Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Bersiap


__ADS_3

Mone mendapat kepercayaan dari kakek untuk melatih calon suaminya sendiri, yakni Yamaken. Entah karena alasan apa, pria tua itu mengharuskan cucunya untuk memiliki kemampuan yang sebanding dengan Mone. Dan yang lebih tidak masuk akal lagi, kakek akan menguji Yamaken minggu depan. Bagaimana bisa secepat itu? Bukankah itu mustahil?


"Sepertinya kakek sengaja melakukannya," gumam Mone sambil menatap punggung laki-laki 77 tahun itu yang kini semakin menjauh.


"Umm. Sama seperti sebelumnya, beliau pasti memiliki alasan tersendiri tentang perintahnya ini. Hanya saja kita yang belum tahu.


Keduanya diam cukup lama, membiarkan angin musim semi yang hangat menelisik wajah mereka masing-masing. Satu dua helai rambut halus wanita ini tertiup angin, membuatnya beterbangan.


"Apa yang harus kita lakukan?" Yamaken kembali bersuara. Dia belum mendapat solusi yang tepat untuk permasalahan baru yang tengah mereka hadapi ini.


"Apa lagi? Tentu saja kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapat persetujuan kakek. Mulai hari ini, aku bukan kekasihmu, tapi pemandumu!" Mone bertekad untuk menyelesaikan tugas ini sebaik mungkin.


"Heih?" Yamaken mengerutkan keningnya, heran dengan ekspresi yang wanita ini tunjukkan. "Apa kamu serius?"


"Tentu saja." Mone mengambil kertas kecil dari sakunya. Dia terbiasa membawa pena dan blocknote mini kemanapun dia pergi.


Dengan cekatan, gadis 20 tahun ini menuliskan banyaknya hari yang tersisa sebelum tanggal jatuh tempo. Dia juga menyusun jadwal latihan untuk Yamaken.


"Aku tidak akan segan lagi padamu. Mulai hari ini kamu harus melakukan latihan fisik yang aku perintahkan."


"Umm. Apa yang harus aku lakukan kali ini?" tanya pria berparas malaikat itu.


"Hari ini kita mulai dengan latihan yang cukup  ringan terlebih dahulu. Lari keliling lapangan ini 100 putaran."


"HAH?"


* * *


Di kediaman Yamazaki Kenzo, tampak Aira yang tengah sibuk mengurus berbagai keperluan anaknya. Kepergiannya kali ini bukan dalam jarak dekat, melainkan melewati ribuan kilometer di atas laut. Ada banyak hal yang harus diantisipasi oleh ibu tiga anak ini, membuatnya tak lagi tidur sejak Ken mengatakan bahwa kakek mengirim mereka ke Indonesia.


"Nyonya, haruskah kita pergi secepat ini?" tanya salah satu pengurus bayi yang ikut membantu Aira berkemas.


"Entahlah. Aku sendiri tidak yakin, tapi inilah yang kakek inginkan." Aira bergerak cepat, memasukkan alat pompa ASI yang selama ini ia gunakan. Ia tengah bersiap.


"Apakah kami juga akan ikut bersama ke sana?"


Pertanyaan Sakura membuat gerakan tangan Aira terhenti. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya, semakin banyak yang menjaga anak-anak, itu semakin bagus. Tapi, jika dia membawa begitu banyak orang dari sini, rasanya sedikit tidak nyaman.


"Aku belum membicarakannya dengan Ken. Tunggu di sini, aku akan menemuinya. Kalian lanjutkan berkemasnya!"


"Baik."

__ADS_1


Aira melangkahkan kakinya ke ruang kerja Ken di lantai bawah. Sama sibuknya dengan Aira, pria lesung pipi itu tak lagi sempat terpejam sejak pembicaraannya dengan Aira semalam. Dia harus memastikan banyak hal, termasuk urusan bisnis yang berkaitan dengan para  kliennya.


"Ken, apa aku mengganggumu?" tanya Aira sambil melongokkan kepalanya di celah pintu yang terbuka. Dia mendapati suaminya sedang melakukan banyak hal, menghadap laptop sekaligus menandatangani berkas fisik lainnya.


"Masuklah. Sekalian tolong ambilkan aku minum," pintanya.


Aira mendekat dengan segelas air putih yang dia ambil dari dispenser di belakang pintu. Dalam sekali teguk, cairan tanpa warna itu telah tandas, berpindah ke dalam saluran cerna ayah tiga anak ini.


"Ada apa?" tanyanya sambil meletakkan gelas kaca itu di meja, sedikit jauh dari dokumen yang tengah ia tangani.


"Apa kita benar-benar akan pergi ke Indonesia secepat ini? Rasanya ada sesuatu yang tidak benar." Aira mengungkapkan pemikirannya ini. Dia merasa ada yang kakek sembunyikan. Kalau tidak, kenapa tiba-tiba 'mengusir' keluarga kecilnya ini? Aneh.


"Aku tahu itu. Pasti ada rencana tersembunyi di balik keputusan kakek. Tapi, kita tidak bisa menolaknya. Apapun yang kakek perintahkan, pasti demi kebaikan kita juga."


