
Aira tersenyum menatap adik iparnya dari samping. Mengingatkannya pada Ken yang identik dengannya. Seketika ia memandang ke arah lain dan terlihat suaminya sedang memperhatikan mereka dari balkon lantai 2.
Senyum Aira memudar dan Yamaken menyadarinya. Ia segera membalikkan badan kakak iparnya dan mengajaknya membuat boneka salju.
Naru, Yamaken dan Aira asyik membuat boneka salju sampai ibu mengingatkan ketiganya untuk masuk. Senja menjelang, udaranya semakin dingin. Ia khawatir pada menantunya yang kemarin demam.
"Aku baik-baik saja, bu." Aira menerima selimut bulu yang nyonya Sumari berikan padanya. Mereka berjalan berdampingan memasuki rumah.
"Hidungmu memerah, kau mulai kedinginan kan? Ayo masuk dan hangatkan dirimu." ibu mendudukkan Aira di dekat perapian. Ia memijat kaki menantunya sambil tersenyum.
"Ibu, aku sungguh baik-baik saja." Aira merasa tak enak diperlakukan seperti itu oleh orang yang lebih tua. Justru seharusnya ia yang melayani ibu suaminya dengan baik.
Ken berdiri di ujung tangga, memperhatikan keduanya yang kini bertukar senyum dan membicarakan hal-hal yang hanya dimengerti oleh wanita.
"Ayo bicara." pinta Yamaken sembari menepuk bahu kakaknya. Ia berjalan lebih dulu ke balkon.
"Jangan memaksakan diri." Yamaken menatap boneka salju hasil karyanya yang berdiri kokoh di tengah halaman.
"Apa yang harus ku lakukan?" Ken menutup wajahnya, frustasi. Hal yang seharusnya ia lakukan adalah membuat Aira bahagia, bukan sebaliknya.
"Biarkan saja. Meskipun kakak ipar sangat membencimu, dia tidak akan meninggalkanmu," jawab Yamaken merangkul kembarannya, "Keponakanku yang akan ambil peran mulai saat ini. Kita hanya bisa menunggu." Yamaken tersenyum lebar menampilkan kedua lesung pipinya. Ia mengerlingkan sebelah matanya saat Ken memandangnya dengan keheranan.
*******
Langit terlihat gelap sempurna, berbanding terbalik dengan hamparan putih di bawahnya yang menyelimuti hampir seluruh tempat di Jepang. Seorang wanita terlelap di bawah selimut berwarna biru, senada dengan piyama yang dikenakannya. Matanya terpejam dengan hidung memerah. Tampaknya ia tak merasakan sentuhan jemari Ken di pipinya.
"Suki. Daisuki dayo." lirih Ken.
(Aku suka. Aku sangat menyukaimu)
Tok tok
Terdengar seseorang mengetuk pintu membuat Ken harus menghentikan aktivitasnya. Ia menatap wajah tidur istrinya dengan penuh penyesalan. Ia tidak akan berlaku kasar padanya lagi seperti sebelum-sebelumnya.
Tok tok
Seseorang di balik pintu kembali mengusiknya. Ingin rasanya ia tidak mempedulikannya, tapi ia tidak seegois itu. Dengan wajah kesal ia membuka pintu kayu di depannya.
"Makan malam sudah siap. Semua orang menunggu anda." ucap Kosuke yang tampil dalam balutan sweater hitam dipadu dengan jaket warna hijau lumut sebatas paha. Ia tampil beda dari biasanya.
"Apa kau akan pergi kencan dengan pakaian seperti itu?" Ken melenggang keluar dari kamar, melewati asistennya yang membeku di tempatnya berdiri. Ia memang berencana mengajak Minami berjalan-jalan, tapi pertanyaan tuannya itu membuatnya ragu. Apa ia terlihat buruk dengan pakaian semacam ini?
"Pergilah," Ken berucap sembari mengibaskan tangan kanannya tanpa berbalik, "Aira tidur, ia (Minami) bebas sampai besok pagi." lanjutnya.
