel di badan, membuat lekuk badannya terlihat. Belum lagi bra hitam yang ia gunakan yang tercetak jelas dari luar. Sungguh memalukan.


Yu segera berjalan ke tepi dan naik dari sungai kecil itu. Ia dengan susah payah menutup mulutnya agar tidak meneriakkan sumpah serapah yang kini tersusun rapi di dalam kepalanya.


"Mau ku bantu?" tanya Yoshiro sembari mengulurkan tangan kanannya, sementara tangan kirinya masih memegang ponsel dengan fitur kamera yang masih aktif merekam kejadian di depannya.


Yu diam. Satu kata saja terlontar, rasanya seribu kata berikutnya siap meluncur deras seperti peluru yang keluar dari magazen.


*Magazen adalah alat penyimpanan dan pengisian amunisi yang menyatu atau dipasang pada senjata api. Magazen berasal dari bahasa Arab, yaitu "makhazin" (مخازن), yang berarti gudang (wikipedia.org)


"Kamu mengabaikanku?" tanya Yoshiro saat gadis itu tak menjawab pertanyaannya.


Tap tap tap


Yu melangkahkan kakinya dengan cepat, menjauh dari iblis berwujud manusia yang sudah membuatnya marah pagi ini. Tapi tak bisa dipungkiri, pria ini pula yang berhasil masuk ke dalam hatinya setelah bertahun-tahun tak ada yang menempati. Kedatangannya bagaikan oase di tengah lautan pasir yang gersang.


"Heh! Berani mencampakkanku? Kita lihat apa kamu bisa kabur lagi setelah ini." Yoshiro menarik senyum di sebelah bibirnya. Ia memiliki rencana jitu yang akan membuat gadis kesayangannya bertekuk lutut bahkan mungkin meneriakkan namanya.


"Yuzuki-chan! Yamete!"


(Berhenti!)


Bak mantra sihir, perintah Yoshiro membuat kedua kaki Yu terpaku di tempatnya berdiri. Sepuluh langkah dari keberadaan Yoshiro.


"Eh?" Yu bingung sendiri dengan tubuhnya yang seolah tidak bisa ia kontrol. Kakinya terasa begitu berat untuk diajak melangkah lebih jauh. Apakah ini ilusi atau magic? Mana mungkin ada hal seperti itu di dunia yang semakin modern ini.


Yoshiro tersenyum lebar. Ia melepaskan jaketnya sambil berlari. Ia segera menyusul Yu dan membuat perhitungan padanya.


...****************...


Gomenasai telaaaaaaaaaat banget update nya. Terima kasih yang masih setia menanti. Maaf yaa 👈😢


Made with love,


Hanazawa Easzy 😄

__ADS_1


__ADS_2