Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Kambing Hitam


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul dua belas malam saat Aira masuk ke dalam kamarnya. Ia baru saja selesai memberikan ASI pada ketiga bayinya. Wanita itu tampak lelah, dengan wajah yang memucat. Dress sebatas lutut yang menempel di tubuhnya tampak kusut masai, berkali-kali harus berdiri dan berbaring bergantian demi memenuhi kebutuhan gizi para jagoannya.


"Ada apa dengan wajahmu? Kamu lelah?" tanya Ken sembari merengkuh pinggang istrinya ke dalam pelukan setelah membuang ponselnya ke atas ranjang. Ia baru selesai mandi, bahkan tetes-tetes air masih turun melalui ujung rambutnya. Tadinya Ken berniat mengecek ponselnya, namun ia urungkan.


Aira tak menjawab, ia menempelkan telinganya di dada bidang Ken yang tak berpenghalang. Dia bisa mendengar detak jantung suaminya dengan sangat jelas dan membuatnya sedikit melupakan beban pikirannya.


Tangan mungil Aira memeluk pinggang kekar di depannya, seolah tak ingin melepaskannya begitu saja. Tubuh mungil Aira seolah tenggelam di dada bidang Ken. Bathrobe yang pria itu kenakan hanya diikat sembarang, membuat bagian dadanya terekspose begitu saja.


*bathrobe : handuk berbentuk kimono yang sering digunakan setelah mandi, spa atau berenang.


"Sayang, ada apa?" tanya Ken sembari mengelus punggung Aira. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya ini. Lima jam yang lalu, ia terlihat baik-baik saja, bahkan masih mengantarnya sampai ke pintu. Ya, Ken terpaksa pergi menangani masalah itu dengan cepat sebelum semuanya semakin kacau.


Ya, rapat darurat yang melibatkan Kosuke, Minami, Shun dan juga Yoshiro berakhir tepat pukul tujuh malam. Kelima orang itu segera bergerak, bahkan harus melibatkan Yu dan Kaori untuk mengurus beberapa hal.


Kosuke dan Minami melanjutkan tugasnya mengumpulkan data semua klinik yang berada di bawah pengawasan Miracle Cosmetics. Yoshiro mulai mencari jejak dokter Olivia di Jepang, termasuk kemungkinan jika saja wanita itu bekerja sama dengan pemasok obat dan kosmetik ilegal melalui jalur bawah tanah. Shun akan terbang ke Singapura malam ini juga, memeriksa latar belakang dokter ilegal itu yang mungkin akan menemukan fakta mengejutkan lainnya.


Saat semua orang sibuk, Ken juga harus berjibaku dengan menemui dewan direksi dan para investor yang tiba-tiba mengadakan rapat terbatas. Mereka menuntut kejelasan rumor yang beredar bahwa Miracle menggunakan zat berbahaya.


Beberapa portal berita online ternama membuat gempar dengan memuat artikel-artikel yang menyudutkan perusahaan kosmetik terbesar di Jepang ini. Opini publik seolah sengaja digiring untuk menumbangkan raksasa bisnis yang menguasai sebagian besar pasar di negeri sakura ini. Untung saja staff khusus yang Ken pekerjaan bisa segera meredam berita hoax itu.


"Ada apa denganmu, hmm?" Ken menatap manik mata berwarna coklat di depannya. Ia mengurai pelukan Aira setelah beberapa menit berlalu.


"Kamu melupakan makan malammu. Apa kamu lapar? Aku akan siapkan makanan untukmu." Aira mencoba lari dari pertanyaan suaminya. Ia melangkah menjauh sebelum Ken menahan tubuh mungilnya dalam sekali sentakan.


"Katakan padaku, ada apa?" tanya Ken, sedikit mengangkat dagu istrinya. Ia penasaran dengan perubahan istrinya yang terlihat begitu lelah. Ini pertama kalinya ia melihat Aira seolah begitu lemah tak berdaya.


"Dokter Olivia ditemukan bunuh diri di apartemennya," ungkap Aira dengan suara bergetar. "Dia meninggalkan seorang bayi perempuan berusia lima bulan."


Deg!

__ADS_1


Napas Ken tercekat sepersekian detik. Ia terlalu sibuk di kantor, mengabaikan ponselnya yang terus bergetar sepanjang waktu. Baru saja ia berniat membuka benda pipih itu saat tiba-tiba Aira masuk ke dalam kamar dalam keadaan kacau.


"Apa yang terjadi? Siapa yang mengatakannya?"


"Yu," jawab Aira lirih. Detik itu juga, tubuhnya jatuh melangsai dengan bulir air yang keluar dari ujung matanya. Kakinya begitu lemah, bahkan tak sanggup menopang tubuhnya sendiri. Berita itu berhasil membuatnya down, depresi seketika.