Kedua mata Kosuke membulat, ia tidak menyangka akan mendapat izin kencan dari tuannya. Terlebih karena Aira kembali demam jadi Minami terus menolak ajakannya. Wanita itu merasa bertanggungjawab penuh pada nona-nya, padahal Ken selalu ada bersama si pipi chubby itu.
Ibu menghidangkan minuman hangat untuk kakek saat Ken bergabung di meja makan. Hanya ada 3 orang disana, ayah, ibu dan kakek. Naru kembali ke Tokyo karena ada kegiatan di kampusnya, sedangkan Yamaken kembali pada rutinitasnya di bawah lampu sorot dan lensa kamera.
"Bagaimana kondisinya? Demamnya turun?" tanya ibu khawatir.
"Hmm.." Ken mengangguk tanpa menatap wajah ibunya. Ia merasa bersalah karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik, "Sumimasen."
(Maaf)
"Itu bukan salahmu. Wanita hamil memang sedikit mudah demam. Tubuhnya masih lemah." ibu coba menghibur putranya itu. Ia tahu Ken dan Aira belum berbaikan, Aira masih mendiamkannya sepanjang waktu. Padahal seminggu sudah berlalu sejak hari itu.
"Mari makan." ajak kakek.
"Itadakimasu.."
(Selamat makan)
Ken kembali ke kamar dan mendapati posisi tidur Aira sudah berubah. Selimut yang tadinya sebatas perutnya, sekarang menutup sampai ke leher. Ia kedinginan, padahal penghangat ruangan sudah Ken nyalakan. Mungkin suhu dingin di sini tidak cocok untuk istrinya. Ada baiknya ia mengabulkan keinginan Aira untuk pulang ke Indonesia. Wanitanya itu tertahan satu minggu sejak jadwal penerbangan yang sudah Kosuke atur. Selain karena bujukan ibu, kondisi fisik Aira juga melemah. Jadi dokter belum mengizinkannya bepergian jauh.
Ken menyusul istrinya masuk ke dalam selimut setelah membersihkan diri dan berganti piyama tidur. Ia mengamati wajah ayu istrinya dalam diam. Jemarinya bermain di hidung Aira, berlanjut menyusuri kedua alisnya dan berhenti di kelopak matanya. Ken tersenyum menyadari betapa mengasyikkan menatap wajah orang yang ia cintai.
Apa Aira juga menyukainya? Bukankah beberapa kali wanitanya itu melakukan hal yang sama padanya, bermain dengan hidung, alis sampai matanya?
Hanya memikirkannya saja membuat hati Ken menghangat. Ia mengecup pipi istrinya dan kembali menatapnya dalam diam. Ya, mereka tetap tinggal di kamar yang sama. Meskipun Aira masih mendiamkan Ken, tapi ia tetap mempersiapkan segala keperluan suaminya. Hanya saja Aira benar-benar menjaga jarak dari pria dengan tato di punggungnya itu. Tato yang ia buat saat masih berkecimpung di dunia gelap.
Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 02.15 pagi saat Aira membuka matanya perlahan. Netranya berkeliling sekilas, ia ingat bahwa mereka belum bisa pergi dari kediaman keluarga Yamazaki. Perlahan ia duduk dan meminum air putih di atas nakas sampai tersisa separuh. Perutnya terasa lapar, ia melewatkan makan malam karena tertidur setelah meminum obat demam yang Minami berikan.
Tak jauh dari tempatnya, Ken tertidur di lantai beralaskan futon. Ia tidur menghadap ke arahnya. Ken selalu memandanginya sepanjang malam sampai akhirnya terlelap. Sejak kembali dari penginapan Ken memutuskan untuk tidur di bawah, menuruti keinginan istrinya agar tidak dekat-dekat dengannya.
Perlahan Aira bangkit setelah menyingkirkan selimut tebal yang sedari tadi menghangatkannya. Ia mendekat ke arah Ken dan duduk bersimpuh di samping badannya. Ingatannya kembali ke beberapa hari ke belakang saat ibu mengajak keduanya untuk berbicara.
