
Mentari bersinar cerah di ufuk timur, membiaskan sinar jingga yang menguar di langit semesta. Burung-burung kecil riang beterbangan, meninggalkan tempat mereka menetap semalam. Sebelum kembali sore nanti saat petang menjelang.
Udara terasa hangat. Angin musim semi melewati dahan pohon sakura yang telah menggugurkan daunnya, menyisakan kuntum bunga yang siap mekar beberapa hari ke depan. Musim semi telah tiba, mengizinkan siapa saja untuk bisa bahagia.
Satu dua kelopak bunga sakura bermekaran, menunjukkan kecantikan negeri ini yang telah diakui oleh seluruh dunia. Bunga dengan perpaduan warna antara putih dan merah muda, lengkap dengan putik berwarna kuning di bagian tengahnya, tampak dari sebuah jendela rumah sakit.
Cklekk
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan seorang wanita dengan balutan blouse warna putih, senada dengan warna awan yang berarak di langit. Sebuah kain segi empat bertengger di kepalanya, menutupi helaian rambut yang hanya boleh dilihat oleh suaminya.
Aira tampak gugup. Ia tidak percaya diri karena pipinya terlihat semakin chubby, berbeda dengan badannya yang segera menyusut ke bentuknya semula seminggu setelah melahirkan.
"Ada apa?" tanya Ken seraya memasukkan ponselnya ke dalam saku. Satu tangannya ia gunakan untuk menepuk-nepuk kaki putranya yang menggeliat beberapa detik yang lalu. Seperti akan terbangun dari tidurnya.
"Am I fat?" tanya Aira sembari menggigit bibir bawahnya. Ia terpaku di depan kamar mandi, beberapa langkah dari suaminya yang berdiri di dekat keranjang bayi mereka.
(Apa aku terlihat gemuk?)
"Fat?" ulang Ken, menatap istrinya dengan penuh tanda tanya. Ia menaikkan sebelah alisnya, mengamati penampilan istrinya dari ujung kaki hingga ke ujung kepala.
Aira mengusap tengkuknya, merasa canggung atas pertanyaan yang ia lontarkan sebelumnya. Ken menggeleng, tersenyum hangat menatap istrinya.
"Berat badanku naik cukup banyak. Sepertinya aku masih terlalu gemuk." Aira berjalan perlahan ke arah ranjang, melipat pakaian rumah sakit yang sebelumnya ia pakai. Rasa canggungnya sudah sedikit berkurang saat melihat Ken tersenyum barusan.
"Memangnya kenapa kalau istriku gemuk?" Ken mendekat ke arah Aira, meraih tangannya. "Justru aku merasa bersalah jika kamu kurus kering seperti korban kelaparan. Kakek pasti akan menghukumku jika itu terjadi. Belum lagi ibu dengan segala nasehatnya yang tidak akan selesai didengarkan selama berjam-jam. Jadi, akan lebih baik jika kamu sedikit gemuk. Tidak masalah," jawab pria yang sekarang resmi menjadi seorang ayah dari tiga anak itu. Ia mengelus puncak kepala Aira dengan sayang, berharap kekhawatiran tak beralasan yang istrinya rasakan segera. menguap.
"Benar tidak masalah?" Aira masih meragu.
Ken menggeleng, "Aku mencintaimu sebagai ibu dari anak-anakku, bukan yang lain." Ken memeluk istrinya dengan erat, membuat indera penciumannya mencium aroma lavender yang tercium dari jilbab hitam istrinya.
"Ayo makan. Minami sudah membawakan makanan kesukaanmu." Ken mengajak Aira duduk di sofa panjang berwarna putih yang ada di sana.
"Dimana dia?" Aira mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ini, namun tak mendapati asistennya. Hanya ada mereka berdua dan ketiga bayi yang tengah tertidur lelap di box masing-masing.
"Sedang mengurus administrasi."
Ken membuka kotak makan hitam di depannya yang berisi nasi dengan taburan wijen di bagian tengahnya. Dalam wadah yang lain, ada olahan daging, telur dan sayuran hijau yang masih hangat. Uap panas segera menguar ke udara dan hilang detik berikutnya.
"Banyak sekali. Aku tidak akan bisa menghabiskannya," protes Aira saat melihat hidangan di hadapannya.
"Kita makan bersama."
"Apa ini?" Aira mengambil tas kain yang lain dan membukanya.
