Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Black Powder


__ADS_3

"Dimana kamu sekarang? Aku merindukanmu," lirih Aira sebelum kembali menyimpan potret Ken ke tempatnya semula.


Wanita hamil tujuh bulan itu berjalan ke arah balkon. Ia membuka pintu kaca di hadapannya dan memandang langit berbintang tanpa bulan. Pemandangan indah yang seharusnya membuatnya bahagia. Tapi, entah kenapa ia justru merasa hampa. Ketiadaan Ken malam ini, membuatnya merindu. Padahal mereka baru berpisah beberapa jam saja, bukan berbilang minggu, bulan, atau bahkan tahun.


"Apa kalian merindukan daddy seperti mommy merindukannya?" lirih Aira bersamaan dengan sebutir air mata yang luruh di pipinya. Ia khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada ayah dari anak-anaknya itu. Ingin rasanya Aira menghubungi kantor atau teman-teman dekat Ken, tapi ia menahan diri. Apapun yang Ken lakukan, pastilah itu sudah melalui berbagai pertimbangan. Aira tidak seharusnya meragukan keputusan Ken yang sengaja meminta Yamaken menggantikannya malam ini.


Ya, tanpa perintah dari Ken, Yamaken tidak mungkin berani berpura-pura sebagai kakak kembarnya. Adik iparnya itu pastilah sangat memahami temperamen Ken yang tidak akan memaafkan siapapun yang melewati batas kesabarannya. Mengingat hal itu, justru membuat kerinduan Aira pada suaminya semakin dalam. Ia hanya bisa mencengkeram besi berulir di depannya.


"Sayang, lekaslah pulang. Kami merindukanmu," ucap Aira sambil menatap salah satu bintang di angkasa yang terlihat paling terang.


Seolah tersambung dengan telepati atau semacamnya, ratusan kilometer dari tempat Aira berada, Ken tertegun di tempatnya berdiri. Ia merasakan dadanya tiba-tiba sesak, begitu merindukan Aira dan ketiga jagoan kecil di dalam perut istrinya itu.


"Ada apa?" tanya Yoshiro yang heran saat Ken tiba-tiba diam, padahal sebelumnya ia tengah mengungkapkan rencana mereka esok hari.


Ken duduk dan meraup wajahnya dengan kasar. Ia mengambil ponsel miliknya dari dalam saku dan menghubungi Kosuke. Pria itu ingin memastikan keadaan istrinya saat ini, apa wanitanya itu baik-baik saja di rumah.


"Kosuke, apa yang sedang Aira lakukan?" tanya Ken begitu mendengar suara asisten pribadinya di ujung sana.


Shun memutar bola matanya, enggan menunggu Ken yang sedang menelepon. Dia skeptis jika berurusan soal wanita, karena dia tidak pernah sekali pun melabuhkan perasaannya pada kaum hawa.


Pagi ini, dia kesal karena Yoshiro datang terlambat. Ia mengakui ada urusan penting dengan Yu. Dan malam ini, pertemuan ini harus terhenti, konsentrasi Ken terpecah karena mengkhawatirkan istrinya tanpa sebab yang jelas. Dua rekannya ini sungguh sudah diperbudak oleh wanita, atas nama cinta.


"Yoshiro, kamu tidak ingin menghubungi kekasihmu? Mungkin saja dia merindukanmu," ucap Shun dengan nada sarkas.


Pria itu masih tak habis pikir pada kedua sahabatnya yang seolah kehilangan logika jika sudah berurusan dengan wanita. Seperti Ken yang tiba-tiba diam dan menghubungi asistennya demi menanyakan keadaan istrinya.



"Apa kamu sedang mengejekku? Atau mungkin kamu iri padaku dan Ken karena kami memiliki seseorang yang bisa kami rindukan?" tanya Yoshiro sambil bersandar pada dinding oren di belakangnya. Ia melirik Ken yang kini berdiri agak menjauh dari kedua sahabatnya di dunia bawah tanah ini.


"Jatuh cintalah, maka kamu akan mengerti apa yang kami rasakan." Yoshiro berucap sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.



"Heh? Jatuh cinta? Yang benar saja!" Shun merendahkan pertanyaan Yoshiro. "Dunia akan menertawakanku jika hal itu terjadi. Aku tidak sebodoh itu untuk mengabdikan jiwa ragaku pada sosok makhluk lemah yang hanya bisa menangis. Fungsi utama mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis kita. Hampir semua pria pasti akan mengakui itu, apa aku salah, huh?" Shun tertawa tanpa suara hingga deretan gigi putihnya terlihat.


