
"Aku akan membuatmu merasakan lebih baik mati daripada hidup seperti di neraka!" gumam Shun lirih. Tangannya meremas kertas mungil segi empat warna merah yang diyakini menjadi penyebab trauma Kaori kembali.
"Siapa yang akan hidup di neraka?" tanya Mone begitu melangkahkan kakinya ke dekat Shun. Dia mendengar umpatan kakak angkatnya barusan, menunjukkan kemarahan yang tertahan.
Shun menoleh, mendapati sosok gadis 152 cm ini sekarang sedang menatapnya. Seorang pria rupawan berdiri di dekatnya, memandang Shun setelah menundukkan kepalanya sekilas.
"Selamat sore, kakak ipar," sapa Yamaken, tapi tidak mendapat tanggapan dari Shun. Dia berbalik badan, berusaha menyembunyikan kemarahannya.
"Apa itu?" Mone langsung meraih jemari tangan kakak angkatnya yang terkepal erat. Mone ini memiliki mata yang jeli, bisa membaca gerak-gerik seseorang sedetail mungkin.
"Bukan apa-apa," jawabnya ketus sambil melangkah menjauhi Mone. Shun ingin menyelesaikan ini sendiri, tidak ingin Mone ikut repot karena wanita itu.
"Apa Anna mulai melakukan pergerakan?" tanya Mone to the point. Dia tahu ada sesuatu yang berusaha Shun sembunyikan darinya.
Shun berbalik seketika, menatap Mone dengan pandangan tajam. Matanya memicing, mencari tahu darimana gadis ini tahu tentang Anna. Apa seseorang memberitahunya? Atau kakek Yamazaki yang sudah membertahu pada adik kesayangannya ini?
Mone mendekat dan langsung mengambil kertas mungil di dalam genggaman kakaknya. Dengan segera dia berlari menjauh, bersembunyi di belakang punggung Yamaken yang berhasil menyembunyikan tubuh mungilnya.
Shun tidak mengejar. Dia tidak bisa melakukan apapun pada gadis kesayangannya itu. Lagipula, cepat atau lambat orang lain juga akan tahu. Terlebih lagi, itu berkaitan dengan Anna, wanita yang pernah tinggal bersama Mone lima tahun lamanya.
"I-ini?!" Mone terkejut membaca deretan huruf di hadapannya.
Yamaken ikut menoleh, membaca tulisan di atas kertas yang sudah terlihat keriting.
"Wanita itu yang mengirimkannya?" Pandangan mata gadis berpipi bulat itu mengarah pada pria 184 cm yang berjarak tiga meter darinya.
Shun tak menjawab, hanya menganggukkan kepalanya. Dia yakin itu ulah Anna, bukan Yuki. Dan satu yang pasti, Anna ingin menjebaknya, mengira dia tidak akan tahu pergerakannya sama sekali.
"Dimana kakak ipar? Apa dia baik-baik saja?" Gadis berponi itu mengkhawatirkan keadaan Kaori. Dia tahu cerita keguguran itu. Istri kakaknya itu pernah bercerita. Dia sangat terpukul jika mengingat peristiwa bertahun-tahun yang lalu saat dirinya masih berstatus sebagai istri seorang Harada Yuki.
Lagi-lagi tak menjawab, Shun menggunakan kepalanya untuk memberikan isyarat bahwa Kaori ada di dalam kamarnya.
Mone segera berlari. Dia ingin memastikan Kaori baik-baik saja.
Tersisa Yamaken dan Shun yang masih berdiri di tempatnya masing-masing.
"Siapa yang memberitahunya?" tanya Shun dengan nada datar andalannya. Dia tidak ingin menunjukkan ekspresi apapun. Perasaannya sedang kacau, ingin menghantam apa saja, ah lebih tepatnya ingin memusnahkan wanita yang berusaha memprovokasinya.
"Kosuke dan Minami. Mereka datang siang ini."
Shun melangkahkan kakinya ke arah dapur, mengambil air putih dingin yang bisa membasahi kerongkongannya yang terasa kering.
"Sejauh apa dua ekor manusia itu bercerita?" Shun menunjukkan tabiat aslinya, suka mengatai orang dengan sebutan kasar dari mulutnya. Sejak awal dia tidak suka saat Kosuke mengajaknya bertemu Yuki kemarin. Dia tidak ingin diperintah oleh siapapun. Tapi, karena menghargai Ken, makanya dia menurut saat Kosuke mengundangnya.
