
Permasalahan produk palsu Miracle belum menemui titik terang. Bahkan dokter Olivia, aesthetician yang menangani nyonya Suzuki, ditemukan tewas di apartemennya. Entah dia bunuh diri atau ada penyebab lainnya.
Ken disibukkan dengan rapat mendadak bersama dewan direksi dan para investor. Ia juga harus mengawal langsung staff khusus IT yang bekerja keras meredam berita bohong yang berusaha menyudutkan perusahaannya. Sesampainya di rumah, ia mendapati Aira demam. Hal itu membuatnya panik. Ia meminta dokter Kaori untuk memeriksanya.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Ken khawatir.
Dokter Kaori mengambil termometer yang ada di ketiak Aira yang menunjukkan angka 38,2. Padahal suhu tubuh yang normal berkisar di antara 36,5-37,2° Celcius. Ia mulai memeriksa detak jantung wanita yang sangat dikenalnya ini.
"Bagaimana?" ulang Ken saat melihat dokter Kaori beranjak dari sisi badan istrinya.
"Tidak ada yang serius. Dia hanya demam biasa saja." Dokter Kaori memasukkan stetoskop yang barusan dipakainya ke dalam tas yang dibawanya. "Demam bisa terjadi karena cuaca, aktivitas, asupan makanan, ataupun karena waktu tidur yang tidak teratur."
Ken segera menghampiri istrinya, mengelus pipinya dengan lembut.
"Dia akan baik-baik saja setelah istirahat yang cukup, minimal tiga atau empat jam. Aku sudah memberikan obat penurun panas yang aman untuknya."
"Bukan karena mastitis?" tanya Yu yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Mastitis?" tanya Ken heran. Ini pertama kalinya ia mendengar istilah medis itu.
Dokter Kaori tersenyum, "Bukan. Ini sungguh hanya demam biasa karena Aira kelelahan. Mungkin karena dia juga memikirkan banyak hal, jadi emosinya ikut labil dan membuat imunitas tubuhnya melemah."
"Apa itu mastitis?" Ken masih penasaran dengan pertanyaan yang Yu ucapkan sebelumnya. Ia menatap dokter Kaori, meminta penjelasan.
"Demam (meriang, panas dingin) yang terjadi pasca persalinan saat ibu menyusui memang paling sering disebabkan oleh mastitis, yakni peradangan pada parenkim p*yudara. Pencetusnya bisa karena penumpukan ASI yang menyebabkan saluran ASI tersumbat, atau bisa juga karena infeksi bakteri.
"Tapi Aira baik-baik saja. Kondisinya akan membaik dengan sendirinya, hanya butuh istirahat saja. Perbanyak minum 8-12 gelas perhari, makan makanan bergizi seimbang dan istirahat yang cukup," jelas dokter Kaori sambil tersenyum.
"Syukurlah," ucap Ken lega.
Tok tok
"Ken, ayo bicara di luar," ajak Yoshiro setelah mengetuk pintu. Ia berdiri di depan pintu, enggan masuk ke ruangan pribadi Ken dan Aira itu. Ia cukup tahu dengan batasan privasi yang Aira terapkan, dimana orang lain tidak boleh melihat auratnya. Dan Yoshiro yakin wanita itu pasti tidak menutup kepalanya saat ini.
"Kaori-chan, bisa tolong jaga istriku?" Ken tampak tidak tega meninggalkan wanitanya seorang diri.
"Pergilah. Aku memang sengaja datang kemari untuk memeriksanya. Dia sempat menghubungiku dan mengeluh pusing beberapa saat yang lalu."
Ken menganggukkan kepalanya, merasa tenang karena ada dokter cantik yang akan merawat istrinya sementara ia menemui Yoshiro.
"Ada apa?" tanya Ken saat ia mendudukkan diri di atas sofa ruang kerjanya. Ia mengurut pelipisnya, kembali memikirkan permasalahan yang harus ia hadapi saat ini. Masalah-masalah itu seolah sengaja datang di saat yang bersamaan, memaksanya memutar otak mencari solusi.
"Dokter Olivia ditemukan tewas di dalam apartemennya sendiri." Yoshiro duduk di hadapan Ken, sementara Yu di sebelahnya.
"Hmm, Aira sudah mengatakannya padaku. Apa penyebabnya?" tanya Ken lirih, ia tampak sedikit frustasi.
"Pihak kepolisian menduga dia bunuh diri karena tidak menemukan luka atau apapun yang mungkin membahayakan nyawanya."
