
Ken sedang ada di dalam perjalanan menuju ke rumah saat mendapati ponselnya bergetar. Dia segera mengambilnya dan melihat nama Kosuke di sana.
"Ada apa? Aku sudah meninggalkan kartu milikku. Kita bertemu di kantor satu jam lagi," ucap Ken cepat tanpa menunggu Kosuke bersuara di ujung sana. Ia ingin segera sampai di rumah dan berjumpa dengan istri serta ketiga anaknya.
"Bukan itu, Tuan. Ada dua orang yang memaksa untuk bertemu Anda. Mereka menuntut ganti rugi atas penjualan produk palsu dan penipuan yang mengatasnamakan Miracle Cosmetics." Kosuke melapor sambil menerima kartu milik Ken yang ditinggalkan pada kasir wanita di klinik kecantikan tempatnya berada sekarang.
"Apa maksudmu?"
"Saya tidak bisa menjelaskannya di telepon. Dimana Anda sekarang?" tanya Kosuke. Ia berjalan dengan langkah cepat menuju lift, berharap bisa meninggalkan tempat ini sesegera mungkin.
"Kita bertemu di perusahaan dalam sepuluh menit." Ken menatap arlojinya dengan gusar. Ia tidak menyangka akan ada masalah seperti ini.
"Tolong putar balik. Ke Miracle Corporation sekarang!" titah Ken tegas.
"Baik," jawab driver taksi itu dengan lugas.
Hanya tinggal dua ratus meter ia sampai di kediamannya sendiri. Bahkan pintu gerbang rumahnya sudah terlihat jelas di depan mata, tapi tiba-tiba terjadi masalah seperti ini. Ia harus merelakan makan siangnya demi mengurus Miracle. Bagaimanapun juga, ini pasti masalah yang pelik. Jika tidak, Kosuke tidak akan menghubunginya.
"Kecepatan penuh! Saya bayar lima kali lipat jika kita sampai di sana kurang dari sepuluh menit!" paksa Ken penuh penekanan di setiap kata yang ia ucapkan. Uang bukan masalah baginya saat ini. Satu yang pasti, ia harus segera sampai di perusahaan dan melihat apa yang terjadi.
Sejak awal ia merasa ada yang tidak beres dengan laporan keuangan yang disampaikan bagian accounting Miracle. Tapi, Ken harus mencari bagian mana yang salah, terutama dari pendapatan masing-masing cabang anak perusahaannya. Setidaknya ada tiga puluh cabang Miracle di seluruh Jepang. Ken tidak bisa memeriksa laporan mereka satu per satu dalam waktu singkat. Mungkin sudah saatnya dia memanggil tim audit khusus untuk memeriksa semuanya.
Di tempat lain, Kosuke memasang seat belt yang melingkupi tubuhnya. Ia menginjak pedal gas dengan cepat, membawa kendaraan roda empat itu menuju perusahaan tempatnya bekerja.
*seat belt : sabuk pengaman
"Minami-chan, hubungi manager pemasaran Miracle Cosmetics. Minta dia datang sekarang juga ke perusahaan!" ucap Kosuke setelah panggilannya terhubung dengan wanita kesayangannya itu.
"Ada apa?" tanya Minami heran.
"Lakukan saja. Aku akan menjelaskannya nanti."
Tut
Kosuke menekan tombol pada handsfree yang menempel di telinganya, memutuskan sepihak panggilan teleponnya. Ia membawa mobilnya menukik tajam, berbelok ke arah pusat kota dimana tempat tujuannya berada.
-Miracle Corporation-
"Silakan tunggu, Nyonya. Wakil Direktur kami sedang dalam perjalanan."
"Berapa lama lagi aku harus menunggu? Apa kamu tahu siapa suamiku? Dia anggota kabinet di parlemen. Kalian membuatku marah! Jika dalam waktu satu jam aku tidak mendapat ganti rugi, bersiaplah untuk muncul di koran besok pagi. Aku tidak akan membiarkan orang lain menjadi korban sepertiku!" cecar wanita dengan wajah merah yang terlihat sedikit mengerikan. Kerutan terlihat jelas di wajahnya, menbuatnya terlihat lebih tua dari usianya sebenarnya.
__ADS_1
"Tenanglah, Nyonya. Kami pasti akan bertanggung jawab. Mereka sedang ada di perjalanan, silakan tunggu sebentar lagi," pinta wanita satunya. Dua pelayan di belakang meja resepsionis itu tampak panik. Mereka tidak ingin terjadi masalah kedepannya, atau mereka bisa saja kehilangan pekerjaan ini. Ini adalah satu-satunya mata pencaharian untuk bertahan hidup di negara tempat kelahiran mereka ini.
CIITT
Decit rem terdengar memekakkan telinga. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti di depan pintu masuk perusahaan ini. Seorang pria dengan jas hitam melekat di tubuhnya segera berlari menghampiri meja resepsionis.
