
Yamaken pergi tanpa berpamitan. Ia sudah biasa diabaikan jadi memilih untuk menjauh dari Mone yang terus mendiamkannya sepulang dari bandara. Gadis itu bahkan menolak dengan terang-terangan saat Yamaken berusaha membantunya membawakan tas belanjaan berisi sayur, buah, dan makanan laut.
Yamaken lari dari kenyataan yang ada. Dan tempat yang ia gunakan sebagai pelarian adalah apartemen milik manajernya, Yan Aoyama. Wanita empat puluh tahunan itu sudah hafal dengan tabiat artis bimbingannya. Saat Yamaken berlatih menembak, maka itu tandanya ia punya masalah pribadi.
Dan benar saja. Mone Kamishiraishi, kekasih mungil Yamaken datang. Ia langsung berlari ke dalam, menghambur ke dalam pelukan kekasihnya. Ah, lebih tepatnya Mone yang memeluk Yamaken dari bekakang.
"Aku tidak akan mengabaikanmu lagi. Yamazaki Kento, ayo kita menikah."
Deg!
Brukk
Senapan laras panjang yang sedari tadi dalam genggaman aktor tampan itu kini tergeletak di lantai. Ia melepaskan benda itu begitu saja saat mendengar ajakan gadisnya untuk menikah.
"Aku bersalah. Aku tidak bisa memahamimu. Aku egois dan keras kepala." Rentetan pengakuan Mone atas sifat buruknya segera terdengar di telinga tiga orang yang ada di ruangan ini, termasuk manajer Yan.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Yamaken detik berikutnya, berusaha melepas jalinan tangan Mone yang melingkar di depan perutnya. Dia malu pada manajer yang berdiri menyaksikan hal ini.
"Ah, sepertinya aku lupa belum membuang sampah," celoteh wanita berkacamata kotak itu. Ia segera menyingkir dari rumahnya sendiri, memberikan privasi bagi dua sejoli itu. Sepertinya mereka butuh waktu untuk menyelesaikan masalah asmara yang tengah bekecamuk.
Yamaken menutup matanya sejenak. Ia harus bersikap dewasa dan berpikir dengan kepala dingin. Emosi tidak akan membantunya menyelesaikan 'perbedaan kasta' diantara mereka.
"Aku tidak ingin kehilanganmu lagi. Ayo kita menikah!" Kali ini suara Mone terdengar lebih mantap dari sebelumnya. Bahkan pelukannya juga semakin erat, seolah tidak ingin lepas dari kekasihnya.
"Lepaskan tanganmu. Mari kita bicara." Yamaken berusaha melepas tautan jemari Mone, namun tak berhasil. Mone menggelengkan kepalanya tanda tak setuju dengan permintaan yang Yamaken katakan.
Sreett
Brukk
Tanpa aba-aba, Yamaken berbalik, mengangkat tubuh mungil Mone dan meletakkannya di atas kursi sofa panjang yang ada di ruangan ini. Semua itu terjadi begitu cepat, seolah hanya sekedipan mata saja.
"Kamu?!" Mone tak bisa berkomentar. Ia tidak menyangka Yamaken akan melakukan hal itu.
"Apa aku membuatmu terkejut?" tanya Yamaken dengan senyum hangat yang terpatri di wajah tampannya. Ia sudah berhasil mengendalikan diri dan kini memasang wajah malaikat andalannya. Sisi monster yang ia miliki sebelumnya, kini tersembunyi dengan apik di balik wajah senyumnya.
"Yamazaki-kun?" panggil Mone. Raut wajahnya masih menunjukkan bahwa ia terkejut dengan perlakuan Yamaken padanya. Bahkan detak jantungnya pun belum kembali normal, masih berpacu dua kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya.
"Sejak kapan kamu bisa beladiri?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Mone. Dia paham benar bahwa tidak semua orang bisa melakukan gerakan super cepat seperti yang Yamaken lakukan padanya. Hanya orang-orang terlatih saja yang bisa melakukannya.
Yamaken tak menjawab. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.
Hening.
Tak ada percakapan antara keduanya meski beberapa menit telah berlalu.
"Ayo bertanding." Yamaken menyerahkan sebuah busur panah pada Mone. "Yang kalah wajib menjawab pertanyaan dari yang lainnya."
