
"Kalian pernah bertemu sebelumnya?" tanya Ken to the point membuat Aira menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Mungkin.." jawabnya menggantung.
"Dimana?" tanya Ken penasaran.
"Thailand.."
Ken menautkan kedua alisnya. Ia tidak tahu istrinya ini pernah ke luar negeri. Dan sikap Shun terasa aneh, seniornya itu jelas-jelas menunjukkan ekspresi ketertarikannya pada Aira. Sebenarnya, bagaimana keduanya bisa bertemu? Panggilan itu... Dewi Penyelamat? Apa maksudnya mengatakan itu?
"Itu sekitar 8 atau 9 tahun yang lalu." jawab Aira mulai menceritakan kisah pertemuannya dengan Shun.
Sementara itu, di kediaman Shun tampak seorang pria berambut merah tengah menatap si empunya rumah dengan pandangan mematikan. Sebuah kain senada dengan warna rambutnya tersimpul sembarang di lehernya, memberikan kesan dia seorang fashionista yang memperhatikan penampilannya. Tubuhnya bersandar di dinding dengan tangan bersedekap di depan perutnya, dialah Yoshiro Ebisawa.
"Kenapa?" tanya Yoshiro. Ia sedang menuntut penjelasan kenapa teman seangkatannya itu begitu tertarik pada Aira. Hanya karena melihat kesedihan di matanya, Shun sampai rela mengatur winter holiday untuknya. Bahkan menunda keberangkatannya dan Ken ke Italia dalam 3 hari.
Dalam rencana awal, seharusnya keduanya berangkat pagi ini. Tapi setelah melihat Aira menangis di pelukan Ken, Shun membatalkan penerbangan mereka dan mengirim pasutri itu untuk berlibur. Aneh. Itulah satu kata yang kini tersemat dalam benaknya. Saat Yoshiro mempertanyakannya, asisten Shun tidak tahu apa alasan tuannya tiba-tiba berubah pikiran.
"Kenapa?" ulang Yoshiro karena sedari tadi sohibnya itu hanya tersenyum sambil memainkan jemarinya di udara. Seolah sedang menikmati waktu paling berharganya.
"Aku berhutang nyawa padanya." jawabnya tanpa menatap Yoshiro. Ia berdiri dari kursinya dan mendekat ke arah jendela kaca.
"Hutang nyawa?" Yoshiro mengangkat sebelah alisnya, belum bisa menerka kemana arah pembicaraan mereka.
"Gadis saturnus itu adalah Dewi Penyelamatku. Dia menyelamatkan nyawaku dan memberikan alasan padaku untuk tetap hidup..."
"Gadis saturnus?" Yoshiro mengulang julukan yang terasa aneh di telinganya.
Shun menatap langit luas melalui jendela kaca yang menghubungkannya dengan dunia luar. Ingatannya kembali pada peristiwa 9 tahun yang lalu di Thailand...
FLASHBACK
-Bangkok, Thailand
"Uhuk uhukk..." tampak seorang remaja 18 tahun terbatuk-batuk merasakan luka di ulu hatinya. Wajahnya babak belur dengan darah yang mulai mengering di sudut bibir dan pelipisnya.
Lima orang berbaju hitam berdiri mengelilinginya dengan pandangan puas. Mereka tertawa saling memandang satu sama lain. Ya, mereka baru saja menghajar Shun Oguri beberapa saat yang lalu. Mereka meninggalkan tubuh sekarat Shun begitu saja di pinggir jalan. Beberapa orang yang lewat bergidik ngeri melihat keadaan pemuda itu. Mereka hanya memandangnya tanpa berniat menolong, takut akan mendapat masalah jika ikut campur dengan urusan para gangster itu.
Tak lama kemudian hujan deras mengguyur sekitarnya, membuat keadaan Shun semakin terlihat mengenaskan. Ia tidak bergerak sedikitpun sejak orang-orang itu pergi. Rasa sakit di sekujur tubuhnya tak lagi ia pedulikan. Mungkin ajalnya akan segera datang, itu yang ia pikirkan.
Pandangannya semakin meredup saat ia melihat seorang gadis mendekatinya. Gadis rambut ikal dengan payung merah di tangannya. Sebuah kalung berbentuk saturnus tampak menggantung di lehernya.
