Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Tak Terkendali


__ADS_3

Aira mengambil napas dalam-dalam. Dia tidak bisa lagi bersantai mengahadapi situasi yang ada. Drone kecil utusan Anna sekarang sedang mengikuti kendaraan yang berisi orang-orangnya. Dia harus segera mengambil alih keadaan, menyadap kendali yang Anna berikan pada pesawat mini pengintai itu.


"Bagaimana?" tanya Aira, mempertanyakan Ken yang baru kembali melihat anak-anak. Entah kenapa dia tidak bisa melepaskan pemikiran dari ketiga bayinya meski ia sendiri tengah sibuk mengurus hal lainnya.


"Baby triplet sedang makan bersama Sakura dan Mao. Aku sudah menyuruh lima orang penjaga berdiri di sekitar mereka. Antisipasi saja." Ken duduk di dekat Aira dan memaku pandang pada monitor di depan istrinya. "Kita fokus di sini saja. Sakura memiliki kemampuan di atas rata-rata. Tenang saja."


Aira bernapas lega. Setidaknya dia bisa sedikit tenang sekarang.


"Bagaimana dengan mereka?" tanya Ken, tidak tahu situasi terkini setelah pergi selama beberapa menit yang lalu.


Aira menggeleng. "Tak terkendali. Ada drone yang mulai mengejar mereka."


Ken terperangah. Dia tidak menyangka akan ada kejadian seperti itu. Meskipun ia sering melakukan misi dan pasti akan ada kejadian tak terduga yang terjadi, tapi mereka bisa mengatasinya. Tentu saja berbeda dengan adik kembarnya. Dia baru sekali ini melakukan misi.


"Yamaken, kamu mendengarku?" Ken menyentuh earpice di telinganya, membuat kening Aira berkerut. Dia tidak tahu suaminya diam-diam menjalin komunikasi dengan kembarannya.


"Yamaken!" ulang pria yang kini berdiri dengan tidak sabarnya. Dia takut adiknya lepas kendali, melakukan hal-hal yang membuatnya terluka. Bisa dikatakan pria itu belum berpengalaman sama sekali di medan pertempuran.


"Sial!" Ken membanting botol air mineral yang ada di tangannya. Tadinya ia berniat memberikan itu untuk Aira, tapi kemudian lupa karena luapan emosi yang menyergapnya. Dia terlalu panik karena tidak bisa mendengar suara adik kembarnya.


Aira tak bisa melakukan apapun. Kesepuluh jemarinya sibuk menari di atas tuts laptop, memasukkan kombinasi huruf dan simbol untuk mencari tahu dari mana kontrol drone ini berasal.


"Ah, dapat!" seru Aira. Matanya berbinar, mendapat satu titik tempat asal lalat-lalat sialan ini berasal.


Ken hanya bisa merutuk dalam hati. Dia tidak ingin mengganggu konsentrasi Aira. Wanita ini masih harus bekerja keras mendapat titik akurat agar rencana rahasianya bisa terlaksana.


PRAAANNGGG

__ADS_1


Di waktu yang sama, Anna membanting gelas kaca yang ada di tangannya. Dia baru saja mendapat laporan bahwa sebuah van hitam berhasil mengetahui keberadaan lalat khusus yang menjadi senjata andalan Anna ini.


"Ada apa, Ann?" Bibi Maria yang baru kembali dari dapur, tidak bisa mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Dia sudah terlalu senang melihat ledakan yang terjadi di pelabuhan, dan berpikir misi mereka sudah berakhir. Wanita paruh baya ini memilih menyibukkan diri di dapur, siap membuat hidangan santap siang untuk nonanya.


"Ada yang datang. Mereka melumpuhkan anak-anakku."


Kerutan di kening Maria segera tercipta. "Ada yang datang? Siapa?"


Anna menggeleng cepat. "Aku tidak tahu, Sergey melapor bahwa dia masih terus mengejar mereka."


Maria bungkam. Dia tidak ingat siapa Sergey ini. Rasanya dia tidak memiliki rekan kriminal satu pun di tempat ini.


"Dia pembunuh bayaran yang aku temui di internet. Dia juga yang mengatur lalat-lalat itu untuk meledak."