"Siapa yang menemukannya pertama kali?" tanya Ken ingin tahu. Ia tidak bisa percaya begitu saja pada satu kesimpulan awal itu.
__ADS_1
"Suami dokter Olivia. Dia terkejut melihat istrinya yang terbujur kaku di atas ranjang dengan mulut berbusa. Kemudian dia melaporkannya pada pihak berwajib."
"Waktu kematiannya?"
"Diduga pukul sepuluh malam. Dan suaminya pulang satu jam setelahnya. Sampai sekarang, polisi masih memeriksa tempat kejadian perkara," terang Yoshiro singkat, padat dan jelas.
"Apa kamu menemukan sesuatu?" tanya Ken pada gadis berambut panjang di depannya.
"Umm. Kamera CCTV di lantai itu dan lobi apartemen rusak. Pihak keamanan gedung itu tidak tahu penyebabnya. Mereka mengecek secara berkala dan kondisi terakhir yang dilaporkan kemarin, semua kamera pengawas dalam keadaan berfungsi normal. Ini yang membuat kematian dokter Olivia terasa janggal." Yu menyerahkan tablet di tangannya pada Ken. "Aku memasang kamera tersembunyi disana."
Layar pipih itu menampilkan suasana terkini di kediaman dokter Olivia. Beberapa orang petugas forensik dari kepolisian tengah memeriksa jejak sidik jari pada pintu masuk tempat dimana mayat dokter itu ditemukan.
"Jika memang kamera di lantai itu rusak, kenapa teknisi tidak memperbaikinya segera? Dan bagaimana bisa kamera di lobi juga ikut rusak?" Ken tak habis pikir dengan dua fakta yang terlalu kebetulan itu.
"Itu juga yang membuat suami dokter Olivia tidak percaya jika istrinya bunuh diri. Kehidupan mereka baik-baik saja sebelumnya."
Ken mengembuskan napas dengan kasar, kesal karena merasa permasalahan ini tak juga mendapat titik temu. Semuanya seolah dirancang sedemikian rupa untuk menyesatkan Ken dan orang-orangnya, bahkan mungkin menghancurkan lahan bisnisnya.
Pria lesung pipi itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, berusaha menenangkan dirinya dari kenyataan yang membuatnya semakin depresi. Pikirannya kembali melayang pada keadaan Aira yang drop. Pantas saja wanita kesayangannya itu hampir pingsan, dia pasti ikut memikirkan permasalahan ini.
"Apa kamu sudah memeriksa latar belakang wanita itu? Kenapa dia tidak lagi bekerja untuk Miracle Aesthetic Center di Osaka?" tanya Ken dengan suara lemah.
"Dia resign karena kandungannya yang semakin membesar. Suaminya mengatakan bahwa sudah sejak lama dokter Olivia ingin tinggal bersamanya di Tokyo dan melahirkan putrinya di sini. Tidak ada yang mencurigakan." Yoshiro menjelaskan percakapannya dengan pria yang ia temui beberapa waktu yang lalu.
"Kehidupan mereka begitu sempurna, hari-hari mereka penuh kebahagiaan. Mereka bahkan berencana kembali ke Singapura bulan depan untuk menengok keluarga dokter Olivia. Jadi tidak ada alasan kuat yang menjadi penyebab wanita itu mengakhiri hidupnya." Yu ikut menambahkan.
Ken memutar otaknya lebih keras, berharap bisa mendapat ide, ilham, atau apapun itu yang mungkin akan mengarahkannya pada petunjuk yang baru.
"Ah, aku hampir melupakannya." Yoshiro seperti tersengat listrik detik itu juga. Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku bajunya.
"Apa ini?" tanya Ken saat melihat kolom berderet dimana ada tanda tangan yang sama di bagian kanannya. Itu seperti buku absen harian atau sejenisnya.
"Dokter Olivia tidak pernah mendatangi rumah nyonya Suzuki. Tiga bulan terakhir, dia fokus mengurus yayasan thalasemia yang ia dirikan bersama sahabatnya sejak lima tahun yang lalu. Dia tidak pernah merawat siapapun kecuali anak-anak yang ada di yayasan itu."
*Thalasemia adalah kelainan darah bawaan yang ditandai oleh kurangnya protein pembawa oksigen (hemoglobin) dan jumlah sel darah merah dalam tubuh yang kurang dari normal. Gejalanya antara lain: kelelahan, kelemahan, pucat, dan pertumbuhan yang lambat. Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, bersifat kronis, dapat bertahan selama bertahun-tahun atau bahkan seumur hidup.
