Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Masuk Perangkap


__ADS_3

**WARNING : Adegan di bawah ini hanya dilakukan oleh pasangan suami istri. Bukan untuk ditiru!!!


Bocah silahkan langsung skip ke bawah, tidak disarankan membaca adegan Ken-Aira yang sedikit dewasa ini 🙌


Selamat membaca**,


*******


Semilir angin beraroma salju menusuk indera penciuman Aira. Jalanan di depannya agak sedikit licin karena es tipis yang mulai mencair. Matahari muncul sejak 30 menit yang lalu, membuat udara sedikit hangat. Masih tersisa 2 atau 4 jam sampai pusat tata surya itu kembali menyembunyikan diri di balik awan.


Ah, musim dingin di Jepang ternyata tidak bisa dibandingkan dengan negara yang dekat dengan kutub utara ini. Jika di Jepang masih terasa hangat dan cukup memakai 2 lapis pakaian, maka di sini minimal memakai 4 atau 5 lapis pakaian agar tidak membeku. Benar-benar ekstrim.


"Kita sudah sampai." ucap Kosuke pada tuan dan puannya yang duduk di bagian belakang mobil yang ia kendarai.


Aira mengecek jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu lima menit sebelum jam satu siang. Itu artinya ia tidak akan terlambat menemui gadis itu. Kosuke bilang restoran tempatnya akan bertemu dengan Mone ada di depan sana. Mereka sengaja berhenti di sini agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Ken, aku pergi." pamit Aira sambil membuka pintu di sampingnya.


Brakk


Ken menarik Aira dengan paksa, membuat pintu itu kembali tertutup.


"Keluar!" titah Ken menatap Kosuke. Ia berucap dengan nada lirih namun dingin menandakan suasana hatinya sedang tidak baik.


"Ba.. Baik." jawab Kosuke tergagap, menatap kaca spion yang kini menampilkan ekspresi wajah Ken yang diselimuti aura pembunuh. Ia segera membebaskan tubuhnya dari sabuk pengaman dan menyingkir dari sana. Entah apa yang akan tuannya lakukan, semoga tidak membuat nonanya marah.


"Ken?" Aira mempertanyakan sikap impulsif suaminya kali ini. Mereka sudah sepakat sebelumnya bahwa Aira akan menemui Mone seorang diri. Kenapa tiba-tiba Ken menahannya?


"Ada apa?" tanya Aira heran.


"Sebentar saja." ucap Ken sambil memeluk tubuh mungil istrinya yang kini menegang. Terlihat dari kedua tangannya yang tetap lurus di sisi badannya, tidak membalas perlakuan Ken sama sekali. Sedangkan Ken justru semakin mempererat pelukan di pinggang istrinya.


"Ken.." Aira ingin menyela kegiatan suaminya yang membuatnya sedikit tidak nyaman. Ia bisa terlambat sampai di restoran jika membiarkan Ken terus memeluknya beberapa menit lagi.

__ADS_1


Cup


Ken mengecup sudut bibir Aira begitu ia melepaskan pelukannya, "Segeralah kembali." lirih Ken dengan suara serak.


"Ada apa denganmu?" Aira merasa heran dengan sikap Ken yang manja ini. Apa mungkin suaminya itu juga mengalami fluktuasi hormon sepertinya? Yang benar saja...


Ken menatap manik coklat Aira dengan intens. Wajah tanpa senyumnya benar-benar hanya berjarak beberapa centimeter dari Aira, membuat pipi chubby itu merona sepenuhnya.


Cup cup cup


Ken mencium Aira membabi buta, membuat wanita 25 tahun itu menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi di belakangnya. Nafasnya mulai memburu mendapat perlakuan panas suaminya di tengah udara yang bisa membekukan siapa saja, termasuk Kosuke yang dipaksa berdiri di belakang mobil. Ken melampiaskan emosinya dengan tenggelam dalam obsesinya untuk menguasai Aira. Itu salah satu caranya meredam iblis yang ingin membunuh Shun sejak pagi tadi.


Sejak Kosuke melaporkan berita ledakan itu, Ken tahu siapa dalang di balik kejadian ini. Hanya Shun yang bisa berbuat hal gila dengan membakar habis seluruh bangunan itu. Awalnya Ken hanya ingin memancing perhatian Takeshi dengan memasang bom berdaya ledak rendah. Tapi tiba-tiba Shun mengacaukan rencana mereka dengan bergerak sendiri dan membuat kehebohan di seantero Rusia. Dia benar-benar gila.


"KEN?!" Aira menahan jemari Ken yang mulai membuka kancing palto hitam yang dipakainya. Ia tidak ingin suaminya out of control. Masih ada misi penting yang harus ia lakukan sekarang.