"Hah?" Belum habis keterkejutan Mone akan sikap Yamaken sebelumnya, kini pria itu justru menantangnya bertanding.
"Bukankah kamu memiliki banyak pertanyaan untukku? Mari kita bertanding dan kamu bisa menanyakan apa saja padaku. Tapi jika aku menang, aku juga punya pertanyaan untukmu dan kamu harus menjawabnya dengan jujur."
Mone mengerutkan keningnya, mencoba menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia ingat penuturan Aira yang mengatakan bahwa satu-satunya olahraga yang Yamaken kuasai adalah memanah. Itu tidak akan membahayakan jantungnya yang lemah, justru membantunya meningkatkan konsentrasi.
"Kita bertanding di luar."
Tanpa menunggu kesanggupan Mone, Yamaken lebih dulu beranjak pergi. Ia membawa busur panah miliknya dan puluhan anak panah yang tersimpan dalam wadah tabung panjang di punggungnya.
Mone terhenyak. Dia menatap Yamaken yang kini ada di balkon, menyiapkan papan target yang akan mereka gunakan.
"Kemarilah." Yamaken melambaikan tangannya pada Mone, meminta gadis itu segera menyusulnya.
Mone speechless. Ini pertama kalinya ia melihat sisi lain Yamaken. Bahkan, sekilas pria itu terlihat seperti kakak kembarnya, Yamazaki Kenzo. Ada aura yakuza yang menyelimutinya. Entah itu hanya perasaan Mone saja, atau pria ini sungguh memiliki sisi lain yang belum ia ketahui.
"Hey, kamu melamun?" Yamaken menggoyang-goyangkan telapak tangannya di depan wajah Mone, membuat gadis ini segera tersadar dari lamunannya. Mone bahkan tidak menyadari kapan Yamaken datang mendekatinya.
"Ayo." Yamaken menarik paksa pergelangan tangan gadisnya, membuat langkah Mone sedikit memburu.
Keduanya sampai di balkon yang cukup luas ini. Disana hanya ada sebuah kursi kayu di salah satu sisi dan sisanya kosong. Hanya ada papan target yang Yamaken persiapkan tadi.
__ADS_1
"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Mari bertanding. Siapa yang menang, ia bisa bertanya apa saja pada yang kalah."
Yamaken mengambil sebuah anak panah dan mulai memasangnya pada busur yang ia pegang. Dia mengangkat senjata favoritnya itu di depan badan. Perlahan namun pasti, Yamaken membidik target di depan sana.
Ctakk
Anak panah yang Yamaken lesatkan tepat ada di tengah papan, poin sempurna.
"Giliranmu." Yamaken mempersilakan dengan isyarat tangannya.
Ctakk
Mone membulatkan matanya saat bidikannya jauh dari anak panah milik Yamaken. Dia hanya mendapat poin enam dan itu artinya ia kalah di pertandingan pertama mereka. Ia belum tenang dan melesatkan anak panahnya dengan terburu-buru.
"Aku menang. Sesuai kesepakatan awal, aku akan bertanya dan kamu menjawab."
Mone mendengus kesal, bukan karena kekalahannya yang tidak bisa membidik target dengan sempurna. Ia kesal karena tidak pernah ada kesepakatan. Semua yang terjadi ini adalah inisiatif Yamaken, Mone hanya mendiamkannya.
"Dari mana kamu tahu bahwa aku di sini?" tanya Yamaken to the point.
Mone mengambil napas dalam-dalam. "Kak Aira yang memberitahuku."
Yamaken mengangguk-anggukkan kepalanya. Dia bisa menerima jawaban gadis ini.
Ctakk
Yamaken kembali melesatkan anak panahnya, bahkan sebelum Mone sempat mengambil napas berikutnya. Pria ini terlihat menakutkan. Dia seperti Ken, tak ada bedanya sama sekali.
"Meleset sedikit. Sembilan poin." Yamaken menatap papan target dengan sedikit kecewa. Dia tidak bisa mengulangi pencapaiannya yang sebelumnya.
Mone mengambil napas dalam-dalam. Dia harus bisa mendapat nilai lebih baik agar bisa bertanya pada Yamaken. Ada begitu banyak hal yang mengganjal di dalam hatinya tentang pria ini.
Ctakk
Delapan poin. Mone memejamkan matanya. Hampir saja.
