Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Pria Penggoda


__ADS_3

"Apa kamu lapar? Aku buat sup bayam kesukaanmu."


"Sup bayam?" Aira heran dari mana Ken tahu rahasianya. Selama di Jepang, ia tak pernah makan sup bayam. Dan tak ada seorangpun yang tahu makanan favoritnya itu kecuali... Yudha.


'Bagaimana kabarnya sekarang?' batin Aira.


Keduanya sekarang ada di ruang makan. Ken tengah menyiapkan makanan sementara Aira duduk manis di kursinya, mengamati suaminya yang tak terlihat kerepotan sedikitpun mengerjakan pekerjaan yang seringkali dilakukan oleh seorang wanita.


Tadinya Aira akan mengambil makanan sendiri, tapi Ken bersikeras memaksa istrinya duduk di kursinya. Apron hitam yang ada di depan dadanya terlihat manis di mata Aira. Ken memasukkan nasi ke dalam mangkuk kecil, sedangkan mangkuk yang lebih besar diisi sup bayam. Sebuah piring berisi ayam asam manis bersebelahan dengan 3 buah telur rebus di mangkuk berwarna hitam. Bagaimana mungkin seorang pewaris gangster sedang mengerjakan hal remeh temeh itu?


"Kamu masak sebanyak ini?" tanya Aira saat Ken menyajikan semua masakannya di meja.


"Sup bayam dan ayam asam manis kesukaanmu, telur rebus untuk anak-anakku." jawabnya sambil tersenyum, "Ayo makan." ajaknya.


"Mm, Ken..." Aira menggigit bibir bawahnya, ia tampak ragu menatap suaminya, "Ada sesuatu yang ingin ku katakan."


"Apapun itu, kita bicarakan nanti. Sekarang waktunya makan." Ken meletakkan sendok dan sepasang sumpit di sebelah kanan mangkuk Aira, "Itadakimasu.." ucapnya. Ken sengaja mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin membahas apapun saat makan.


Ken melahap makanan di depannya dengan tenang, pura-pura tak peduli pada Aira yang masih terpaku di depannya. Wanitanya itu tak menyentuh apapun, tangannya saling bertaut di bawah meja terlihat karena meja makan ini terbuat dari kaca transparan.


"Uekk..." Aira berlari ke arah wastafel, memuntahkan isi perutnya. Tapi tidak ada makanan apapun yang masuk ke mulutnya sejak pagi tadi, jadi tidak ada yang ia keluarkan selain air berwarna kekuningan yang terasa pahit di tenggorokan.


Ken segera menyeka mulut istrinya dengan tisu begitu ia berbalik. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ken membawa Aira duduk di sofa.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Ken sembari mengelus kepala istrinya dengan lembut. Memberikan kenyamanan tersendiri di hati Aira yang masih meragu.


"Berjanjilah jangan marah." pinta Aira, ia masih saja menggigit bibir bawahnya membuat Ken gemas pada istrinya itu.


"Jangan gigit bibirmu lagi! Kamu tahu? Melihatmu seperti itu, membuatku sangat ingin menggigitnya sekarang juga," senyum jahil terlukis di wajah putih bersih khas negeri sakura itu. Ken menahan dagu Aira di hadapannya seolah bersiap mencuri kecupannya.


"Ken ?!" Aira merajuk, mencubit lengan suaminya yang semakin sering menggodanya akhir-akhir ini. Ia ingin mengatakan hal serius, tapi Ken selalu saja bercanda, membuat moodnya berantakan.


"Ada apa istriku tersayang?" tanya Ken perhatian. Jemarinya melepaskan dagu Aira lalu memegang pergelangan tangannya, bersiap mendengarkan apapun yang akan wanitanya katakan.


"Jangan marah ya. Janji?" Aira menunjukkan jari kelingkingnya, meminta Ken membalasnya. Seperti anak kecil yang mengaitkan jari saat berjanji, benar-benar kekanakan. Ken tersenyum melihat tingkah istrinya yang menggemaskan.


Cup


"Itu janjiku." Ken mencuri ciuman istrinya yang hanya bisa membelalakkan mata bulatnya.