Yamaken tak langsung menjawab. Dia tahu kalau pria ini sedang tidak baik emosinya.
"Dia meminta Mone membujukku agar memaafkan b*jingan b*rengsek itu?" Kalimat sarkas kembali terdengar dari mulut pria tampan ini. Dia masih cukup sensitif pada apa yang terjadi kemarin. Yuki tahu Anna menjebaknya\, tapi dia masih mengatakan bahwa Mone-lah yang sudah membunuh ayahnya. Benar-benar menyebalkan!
__ADS_1
"Ken yang meminta mereka datang." Yamaken duduk di salah satu sofa empuk di ruangan itu. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan kalimatnya. "Aku sudah menghubunginya. Dia tidak bisa pulang, jadi semua masalah di sini Kosuke yang mengurusnya."
"Cih!" Shun menaikkan satu sudut bibirnya, meremehkan ucapan Yamaken barusan.
Dia paham benar, bukan Ken tidak bisa pulang, dia memang tidak ingin pulang dan menyelesaikan urusan ini.
"Sejak kapan mereka jadi pengecut seperti ini, heh?!"
Yamaken diam. Dia tidak ingin terpancing akan pertanyaan sinis yang Shun lontarkan. Toh, apa saja pembelaannya, tak akan ada artinya lagi. Tetap saja Shun akan menganggap saudara kembarnya itu dengan tuduhan miring.
"Kakek yang melarang mereka kembali. Kalau saja bukan karena perintah orang tua itu, kak Aira juga tidak akan pergi. Monster itu sampai membuat kakak pingsan demi bisa membawanya. Jangan salahkan kak Aira, salahkan yakuza tidak tahu diri itu!"
Tak kalah sengitnya, Mone membalas ucapan Shun. Dia tidak suka saat seseorang menghina Aira. Shun barusan menyebut 'mereka' yang artinya Ken dan Aira.
Raut wajah Shun berubah, kemarahannya berganti dengan ekspresi heran.
"Jadi, laki-laki bau tanah itu sudah tahu apa yang terjadi?" Shun kembali menyebut seseorang dengan panggilan yang kurang enak untuk di dengar. Sepertinya dia memang terbiasa seperti itu, mengatai siapa saja yang membuatnya marah.
"Ishh! Gara-gara wanita gila itu hubungan kita jadi seperti ini!" Mone justru beralih membahas Anna. Dia tahu kakek tidak akan membuat masalah dengan sengaja. Justru dia ingin membuat semua orang bisa berjuang dengan kemampuannya masing-masing.
Itu termasuk permintaannya agar Yamaken menguasai ilmu beladiri, setidaknya separuh dari kemampuannya. Mone yakin kakek ingin semua orang selamat. Itu saja.
"Kak, berhenti menyalahkan orang lain. Kita tidak boleh masuk ke dalam perangkap wanita licik itu!" Mone mendekat ke arah Shun dan memegang bahunya. Pria ini sudah duduk bersama Yamaken sejak beberapa detik yang lalu.
"Bukankah dia itu ibumu, heih? Bagaimana bisa kamu begitu membencinya?" Shun memamerkan smirk khasnya. Dia sengaja menyindir adiknya ini, ingin menggodanya.
"Aku juga bisa berbuat jahat padamu yang begitu menyayangiku. Apalagi hanya seorang wanita yang menggunakan topeng malaikat di wajahnya?" sarkas Mone tak kalah tajam.
"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? Dia mulai bergerak?" tanya Yamaken, kembali ke pokok pembicaraan tentang wanita berdarah Rusia itu.
"Kita tunggu saja. Dia pasti akan mengirimkan drone untuk mengawasi kita." Mone sangat yakin dengan pendapatnya. Dia segera berlari menuju balkon dan mengamati keadaan sekitar apartemen Kaori ini.
Dua orang pria yang bersamanya segera mendekat ke arah Mone. Gadis ini menengadahkan kepalanya, mencari dengan jeli benda yang bisa terbang dengan bantuan remote control itu. Ah, bahkan bukan hanya remote control, sekarang benda ajaib itu bisa diatur dengan pengendali jarak jauh.
"Apa yang kamu cari?" Yamaken bersuara, ikut memperhatikan langit luas di atas sana. Dia tidak begitu jelas mendengar kalimat terakhir Mone. Gadis itu mengucapkannya sambil berlari, jadi tidak terdengar.