BUGH


Ken meninju sandaran kursi di samping Aira. Ia hampir saja melewati batas jika Aira tidak mengingatkannya. Detik itu juga ia segera menjauh dari Aira dan berpaling menatap ke arah lain. Ia mulai mengatur nafasnya guna meredam emosi dan keinginannya. Ini bukan saat yang tepat. Bagaimana bisa ia lepas kendali seperti ini?


"Ken.." panggil Aira khawatir. Bagaimana pun juga ia harus memastikan kondisi Ken baik-baik saja sebelum ia pergi menemui Mone.


"Aku akan segera kembali." janji Aira. Ia mengambil sapu tangan dari dalam tasnya dan menyeka bulir keringat yang mulai bergerak turun melalui pelipis suaminya.


"Ken.." panggilnya lagi, membuat Ken terpaksa menoleh. Ia menatap wajah bulat istrinya yang tengah tersenyum.


Cup


"I love you." ucap Aira setelah mencium bibir suaminya sekilas, membuat wajah Ken memerah.


"Aku akan ada di sekitarmu. Ingat, jangan pernah melepasnya." Ken membisikkan kalimat itu sebelum mencium telinga Aira yang tersembunyi di balik kain segi empat yang menutupi kepalanya. Ia meraba anting berbentuk kincir angin yang dilengkapi Gps itu.


"Jaga anak-anak kita. Aku percayakan mereka padamu." bisik Ken di sela-sela dekapannya. Kali ini ia melakukannya dengan tulus, bukan diselimuti obsesi seperti sebelumnya.

__ADS_1


Aira mengangguk sebelum keluar dari kendaraan roda empat itu. Ia kembali menilik ponselnya, mencari keberadaan Mone melalui aplikasi mapping yang ia gunakan. Hanya tersisa dua blok dari tempatnya berdiri sekarang dan ia akan sampai.



"Aku disini.." Mone melambaikan tangannya saat melihat Aira memasuki restoran tempatnya berada. Ia meletakkan dagu di atas punggung tangan kanannya.


Wanita dengan jilbab berwarna lavender itu segera menghampiri gadis 20 tahun yang tengah tersenyum padanya, "Maaf sedikit terlambat." ucap Aira tak enak hati.


"Aku juga baru sampai." jawab Mone berbohong. Padahal ia sudah ada di sana sejak 20 menit yang lalu.


Keduanya makan siang dan membicarakan banyak hal seputar kehidupan mereka sehari-hari. Mone juga menanyakan bagaimana bisa Aira menikah dengan Ken dan memutuskan untuk tinggal di Jepang. Aira hanya menceritakan sekilas tanpa mengungkapkan hal menyedihkan yang ia lalui untuk sampai di titik ini.


Keduanya berlanjut pergi salah satu pusat perbelanjaan. Mereka masuk ke time zone dan bermain bersama. Mone benar-benar terlihat bahagia. Ia menikmati kebersamaan mereka dan menjadi semakin dekat. Ia membawa Aira ke dalam taman bermain. Ada begitu banyak orang saat weekend seperti sekarang.


Mone sedang membeli tiket untuk memainkan wahana lainnya saat Aira menerima pesan dari Ken : 'Mereka mulai bergerak. Siapkan dirimu.'


"Ayo kesana." ajak Mone seraya menggandeng lengan Aira. Mereka bersiap melewati pintu masuk saat tiba-tiba segerombolan anak kecil menabrak tubuhnya, membuat Aira kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika Mone tidak segera menangkapnya.


"Are you OK?" tanya Mone.


Aira mengangguk. Keduanya memutuskan untuk duduk di sebuah bangku dengan meja bundar di depannya. Penglihatan Aira mulai kabur. Ia meletakkan kepalanya di atas meja, perlahan mulai masuk ke alam bawah sadarnya.


Ya, anak-anak tadi sebenarnya hanyalah untuk memecah perhatian Aira. Saat mereka melewati Aira dan membuat wanita hamil itu kewalahan, saat itulah Mone menyuntikkan obat tidur di lengan Aira. Ken memperhatikan hal itu dari jauh dan mengukir senyum di wajahnya.


"Masuk perangkap." ucapnya bangga, memberikan kesempatan pada Mone untuk melancarkan aksinya mengambil darah milik Aira.


Meski sempat bingung sebelumnya, tapi Ken dan Aira melihat laporan silent yang mereka tanam di ponsel Mone. Semalam Mone mengirimkan pesan pada dokter genetika dan mengatakan akan mengambil sampel hari ini. Dokter memintanya menyerahkan sampel darah agar hasilnya lebih akurat lagi.


Dan itulah sebabnya Ken membiarkan Aira menjadi umpan untuk yang kedua kalinya meski lubang besar menganga di dalam hatinya. Ia bertanya-tanya kenapa Mone ingin mengambil sampel darah Aira? Ataukan ada rahasia lain yang belum ia ketahui?


*******


See you,

__ADS_1


Hanazawa easzy 💜


__ADS_2