__ADS_1
"Rara, what are you doing?" tanya gadis berambut pirang di belakangnya. Tangannya mencekal Aira yang bersiap menyentuh lengan Shun.
(Apa yang kamu lakukan?)
"He was hurt, Rin... We have to help him." jawab Aira merasa iba.
(Dia terluka. Kita harus menolongnya)
"No. That is too dangerous for us. Come on, we must go home now." gadis bernama Rin itu menarik Aira dengan paksa, menjauhkannya dari Shun yang mulai kehilangan kesadaran. Semuanya gelap.
(Jangan. Itu terlalu berbahaya untuk kita. Ayolah, kita harus pulang sekarang)
Aira terpaksa menuruti temannya itu, karena ia lebih tahu keadaan sekitar. Dia teman sekelas Aira yang tinggal di tempat ini sejak kecil.
"Jangan ikut campur dengan mereka, atau kamu dalam bahaya." gadis pirang itu kembali memperingatkan Aira yang tak melepaskan pandangannya pada Shun dari jendela kamarnya yang ada di lantai dua.
"Siapa dia? Kamu mengenalnya?" tanya Aira penasaran.
"Mungkin mereka gangster yang gagal melakukan tugas. Ini bukan pertama kalinya kami menemukan mayat di jalanan." jawabnya.
"Menemukan mayat di jalanan?"
Gadis itu mengangguk yakin, "Para anggota gangster akan dihabisi oleh kawanannya sendiri. Ayahku bekerja di rumah sakit di kota ini. Beliau sering mengurus mayat tanpa identitas seperti pria itu. Mereka dipukuli oleh orang-orang berbaju hitam dan tidak ada yang berani menolongnya. Keesokan harinya dia sudah tidak bernyawa. Foto wajahnya akan dipajang selama satu minggu, mungkin saja ada keluarga yang mengakuinya. Jika tidak, ayah akan melakukan prosesi pemakaman untuknya dan melaporkan datanya di kepolisian. Itu untuk mengantisipasi kemungkinan ada keluarga yang mencarinya beberapa waktu kemudian."
Hujan mereda, jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam namun Aira belum bisa memejamkan matanya. Ia turun dari ranjang dan membuka tirai kamarnya. Tampak pemuda itu masih tergeletak di sana. Aira meraih jaketnya dan segera berlari menuruni tangga yang membawanya menuju pintu yang menghubungkannya dengan dunia luar.
Sampai di anak tangga paling bawah, seketika kakinya terhenti. Ia ingat peringatan Rin padanya sore tadi. Terlalu berbahaya untuk ikut campur urusan orang-orang dari dunia gelap itu, tapi ia juga tidak bisa mengabaikan sisi kemanusiaannya yang ingin menyelamatkan nyawa pemuda itu. Dia ikut berdosa jika membiarkan orang itu meninggal tanpa sempat memberikan pertolongan padanya.
Ia tahu rasanya sendirian dan tak ada tangan yang meraihnya keluar dari lumpur yang perlahan menelannya. Ia sudah mengalami hal itu dari kecil. Menjadi 'bola sepak' yang tinggal berpindah-pindah tempat, menumpang pada saudara ibunya yang kebanyakan merasa terbebani.
Hal itu yang membuatnya bisa berpikir dewasa lebih awal dan hidup mandiri, tak ingin mengandalkan apapun atau siapapun. Pahitnya hidup yang ia rasakan menjadi guru paling berharga, membuatnya tegar menghadapi berbagai kesulitan yang mungkin akan ia hadapi kedepannya. Aira layaknya pohon kaktus yang terus bertahan di tengah gersangnya padang pasir.
Gadis berambut ikal itu terdiam beberapa saat. Menimang-nimang apa yang harus ia lakukan untuk menolong pria itu tanpa harus membahayakan dirinya sendiri. Jika ia bertindak gegabah, mungkin keluarga Rin yang sudah mau menampungnya selama disini akan terkena imbasnya juga.
Aira membulatkan tekad dengan pilihannya kali ini. Ia akan menolong pria babak belur itu apapun resikonya. Bahkan jika nyawanya sebagai taruhannya, itu tidak masalah.
