
Matahari bersinar cerah di ufuk timur, menujukkan hari sudah beranjak siang. Burung-burung kecil hinggap di dahan, bersembunyi sambil bersiul. Satu dua tampak mematuk biji-bijian yang ada di tanah untuk mengisi perut mereka.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar, membuat atensi Ken beralih menatap papan kayu berwarna hitam tiga meter darinya. Sebelumnya, ia sedang menatap monitor di depannya dengan teliti, memeriksa laporan keuangan perusahaan yang dipimpinnya. Ia merasa ada sesuatu yang salah di sana dan harus memeriksanya lebih detail.
"Ada apa?" tanya Ken begitu pintu terbuka. Ia melihat salah satu pengasuh putranya.
"Nona Aya menangis, sepertinya dia lapar," ucap wanita dengan pakaian babysitter itu.
"Berikan padaku. Kamu bisa kembali," titah Ken lugas.
Perawat bayi itu tampak sedikit ragu. Ia enggan memberikan bayi berusia dua minggu yang kini ada dalam gendongannya. Malaikat kecil itu tengah menangis, jadi ia takut tuannya tidak bisa menghentikan tangisnya sebelum mendapat asupan gizi dari ibunya.
"Berikan padaku!" Ken menatap tajam pada pekerjanya ini.
"Maaf," ucap wanita 35 tahun itu spontan. Ia segera memberikan Ayame pada ayahnya.
Ken segera membawa putrinya mendekat ke arah Aira yang masih terbaring di atas ranjang. Istrinya masih terlelap di pagi yang mulai siang ini. Gurat kelelahan tampak di wajahnya yang bulat. Ia baru tidur satu jam yang lalu setelah begadang sampai pagi.
"Nak, ibumu masih lelah setelah menyurus kalian semalam. Dan bagaimana mungkin perutmu yang sekecil ini menampung begitu banyak air susu?" Ken menciumi pipi Aya sambil memegangi perut bayinya dengan gemas, seolah sedang menggelitiknya.
"Lihat, ibumu masih tidur," bisik Ken sembari meletakkan bayinya di depan Aira dengan hati-hati. Tangisnya telah terhenti, sepertinya dia tahu sebentar lagi keinginannya untuk makan akan segera terpenuhi.
Ya, entah itu keajaiban atau bukan, tangisnya terhenti sesaat setelah berada di gendongan ayahnya. Bahkan pengasuhnya juga sempat sedikit terkejut tadi. Meski bayi memiliki ikatan batin dengan orang tuanya, tapi biasanya itu terjadi pada ikatan ibu dan anak, bukan dengan ayah mereka.
"Siapa yang tidur?" tanya Aira dengan suara serak. Ia memeluk putrinya, mendekatkan ke badannya tanpa membuka mata.
"Kamu sudah bangun?" tanya Ken heran.
"Hmm, aku lapar." Aira mengeratkan pelukannya, membuat aroma bayinya tercium dengan jelas. Hal itu membangkitkan saraf-saraf di tubuhnya yang sempat mati suri selama ia tidur sebelumnya.
"Dia juga lapar." Ken ikut berbaring, mengabaikan kemeja merah marunnya yang mungkin akan menjadi kusut.
Perlahan kelopak mata Aira terbuka. Ia sempat mengerjap dua kali, menyesuaikan cahaya yang bersiap masuk ke dalam matanya.
Cup
"Ohayou gozaimasu, Ai-chan." Ken mencium kening istrinya cukup lama, mungkin dua atau tiga detik, membuat Aira kembali memejamkan matanya sampai suaminya menarik diri.
(Selamat pagi)
"Hmm, ohayou," gumam Aira lirih. Ia membuka pakaiannya, bersiap menyusui putrinya yang tengah menggerak-gerakkan bibirnya, mencari sumber asupan gizi untuknya.
Cup
Ken mencium daerah sensitif Aira itu dengan cepat sebelum beranjak bangun dan duduk sambil menatap istrinya. Ia memamerkan senyum terbaiknya, seolah baru saja mendapat kebahagiaan yang tak terkira.
"KEN?!!" pekik Aira spontan, napasnya tercekat. Ia terkejut dengan tingkah suaminya yang lagi-lagi melakukan hal luar biasa. Meski hanya menciumnya sekilas, tetap saja menimbulkan getaran aneh di tubuh Aira selama sepersekian detik. Dan itu juga berhasil membuat jantung ibu menyusui ini berdetak lebih cepat, mungkin dua kali lipat dari hitungan normal seseorang yang baru bangun tidur.