"Sayang sekali, aku termasuk sebagian kecil yang tidak setuju dengan pernyataanmu. Kamu terlalu merendahkan wanita. Semoga karma untukmu segera datang." Yoshiro mengucapkan kalimat tak enak didengar itu dengan serius, sebagai balasan pernyataan Shun yang menjengkelkan.


Shun tidak percaya pada hal-hal buruk seperti karma atau semacamnya. Dan yang membuatnya geli adalah karena Yoshiro mendebatnya setelah ia mengungkapkan pandangan buruk tentang wanita.


"Semua hal buruk yang pernah terjadi padaku, itu karena persiapanku yang kurang matang, bukan karena karma seperti yang kamu katakan. Karma hanya mitos yang dipercayai oleh orang-orang lemah," cibir Shun pada Yoshiro.


"Baiklah, kita lihat saja. Akan seperti apa keadaanmu saat kamu jatuh cinta nanti? Aku akan menantikan wanita mana yang akan membuatmu menggila." Yoshiro masih yakin dengan pendapatnya.


Ia masih ingat beleberapa bulan yang lalu saat Shun menggila karena keberadaan Aira, sang Dewi Penolongnya. Namun, ternyata sahabatnya itu hanya terobsesi karena gangguan delusi erotomatic yang dideritanya. Semua yang pria itu lakukan pada Aira bukan berdasarkan cinta, tapi itu saja hampir membuatnya gila. Yoshiro tidak bisa membayangkan betapa gilanya seorang Shun Oguri jika benar-benar menjatuhkan hatinya pada seorang wanita.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ken yang baru saja kembali dari balkon. Ia melihat kedua pria di hadapannya sepertinya tidak akur, raut wajah Yoshiro yang terlihat kesal dan Shun yang tersenyum mengejek.


"Bukan apa-apa. Lanjutkan penjelasanmu." Yoshiro mendekat ke arah meja dan duduk berhadapan dengan Ken. Ia enggan memperpanjang perdebatan dengan Shun, yang mungkin akan membuat Ken kesal. Ia paham betul tabiat baru Ken sekarang, ia begitu menghargai Aira, terlebih sekarang ada tiga jagoan kecil di dalam perutnya. Para penerus keluarga Yamazaki generasi berikutnya.


Ken mengambil napas panjang. Ia bersiap mengungkapkan rencana yang sudah tersusun apik di dalam kepalanya.

__ADS_1


"Sampai mana tadi?" tanya Ken yang lupa pada pembahasan mereka sebelumnya.


"Peresmian Circle Miracle." Shun berkata sambil menyalakan sebatang rokok di tangannya. Ia duduk di atas sofa, beberapa meter dari Ken dan Yoshiro yang duduk di dekat meja berbentuk oval. Ia meletakkan kedua kakinya di atas meja dan menantikan penjelasan Ken berikutnya.


"Bukan aku yang akan datang ke peresmian besok, melainkan Yamaken," ungkap Ken dengan suara cukup lirih namun masih terdengar oleh dua orang rekannya. Sepertinya ia sendiri masih sedikit ragu dengan rencana ini.


BRAKK


"DIA BISA MATI DISANA. APA KAMU GILA?" tanya Shun setelah menggebrak meja di hadapannya. Ia bahkan sampai berdiri dan menatap lawan bicaranya dengan tatapan tajam, tidak peduli pada batang rokok yang kini tergeletak di lantai. Ia tidak percaya Ken akan mengambil keputusan bodoh seperti itu.


"Aku tahu," jawab Ken singkat. Ia meraup wajahnya dengan kasar, berharap ada solusi lain. Namun, itulah satu-satunya solusi yang ada di dalam kepalanya saat ini. "Aku akan melindunginya sebisaku," lanjutnya.


"Dia tidak akan bisa diselamatkan. Kamu tahu apa yang mereka tanam di balik dinding ruangan istirahat 'khusus' untukmu?" tanya Yoshiro dengan nada datar. "Kami menyelidiki rencana mereka seperti permintaanmu. Kemungkinan besar, mereka akan meledakkan ruangan itu dan membuatmu tewas sebagai korban kebakaran. Tidak ada kesalahan sedikit pun dalam konstruksi atau rancang bangunnya. Semuanya sempurna. Hanya saja, mereka menanam black powder di dinding, persis di belakang meja kerjamu. Kamu pikir berapa persen kemungkinan seseorang akan selamat jika ledakan itu benar-benar terjadi?"