"Yabai... Kawai desu ne!" puji Aira saat melihat bola-bola nasi di dalam wadah yang berbentuk bulat itu. Mereka tampak seperti wajah yang sedang tersenyum, membuat siapa saja merasa sayang untuk memakannya.
(Ini sangat lucu, 'kan!)
__ADS_1
Ken mengangguk, menyetujui pendapat istrinya.
"Bento yang Minami buat akhir-akhir ini semakin menggemaskan. Kosuke pasti sangat bahagia."
"Dia selalu membawa bekal ke kantor. Bahkan beberapa kali membaginya dengan Ji Yong," ungkap Ken.
"Benarkah? Syukurlah." Aira merasa lega karena hubungan Kosuke dan Minami semakin harmonis. Selain itu, ternyata Kwon Ji Yong juga bisa diandalkan saat Ken memilih menemaninya seminggu terakhir.
Ya, sejak ia melahirkan ketiga bayi mereka pekan lalu, Ken tak sedetik pun meninggalkannya. Larangan dokter yang memintanya untuk tidak pergi dari ranjang, membuat Ken mengharuskan diri untuk stand by di sana selama 24 jam. Semua urusan kantor ia percayakan pada Kosuke, Kwon Ji Yong, dan beberapa staf khusus yang ada di sana.
Ken terus berada di rumah sakit ini, menjaga ketiga bayi mereka, membantu menidurkan dan mengangkat mereka dari box, bahkan sesekali membantu saat mengganti popok. Yah, meskipun hanya membantu mengambilkan dan membuang diapers ke tempat sampah.
"Apa kamu tidak tega memakannya?" tanya Ken pada Aira. Beberapa detik berlalu tapi istrinya masih diam saja sambil tersenyum, tak melahap sarapannya.
"Ah, aku akan memakannya." Aira menutup mata dan mulai berdoa dalam hati, 'Bismillahirrohmanirrohim. Allahumma bariklana fii ma razaqtana waqina adzabannar.'
(Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ya Allah berikanlah keberkahan kepada rezeki kami yang diberikan oleh-Mu dan peliharalah kami dari siksaan neraka)
"Itadakimasu," ucap Ken dan Aira berbarengan.
(Selamat makan)
Sementara itu, si sebuah rumah dua lantai di Tokyo, tampak kesibukan di ruangan utama. Beberapa orang berlalu lalang, memasang dekorasi balon dan boneka di setiap sudut ruangan. Salah satu dari mereka turun dari tangga, selesai memasang tirai di jendela.
"Bagaimana, ruangan cucuku sudah siap?" tanya nyonya Sumari pada salah satu wanita yang sampai di anak tangga terbawah.
"Sudah, Nyonya. Semua sudah seperti yang Anda minta," jawabnya sambil menundukkan kepala.
"Bagaimana dengan kue dan makanan yang lainnya? Pastikan tidak ada yang terlewat satu pun." Nyonya Sumari tampak sedikit gugup dengan kejutan yang ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu. Takut ada yang terlewat atau tidak sesuai dengan keinginannya.
"Syukurlah. Aku tidak sabar ingin melihat mereka pulang."
Naru mengangguk, setuju dengan pernyataan ibunya. Ia juga sangat ingin melihat ketiga keponakannya segera pulang setelah harus menginap di rumah sakit selama seminggu.
Sebenarnya kondisi ketiganya baik, bahkan sangat baik. Mereka bisa pulang setelah dua hari dirawat, namun karena Aira masih harus istirahat lebih lama, jadi ketiga putra putrinya juga terpaksa tertahan di tempat itu.
"Ah, hadiahnya!" seru nyonya Sumari. Ia teringat belum membawa kotak hadiah yang ia siapkan untuk Aira dan cucu-cucunya. Dengan tergesa, wanita 52 tahun itu keluar dari rumah ini dan pergi bersama seorang pengawalnya.
"Ibu sangat bersemangat." Mone berdiri di sebelah Naru, menatap mobil hitam yang melaju cepat meninggalkan halaman rumah itu.
"Benar. Ini pertama kalinya ia akan menyambut cucunya. Dia pasti akan melakukan hal yang sama untuk menyambut anakmu dan Yamaken nanti," canda Naru pada kekasih kakaknya ini.
"Hah?" Wajah Mone memerah seketika. Ia terhenyak. Naru begitu frontal, membuatnya malu dan terkejut bersamaan.
"Aku hanya bercanda, hahaha... " Naru menepuk-nepuk pundak Mone. Tubuhnya yang lebih tinggi, membuatnya bisa menjangkau bahu Mone dengan leluasa.