Dengan langkah tanpa suara, ia kembali ke kamar dan mengambil tas ranselnya yang tergantung di dinding. Ia memasukkan beberapa benda ke dalamnya serta obat yang ia ambil dari kotak P3K. Aira melakukannya dengan cepat dan segera berlari keluar menghampiri pria itu.
"Itai..." lirihnya dengan mata terpejam saat Aira membersihkan darah di wajahnya dengan menggunakan alkohol.
(Sakit...)
Aira menarik tangannya sedikit menjauh saat mendengar igauan pria di depannya. Sebuah name tag bertuliskan SHUN terpasang di bajunya yang tampak lusuh dengan noda darah di berbagai sisinya. Hal itu membuat Aira semakin merasa iba. Ia meneruskan aktivitasnya mengurus pria mengenaskan di depannya.
__ADS_1
Hap
Shun mencekal lengan Aira yang bersiap menempelkan kain kasa ke pelipisnya yang terluka, "Who are you?" tanya Shun waspada. Ia terbangun karena sentuhan Aira di wajahnya beberapa saat yang lalu.
(Siapa kamu?)
Aira tersenyum dan tetap melanjutkan aktivitasnya setelah meletakkan tangan Shun ke dada. Dia menyelesaikannya dengan singkat dan sekarang duduk di samping Shun. Bersandar di dinding jembatan penyeberangan tempat Shun tergeletak sejak siang tadi.
"Does it hurt?" tanya Aira sambil melirik Shun yang mulai membenahi bajunya setelah mengambil posisi duduk, 3 langkah di sebelahnya. Ada ruang kosong di antara keduanya, seolah sebagai pembatas dua orang yang tidak saling mengenal itu.
(Apa itu sakit?)
Shun mengerjapkan matanya dan mengurut pelipisnya, "Aagh.." ringisnya saat tanpa sengaja menyentuh luka yang tadi Aira obati, membuat kesadarannya pulih dengan sempurna.
"Are you hungry?" tanya Aira. Namun tak Ada jawaban dari mulut Shun.
(Apa kamu lapar?)
' Apa dia tidak mengerti bahasa Inggris?' batin Aira bertanya-tanya.
Tanpa menunggu waktu lama, Aira bangkit dan pergi dari hadapan Shun menuju sebuah kedai 24 jam tak jauh dari mereka. Tampak ia memesan sesuatu sebelum berlalu kembali ke tempatnya semula.
Aira meletakkan sebuah kotak berisi makanan dan segelas kopi yang baru saja ia beli di hadapan Shun. Tampak pria itu menggigil kedinginan membuat Aira melepas jaket yang dipakainya dan memberikannya pada Shun.
Semilir angin malam berhembus menerpa tubuh mungilnya yang memakai blouse berwarna merah marun. Beberapa helai rambutnya terbang menutupi wajahnya. Saat itu Aira belum mengenakan jilbab, membiarkan rambutnya tertiup angin. Ia tersenyum dan menatap Shun yang masih terdiam di posisinya. Ia tak merespon satupun pertanyaan Aira, namun kondisinya tampak lebih baik dari beberapa saat sebelumnya.
"Rara..." panggil Rin dari jendela kamar mereka, membuat Aira menoleh seketika dan membuat kalung saturnus miliknya keluar dari baju yang dikenakannya. Kalung itu tampak bersinar terkena bias lampu jalan di atas mereka.
"What are you doing?! Come in, please." teriak Rin yang mengkhawatirkan keadaan temannya itu.
(Apa yang kamu lakukan?! Ayo masuk)
"Enjoy your meal.." ucap Aira sembari membereskan peralatan dan obat-obatan yang sempat ia gunakan untuk menolong Shun.
(Nikmati makananmu..)
Ia pergi setelah membenarkan jaket yang menutupi tubuh Shun yang tak bergerak sedikitpun. Dia seperti mayat hidup, tak ada pergerakan sama sekali bahkan sampai Aira menghilang di balik pintu yang menelan tubuh mungilnya.
"My Savior Goddes.." lirih Shun sembari menatap Aira yang menatapnya dari jendela kamarnya.
*******
__ADS_1
Written by Hanazawa easzy ^^