Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Rahasia Terbesar


__ADS_3

Kaori membuka matanya setelah mengerjap beberapa kali. Ia refleks menatap kaca di samping kirinya yang menampilkan langit gelap di luar sana.


'Jam berapa ini? Kenapa aku tertidur?' batinnya bertanya-tanya.


Ia menoleh ke arah lain, dimana ada Shun yang duduk sambil menatap laptop di hadapannya. Ia terlihat begitu serius. Jemarinya menari di atas tuts keyboard dengan cepat, menggunakan kesepuluh jarinya secara bergantian.


'Shun?' Kaori kembali membatin. Keningnya berkerut dalam. Ia coba mengingat-ingat bagaimana bisa ada pria overconfidence itu di ruang istirahatnya? Ia yakin ini adalah ruang pribadinya di lantai empat rumah sakit. Tidak ada orang luar yang boleh masuk kemari. Bagaimana dengan orang itu?


"Hapus semua jejak Yuki dari tubuhku."


Blush


Ingatan Kaori kembali pada permintaan yang ia ucapkan pada Shun sebelumnya. Hal itu berhasil membuat wajahnya merah merona. Ia malu menyadari betapa menyedihkan keadaannya waktu itu. Bagaimana bisa ia meminta Shun untuk melakukannya? Jelas-jelas mereka belum menikah.


Meski hubungan biologis antara sepasang kekasih tanpa ikatan pernikahan cukup umum terjadi di Jepang, namun Kaori selalu menentang gagasan ini. Ia beranggapan bahwa si Wanita akan menjadi pihak yang paling dirugikan di sini. Selain berisiko mengidap penyakit menular seksual, jika hubungan itu kebetulan membuat si Wanita hamil, belum tentu pihak pria mau betanggung jawab.


Tentu saja m itu tidak adil, dimana pihak laki-laki masih bisa berkeliaran bebas kesana kemari. Namun berbeda keadaannya dengan pihak perempuan. Ia akan dipandang sebelah mata di lingkungan sosialnya bahkan mungkin bisa saja diusir dari keluarganya yang merasa malu. Tak sedikit pula terjadi peristiwa bunuh diri yang dilatarbelakangi karena kasus kehamilan di luar pernikahan.


Belum lagi adanya proses aborsi yang terkadang menjadi pilihan orang-orang tak bertanggung jawab untuk menutupi kesalahan mereka. Kaori percaya, Tuhan selalu melihatnya dari atas sana. Itu sebabnya tidak sekalipun ia melakukan hubungan setelah bercerai dari Yuki tiga tahun yang lalu. Ia menjaga dirinya dengan baik, tak ingin terjebak pada kebahagiaan semu dari hubungan terlarang itu.


Tapi, apa yang terjadi sekarang? Kenapa ia bisa memohon pada Shun untuk melakukan hal memalukan itu? Tanpa sadar, ia melanggar prinsip yang selalu ia pegang teguh selama bertahun-tahun. Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. Ia kehilangan logikanya akibat hantaman trauma masa lalu yang datang setelah bertemu dengan Yuki di kantor Ken.


Kaori membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah jendela. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Ia sudah melakukan dosa besar yang tak termaafkan. Bahkan ia merasa jijik pada dirinya sendiri yang begitu rendahan ini.


Shun melirik ke arah ranjang Kaori. Ia tersenyum melihat pergerakan wanitanya. "Sudah bangun?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.


Kaori yang merasa malu, memilih bungkam, tak menjawab sepatah kata pun pertanyaan yang Shun lontarkan. Ia kembali memejamkan matanya, bersikap setenang mungkin dan menganggap tidak pernah terjadi apapun. Ia akan mengakhiri hubungannya dengan Shun. Ya, itu lebih baik. Laki-laki mana yang mau menikah dengan wanita yang tidak bisa memberikan mereka keturunan? Kaori yakin Shun akan melepaskannya.


"Kenapa diam?" tanya Shun saat suasana di ruangan itu kembali hening seperti sebelumnya. Hanya terdengar deru halus air conditioner yang tertanam di dinding.


Pria itu melangkah mendekat ke arah Kaori. Ia menundukkan badan dan mengecup pelipis wanitanya yang terhalang beberapa helai rambut hitamnya.


Cup


Kaori diam saja. Ia memilih pura-pura tidur daripada meladeni pria ini.

__ADS_1


"Apa kamu masih tidur?" tanya Shun saat mendapati netra Kaori masih terpejam. Ia tersenyum dan berniat menjahilinya.


Diam-diam Shun memasukkan tangannya ke dalam selimut yang menutupi tubuh Kaori. Ia menelusupkan tangannya ke dalam kemejanya yang ia pakaikan pada Kaori setelah aktivitas panas mereka. Ia mengelus punggung wanita itu dengan gerakan menggoda, mengulangi apa yang ia lakukan sebelumnya.


Deg!


Sontak hal itu membuat Kaori menggelinjang. Matanya membulat dan segera mengambil posisi duduk detik berikutnya. Dadanya naik turun dengan napas yang tak teratur, menandakan bahwa ia begitu terkejut dengan perlakuan Shun.


"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu gila?" tanya wanita itu dengan emosi meluap-luap. Wajahnya merah merona. Shun melakukan hal-hal di luar dugaan, lagi dan lagi. Kaori ingat dengan jelas saat pria ini memanggulnya turun dari atap dan membawanya ke ruangan ini dengan paksa. Belum lagi tingkahnya yang membuang kunci ke luar jendela dan memutus kabel telepon. Dia memang benar-benar gila.


