Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Mereka Bersaudara?


__ADS_3

Shun mendapat tamparan cukup keras dari Aira yang emosi melihat pria itu memukul suaminya tanpa alasan. Hal itu bahkan dilihat oleh semua orang yang baru saja bergabung dengan mereka di ruang tengah apartemen ini. Mereka semua mendengar suara bising akibat gebrakan Shun di meja.


Aira membantu Ken berdiri, "Terima kasih atas penjelasanmu, Kaori-chan. Selamat melanjutkan istirahatmu." pamit Aira sebelum berlalu kembali ke dalam kamar.


Shun yang berada di ambang kekecewaan memilih pergi dari tempat itu. Ia berjalan keluar dengan putus asa, saat itulah ia melihat seorang pria mencurigakan yang baru saja masuk ke dalam lift. Sekilas Shun melihat badge lambang organisasi gelap yang dipimpin Takeshi Kaneshiro sebelumnya saat masih di Jepang.


Shun mengira organisasi itu hilang dengan sendirinya setelah Takeshi Kaneshiro pergi bersama istrinya ke Rusia. Tapi hari ini, ia tiba-tiba melihatnya, tentu saja itu terasa janggal. Di lantai ini hanya ada apartemen Ken saja, seharusnya tidak ada orang mendekati kediaman ini.


Shun mengikuti orang itu diam-diam sampai ke sebuah jalanan yang cukup gelap dan sepi.


"Tuan, saya sudah menemukan tempat tinggal mereka." Lapor pria itu melalui telepon di genggamannya. Ia memakai bahasa Jepang membuat Shun semakin menajamkan penglihatan dan pendengarannya.


........


Ia tidak bisa mendengar jawaban pria di ujung telepon.


"Baik. Saya akan mengirimkan lokasinya sekarang." pungkas pria mencurigakan itu di akhir panggilan. Pria itu masih fokus dengan ponselnya dan tidak menyadari Shun yang terus mendekatinya.


Brukk


Shun memukul tengkuknya dari belakang dan membuat pria itu pingsan seketika. Ponsel berwarna hitam itu masih menyala, menampilkan alamat apartemen tempat Ken dan teman-temannya tinggal. Sepertinya orang ini orang yang bekerja untuk Takeshi Kaneshiro. Shun membaliknya dengan kaki dan mendapati dugaannya benar, pria ini orang Jepang.


Sebuah smirk muncul di bibirnya. Perawakan orang ini mirip dengannya. Tingginya sekitar 185 cm, kulit putih dan sebuah tahi lalat di hidung. Shun menemukan ide brilian kali ini. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.


"Mone-chan, tunggu kedatanganku." lirihnya sambil meraba wajah pria itu sebelum membawanya pergi.


*******


Mone menyelesaikan pemotretan hari ini dengan baik. Ia banyak tersenyum seperti biasanya dan membuat PD Simon puas. Beberapa kru tampak membereskan peralatan yang telah mereka gunakan dan membawanya kembali ke mobil.



"Bagaimana kalau kita foto bersama?" tanya Yamaken pada rekan kerjanya kali ini. Mone mengangguk mengiyakan. Keduanya berfoto dengan menunjukkan dua jari di udara.


"Lucunya.." puji Anna saat melihat hasil potret putrinya yang semakin terlihat imut di samping Yamaken yang lebih tinggi 34 cm darinya.


"Apa mommy mengejekku?" Mone memajukan bibirnya sebagai tanda protes pada ibunya. Ia melangkah pergi untuk mengambil air mineral di atas meja dan mulai meminumnya. Ia memperhatikan interaksi ibu angkatnya yang mudah akrab dengan orang asing, dia bercanda dengan Yamaken seperti sudah lama mengenalnya. Sama seperti kemarin, ibunya tampak sangat bahagia berbincang dengan Aira.


'Ah, tiba-tiba aku ingin bertemu dengannya.' batin Mone. Ia kembali meneguk air mineral yang ada di tangannya.


"Uhukk.." Mone tersedak minumannya sendiri saat melihat Aira melambaikan tangannya. Dia terpaksa mengulas senyum dan melambaikan tangan pada Aira.

__ADS_1


Aira dan Ken berdiri di ambang pintu. Di depan mereka tampak Kosuke dan PD Simon yang sedang berbincang. Jantungnya berpacu lebih cepat kali ini, ada perasaan senang, khawatir dan takut dalam waktu yang bersamaan.


Ia senang karena keinginannya untuk bertemu Aira terwujud, tapi ia khawatir dan takut mungkin saja akan ada hal buruk yang ayahnya lakukan jika Aira benar-benar kakak sepupunya. Ia yakin Takeshi tidak akan melepaskannya begitu saja, hal itu bisa membuat Anna kembali depresi karena kehilangan putrinya.


"Anna, Pemilik Miracle ada di sini." ucap PD Simon begitu ia sampai di depan Anna yang masih memperhatikan kamera di depannya.


Anna mengangkat kepalanya, menatap pria yang mengorbitkan putrinya dengan antusias. Namun raut wajahnya seketika berubah, keningnya berkerut saat melihat pria yang berdiri di antara Kosuke dan Aira. Ia menoleh ke samping kanannya dimana ada Yamaken dan kembali menatap Ken.


"Kamu? Dia?" tanya Anna pada Yamaken sambil menatap Ken dan Yamaken bergantian.


"Hmm.. Dia kakak kembarku, Yamazaki Kenzo." jawab Yamaken sambil tersenyum bangga.