"AI-CHAN!" Ken merengkuh tubuh mungil di depannya, membawanya ke atas ranjang dengan hati-hati.


"Sayang, kamu mendengarku? Aku akan panggil dokter," ucap Ken dengan panik. Ia bersiap pergi namun Aira menahannya. Wanita itu menggeleng lemah.


"Ken, aku takut," lirih Aira dengan suara serak menahan tangis. Tangannya mencengkeram bathrobe yang dipakai suaminya. "Bagaimana jika aku pergi tiba-tiba seperti itu? Siapa yang akan mengurus anak-anak?"


Suara Aira begitu lemah, tubuhnya gemetar ketakutan. Berita kematian dokter Olivia berhasil membuat Aira ketakutan sampai seperti ini. Mungkin karena emosinya yang tidak stabil, membuatnya jadi paranoid seperti sekarang.


"Tenanglah. Aku akan ada disini bersamamu." Ken merengkuh istrinya dalam pelukan. Ia mencium kening Aira cukup lama. Sebelah tangannya terus mengelus puncak lengan istrinya, memberikan kedamaian tersendiri untuk wanita itu.


Dokter Olivia adalah saksi kunci atas permasalahan produk palsu yang berkaitan dengan nyonya Suzuki. Tapi, tiba-tiba dia ditemukan meninggal di apartemennya. Menurut penuturan Aira, wanita itu meninggal karena bunuh diri. Tapi entah kenapa Ken merasa ada yang janggal.


Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Mungkinkah wanita itu sengaja memalsukan produk Miracle dan kemudian mengakhiri hidupnya? Atau dia hanya kambing hitam yang dikorbankan oleh 'orang-orang besar' di belakangnya?


Ken membelai pipi Aira dengan lembut, menghapus bekas air mata yang sempat menganak sungai di wajah istrinya. Seberapapun tangguhnya wanita ini, ia tetaplah seorang wanita biasa. Makhluk Tuhan yang memiliki sisi lemah dan harus dilindungi dari segala bahaya yang mengancamnya. Termasuk dari tekanan psikologis seperti yang menderanya sekarang.


Cup


Ken mencium kening istrinya dengan penuh cinta, menyalurkan perasaan getir yang perlahan menggerogoti hatinya. Meski berusaha bersikap setenang mungkin di depan Aira, nyatanya Ken juga memiliki rasa takut di dalam lubuk hatinya. Takut kalau-kalau ia tidak bisa memecahkan puzzle ini dan membuat keberlangsungan Miracle terancam. Jika hal itu benar terjadi, ada begitu banyak keluarga yang akan ia buat sengsara, termasuk keluarganya ini. Istri dan ketiga anaknya.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat kesadaran Ken kembali. Ia segera menguasai diri, membenahi handuk kimono yang melekat di tubuhnya dan bernajak melihat siapa gerangan yang mengetuk pintunya tengah malam begini.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Ken pada asisten rumah tangga yang berdiri di depannya.


"Ada tiga orang tamu untuk Anda di bawah," lapor wanita paruh baya itu.


"Siapa?" tanya Ken dingin dan tajam. Sejujurnya ia begitu lelah hari ini dan ingin mengistirahatkan badannya barang sejenak. Ia ingin menemani Aira, memastikan wanita kesayangannya tidak mengalami mimpi buruk atau semacamnya.


"Tuan dan Nona Ebisawa beserta dokter Kaori." Wanita itu menundukkan kepalanya cukup dalam, merasa bersalah karena harus mengganggu waktu istirahat tuannya. Tapi, tamunya itu memaksa untuk bertemu dengan Ken, meski waktu hampir dini hari.


"Aku akan segera turun." Ken segera menutup pintu di depannya dan berjalan menuju lemari pakaian di sisi lain kamar ini. Ia dengan cepat mengambil sebuah kaus putih lengan pendek dan memakainya dalam hitungan detik


Cup


"Istirahatlah, Sayang." Ken mencium kening istrinya sekilas, berniat pergi setelahnya. Namun pria 28 tahun itu segera kembali detik berikutnya. Ia menempelkan punggung tangannya di dahi Aira yang telah terlelap. Panas. Dia demam.


Ken panik. Ia segera membuka first aid box yang menempel di dinding dan mengambil termometer untuk mengecek suhu tubuh istrinya.


*First aid box adalah kotak kecil berwarna putih yang berisi alat dan obat untuk memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K).


"KAORI, PERIKSA ISTRIKU, DIA DEMAM!" titah Ken dari ujung tangga, berteriak pada tamu yang berdiri beberapa meter di bawah sana.


Hal itu sontak membuat Kaori dan Yu saling pandang sebelum akhirnya bergerak cepat menaiki anak tangga satu per satu. Dokter cantik itu segera memeriksa kondisi Aira.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ken khawatir.


...****************...


See you next episode,


Hanazawa Easzy 🐣😄

__ADS_1


__ADS_2