DEG
Jantung Ken seolah terhenti satu detakan. Ia mendapat petunjuk yang sangat berarti. Titik terang permasalahan ini mulai terlihat.
"Ini?" Ken menatap kertas di tangannya dengan ambisius. Selembar kertas yang terlihat tak ada artinya adalah bukti nyata yang akan membawa titik terang atas kasus ini. Keterlibatan dokter Olivia atas perawatan nyonya Suzuki bisa dibantahkan dengan satu fakta ini.
Yoshiro mengangguk mantap. "Aku akan mendatangi tempat itu besok pagi. Kita bisa menggalinya dari sana."
Ken tersenyum, menyetujui rencana sahabatnya. Pertemuan dini hari ini membawa setitik cahaya, membuat Ken kembali bersemangat.
"Yu, kamu urus nyonya Suzuki dan putrinya. Sadap telepon genggam mereka, bahkan retas kamera CCTV di rumahnya jika perlu. Kita harus bisa menangkap ikan besar yang ada di belakang kejadian ini. Semua ini pasti berhubungan," ucap Ken dengan semangat berapi-api.
"Aku tahu." Yu menampilkan smirk di ujung bibirnya, siap atas misi yang Ken berikan padanya.
__ADS_1
...****************...
Sinar mentari membelah cakrawala, membiaskan semburat cahaya berwarna jingga. Burung-burung kecil beterbangan dari sarang mereka, mencari peruntungan sebisanya demi memenuhi perut mereka.
Di saat yang sama, Aira tampak mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang berusaha menembus retina matanya. Ia terbangun setelah tidur panjangnya.
"Ken," panggilnya lirih pada pria tampan yang tengah mendekap tubuhnya dengan erat.
"Hmm," gumam Ken dalam tidurnya. Ia baru terlelap dua jam yang lalu setelah menganalisa laporan keuangan Miracle.
"Ken," Aira menepuk-nepuk pipi suaminya yang masih terpejam.
"Apa?" jawabnya tanpa membuka mata. Ia justru menangkap jemari Aira dan mendekapnya di dada.
"Aku haus," ucap wanita berambut panjang itu dengan suara serak.
Ken otomatis membuka mata detik itu juga dan menatap wajah chubby istrinya yang terlihat pucat. Ia segera mengambil segelas air putih yang ada di atas nakas dan memberikannya pada Aira. Ia juga memeriksa dahi wanita kesayangannya itu, takut demamnya belum juga turun.
"Aku lapar." Aira berucap sembari mengembalikan gelas di tangannya pada Ken.
"Tunggu sebentar. Aku akan siapkan makanan untukmu." Ken bergerak cepat, keluar dari kamarnya dan berlari menuju dapur. Ia kembali beberapa detik berikutnya dengan piring berisi makanan di masing-masing tangannya.
"Ibu sengaja membuat ini untukmu," ucap Ken seraya meletakkan satu piring berisi martabak mini dengan toping keju dan coklat mesis di atas meja kecil di depan Aira. Wanita itu tersenyum sembari menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang.
"Ini juga ibu yang membuatnya?" tanya Aira menatap makanan sejenis dorayaki di hadapannya.
"Umm. Beliau sengaja membuatnya pagi-pagi sekali. Takut kamu kelaparan." Ken menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Dimana ibu sekarang?"
"Ibumu pergi ke kediaman kakek. Mungkin baru akan kembali sore nanti." Ken mulai mengambil dorayaki di depannya dan menyuapkannya pada Aira.
"Aku bisa makan sendiri," tolak Aira. Ia berusaha mengambil makanan di tangan Ken.
"Biarkan aku memanjakan istriku." Ken bersikeras tetap menyuapi wanita kesayangannya. "Buka mulutmu."
Aira terpaksa membuka mulutnya. Ia tidak akan bisa menolak keinginan suaminya ini. Sebagai balasannya, Aira mengambil sepotong makanan manis itu dan balas menyuapi suaminya. Mereka berdua menikmati sarapan pagi itu dengan kebahagiaan yang menyelimuti hati masing-masing.
...****************...
Mau dorayakinyaaa...... 😍😍
Ada yang mau buatin dorayaki buat Author? Ayolah Author laper nih... 😂😂
Dah mulai keliatan yaa titik terangnya. Semoga Author masih fokus buat nyelesein masalah ini 😔
__ADS_1
See you next episode, jangan lupa like, vote n komen yaa. Bai bai,
Hanazawa Easzy