Maria masih belum puas. Rasanya dia tidak tenang jika belum mengetahui siapa Sergey ini.


"Kamu pernah bertemu dengannya?" Maria mengucapkan itu sambil membersihkan pecahan gelas yang berserak di lantai. Bagaimanapun juga, dia tidak ingin nonanya nanti terluka.


"Maafkan aku, Ann. Aku hanya khawatir kamu terjebak oleh orang-orang itu." Maria tidak bisa melanjutkan argumennya, takut Anna semakin tak terkendali. Satu-satunya cara adalah merendahkan diri di depan wanita ini.


Ana mendengus kesal. Dia tidak suka saat Maria meragukan keputusannya. Itu sebabnya ia tidak memberitahu wanita ini tentang rencana besarnya. Jika sejak awal Maria tahu, bisa saja wanita ini tidak setuju dan mengacaukan rencana indahnya.


"Sergey teman tidurku sejak dulu, sebelum aku mengenal suamiku. Apa kamu puas mendengarnya?!" Suara Anna semakin meninggi, menunjukkan bahwa emosinya tak bisa lagi dikendalikan.


Maria menunduk dalam. "Maafkan aku, Ann. Aku keliru."


Anna membuang muka. Tidak ada gunanya marah pada wanita yang sudah membantunya ini. Sekarang saatnya dia fokus pada apa yang terjadi kedepannya.

__ADS_1


"Ann, aku hanya ingin melindungimu. Percayalah." Maria mendekat, menyodorkan segelas air putih dan obat khusus yang biasa Anna konsumsi setiap hari. Itu akan menjaga agar otaknya tetap waras, tidak bertindak sembarangan seperti waktu mendengar suara Mone saat itu.


Dengan kata lain, selama ini Maria memberikan obat tertentu agar Anna kehilangan hati nurani dan rasa keibuan miliknya. Sekali saja wanita ini tidak meminumnya, dia akan sama seperti wanita lainnya, lemah dan mudah goyah.


Gluk gluk


Anna yang tidak tahu siasat busuk Maria, hanya menurut saja. Wanita dengan bekas luka di bawah matanya ini meneguk dua butir pil warna putih dari Maria dalam sekali makan.


'Syukurlah,' bisik Maria dalam hati. Dia takut tidak bisa mengendalikan Anna lagi jika kepribadiannya yang lain muncul. Bisa-bisa dia menyerah asalakan Mone mau bersama dengannya. Itu berbahaya bagi Maria.


"Apa yang terjadi dengan orang-orang itu? Siapa mereka?" Maria memberanikan diri bertanya. Dia tidak ingin kehilangan jejak seperti sebelumnya. Anna menyembunyikan hal besar itu darinya saja sudah membuat harga dirinya terluka. Dia merasa Anna tak lagi membutuhkannya.


"Bibi lihat saja sendiri." Anna menunjuk layar monitor di depannya. Disana tampak sebuah mobil berwarna hitam melaju dengan kecepatan tinggi.


Apa yang tampak di sana adalah rekaman kamera dari salah satu drone mungil yang terus membuntuti kendaraan roda empat di depan sana.


"Siapa mereka? Kenapa rasanya aku pernah melihat kendaraan sejenis ini?" gumam Maria, memutar otak untuk mencari tahu diaman ia pernah melihat kendaraan seperti ini.


"Kemungkinan besar mereka orang-orang Oguri sampah itu atau Si Tua Yamazaki," cetus Anna dengan senyum miring menghiasi wajahnya. Tanpa tahu siapa atau berapa orang yang ada di dalam sana, yang jelas itu musuhnya.


"Sergey, habisi mereka!" titah Anna melalui teleponnya. Dia meminta rekan kriminalnya untuk menyingkirkan halang rintang yang mencoba menghadangnya.


Maria tak lagi berkomentar. Dia hanya bisa melihat apa yang terjadi di monitor. Itu bukan rencananya, jadi tidak tahu bagaimana baiknya. Harapannya hanya satu, Anna tidak salah mengambil keputusan. Itu saja.


* * *


Makin tegang. Hwaaa.....

__ADS_1


Sampai jumpa bab berikutnya. See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2