"Dimana mereka?" tanya Kosuke tergesa. Dadanya naik turun dengan cepat, seirama dengan detak jantungnya yang harus bekerja lebih keras. Tangannya mencengkeram meja resepsionis, mencegah tubuhnya agar tidak limbung. Ya, ia hampir mengalami kecelakaan saat di jalan, dan itu membuatnya harus menahan pening yang luar biasa di kepalanya yang sempat terbentur.
"Di sana." Seorang resepsionis menunjuk dua wanita yang sedang berjalan mendekat ke arah Kosuke. Satu berusia sekitar lima puluh tahun, dan seorang lagi mungkin baru berusia 24 atau 25 tahun. Dari kemiripan fisik keduanya, kemungkinan mereka memiliki kekerabatan yang dekat, seperti ibu dan anak misalnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Kosuke seramah mungkin. Ia menunjukkan senyum terbaiknya, menahan segala permasalahan pribadinya demi profesionalitas yang selalu perusahaan ini agung-agungkan.
"Lihat wajahku! Karena kalian, aku jadi seperti ini! Kalian mungkin bisa menipu orang lain, tapi tidak boleh menipuku. Aku akan menuntut kalian karena menggunakan produk palsu dan penipuan. Kuasa hukumku akan datang kemari dan membawa masalah ini ke meja hijau!" Emosi wanita paruh baya itu kembali meledak-ledak seperti saat pertama kali mendatangi tempat ini tiga puluh menit yang lalu.
Kosuke memutar otaknya, mencari solusi terbaik untuk meredam kemarahan wanita ini. Dilihat dari penampilannya, dia adalah wanita sosialita dengan status yang tinggi. Terlihat jelas dari pakaian dan jam tangan yang dipakainya, itu bukanlah barang-barang yang bisa dibeli oleh wanita dari golongan ekonomi menengah ke bawah. Kosuke harus lebih hati-hati dalam menghadapinya.
"Baiklah. Mari kita bicarakan ini di ruangan. Kami pasti akan bertanggung jawab atas semua kesalahan yang terjadi. Bisakah Anda menjelaskan pada saya bagaimana awal mula hal ini bisa terjadi? Saya tahu Anda pasti pelanggan kami sejak bertahun-tahun yang lalu. Dan baru kali ini Anda kecewa atas pelayanan kami. Bukankah begitu, Nyonya?" Kosuke mulai memainkan kemampuannya dalam berbicara, membujuk wanita ini dengan kata-kata halus yang membuat mereka nyaman.
Ya, satu langkah yang pasti untuk meredam emosi seseorang adalah dengan menurunkan ego kita di hadapannya. Salah satunya dengan mengakui bahwa mereka lebih unggul dari kita. Setelah mereka merasa ditinggikan derajatnya, kita bisa membujuk mereka, mengarahkan otak mereka bahwa kita akan menjadi patuh pada keinginannya.
Emosi sendiri seringkali dideskripsikan dalam bentuk kemarahan saja, namun sebenarnya ia memiliki arti yang lebih luas dan mewakili banyak perasaan. Emosi diartikan sebagai reaksi seseorang terhadap suatu kejadian, baik berupa reaksi senang, marah, takut, sedih dan lain sebagainya.
Dan emosi yang dialami oleh wanita sosialita ini sudah melewati level takut, ia merasa cemas akan terjadinya hal-hal buruk dengan wajahnya. Hal itu yang membuatnya buru-buru datang meminta pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang ia rasa tepat.
Namun, dia menjadi marah ketika tidak mendapati siapapun yang akan bertanggung jawab atas masalahnya yang dialaminya. Dua karyawan resepsionis yang tidak memiliki andil berarti di perusahaan ini, harus menjadi korban kemarahannya yang tak tertahankan lagi.
"Silakan duduk, Nyonya." Kosuke mempersilakan kedua tamunya untuk duduk di ruang tamu yang ada di sebelah ruangan Ken. Ia yakin tuannya itu tidak akan keberatan dengan satu langkah yang diambilnya ini.
Wanita ini terbiasa hidup mewah, dia akan semakin merasa tersanjung saat mendapat pelayanan VIP atau bahkan VVIP seperti yang tengah Kosuke lakukan ini. Dan perasaan tersanjung itu akan membuatnya merasa sombong, satu tingkat di atas level emosi yang sebelumnya, yakni marah.
"Boleh saya tahu nama Anda?" tanya Kosuke lembut. Ia berusaha melakukan tugasnya dengan hati-hati, merendahkan dirinya sendiri di hadapan tamunya yang ia perlakukan bak seorang ratu.
"Suzuki Harada. Aku istri Hayato Harada. Kamu pasti tahu 'kan siapa dia?" ketus wanita yang mengaku bernama Suzuki itu. Ia meletakkan sebuah kartu nama di meja dengan begitu angkuh, merasa di atas awan karena bisa mendapatkan perlakuan khusus ini.