"KEN ?!" Aira kesal karena Ken tidak bisa diajak bicara serius. Ia memalingkan wajahnya dan memutuskan untuk kembali ke kamarnya saja. Tapi baru satu langkah ia menjauh, Ken menarik tangannya dan membuat Aira terduduk di pangkuan suaminya yang tampan itu.


"Jangan marah, sayang." Ken menahan pinggang Aira dengan kedua tangannya dan mencium puncak lengan istrinya yang tertutup jilbab pashmina. Kain segi empat itu jatuh melangsai sampai ke siku, sedang ujung lainnya terulur ke belakang punggung, "Ada apa?"


Aira menelan ludahnya dengan paksa, ia ragu apa harus mengatakannya atau tidak. Jujur saja, ia masih ingat bagaimana mengerikannya kemarahan Ken. Ia tidak akan mengampuni orang yang jelas-jelas memusuhinya, seperti wanita dengan bekas luka di dahinya yang harus meregang nyawa di tempat setelah berusaha menikamnya dengan pisau buah.

__ADS_1


"Ai-chan..." lirih Ken sembari menatap wajah istrinya dari samping, memperhatikan lekuk pipi dan hidung istrinya yang beradu panjang. Ken ingin mencubit pipi chubby bulat yang hanya tampak separuh karena tertutup jilbab di depannya, tapi itu pasti akan membuat Aira semakin marah padanya.


Aira masih tetap diam, dia bingung bagaimana mengatakannya pada Ken. Lidahnya mati rasa entah karena kutukan dewa atau bukan. Jujur, ia tak percaya pada hal-hal semacam itu. Tapi sebelum makan ramen malam itu, ia baik-baik saja.


"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Ken meraih dagu Aira, memaksanya agar menoleh dan beradu pandang dengannya.


"Lidahku mati rasa." jawab Aira lirih sambil menunduk. Netranya menatap kancing kemeja Ken demi menghilangkan kegelisahan yang ia rasakan.


Deg


Ken tampak terkejut sekilas, tapi kemudian mencoba menetralkan ekspresi wajahnya. Sebuah senyum simpul ia tunjukkan di depan wanita yang berhasil mengisi hatinya. Ia senang akhirnya Aira mau berbagi masalah yang ia pendam selama ini. Ken tahu ada sesuatu yang Aira sembunyikan darinya sejak di rumah kakek, terlebih lagi ia sering melamun di belakangnya. Tapi ia tidak ingin memaksa Aira menceritakannya. Ia akan menunggu Aira mengatakan masalahnya dengan inisiatifnya sendiri.


"Sejak makan ramen di beranda?" tebak Ken yang dijawab dengan anggukan oleh Aira.


"Aku takut masih ada racun di tubuhku." gumam Aira meragu.


"Aku akan menanyakannya pada Yoshiro. Jangan khawatir, itu bukan masalah yang besar." Ken menenangkan istrinya. Menarik kepala berbalut jilbab itu ke pundaknya, mengikis ketakutan istrinya yang terlihat jelas di wajah yang memucat.


"Aku takut itu akan berpengaruh pada bayi kita nanti. Kamu lihat anak yang kita temui di taman tadi? Dia baik-baik saja saat dilahirkan, tapi kemudian...."


Cup


Ken membungkam mulut istrinya dengan kedua bibirnya, membuat Aira terdiam seperti patung. Semua kekhawatiran yang akan ia ungkapkan seketika menguap tak berbekas.


"Sstt... Jangan katakan apapun lagi." Ken meletakkan jari telunjuknya di depan mulut Aira, tak ingin mendengar prasangka buruknya lagi, "Jika kamu terus mengatakan hal-hal buruk, maka itu yang akan kamu dapatkan. Jadi, lupakan itu. Daripada berburuk sangka pada takdir, bukankah lebih baik kita melakukan sesuatu yang bermanfaat?"


"Apa aku boleh membuka jilbabmu?" tanya Ken menatap langsung pada manik mata istrinya.


"Untuk apa?"


"Aku ingin mengelus rambutmu." jawabnya singkat. Sudah lama ia ingin mengelusnya tapi baru sekarang ia berani meminta izin. Selama ini Aira hampir selalu memakai jilbabnya setelah Ken membukanya dengan paksa, saat malam penyiksaan yang ia lakukan beberapa minggu yang lalu.


