
Ken dan Aira menyempatkan waktu untuk masak bersama. Tadinya Ken yang berusaha membuat Aira jengkel. Dia sengaja meminta ibu dari ketiga anaknya itu untuk masak makanan kesukaannya, yakni udang. Tapi, siapa sangka justru Aira bisa membalikkan keadaan.
Wanita itu berhasil membalas sifat jahil suaminya dengan meminta Ken melakukan berbagai hal, termasuk mengambilkan barang-barang sepele seperti garam, lada, dan bumbu-bumbu lainnya yang jelas-jelas bisa Aira ambil sendiri. Ken tak membantah, tapi terus diam sepanjang waktu. Hal itu membuat Aira tertawa dalam hati. Ia memenangkan sesi memasak di dapur.
Dan sebagai imbalan atas kesabaran Ken menghadapi sikap minusnya itu, Aira berinisiatif mencium pipi suaminya. Dia mengalungkan tangannya di leher Ken dan berterima kasih padanya. Siapa sangka, hanya karena kecupan di pipi itu justru membuat Ken begitu bahagia. Dia menghujani wajah istrinya dengan kecupan, tak melewatkan satu inchi pun.
Hal itu membuat sisi liar dalam diri Ken memberontak. Pria itu tak bisa mengendalikan keinginannya lagi. Dia ingin mengusai Aira sepenuhnya, tak peduli dimana mereka berada. Untung saja Aira masih bisa mengingatkan suaminya itu, memintanya mencari tempat lain yang lebih tersembunyi. Dan akhirnya mereka menghabiskan waktu bersama di kamar tamu, ruangan tersembunyi yang paling dekat dengan dapur.
Aira pasrah. Ia menganggapnya sebagai sebuah kewajiban, yakni memenuhi nafkah lahir dan batin untuk suaminya. Lagipula ini bukan hal yang merugikan baginya, justru sebaliknya. Dan Ken melakukannya dengan lembut, mengutamakan kenyamanan Aira.
Cup
"Terima kasih." Ken mencium pelipis Aira dan menyingkirkan helai rambut yang menutupi wajah bulat di hadapannya. Ia berbaring di samping istrinya, mengelus perut rata yang terhalang selimut berwarna putih bersih.
Aira tak menjawab, ia memilih memejamkan matanya sambil menetralkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Keringat yang membasahi pelipisnya menandakan bahwa ia merasa letih setelah olahraga malam barusan.
"Ai-chan," panggil Ken sembari mengelap peluh di wajah dan leher istrinya.
"Hmm," gumam Aira tanpa membuka kelopak matanya. Ia justru menarik selimut, menutupi tubuhnya sampai ke leher.
"Apa kamu marah?" Ken khawatir karena Aira tak mengucapkan sepatah kata pun sejak mereka masuk ke ruangan ini.
Aira menggeleng. Dia sungguh ingin mengistirahatkan tubuhnya. Tapi Ken justru terus saja mengganggunya seperti sekarang. Daripada mengeluarkan kata-kata kasar, lebih baik diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Sayang," Ken merasa bersalah karena tidak mendapat respon dari istrinya.
"Diamlah. Aku lelah." Aira memiringkan badannya membelakangi Sang Suami.
"Maafkan aku. Istirahatlah."
Cup
Ken mencium belakang kepala Aira dengan sayang. Ia beranjak bangun, memberikan waktu istirahat pada istrinya. Ken membuka laci dan memakai kimono yang tersimpan di bawah ranjang. Ia beranjak ke kamar mandi untuk mensucikan diri. Sudah masuk waktu salat isya sejak satu jam yang lalu dan ia harus memenuhi satu kewajibannya tersebut.
Ken menolehkan kepalanya ke arah Aira yang memejamkan mata, sesaat sebelum dia melewati pintu berwarna putih di depannya. Ada sedikit perasaan tak nyaman yang menjalar di hatinya.
...****************...
Jam dinding menunjukkan angka delapan, langit malam telah berubah gelap sempurna saat nyonya Sumari keluar dari dalam mobilnya. Wanita 52 tahun itu segera masuk ke kediaman Ken setelah dua orang bodyguard membukakan pintu utama untuknya.