Kosuke tersenyum, ia seperti pernah mendengarnya tapi tidak begitu yakin. Itu seperti nama politisi atau seseorang yang mungkin menjabat di parlemen pemerintah. Dan itu bukan wilayah bisnis, jadi dia tidak begitu memahaminya.
"Maaf atas kebodohan saya karena tidak tahu siapa Anda. Dan, siapa Nona ini?" Kosuke lagi-lagi harus merendahkan diri, mengaku bodoh agar tamunya makin melayang.
"Dia putriku. Ayana. Apa kamu ingin bersikap tidak sopan padanya? Kamu tidak seharusnya bertanya!"
Kosuke tersenyum kecut, menyadari kemarahan wanita ini belum sirna sepenuhnya. Ia harus bisa mengambil hatinya, menyanjungnya seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Maaf jika saya terkesan lancang. Saya akui kesalahan saya kali ini. Tolong maafkan saya," ucap Kosuke sambil berdiri dari duduknya. Ia bahkan sampai menundukkan badannya 90° untuk meyakinkan tamunya bahwa ia sungguh merasa bersalah.
"Sudahlah, Bu." gadis yang diketahui bernama Ayana itu memegang lengan ibunya, meminta ibunya untuk tidak memarahi pria ini lagi.
"Dimana atasanmu? Aku harus berbicara langsung padanya."
Kosuke kembali duduk, menatap dua tamunya dengan pandangan bersahabat. "Beliau masih dalam perjalanan kemari, bisakah Anda menunggu sebentar lagi? Saya jamin beliau akan mengatasi permasalahan yang Anda alami sampai tuntas. Jika tidak, saya siap menanggalkan posisi saya di perusahaan ini." Kosuke meletakkan ID card miliknya di atas meja.
Nyonya Suzuki membaca nama yang tertera di sana, Kosuke Murasawa. Ia terbelalak saat membaca status kepegawaian orang ini, Personal Assistant (PA).
Glek
Ia bahkan sampai menelan ludahnya dengan paksa, cukup tahu diri seberapa pentingnya jabatan itu. Pengusaha dengan mobilitas tinggi, direktur perusahaan, petinggi sebuah lembaga hingga para selebritas membutuhkan setidaknya satu orang untuk membantu mereka mengatur jadwal. Dan disinilah tugas PA dibutuhkan. Dengan kata lain, pria yang ada di hadapannya adalah tangan kanan petinggi perusahaan ini.
Dan dia berani mempertaruhkan jabatannya sebagai jaminan. Hal itu membuat keraguan nyonya Suzuki sirna seketika. Ia percaya akan kata-kata yang diucapkan oleh Kosuke padanya.
Kosule melihat raut wajah tamunya tak lagi muram seperti sebelumnya, melainkan berubah cerah dengan mata berbinar. Ada secercah semangat di sana.
Pada tingkatan semangat inilah seseorang baru bisa diberi saran dan masukan. Dengan berbagai bujukan yang diberikan, ia akan mulai menerima keadaan. Dan tujuan akhirnya adalah rasa kedamaian yang akan diperoleh nyonya Suzuki ini, yakni perasaan yang lapang dan menyenangkan. Dengan begitu, dia tidak akan meminta kuasa hukumnya melaporkan Miracle ke pihak yang berwajib.
"Jadi, Nyonya Harada, bisa kita bicarakan apa yang sebenarnya terjadi disini?" tanya Kosuke dengan percaya diri. Saatnya ia mulai mengusai medan perang.
...****************...
Whoaaaa.... The Best karakter Kosuke disini. Bener-bener cocok buat atasan yang perfeksionis macam abang ganteng Yamazaki Kenzo ini 💃💃
Sukak nggak sama karakter sauminya Minami ini? 😉
Dah lah, kalo duet maut tuh Ken sama Kosuke, pasti bakal habis dah tuh nyonya Suzuki atau orang-orang yang di belakangnya. Sama Kosuke aja udah kalah, apalagi sama ayang Ken yang badasssss 😥
Btw, itu sengaja pake nama merk sepeda motor, biar ngga lupa. Udah banyak banget tokoh di cerita ini. Otak Author mulai keluar asep nih, oleng 😂😂
Itu sengaja author bold (tebelin) yang tingkatan level emosi manusia. Ilmu baru 🤗 Kalian bisa inget-inget buat ngadepin orang yang lagi emosi kaya nyonya sepeda motor ini 😂😂
Jangan lupa LIKE, KOMEN, VOTE, SHARE, FAVORIT, sama transfer kuota juga boleh. Author menerima dengan tangan terbuka 🤗😋😋 Canda 😉
See you next day sayang-sayangkuuuh 😘😘😘
Jaa,
Hanazawa Easzy 🐣
__ADS_1