__ADS_1
FLASHBACK
Aira sedang melihat video parodi bersama Yamaken saat ibu dan Ken tiba-tiba masuk. Senyum yang sedari tadi terpampang di wajahnya seketika memudar.
"Yama-chi, bisa tinggalkan kakak iparmu sendiri? Ada yang ingin ibu bicarakan." pinta nyonya Sumari pada putranya.
"Ah, hmm..." pria lesung pipi itu mengangguk sekali, menutup komputer jinjingnya dan berlalu setelah tersenyum pada kakak iparnya, "Kita lanjutkan lain kali, jaa ne."
(Jumpa lagi)
Ken duduk di samping Aira yang membenahi jilbabnya dan melonggarkan syal di lehernya. Ia canggung duduk berdampingan dengan suaminya sendiri. Ia tahu pasti ada hal serius yang ingin dibicarakan oleh ibu mertuanya.
"Ku dengar kamu sedikit pusing tadi pagi?" tanya nyonya Sumari coba mencairkan suasana. Sebuah senyum coba wanita itu ukir di bibirnya.
"Sudah membaik, bu" jawab Aira dengan lidah kelu. Ia meremas maxi dress abu-abu yang ia kenakan. Aira takut ibu akan mengatakan hal yang justru membuat posisinya semakin sulit dengan Ken. Keadaan itu tak lepas dari pandangan Ken yang meliriknya sekilas.
"Kamu marah pada Ken?" tanya ibu hati-hati. Aira hanya menunduk, tak berani menjawabnya.
"Tolong maafkan dia. Kamu bisa membenciku, tapi jangan membenci suamimu sendiri," pinta nyonya Sumari dengan suara bergetar, "Semua ini salahku."
Aira menatap ibu mertuanya dengan penuh tanda tanya.
"Aku membodohi kalian berdua." isaknya mulai terdengar, ia menahan tangisnya agar tetap bisa menjelaskan segalanya. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Aira dan Ken.
"Kehamilanmu adalah kesalahanku. Semua kesalahpahaman Ken berasal dari kebohonganku." sebulir air berhasil melesak keluar dari matanya yang mulai terlihat berkerut karena usia.
"Apa maksud ibu?" kali ini Ken yang bersuara. Ia tidak mengerti arah pembicaraan ibunya.
Nyonya Sumari meletakkan selembar obat diatas meja kayu di depannya. Bentuknya sama seperti obat yang Aira konsumsi malam itu dan membuat Ken berubah menjadi monster.
"Itu bukan obat pencegah kehamilan, justru sebaliknya."
Ken memicingkan mata menatap wanita yang melahirkannya 27 tahun yang lalu itu. Mencerna pengakuannya dan semua yang terjadi beberapa minggu yang lalu.
"Aku hanya ingin kalian tetap bersama, jadi dengan bodohnya aku menipu kalian berdua. Aku benar-benar minta maaf membuat masalah untuk kalian. Aira-chan, aku tahu kesalahanku tak bisa dimaafkan. Tapi ku mohon jaga anakmu dengan baik, dia tidak bersalah."
Aira menutup wajahnya, ia tidak bisa menerima penjelasan ibu mertuanya begitu saja. Karena kebohongan itu ia hampir kehilangan nyawanya. Ken jadi emosi dan bersikap brutal. Ia menutup matanya, mencoba berpikir jernih.
Perlahan Aira bangkit dan mendekat ke arah Sumari, meraih tangannya yang masih gemetar.
"Ibu, ini bukan salahmu. Semua yang terjadi sama sekali di luar kendali ibu kan? Ibu hanya berharap kami tetap bersama. Justru kami berdua yang masih kekanakan, selalu menyelesaikan masalah dengan emosi." Aira menempelkan tangan ibu mertuanya pada perutnya yang masih rata, "Tanpa ibu melakukan apapun, ia tetap akan datang." pungkasnya dengan mata berbinar. Bagaimanapun juga ia bahagia dengan kehadiran malaikat kecil di perutnya sekarang.