Langkah kakinya menapaki ruang tamu, membuat bunyi gemeletuk dari perpaduan hak sepatu dengan lantai marmer di bawahnya. Aroma udang segera menyapa indera penciumannya yang cukup tajam, membuat berbalik arah.
Nyonya Sumari mendekat ke arah meja makan dan mendapati olahan seafood kesukaan putra sulungnya masih utuh di piring. Belum ada tanda-tanda seseorang menyentuh, atau bahkan memakannya. Ia menatap sekeliling, tak ada siapapun di sana.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, Sakura turun melalui tangga dengan tergesa. Ia membawa ponsel milik Ken yang terus berdering, menandakan ada panggilan telepon yang masuk.
"Ada apa?" tanya nyonya Sumari pada putri bungsu orang kepercayaannya di kediaman kakek Yamazaki.
"Ponsel Tuan Muda terus berdering, tapi saya tidak mendapati tuan maupun nyonya di manapun." Sakura menyerahkan benda pipih itu pada nyonya besar keluarga Yamazaki ini.
Wanita dengan pakaian serba coklat itu mengerutkan keningnya saat membaca nama yang tertera di layar : Ebisawa Yuzuki. Ada keraguan dalam hatinya, antara mengangkat panggilan dua arah itu atau mengabaikannya. Pada akhirnya wanita itu menekan ikon berwarna hijau yang terus bergerak minta disentuh. Sepersekian detik kemudian, nyonya Sumari menekan ikon 'rekam' untuk menyimpan percakapan yang mungkin mereka lakukan nanti.
"Yamazaki-san, Yoshiro hilang. Aku kehilangan jejaknya di salah satu club house di Kabukicho. Dari rekaman CCTV, tampak satu mobil hitam membawanya ke arah utara. Saat ini aku dan Mone sedang mencarinya. Segera kirimkan orang-orangmu untuk melacaknya. Aku khawatir nyawanya dalam bahaya."
Tut tut tut
Panggilan telepon terputus sepihak, menandakan nyonya Sumari tak bisa lagi berbincang dengan Yu. Kerutan di keningnya semakin dalam, menandakan ada sesuatu yang tengah ia pikirkan.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanya Sakura.
"Dimana mereka?" Nyonya Sumari melirik makanan yang terhampar di atas meja makan.
Sakura menggeleng. "Maaf, saya tidak tahu. Nyonya sempat menyusui Akari-kun sebelumnya. Tapi setelah itu saya benar-benar tidak tahu lagi. Maafkan saya." Gadis 26 tahun itu menundukkan kepala dalam-dalam, mengakui kesalahannya yang tidak bisa memberikan informasi pada majikannya.
Nyonya Sumari melenggang bebas, menuju ruang kerja Ken di samping ruang tamu. Di sana adalah ruang kendali, dimana bisa melihat rekaman kamera pengawas yang terpasang di beberapa sudut rumah selain kamar dan kamar mandi.
Wanita bermarga Yamazaki itu mengepalkan tangannya saat melihat Ken menggendong Aira seperti karung beras. Tentu saja ia melihat betapa agresif dan tak sabaran putra sulungnya itu. Dia bahkan hampir melakukannya di ruang makan. Dasar bocah gila!
'Benar-benar gila. Aku harus memberikan pelajaran padanya!' gumam nyonya Sumari dalam hati. Ia melangkah cepat menuju kamar tamu di sebelah ruang makan. Seharusnya Ken dan Aira masih ada di sana.
Tok tok tok
Baru saja Aira bersiap terlelap dalam mimpi saat telinganya menangkap suara pintu diketuk. Gemericik air juga terdengar dari dalam kamar mandi, menandakan Ken tak mungkin keluar untuk beberapa menit kedepan.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu kembali menyapa indera pendengaran wanita 26 tahun ini, lebih keras dari sebelumnya, membuat Aira terusik. Entah siapa yang ingin mencari masalah dengannya.
Aira membuka matanya dengan malas. Sama seperti Ken, ia mengambil kimono yang tersimpan di bawah ranjang dan memakainya. Orang di balik pintu pastilah bukan orang asing karena Aira tak pernah mengizinkan laki-laki masuk ke dalam rumah selepas petang. Dengan begitu, ia bisa bebas menanggalkan jilbab dan pakaian panjangnya. Tidak ada orang lain yang akan melihat auratnya kecuali suaminya sendiri.