Plakk
Aira menepuk paha Ken cukup keras, menyalurkan kekesalannya pada bayi besar menyebalkan yang selalu bertindak semaunya sendiri ini. Ia tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang pewaris yakuza seperti Ken yang selalu terlihat garang dan misterius, bisa melakukan perbuatan yang....
Ah, Aira bahkan tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Suaminya sangat menyebalkan saat sisi kekanakannya mendominasi. Ia akan menjahili Aira dengan tingkah yang di luar nalar. Sungguh mengagumkan.
Bukannya merasa kesakitan atas pukulan yang diterimanya, Ken justru kembali mendekatkan kepalanya ke arah dada Aira. Ia bersiap mencium kulit putih di depannya yang tidak terhalang kain. Ia akan mengecupnya lagi untuk yang kedua kali.
Hap
__ADS_1
Jemari tangan Aira membekap mulut suaminya. Ia mendorongnya sekuat tenaga, membawanya menjauh dari daerah pribadi yang tengah dinikmati oleh putrinya.
"Ai-chan!!" rengek Ken seperti anak kecil. Ia menunjukkan protesnya karena tidak diperbolehkan melakukan sesuatu yang ia inginkan. Ia hanya ingin mencium dada istrinya sekilas, seperti sebelumnya.
"Mesum!" lirih Aira, dingin dan tajam.
"Aku hanya ingin... "
"Tidak boleh!" ketus Aira cepat, memotong ucapan suaminya.
Ken merajuk. Ia menatap Aira dengan pandangan sayu, menunjukkan kekecewaannya karena lagi-lagi Aira tidak memanjakannya. Ya, sifat manjanya ini semakin menjadi-jadi setelah mereka menempati rumah ini seminggu yang lalu. Bagaimana tidak? Ken seolah tidak mau kalah dengan ketiga anaknya.
Saat pulang bekerja, Ken akan meminta dipeluk oleh Aira. Bukan pelukan antara dua orang dewasa berlawanan jenis, bukan, melainkan seperti pelukan seorang ibu pada putranya. Ya, Ken akan menyembunyikan wajahnya di dada Aira, merasakan kehangatan tubuh istrinya selama kurang lebih sepuluh menit.
Awalnya Aira merasa tidak nyaman. Ia berusaha melepas pelukan suaminya berkali-kali Senin kemarin. Tapi akhirnya ia pasrah, sadar akan kebutuhan biologis suaminya yang tidak bisa ia penuhi sampai berminggu-minggu kedepan, sampai masa nifasnya selesai.
"Mau cium," lirih Ken hampir tidak terdengar.
'Astaga!' rutuk Aira dalam hati. Ia ingat pernah membaca artikel bahwa kadar hormon testosteron mencapai puncaknya pada pagi hari setelah seorang pria bangun tidur. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai 'hormon genit'.
Aira mengembuskan napas kasar, tidak mungkin baginya untuk melayani suaminya saat ini.
"Kemari!" titah Aira sembari beranjak duduk. Ia membawa Aya dalam gendongan tanpa melepas tautan mulut putrinya itu yang tengah menikmati sarapan paginya.
Ken masih membatu di tempatnya. Ia enggan bergerak satu centi pun.
"Katanya mau cium?" tanya Aira dengan nada sedikit ketus. Ia kesal karena suaminya sedang mengaktifkan mode merajuk andalannya. Dan tugasnya harus membuat mood suaminya kembali membaik sebelum pergi ke pertemuan bisnis pagi ini.
Ya, meskipun ini akhir pekan, nyatanya Ken memiliki janji temu dengan seorang kliennya dari Taiwan. Mereka akan membahas kerjasama dua negara yang akan mendatangkan keuntungan yang cukup signifikan. Ken sudah mengatakannya semalam. Itu sebabnya ia sudah berpenampilan rapi sepagi ini dalam balutan kemeja merah marun dan celana hitam andalannya.
"Boleh?" tanya Ken ragu.
Raut wajah Ken berubah 180° dalam sepersekian detik. Ia segera mengikis jaraknya dengan Aira sambil tersenyum penuh kemenangan. Bibirnya segera menikmati sajian yang ada di hadapannya tanpa ragu sedikit pun. Bahkan sebelah tangannya bergerak aktif menahan kepala istrinya, mencegahnya agar tidak menjauh sedikit pun darinya.
******* Ken semakin dalam, membuat Aira seolah kehabisan oksigen. Dadanya naik turun dengan cepat seiring dengan detak jantungnya yang terus berpacu. Kegiatan itu berlangsung cukup lama. Ken sungguh mendominasi dalam hal ini, menekan tengkuk istrinya semakin dalam. Ia tidak ingin melewatkan kesempatan yang Aira berikan.