Cup


Ken meraih jemari Aira dan mencium punggung tangannya dengan lembut. "Aku akan melindungimu apapun yang terjadi."


Aira tersenyum hambar. Janji yang Ken ucapkan membuatnya sedikit lebih tenang, namun tak bisa menghilangkan kekhawatiran yang dia rasakan.


Ken mengabaikan pekerjaannya sejenak, fokus menghadap bidadari tak bersayap ini. Keduanya berdiri berhadapan, memandang satu sama lain.


"Bukankah kita pernah menghadapi hidup mati bersama? Maka kita pasti bisa melewatinya lagi. Aku yakin itu." Ken menempelkan keningnya pada Aira, seperti yang biasa dilakukannya saat mereka memiliki kekhawatiran sebelumnya.


Ken mengelus punggung wanita hebat ini, sesekali mencium puncak kepalanya yang tertutup kain segiempat warna navy.


"Bagaimana dengan Sakura dan yang lainnya? Apakah mereka harus ikut serta?"


Ken bungkam, tak langsung menjawab pertanyaan yang Aira ucapkan. Dia sendiri belum bisa meraba kemana arah tujuan kakek Yamazaki. Mungkinkah ada rahasia besar yang beliau sembunyikan?


"Ken?" panggil wanita ini, melerai pelukannya. DIa menatap wajah suaminya, tepat pada manik hitamnya yang tajam.


"Tentu saja mereka harus ikut, jadi aku bisa bermanja-manja denganmu lebih lama."


Cup


Ken mencium bibir istrinya dengan singkat, membuat wanita ini terbelalak.


Bugh!


"Dasar mesum!" hardik Aira dengan kesal. "Bukan waktunya bercanda!"

__ADS_1


"Aku tidak bercanda. Memang aku ingin kamu memanjakanku lebih lama." Ken kembali mendekatkan bibirnya, siap mencium bagian lain dari tubuh istrinya yang telah menjadi candu setahun ke belakang.


"Hentikan! Mesum!"


Aira berusaha menghalangi Ken dengan menutup bibir suaminya ini dengan tangan, menghentikan obsesinya yang selalu ingin memiliki Aira seutuhnya.


"Cepat selesaikan pekerjaanmu. Masih banyak hal yang harus kita lakukan!" ketus Aira pada ayah dari ketiga anaknya ini.


"Baiklah. Jika aku selesai lebih cepat, apa kita akan membuat adik untuk Aya?" candaan Ken kembali berlanjut. Dia sengaja melakukannya untuk mencairkan suasana hati istrinya yang dilanda kekhawatiran berlebih.


"Tidak akan!! Pikiranmu tidak jauh-jauh dari itu. Dasar maniak!" Aira melepaskan pelukan suaminya dengan paksa, membuat tubuh keduanya sedikit berjarak.


"Ayolah, Sayang. Apa datang bulanmu tidak bisa selesai lebih cepat? Aku ingin 'itu'." Ken kembali meraih pinggang ramping istrinya.


"Maniak!" Aira kembali mengatai suaminya ini.


"Bukankah kamu menyukainya juga?" kejar Ken. Dia bersiap menikmati sarapan pagi spesialnya ini.


Cklekk


Terdengar suara pintu terbuka, membuat gerakan Ken tertahan. Baik Ken maupun Aira, tubuh keduanya menegang dan merasa canggung, seolah tertangkap basah tengah melakukan adegan yang tidak pantas. Mulut Ken hanya berjarak beberapa centimeter saja dari ceruk leher istrinya.


"Tuan, saya sudah me--"


Glek


Kosuke menghentikan kalimat yang sebelumnya ingin dia ucapkan. Posisi tuan dan puannya ini yang membatu di tempatnya, menunjukkan bahwa dia datang di waktu yang tidak tepat.


"Aku akan kembali untuk melihat anak-anak." Aira segera melepaskan diri dari situasi canggung ini. Rasanya tidak pantas jika ia ikut bergabung mengurus bisnis suaminya. Dalam hati kecil, dia juga merasa sedikit malu karena Kosuke melihat sikap Ken padanya.


Kosuke menundukkan kepalanya dalam-dalam. Dia memejamkan matanya, merasa ada bahaya besar yang mengancamnya. Ken pasti marah karena kehilangan momen berharga dengan istrinya. Itu pasti.


Bahkan hingga Aira menghilang dari ruangan ini, Kosuke belum berani mengangkat wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah tuan muda Yamazaki yang diselubungi kabut hitam ini.


"Kosuke Murasawa!!" geram Ken lirih. "ENYAHLAH DARI HADAPANKUUU!!!"


Kosuke segera undur diri. Dia keluar dari ruangan ini sebelum mendapat kemurkaan dari tuannya. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padanya, mungkin dia akan mendapat lemparan laptop di hadapan Yamazaki Kenzo. Pria ini berubah menjadi iblis saat marah. Mengerikan


* * *


Astaga, Si Abang. Gagal lagi mau kecup-kecup mamak. Hahahaha.

__ADS_1


See you next part, baibai.


Hanazawa Easzy


__ADS_2