"Voila!!" seru Yamaken saat melihat ia kembali memenangkan pertandingan ini. "Apa yang terjadi? Kenapa tiba-tiba kamu ingin menikah denganku?" Lagi-lagi Yamaken mengungkapakan pertanyaan tanpa melihat situasi yang ada. Mone masih menetralkan napasnya setelah menahan oksigen di paru-parunya untuk tidak keluar saat dia membidik target.
Yamaken tersenyum. "Kenapa kita harus menikah? Bukankah kamu lebih suka kehidupan yang bebas?"
Mone diam. Dia enggan menjawabnya.
Ctakk ctakk
Kali ini Mone menembakkan dua anak panah sekaligus. Keduanya menancap tepat di tengah papan target. "Giliranmu."
Yamaken tersenyum. Dia kembali mengangkat busur panahnya. Bahunya ia buka lebar sebelum menarik senar yang siap melesatkan anak panah miliknya.
Ctakk
Anak panah yang Yamaken lesatkan menempel tepat di tengah papan, bersanding dengan kedua anak panah yang Mone lesatkan.
"Seri. Tidak ada yang menang atau kalah." Yamaken mengungkapkan pendapatnya.
"Tidak! Aku yang menang. Dua lawan satu. Kamu hanya membiidikkan satu anak panah 'kan?" Mone bersikeras.
Yamaken kembali tersenyum. Dia mengagumi ide gadisnya ini.
"Kamu bisa beladiri? Kapan kamu mempelajarinya? Bukankah kondisi tubuhmu tidak baik jika kelelahan?"
Aktor 28 tahun itu duduk di lantai, meletakkan busur panahnya begitu saja. Dia sudah malas bertanding begitu mendengar pertanyaan Mone.
"Aku belajar beladiri untuk bisa bersanding denganmu. Bukankah ada orang lain yang kamu sukai juga? Dia bahkan lebih pantas mendampingimu. Kallian terlihat serasi. Aku merasa aku akan kalah jika tetap bersembunyi dalam tubuh lemahku."
Mone terdiam. Dia menatap pria yang tengah menundukkan kepala, menatap lantai di bawah kakinya. Dia tahu siapa pria yang Yamaken bicarakan, dokter itu.
"Kita berbeda. Kamu Black Diamond yang kakek banggakan, sama seperti Ken ataupun kakak ipar. Tapi aku?" Suara Yamaken semakin lirih. "Aku hanyalah sampah yang tidak berguna. Perbedaan kasta kita terlalu jauh. Sejak kamu menjauhiku sebelumnya, aku mulai berpikir logis. Bagaimana mungkin kamu akan menerima pria lemah sepertiku? Aku harus menjadi kuat agar pantas untukmu."
Mone lagi-lagi hanya bisa bungkam. Dia ikut sakit melihat ekspresi wajah kekasihnya ini, seolah ada belati tajam yang kini menghunjam hingga dasar hatinya.
__ADS_1
"Tapi apa yang terjadi? Aku tidak pernah bisa dibandingkan dengan kalian. Kalian begitu sempurna. Memiliki segala kemampuan untuk melindungi orang lain. Tapi aku? Bahkan melindungi diri sendiri saja kesulitan."
BRAKK
Yamaken melempar busur panahnya dengan keras, menghantam papan target yang berdiri beberapa meter darinya. Dia bahkan tidak melihatnya, namun tepat sasaran.
"Apa yang kamu bicarakan?" Mone mendekat, meraih jemari Yamaken dan menggenggamnya erat-erat. "Kamu berpikir terlalu banyak."
Yamaken tersenyum miring, smirk khas yang biasanya hanya terlihat dii wajah Kenzo, kini menhiasi wajah tampan pria ini. Entah iblis dari mana yang kini merasukinya sampai membuat Yamaken bersikap aneh seperti ini.
Yamaken yang Mone kenal adalah pribadi yang ramah, murah senyum, dan hangat. Tapi pria di depannya ini terlihat lain. Dia lebih mirip Kenzo yang siap membantai apa saja di hadapannya. Mengerikan.
"Yamazaki-kun." Mone membawa pria ini ke dalam dekapannya. "Jangan katakan apapun lagi. Aku tidak ingin mendengarnya. Kamu adalah satu-satunya orang yang ada di hatiku. Aku hanya akan menikah denganmu. Bahkan jika kamu menolakku sekarang, aku akan mengatakannya lagi esok."