"Mari makan siang bersama." ajak Aira yang langsung dijawab anggukan oleh Anna.


Dan disinilah mereka sekarang. Ke enam orang itu duduk berhadapan di sebuah restoran Italia. Ken, Aira dan Yamaken duduk di sisi dalam restoran. Di seberang mereka ada Anna, Mone dan PD Simon. Mereka menikmati makan siang kali ini sebagai jamuan balasan dari Aira.



"Aku hampir percaya jika kamu seorang freelancer di perusahaan suamimu." ucap Anna begitu mereka duduk di kursinya masing-masing. Sebuah ruangan yang terkesan gelap namun tetap sedap dipandang mata.


"Istriku tidak berbohong, dia memang bekerja untukku." jawab Ken atas pernyataan wanita Rusia di depannya, membuat Aira mengulas senyum karena Ken membelanya.


Seorang pramusaji datang membawakan menu untuk pelanggan mereka.


"Spaghetti udang adalah menu andalan kami." jawab wanita dengan apron di pinggangnya.


"Istriku alergi udang. Bawakan makanan vegetarian saja untuk kami berdua." jawab Ken dengan bahasa Rusia yang halus. Wanita pramusaji itu mengangguk dan mulai mencatat pesanan mereka berenam.


"Kamu alergi udang?" tanya Anna ingin tahu.


"Bukan hanya udang. Aku alergi semua jenis seafood." jawab Aira.


"Benarkah? Mone juga alergi makanan laut, sama sepertimu."


Mone terdiam di tempatnya, membiarkan ibunya beramah tamah dengan yang lainnya. Ia tampak terkejut setelah mengetahui persamaan mereka dan semakin tidak sabar ingin berkonsultasi dengan ahli genetika sore nanti.


"Ah nyonya, tidakkah Anda berpikir jika kakak iparku dan Mone terlihat mirip satu sama lain? Bahkan saat pertama kali melihat calon kakak iparku di Indonesia, aku pikir aku pernah bertemu dengannya. Aku ingat sekarang, yang kutemui sebelumnya adalah Mone. Mungkinkah mereka bersaudara?" gurau Yamaken.


Pertanyaan bodoh itu membuat Aira dan Ken seketika saling pandang, sementara Mone meremas ujung bajunya di bawah meja.


*******

__ADS_1


Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam saat Mone dan Takeshi duduk di depan meja seorang dokter ahli genetika di sebuah rumah sakit di pusat kota Moskwa. Mereka sudah membuat janji temu sebelumnya.


"Tes DNA adalah prosedur yang digunakan untuk mengetahui informasi genetika seseorang. Dengan tes DNA, seseorang bisa mengetahui garis keturunan dan juga risiko penyakit tertentu. DNA (deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat) akan membentuk materi genetika yang terdapat di dalam tubuh tiap orang yang diwarisi dari kedua orang tuanya." Pria berkacamata itu membuka tablet miliknya berisi gambaran struktur DNA seseorang.



"Hampir semua bagian tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA, tetapi yang sering digunakan adalah darah, rambut, air liur dan kuku." jelasnya lebih lanjut.


"Setiap individu memiliki DNA yang unik sebagai penentu karakteristik fisik dan membawa sifat yang diturunkan dari ayah maupun ibu. Selain itu DNA tidak berubah selama seseorang hidup."


"Berapa lama prosesnya?" tanya Takeshi ingin tahu.


"Setelah diperoleh sampel yang diperlukan, selanjutnya dikirim ke laboratorium untuk menindaklanjuti pengujian. Mungkin diperlukan waktu beberapa minggu untuk mendapatkan hasil dari tes DNA."


"Tidak bisa dipercepat?" tanya Takeshi tidak sabar.


"Dalam kasus darurat, hasil tes DNA bisa diketahui dalam waktu sehari."


"Saya akan membayar lebih jika Anda bisa mengeluarkan hasilnya dalam 24 jam." ucap Takeshi meyakinkan.


"Saya hanya seorang konsultan. Terkait proses pengujian, silahkan ikuti prosedur yang ditetapkan oleh laboratorium kami."


"Apa hasilnya bisa dipertanggungjawabkan?" tanya Mone mulai ikut bersuara. Ia sendiri sangsi/ragu dengan hasilnya.


"Akses masuk ke laboratorium DNA forensik tidak sembarangan. Hanya personel khusus yang dapat masuk. Saya menjamin para personil di laboratorium adalah orang-orang yang kompeten di bidangnya. Mereka harus melewati uji kompetensi secara berkala sebelum bekerja di laboratorium forensik." jelas pria berusia 60 tahunan itu.


Keduanya keluar dari ruangan serba putih itu setelah berpamitan. Baik Mone maupun Takeshi belum tahu bagaimana caranya mendapatkan sampel DNA dari Aira, entah itu rambut, air liur atau bahkan darahnya.


*******


Gomen kalo ada typo atau pilihan kata yang kurang enak dibaca. Author lagi banyak kerjaan jadi cuma ada waktu bentar buat nulis.


Ngga tau kenapa, ngga puas sama tulisan kali ini, rasanya aneh, dilepeh aja kalo ngga enak yaa 😆😆 *udah edit 5 atau 6x tetep ada yang ngga sreg.


Udah lah, author ga tau harus gimana 😢


Maaf yaa, 😭


Ditunggu like, vote & komennya 🤗


See you,

__ADS_1


Hanazawa easzy


__ADS_2