Shun tersenyum. Ia mengambil kotak perhiasan yang ada di meja dan duduk di hadapan Kaori, berbagi satu-satunya ranjang kecil di ruangan ini.



"Aku memang gila. Jadi maukah kamu menjadi istri seorang pria gila sepertiku?" Shun membuka kotak berwarna hitam yang sedari tadi ia pegang di hadapan Kaori. Tampak satu set perhiasan mewah limited edition yang terdiri dari kalung, anting, cincin, dan gelang yang kesemuanya berwarna putih.


*limited edition : edisi terbatas


Kaori terdiam. Ia menatap Shun dengan pandangan tak percaya. Sepertinya ini saatnya dia mengatakan segalanya pada pria ini. Tak ada lagi yang harus ia sembunyikan.


Shun tersenyum. Ia menutup kotak segi empat itu dan meletakkannya di tangan Kaori. "Katakan saja. Apapun itu, aku siap mendengarnya."


Shun mengelus puncak kepala Kaori dan membenahi helai rambutnya yang berantakan, kemudian membawanya ke belakang telinga. Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh wanita ini. Ia pasti akan mengungkapkan rahasia terbesarnya itu. Dan Shun akan berpura-pura tidak mengetahui hal itu demi menjaga perasaannya.


"Apa kamu suka anak kecil?" tanya Kaori dengan suara parau. Ia menekan perasaannya sendiri yang bergemuruh, mencoba terlihat baik-baik saja.


"Tidak terlalu. Mereka merepotkan. Tapi bukan berarti aku membencinya," jawab Shun objektif. Ia jujur tentang hal ini.


Kaori kembali bungkam. Ia menundukkan kepalanya cukup lama. Wanita 29 tahun itu kebingungan memilih kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan rahasianya.


"Aku tidak akan bisa punya anak," ungkapnya to the point dengan suara bergetar. "Rahimku sudah diangkat. Aku tidak akan bisa hamil selamanya."


Sebulir air mata membasahi wajah putihnya, disusul bulir-bulir yang lainnya. Mereka keluar begitu saja, menembus bendungan yang coba Kaori pertahankan sedari tadi. Air tanpa warna itu menganak sungai hingga ke dagu dan akhirnya jatuh membasahi kotak perhiasan di pangkuan Kaori. Bahunya berguncang, menahan luapan emosi yang kembali ia rasakan.


"Memangnya kenapa kalau kamu tidak bisa hamil? Kita bisa mengadopsi anak dari panti asuhan." Shun mengangkat dagu Kaori, menghapus air mata dengan tangannya. "Aku mencintaimu dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak peduli apa yang kamu miliki atau tidak miliki, apa yang bisa atau tidak bisa kamu berikan. Aku sungguh tidak peduli. Selama kamu mau menerimaku, itu cukup."

__ADS_1


Air mata semakin deras mengucur di wajah Kaori. Ia menggigit bibir bawahnya, tak tahu harus bagaimana menghadapi pria ini.


BUGH


"Apa kamu bodoh?" Kaori meninju dada pria yang tertutup blazer berwarna krem ini. Ia tidak menyangka Shun akan tetap menerimanya meski ia sudah mengatakan aibnya itu. Ya, bagi Kaori, ketidakmampuannya untuk memiliki keturunan di masa depan adalah aib. Tidak akan ada pria yang mau menerimanya yang cacat ini.


Shun tersenyum semakin lebar. "Benar. Aku gila, bodoh dan serakah. Aku adalah monster di mata orang-orang yang menjadi korban obat-obatan berbahaya yang aku ciptakan. Aku sombong, kejam, tidak berperikemanusiaan, pembunuh, dan berbagai predikat negatif yang serupa. Dibandingkan satu kekuranganmu itu, aku punya ratusan hal buruk lainnya yang belum kamu ketahui." Shun menangkup wajah Kaori dengan kedua tangannya.


"Jadi, akulah yang seharusnya bertanya. Apa kamu mau menerimaku dengan segala hal buruk yang ada padaku?" Shun bertanya dengan lembut. Ia menantikan jawaban wanita pemilik hatinya ini.


Kaori terharu dengan pengakuan Shun. Ia tahu sepak terjang pria ini di dunia gelap. Ia tak segan menyiksa musuhnya dan membuat mereka memohon lebih baik mati daripada merasakan sakit yang tak terperikan. Namun, pria ini bersikap begitu lembut padanya, menunjukkan betapa tulus perasaannya. Ia bahkan bersedia merendahkan dirinya, mengaku gila, bodoh, sombong, dan berbagai sifat buruk lainnya demi membuat perasaannya lebih baik.


Apa yang Shun nyatakan itu, secara tidak langsung membuat Kaori merasa bahwa masalahnya bukan hal yang besar dibanding keadaan Shun sendiri. Kaori tersenyum dengan sisa air mata di pipinya.


"Aku mau. Ayo kita menikah," ajak Kaori dengan luapan bahagia yang terpancar dari matanya.


"Umm. Kita akan menikah besok." Shun menunjukkan surat pengajuan pernikahan di tangannya.


Kaori menatap calon suaminya ini dengan kening berkerut. Ia tak percaya dengan apa yang diucapkannya itu.


"Besok? Yang benar saja!" cetusnya.


"Lihat sendiri." Shun memberikan selembar kertas putih itu pada Kaori, membuat matanya terbelalak seketika.


"EH? BESOK?"


Shun tersenyum penuh arti. Ia berhasil membuat kejutan untuk wanitanya. Mereka benar-benar akan resmi menjadi sepasang suami istri besok.


...****************...


Whoaaaa... Abang Shun amazing emang 🤗💙💙


Ada yang kangen Ken-Aira? See you next episode, hehe


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2