Duk duk duk
Ketukan di pintu berubah menjadi lebih keras lagi, lebih mirip sebuah pukulan. Hal itu membuat Aira mengerutkan keningnya. Siapa yang berani memukul pintu sekeras ini?
Krekk
"Ibu?!" sapa Aira begitu membuka pintu di hadapannya. Tampak wanita dengan tunik coklat susu berdiri dengan kemarahan tertahan di wajahnya.
__ADS_1
"Dimana bocah gila itu?"
Aira tak langsung menjawab. Ia tahu ibu mertuanya ini mencari Ken. Tapi, dia harus tahu apa yang membuat wanita ini emosi. Lagipula Ken masih sibuk dengan aktivitas pribadinya membersihkan badan di dalam sana.
"Dia sedang mandi. Ada apa, Bu?" tanya Aira dengan tenang. Ia mencoba bersikap senatural mungkin. Namun meski begitu, gurat lelah masih terlihat jelas di wajahnya.
"Apa ada masalah?" tanya Aira saat tak mendapati sepatah kata pun dari wanita yang telah melahirkan suaminya 28 tahun yang lalu itu.
Nyonya Sumari mengamati penampilan menantunya. Aira terlihat sedikit pucat dan bekas peluh yang membasahi pelipisnya. Bagaimanapun juga, nyonya Sumari pernah muda. Dia juga sudah melihat kelakuan plus plus Ken dari rekaman kamera pengawas. Dia bisa menebak apa yang membuat wanita di hadapannya ini tampak kelelahan.
Grep
Bukannya menjawab pertanyaan Aira, nyonya Sumari justru memeluk Aira dengan lembut. Kemarahan yang sebelumnya ia pendam, menghilang begitu saja, membuat Aira sedikit heran.
"Maaf karena ibu tidak bisa mencegahnya. Apa dia menyusahkanmu?" Nyonya Sumari menangkup wajah Aira, menatap matanya dalam-dalam.
"Apa yang ibu bicarakan?" Aira semakin tidak mengerti ucapan ibu mertuanya. Aneh.
"Anak-anakmu masih terlalu kecil. Sebaiknya kamu minum obat kontrasepsi setelah melakukannya. Mengurus mereka bertiga saja sudah membuatmu kerepotan, apalagi jika ada bayi lainnya."
Glek!
Aira terhenyak. Ia tak bisa berkata-kata mendengar penuturan ibu mertuanya. Jelas-jelas Ken yang melakukannya. Ia sendiri belum ingin hamil lagi dalam waktu dekat.
"Bu," panggilan Aira terpotong ucapan wanita kelahiran Yokohama ini.
"Ibu akan memberi pelajaran padanya. Berani-beraninya dia menyentuhmu sampai seperti ini. Sebaiknya kamu menolaknya saat kamu benar-benar lelah. Jangan memaksakan diri seperti ini." Nyonya Sumari menggenggam jemari Aira erat-erat, memberikan dukungan moral yang justru semakin menyudutkan Aira.
"Aku baik-baik saja, Bu." Aira membawa ibunya keluar dari kamar ini. Mereka berdua duduk di kursi santai yang menghadap taman belakang.
"Ada apa ibu mencari Ken? Apa ada sesuatu yang penting?"
Nyonya Sumari menyerahkan ponsel Ken yang sedari tadi ia simpan di dalam saku bajunya. Ia memperdengarkan rekaman suara Yu saat menelepon beberapa menit yang lalu. Hal itu membuat Aira mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu sama sekali apa yang terjadi pada Yoshiro dan misi apa yang tengah ia jalankan.
"Aku akan membicarakan ini dengan Ken nanti. Ibu tenanglah." Aira menunjukkan senyum terbaiknya. Ia tidak ingin membuat wanita itu khawatir, meski ia sendiri masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
"Bu, ini sudah larut. Ibu istirahatlah. Urusan ini, Ken yang akan menyelesaikannya." Aira memegang punggung tangan nyonya Sumari, menenangkannya.
...****************...
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1