FLASHBACK END
Perlahan Aira meraba perutnya dan tersenyum. Ia tidak boleh egois lagi demi kehidupan buah cinta mereka di dalam sana. Saatnya ia membuka hati untuk Ken.
Krukk krukk
Perutnya kembali berbunyi, ia lapar. Ah malaikat kecilnya juga butuh makan agar tumbuh dengan baik. Dengan mengesampingkan egonya, Aira menarik ujung lengan Ken. Ia malu harus membangunkan Ken, apalagi ia yang marah pada Ken. Rasanya tidak enak saat harus meminta bantuannya.
Tak ada pergerakan Ken sama sekali. Usaha Aira bahkan tak terasa sama sekali oleh pria lesung pipi itu.
Dengan wajah yang memerah, Aira menusuk-nusuk pipi Ken yang masih terlelap dengan jemarinya membuat pria itu sedikit bereaksi dengan mengerutkan keningnya sekilas dan merubah posisi tidurnya jadi terlentang menghadap ke atas. Aira segera menarik tangannya, jantungnya berdetak lebih kencang sekarang. Ia berbalik mengurungkan niatnya membangunkan Ken, tapi perutnya benar-benar lapar sekarang dan ia tidak bisa menahannya lagi. Aira mendekatkan tangannya lagi ke wajah Ken.
Hap
Ken menangkap jemari Aira di depannya tanpa membuka mata. Ia menariknya dan membuat kepala Aira mendarat di dada bidangnya. Aira tak bisa berkutik karena tangan Ken yang lain menahan punggungnya agar tetap dalam jangkauannya.
"Apa kamu merindukanku?" tanya Ken menatap manik mata coklat istrinya. Jarak keduanya kurang dari 30 cm, membuat Ken tersenyum melihat wajah istrinya yang memerah seperti kepiting rebus.
Aira segera menguasai diri dan menarik kepalanya menjauh dari suaminya.
"Gomen ne, Ai-chan. Hontou ni gomen." Ken menahan kepala Aira tetap di tempatnya semula, "Sebentar saja, biarkan seperti ini." pintanya.
(Maaf Ai-chan. Aku benar-benar minta maaf)
Aira mengalah dan membiarkan telinganya mendengar detak jantung suaminya. Terasa lembut dan menenangkan, melupakan rasa laparnya sejenak.
"Mari kita mulai semuanya dari awal," Ken mengelus kepala Aira dengan tangan kirinya, ia benar-benar tak ingin berpisah dengan istrinya itu, "Ayo pulang ke Indonesia." ajaknya.
"Eh, sungguh?" tanya Aira tak percaya.
"Hmm," Ken memainkan jarinya di pipi Aira, membelainya dengan lembut.
Seketika Aira bangkit dan membelakangi Ken. Ia malu melihat suaminya dari jarak sedekat itu. Jantungnya berdetak 2x lebih cepat dari sebelumnya. Ken bangun dan memeluk istrinya dari belakang.
__ADS_1
"Kamu menggodaku, tapi kamu yang malu." ejek Ken pada Aira.
"Aku tidak menggodamu." elaknya dengan gondok. Ia tidak bermaksud merayu Ken atau semacamnya, ia hanya lapar. Ah, bicara tentang lapar mengingatkan tujuan awalnya membangunkan Ken.
"Aku lapar." ucapan itu lolos juga dari mulutnya setelah terdiam cukup lama. Ia tidak bisa menahannya lagi.
"Tunggu sebentar yaa," Ken melepaskan pelukannya dan beranjak pergi setelah mengelus ujung kepala istrinya.
Aira membereskan futon di depannya dan memasukkannya kembali ke dalam lemari. Tepat saat itu Ken masuk membawa nampan berisi makanan untuknya. Ada semangkuk nasi, acar sawi, daging asap dan sup jagung. Ken meletakkannya di meja dan memberikan sepasang sumpit pada Aira.
Wanitanya itu menggeleng lemah, tampaknya ia tidak berselera melihat makanan sehat di depannya.
"Aku mau ramen." pinta Aira.