Aira mengangkat kepalanya dari bahu Ken, mengangguk sekali sebagai jawaban dari pemintaan suaminya itu.


Ting tong


Baru saja Ken melepas peniti yang ada di bawah dagu istrinya saat bel berbunyi, membuat wanita itu otomatis beranjak dan membenahi jilbabnya lagi. Dengan langkah cepat, ia membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Paket untuk nyonya Khumaira. Silahkan tanda tangan di sini." pinta seorang kurir berbaju merah sambil menyodorkan sebuah buku tanda terima. Aira menandatanganinya dengan alis bertaut, ia tidak memesan sesuatu sebelumnya. Tapi alamat yang tertera benar, mungkin Ken yang memesannya.


"Dia sangat lucu dan menggemaskan." pria dari salah satu ekspedisi terkenal yang memiliki cabang di seluruh Indonesia itu berucap sambil tersenyum, seolah ikut berbahagia atas paket yang diterima Aira.


"Terima kasih." Aira sedikit kesulitan menerima kotak besar berwarna hitam di depannya. Bahkan ia harus menutup pintu dengan kakinya karena kedua tangannya penuh. Ada sebuah pita violet yang mengelilingi dus itu. Hitam nampaknya warna kesukaan Ken, dan violet warna kesukaannya.


Aira masuk ke ruang tengah dan meletakkan barang yang dibawanya di atas meja. Ken sedang menghabiskan sarapannya, seolah tak peduli melihat istrinya yang kerepotan. Ia bersedekap menatap istrinya dari kejauhan dengan ekspresi yang membuat Aira kesal.

__ADS_1



"Ken, apa kamu yang memesannya?" tanya Aira sambil menatap suaminya yang kini berdiri di dekat wastafel, bersiap mencuci piring bekasnya makan.


"Hadiah untukmu." jawab Ken singkat.


"Apa yang kamu lakukan?" Aira berlari menghampiri Ken yang memakai sarung tangan cuci piring berwarna ungu, "Biarkan disana, itu tugasku." Aira menahan tangan Ken yang mulai menyalakan kran.


"Apa kamu pembantuku?"


"Apa?" tanya Aira tak mengerti.


"Siapa bilang mencuci piring tugas istri? Hanya orang bodoh yang memperlakukan istrinya seperti asisten rumah tangga." jelas Ken.


"Bukan begitu..."


Cup


Lagi-lagi Ken menutup mulut Aira dengan bibirnya.


Plakk


Aira menampar pipi suaminya dengan pelan. Ia tak berniat menyakiti suaminya, hanya saja ia tak suka Ken memperlakukannya sesuka hati.


"Terus saja menggodaku seperti itu. Dasar pria penggoda !!" Aira bergegas meninggalkan suaminya yang tersenyum lebar. Ken berhasil membuat wajah Aira memerah. Entah berapa kali ia mencium istrinya pagi ini. Setidaknya itu masih jadi jurus paling ampuh agar Aira menghentikan protesnya, apapun itu.


Aira berhenti di samping meja keramik berwarna silver, bersimpuh disana sambil menatap hadiah Ken dengan penasaran. Ia menurunkannya ke lantai dan membukanya perlahan. Matanya membulat saat melihat isi di dalamnya.


"Apa kamu suka?" tanya Ken sambil duduk di sofa belakang Aira, menatap istrinya yang masih terkejut.


"Ini untukku?"


***********


Kira-kira apa yang ada di dalam kotak itu yaa? Kuy main tebak-tebakan 🤗


Yang tebakannya bener author doain semoga cepet ketemu jodoh, *Eeh? 😅


Tau ah, makin ga jelas aja nih sii author. Gomen ya lagi agak oleng nih, ada kerjaan yang buru-buru tapi kangen Ken sama Aira jadi sempetin nulis bentar demi readers tercinta 😍😍


See you next day, belum tau kapan update lagi. Sabar yaa gaess 😘😘 Jaga kesehatan, stay strong, be happy 🤗


Jaa mata ne,


With love,

__ADS_1


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2