Ken terdiam. Ia masih menunggu penjelasan lebih lanjut yang akan disampaikan oleh putra angkat tuan Ebisawa Oda ini.


"Kamu tahu apa itu black powder?" tanya Shun yang hanya dijawab gelengan kepala oleh Ken.


"Ada berbagai bahan peledak (explosive) yang berbentuk padat dan cair. Zat-zat berbahaya itu akan bereaksi jika terkena panas atau tekanan yang sangat tinggi. Sebenarnya, zat ini berfungsi menaikkan produksi tambang batubara, kapur, bijih besi, emas, tembaga, dan sebagainya. Selain itu, juga untuk pembuatan jalan raya, waduk atau bendungan, bahkan untuk pertambangan minyak dan gas bumi." Yoshiro mulai menjelaskan bidang yang ia kuasai.


TAK!


Shun mengeluarkan sebuah stoples mini dari dalam sakunya dan meletakkan benda berbentuk tabung itu di atas meja. Ken mengerutkan keningnya melihat butiran halus berwarna hitam yang tersimpan dalam benda kaca itu.



"Ini adalah peledak jenis Black Powder yang telah ditemukan lebih dari seratus tahun yang lalu. Bahan peledak ini pertama digunakan sebagai propellant untuk peluru dan senjata lain. Bahkan pada abad ke-17, bahan peledak ini telah mulai digunakan untuk memecahkan batu-batuan dalam pertambangan daerah Eropa, yang kemudian berkembang secara pesat sehingga dapat digunakan dalam pembuatan konstruksi–konstruksi bangunan," jelas Yoshiro lebih lanjut.


"Beberapa bahan peledak dengan mudah dapat bereaksi apabila terkena api, panas, gesekan dan benturan. Sebaliknya ada juga bahan peledak yang bila kena api hanya terbakar, dan apabila kena gesekan dan benturan sukar meledak, bahan peledak ini pada prinsipnya hanya akan meledak apabila ada ledakan lain yang mendahuluinya."


"Tapi, black powder ini cukup kompleks. Peledak ini memiliki sifat yang sensitif sekali terhadap percikan, panas dan api, sehinga sulit dalam penanganannya. Karena sifat sensitif itu maka penggunaan bahan peledak tersebut terbatas hanya untuk kepentingan militer, bahan isian sumbu api dan pembuatan kembang api." Yoshiro meletakkan dua lembar kertas di atas meja, berisi penjelasan tentang bahan peledak ini.


"Bahan peledak primer adalah bahan peledak yang mudah meledak dengan adanya api, benturan, gesekan dan sebagainya. Misalnya : Hg(OCN)2, DDNP, PbN6 dan lain-lain. Bahan peledak ini biasanya digunakan untuk mengisi detonator." Yoshiro menjelaskan sambil menunjuk salah satu poin penting di bagian atas kertas. Ken memperhatikannya dengan seksama.


"Sedangkan bahan peledak sekunder adalah bahan peledak yang relatif tidak mudah meledak dengan adanya api, benturan dan gesekan. Bahan peledak ini hanya akan meledak apabila ada ledakan yang mendahuluinya, misalnya adanya ledakan detonator. Bahan peledak sekunder antara lain DNT dan ANFO."


Lagi-lagi Ken meraup wajahnya. Ia tidak menyangka masalah ini begitu rumit. Sejak awal ia sudah waspada dengan rencana tersembunyi yang diatur G untuknya, namun ia tidak tahu akan separah ini efeknya.


"Dalam suatu alat peledak atau sistem peledakan, bahan peledak primer hanya dipakai dalam jumlah yang terbatas, sekadar untuk memulai terjadinya ledakan. Ledakan yang sebenarnya diperoleh dari meledaknya bahan peledak sekunder. Meskipun bahan peledak sekunder dikatakan tidak mudah meledak dengan adanya api, benturan, gesekan dan sebagainya, namun segala upaya pencegahan terjadinya kebakaran harus benar-benar diusahakan pada saat kita mengelola bahan peledak. Bila sebagian massanya sudah mulai terbakar, maka api akan segera menjalar ke seluruh massa bahan peledak. Dan apabila bahan peledak tersebut tertutup atau menumpuk, maka akan terjadi ledakan."