"Ramen?" Ken menatap heran pada istrinya. Selama ini Aira menolak makan ramen setiap kali Minami menawarinya.
"Tidak boleh." tolak Ken dengan cepat, ia tidak mau istrinya jatuh sakit lagi karena memakan makanan kurang bergizi itu. Aira mengerucutkan bibirnya dan menghembuskan nafasnya dengan kasar.
Ken heran dengan perubahan sikap Aira yang tiba-tiba menjadi manja. Ibu bilang emosi wanita hamil seringkali tidak stabil, apalagi di trimester pertamanya. Mereka mudah marah dan terkadang menginginkan sesuatu yang aneh. Itu bukan keinginannya, melainkan keinginan janin dalam kandungannya.
Seketika hati Ken kembali menghangat dan menghampiri istrinya, "Mau masak bersama?" tanya Ken lembut. Matanya berbinar menatap istrinya yang masih memasang wajah cemberut.
"Tawaranku hanya berlaku 5 menit." goda Ken.
Aira berjalan mendahului Ken, wajah cemberutnya perlahan berganti dengan senyum. Ken menyusulnya, meraih jemari mungil di sampingnya dan berjalan bersisian menuju dapur.
*******
Hwaaa..... 2000 kata demi bisa makan Ramen bareng 😂😂
Btw itu judulnya Ramen ++ bukan karena ada adegan ++ nya loh yaa, karena ada cast/visual para pemainnya 😂😌
Ah author mau menepati janji disini, kemarin kalian minta visual Ken, Aira dkk yaa. Sebenernya author udah kepikiran mau kasih visual tapi nanti di episode 50, niatnya 😋
Tapi sekalian sekarang aja deh, mumpung author lagi berbunga-bunga.
Ini Aira a.k.a Khumaira Latif. Mata bulat dan pipi chubby kaya author 😂😂
Btw, itu pict Hana Tajima Simpson. Designer blasteran Jepang-Inggris. Author ngefans sama dia, sekilas mirip Agnez Mo siih. Ini author kasih pict lain yang sesuai sifat Aira yang kalem.
Pemeran kedua yang pasti readers tunggu-tunggu. Taraaaa......
Ini Yamazaki Kenzo a.k.a Ken. Hansamu kaaan? Wajahnya sangar, jarang senyum. Tatapan matanya bikin author mati kutu 😅 Ah, sayang banget yaa udah jadi milik Aira-chan 😝
Nah kalo ini kesayangan author 😍😍😍 Yamaken a.k.a Yamazaki Kento. Aah author speechless sama aktor Jepang satu ini. He is perfect pokoknya deh, hansamu, ramah, murah senyum, pengertian, suami-able banget deh 😂😂 *maafkan kehaluan tingkat dewa yang diderita author yaa. Boleh timpuk pake sendal kok 🙄
Masaki Suda as Yoshiro Ebisawa. Dia itu super cute, pacar kedua author setelah Yamaken 😂😄😄 Rambut putihnya gemesin. Ini dia waktu main di movie Drowning Love.
Ini Suzu Hirose buat visualnya Erina. Inget Erina kan? Itu lho cinta pertamanya Ken, cantik banget kaaan... 😍😍
Shogo Hama as Kosuke. Dia cute abis. Asisten yang harus setia 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Luar biasa banget deh 😍
Dia juga suami idaman author, diam-diam menghanyutkan 😉 *semuanya di klaim buat author 😄😄
The last ada Tabe Mikako as Minami. Wajah tanpa ekspresinya bener-bener ngga bisa ditebak lagi mikir apa. Tapi tetep kawaii.
Udah ah, cukup segitu dulu cuap-cuap author. Itu visual yang ada di kepala author yaa, gomen kalo ngga sesuai sama bayangan kalian. Kalian bisa berimajinasi sesuai keinginan kalian sendiri 🤗
Bye-bye, big love buat kalian yang mau nyempetin baca coretan unfaedah ini. Apalagi yang mau kasih jempolnya, author sangat-sangat berterima kasih 💞💞
__ADS_1
Jaa mata ne, 😘
Hanazawa easzy ^^