"Oey, berhenti menindas kakak iparmu!" Yamaken mendekat dan menyingkirkan jemari Naru dari wanitanya. Ia bahkan tak segan menarik gadis dua puluh tahun itu ke belakang punggung, menyembunyikan tubuh mungilnya dari jangkauan adiknya sendiri.
"Haish, pangeran berkuda datang untuk menyelamatkan tuan putri," ejeknya pada Yamaken.
"Damare!" Yamaken mengomel pada adiknya.
(Diam!)
"Yabai yabai yabai... Baiklah, baiklah. Aku pergi." Naru segera melangkahkan kakinya meninggalkan dua sejoli yang masih berpegangan tangan itu, tepatnya Yamaken yang menggenggam jemari Mone dengan erat.
__ADS_1
*Yabai : kacau, parah (artinya tergantung konteks kalimat, bisa positif atau negatif)
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata tajam yang tengah mengawasi mereka dari kejauhan. Dialah kakek Yamazaki.
...****************...
Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh pagi saat tiga buah mobil berhenti di pelataran rumah. Beberapa pengawal segera turun, salah satunya membuka pintu tempat Ken berada.
"Kita sudah sampai. Tunggu disini!" perintah Ken pada Aira. Ia bergegas keluar dari mobil mewah ini, berjalan memutar demi mencapai pintu di seberang, tempat istrinya berada.
"Ken?! Tunggu... " Aira coba menggapai suaminya, namun hanya udara yang ia dapati. "Ken," panggilnya lagi.
"Aku di sini." Ken meraih tangan Aira yang masih terulur di udara. "Ayo keluar. Hati-hati!" perintahnya pada wanita paling berharga di hidupnya ini.
"Menyebalkan! Kenapa mataku harus ditutup?" protes Aira saat ia merasa kesulitan keluar dari kendaraan yang membawanya pulang dari rumah sakit.
Ya, di tengah perjalanan, Ken mengatakan ia memiliki kejutan untuknya dan memasangkan kain hitam untuk menutup matanya. Aira terpaksa menurut dan jadilah ia seperti sekarang, menggenggam erat tangan Ken hanya agar bisa keluar dari mobil dengan selamat, tanpa terbentur atau menabrak sesuatu.
"Hati-hati. Ada anak tangga di depanmu." Ken mengingatkan Aira untuk mengangkat kakinya agar tidak tersandung.
"Menyebalkan!" ketus Aira sembari mencubit lengan Ken.
Bukannya marah, senyum di wajah Ken justru semakin lebar. Ia sangat menikmati sikap manja dan ketergantungan istrinya kali ini. Jika tidak begini, Ken tidak akan bisa terus menempel pada istrinya. Aira akan menolak bantuannya dan memilih membawa putra atau putri mereka.
"Dimana anak-anak?" tanya Aira khawatir.
"Mereka baik-baik saja, Nyonya," jawab Minami yang berdiri di belakang Aira, menjaga wanita itu agar tidak terjatuh atau semacamnya.
Langkah kaki Aira terhenti. Ia mengerjap beberapa kali setelah Ken membuka ikatan yang sedari tadi mengurung indera penglihatannya. Matanya mulai menangkap bayang-bayang beberapa orang di depan sana, namun masih terlihat buram. Detik berikutnya, sebuah senyum terukir di wajahnya saat memastikan apa yang ada di hadapannya.
Sebuah ruangan dengan dekorasi balon dan boneka beruang besar berwarna hijau ada di kejauhan. Berpuluh balon berbeda ukuran diikat menjadi satu, menyambut kedatangan ketiga putra putri buah cinta Ken dan Aira.
Ctakk
Dorr
Berbagai sambutan meriah berhasil menyadarkan Aira dari keterkejutannya.
"Welcome home, Gangster Boy!"
...****************...
Whoaaaaa bagus banget ini sii dekorasinya. Sambutan khusus buat triplet Akari, Ayame sama Azami 😍😍
Jadi pengen kaaan dikasih kejutan spesial sama abang Ken, ututututuuu... gumush dah ah 🤗😄
Btw, bentonya juga keliatan enak banget. Duuh jadi pengen main ke restoran Jepang lagi kaan 😭 Yuk ah, siapa mau bayarin aku? Aku rela dengan sangat untuk mengosongkan perut dulu kalo ada yang mau traktir, hahaha 😂
Dah ah, makin halu aja jadinya kaan,
Jangan lupa like, vote n komen yaa 😄😉
See you,
__ADS_1
Hanazawa Easzy 💙