"Jika besok kamu masih menolakku juga, aku akan mengatakannya hal yang sama besok lusa. Jika besok lusa kamu belum menyetujuinya, maka besoknya aku akan tetap mengajakmu menikah." Mone masih bermonolog.
"Aku ingin menikah denganmu, membina kehidupan baru dimana kita saling menguatkan satu sama lain. Aku akan menatap wajah jelekmu setiap pagi, membuatkan susu coklat kesukaanmu, dan menyiapkan pakaianmu. Kamu akan bangun setelahnya dan membuatkan sarapan untuk kita berdua. Kamu ingat 'kan, aku tidak bisa masak sama sekali?"
Yamaken terdiam. Dia mendengarkan semua pernyataan tulus gadisnya. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada perasaan hangat yang perlahan ia rasakan.
"Kita akan makan sarapan bersama dan kemudian aku akan mengantarkanmu sampai di depan pintu. Kamu bekerja di luar rumah dan aku akan menunggumu pulang. Aku akan mengambil kursus masak tiga kali seminggu agar kelak bisa memasak untukmu dan anak-anak."
"Saat kamu bekerja di luar kota atau luar negeri untuk sementara waktu, aku akan menghubungimu setiap waktu, menanyakan apakah kamu makan dengan baik? Apa pengambilan gambarnya berjalan dengan lancar? Apa sutradara memarahimu karena tidak fokus saat bekerja?"
Yamaken tersenyum. Moodnya membaik mendengar semua penuturan Mone. Dia tersentuh dengan hal-hal yang gadisnya sebutkan, seolah itu yang akan terjadi setelah mereka menikah nantinya.
"Aku akan menunggumu pulang dan merajuk saat kamu tidak membawakan oleh-oleh untukku. Kamu membujukku dengan lembut dan akhirnya aku memaafkanmu. Kita akan datang ke makam ayah dan ibu bersama-sama saat musim semi, mengantarkan bunga lili kesukaannya. Mereka akan tersenyum melihat kita."
Mone mengakhiri narasinya saat tak bisa lagi membendung air mata. Satu dua bulirnya lolos begitu saja dan jatuh mengenai punggung tangan Yamaken.
Ya, sedari tadi Yamaken tak begerak sedikit pun. Dia membiarkan Mone memeluknya dan mengungkapkan semua imajinasi yang ada di dalam kepalanya.
"Hiks hiks." Isak tangis Mone tak bisa ia tahan lagi. Air tanpa warna itu terus mengalir, membasahi pipinya yang bulat seperti bakpau.
Yamaken mengurai pelukan Mone, menatap wajah gadisnya yang berderai air mata.
"Gadis bodoh! Kenapa kamu yang menangis sekarang?" Yamaken menghapus air mata di wajah Mone. "Apa kamu begitu mencintaiku sampai begitu bersikeras ingin menikah denganku?"
Mone tak bisa menjawab. Ia berusaha mengendalikan dirinya yang terbawa emosi saat mengingat mendiang ayah dan ibunya.
"Apa aku sungguh setampan itu di matamu?" Yamaken sengaja menggoda gadisnya.
BUGH!
Mone meninju dada Yamaken. Dia kesal karena pria ini sengaja menggodanya.
"Kapan kita akan menikah? Besok atau lusa?"
BUGH!!
Lagi-lagi tinju Mone mendarat di dada Yamaken, membuat pria itu tertawa.
Grep
Yamaken menahan tangan Mone dan menatap gadis itu dengan pandangan serius. Tatap mata keduanya bertumbuk di titik yang sama.
"Mari kita menikah. Aku tidak sabar untuk melihatmu mengenakan gaun pengantin."
Blush
Wajah Mone memerah. Dia tidak menyangka Yamaken akan menyetujui idenya.
"Malam ini istirahatlah lebih awal. Besok kita menemui kakek dan meminta restunya."
Mone menganggukkan kepalanya. Dia menyetujui ide Yamaken. Langit malam berbintang menjadi saksi bisu perkembangan hubungan keduanya. Mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih jauh, membina sebuah mahligai rumah tangga.
...****************...
Akankah semua berjalan dengan lancar seperti yang mereka harapkan? Bagaimana reaksi kakek saat mereka mendatanginya?
__ADS_1
See you next episode. Bye,
Hanazawa Easzy