"Black powder tergolong bahan peledak komersil, yakni bahan peledak yang digunakan dalam operasi-operasi konstruksi maupun pembangunan sarana dan prasarana untuk kesejahteraan manusia. Pada kenyataannya ada beberapa bahan peledak militer yang digunakan sebagai bahan peledak komersil dan sebaliknya, misalnya: PETN dan black powder."


"Bahan peledak ini tergolong low explosive yang kecepatan rambat reaksinya di bawah 1000 meter per detik. Tapi tetap saja, bahan peledak ini harus ditangani oleh orang–orang yang mengerti, penuh kewaspadaan, dan hati-hati."


"Ada dua jenis gas yang dihasilkan setelah bahan peledak ini meledak yaitu smoke dan fumes. Kedua gas ini memiliki sifat yang berbeda. Smoke tidak berbahaya sedangkan fumes berbahaya, karena terdiri dari karbon monoksida(CO) dan Nitrogen Dioksida (NO2). Jika Yamaken menggantikanmu, gas itu akan masuk ke paru-paru, melemahkan jantungnya dan membunuhnya detik itu juga."


Deg!


Ken terkejut dengan penjelasan yang disampaikan oleh Yoshiro. Ia tidak akan membiarkan adiknya menjadi tumbal. Tapi ia juga tidak tahu bagaimana mencegah ledakan yang mungkin akan terjadi esok hari.


Drrt drrtt

__ADS_1


Ponsel Ken bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Ia segera mengambilnya dan melihat siapa yang menghubunginya. Keningnya berkerut saat melihat nama yang tertera di ponselnya : Mr. G.


Ken ragu untuk menjawabnya, namun Yoshiro menganggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa tidak masalah untuk menerima panggilan itu.


"Selamat malam, Tuan G," sapa Ken lebih dulu.


"Yamazaki Kenzo, mari buat kesepakatan," ucap G to the point. Ia bahkan mengabaikan salam yang Ken ucapkan.


*to the point : langsung/tanpa basa basi


Suara G terdengar menggema di ruangan ini. Ken sengaja menyalakan fungsi speaker agar Yoshiro dan Shun juga bisa mendengar suara Ji Yong.


"Apa Anda punya waktu?" tanya G.


Hening


Kerutan di kening Ken semakin dalam. Ia tidak bisa menerka kemana arah pembicaraan pria kelahiran Korea ini.


"Saya memiliki penawaran menarik untuk Anda terkait peledakan Circle Miracle esok hari. Saya yakin Anda pasti akan menyukainya," ucap G penuh percaya diri meski Ken belum menjawab pertanyaan yang ia ajukan sebelumnya.


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Ken kesal.


"Kita bertemu di atap Miracle dalam lima belas menit. Sampai jumpa."


Tut tut tut


Panggilan itu G putuskan sepihak, membuat Ken semakin kesal dan hanya bisa mengepalkan tangannya yang terbebas di sisi badan. Ken memakai jasnya dan bersiap pergi menemui G. Ia yakin pria itu memiliki maksud terselubung.


"Apa yang kamu lakukan?" Shun mencegat langkah Ken, ia berdiri di depan pintu yang menjadi pembatas mereka bertiga dengan ruangan lain di luar.



"Menemui G." Ken menunjukkan aura gangster yang beberapa bulan ini ia sembunyikan dengan baik. Ia bahkan tersenyum seolah bersiap membantai target yang akan ia temui berikutnya.


"Apa kamu gila?" tanya Yoshiro yang kini ikut mendekat ke arah Ken.


"Semua orang tahu seberapa gilanya aku di masa lalu. Mungkin malam ini aku juga akan kembali menggila!"


Ken pergi setelah menyingkirkan Shun dari hadapannya. Ia harus menyelesaikan permasalahan ini secepat mungkin dan mencari solusi terbaik. Mungkin satu-satunya jalan adalah bersepakat dengan pembuat kekacauan itu sendiri, Kwon Ji Yong.


...****************...


Ugh.. Deg-degan author tuh bikin episode ini. See you next episode yaa,


Btw, info tentang bahan peledak di atas author ambil dari google, tepatnya di page bululengky.wordpress.com/tag/jenis-bahan-peledak/


Jadi, jika ada kesalahan, mohon dimaafkan ya. Soalnya author juga bukan ahli obat-obatan kimia kaya abang Shun sama abang Yoshiro ini sii, hehe.


Jangan lupa like dan komen yaa biar author tetep semangat update. Terima kasih untuk semua readers yang sudi mampir ke sini. Hontou ni arigatou 🙇🙏


Hanazawa Easzy 💃

__ADS_1


__ADS_2