"Jika otak wanita itu masih sama, dia akan segera mengirimkan drone setelah memberikan ancaman atau pesan kematian pada targetnya."
Baik Shun maupun Yamaken tak menjawab. Mereka siap mendengarkan pernyataan Mone selanjutnya. Selain gadis ini, tidak ada yang lebih mengenal Anna.
"Dia akan menyisir tempat itu perlahan sebelum mengirimkan serangan selanjutnya."
"Serangan selanjutnya?" Shun membuka mulutnya. Masih dengan nada datar dan dingin.
"Apa ini pernah terjadi sebelumnya?" Yamaken menatap gadisnya dari samping, memperhatikan calon istrinya yang sekarang serius melihat jam tangan di pergelangannya sendiri.
"Umm." Mone mengangguk. Dia mengingat tahun keduanya tinggal bersama Anna. "Dia mengirimkan buket bunga kematian. Kalau tidak salah, bunga lili dan mawar putih."
__ADS_1
Shun terbelalak. Dia yakin sudah membuang bunga itu jauh-jauh jadi Mone tidak mungkin melihatnya. Tapi, gadis ini justru tahu detailnya.
"Anna akan mengirimkan bunga indah itu untuk meneror mangsanya, tentu saja lengkap dengan secarik kertas merah melengkapinya. Setelah itu, mangsanya akan panik. Saat itulah dia memanfaatkan keadaan yang ada untuk menyisir tempat tinggal korban."
Kedua pasang mata Mone memicing. Dia melihat satu titik di kejauhan. Itu benda kecil yang terbang di angkasa.
"Lihat, dia datang!" seru Mone, menunjuk ke arah utara.
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?" Yamaken tampak sedikit panik, sedangkan Shun justru mengambil senjata api rakitan dari dalam saku celana yang dipakainya.
"Jangan menembaknya!" Mone mencegah gerakan Shun yang bersiap membidik pesawat kecil itu. "Dia belum menangkap keberadaan kita."
Shun mengerutkan keningnya, tidak tahu kenapa adiknya bersikap aneh seperti sekarang. Kenapa dia mencegah apa yang akan dilakukannya barusan?
"Ayo masuk. Kita harus berpura-pura bahwa misinya sukses. Biarkan Anna besar kepala, lalu kita akan menjebaknya." Mone menarik dua pria kesayangannya untuk masuk ke dalam kamar tempat Kaori berada.
"Kak, tutup jendelanya. Jangan biarkan dia melihat kakak ipar tertidur lelap!"
Sreeettt
Shun sigap melaksanakan perintah adiknya. Dia menarik tirai hitam itu, menyembunyikan wanita kesayangannya agar tidak terlihat oleh kamera pengintai yang Anna kirimkan.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Mone menutup pintu di hadapannya, menyisakan celah kecil untuk mengintip.
"Kita diam di sini sampai drone itu pergi. Dia tidak akan melakukan apapun, hanya mempelajari dekorasi tempat ini."
Shun dan Yamaken berdiri di belakang Mone. Mereka ikut mengintip benda mungil berwarna hitam yang kini masuk melalui balkon.
"Lihat. Ada kamera pengawas yang terpasang di bawahnya," bisik Mone, menunjuk titik merah yang berkedip dari bagian bawah drone.
Benda canggih itu terbang rendah, berputar beberapa kali sebelum mulai menjamah tempat yang lainnya.
"Dia mendengar suara kita?" tanya Yamaken, karena Mone tidak bersuara setelah ia berbisik terakhir kali.
Mone menggeleng. "Tidak. Dia hanya merekam visual saja. Anna tidak peduli pada audio di sekitarnya. Itu tidak penting."
Ketiga orang itu kembali diam, masih memperhatikan apa yang tampak di depan sana.
Tak lama kemudian, benda mungil itu keluar ke balkon dan pergi setelahnya.
Mone mengembuskan napas lega. Ternyata Anna masih sama. Dia melakukan cara itu seperti sebelum-sebelumnya. Dengan begitu, Mone jadi lebih mudah mempersiapkan rencana untuk menjebak wanita itu.
"Aku tahu cara kerja wanita licik itu. Kita ikuti permainannya!" ucap Mone dengan penuh keyakinan. "Ayo kita bermain peran!"
* * *
__ADS_1
Waaah, canggih nih mbak Mone. Penasaran? Nantikan bab selanjutnya yaa. Jangan lupa tinggalkan komentar kalian. See you,
Hanazawa Easzy