Setidaknya, ia harus memanfaatkan momen berharganya ini sebelum berkutat dengan pekerjaan yang akan menyita waktunya selama berjam-jam, bahkan mungkin sampai sore atau malam hari. Ada dua agenda sekaligus hari ini, yakni melakukan kunjungan langsung ke pusat perbelanjaan dan melihat bagaimana keadaan pasar kosmetik yang sebenarnya di awal tahun ini. Dan agenda bertemu klien dari Taiwan itu.
"Cukup!" protes Aira saat berhasil melepaskan diri dari suaminya. Ia berusaha mengatur napas, menetralkan hormon-hormon di dalam tubuhnya yang ikut aktif karena interaksi dengan Ken tadi.
Ken sedikit kecewa. Ia belum puas dengan 'sarapan pagi'nya kali ini. Ibarat makanan, ini hanyalah appetizer atau makanan pembuka. Ia belum kenyang sama sekali.
"Kamu harus bekerja," ucap Aira yang menangkap raut kekecewaan dari wajah suaminya. "Kamu bisa melakukannya lagi nanti malam, setelah urusan pekerjaanmu selesai." Aira mengelus pipi suaminya.
"Kamu harus menepati janjimu!" Ken menatap manik mata istrinya dalam-dalam, mencari kesungguhan ucapan wanita kesayangannya ini.
"Umm, yakusoku shimasu," jawab Aira sambil menganggukkan kepalanya dengan yakin.
(Aku janji)
Cup
Ken mencium bibir istrinya sekilas.
"Sudah!" protes Aira.
Ken tersenyum dan mengacak puncak kepala istrinya dengan sayang, membuat rambutnya sedikit berantakan.
Tok tok tok
__ADS_1
"Sudah waktunya makan pagi, Tuan."
Terdengar suara Kosuke di depan pintu membuat Aira urung melayangkan protes lanjutannya. Mulutnya kembali terkatup rapat sebelum sempat mengeluarkan omelannya.
"Ya. Aku tahu," jawab Ken lugas.
"Mau sarapan bersama?" tanya Ken pada istrinya.
"Umm. Boleh, tunggu sebentar." Aira melepaskan putrinya yang kini telah menutup matanya. Bayi merah itu kembali tertidur lelap setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Berikan padaku," pinta Ken dengan lembut saat melihat Aira bersiap berdiri.
"Hmm?"
"Basuh wajah jelekmu itu. Aku tidak ingin ibu melihat wajah jelek menantunya yang baru bangun tidur," celoteh Ken jahil. Ia mengambil Aya dari dekapan Aira, bersiap memberikannya pada pengasuh yang ada di ruang sebelah.
"Memangnya kenapa kalau aku jelek dan tidak cantik? Fakta bahwa kamu yang mengejar wanita jelek ini tidak akan berubah sampai kapan pun!" Aira masuk ke kamar mandi setelah mengucapkan kalimat pedas yang membuat Ken tersenyum.
Ken mengambil sebuah sweater rajut berwarna abu-abu dari dalam lemari untuk menutupi tubuh istrinya yang hanya memakai piyama tanpa lengan. Tak lupa, ia juga menyiapkan kain segi empat yang akan menutupi mahkota istrinya dari pandangan laki-laki lain yang bukan mahramnya, seperti Kosuke dan beberapa orang lain yang sudah menunggu mereka di luar sana.
"Sudah?" tanya Aira beberapa menit kemudian. Ia meminta Ken menilai penampilannya setelah memakai hijabnya.
"Masih sama jeleknya seperti tadi!" cetus Ken sembari menarik Aira dalam pelukan.
Bugh!
Aira meninju perut suaminya pelan, "Berhenti mengataiku! Kalau memang jelek, kenapa tidak menikah saja dengan wanita cantik di luar sana? Mereka akan dengan senang hati menerimamu!" ketus Aira kesal.
"Aku boleh menikah lagi?" tanya Ken, sengaja menggoda istrinya.
Bugh!
Aira kembali meninju perut suaminya, kali ini sedikit lebih keras, tapi tidak berbahaya sama sekali.
"IN YOUR DEAM!"
(Dalam mimpimu!)
Ken terkekeh mendengar respon istrinya. Ia hanya bercanda. Lagipula, ia tahu dengan jelas, tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang rela suaminya berbagi hati dengan wanita lain.
Keduanya keluar dari kamar menuju ruang makan. Disana ada Kosuke dan beberapa pengurus rumah ini. Seorang wanita tampak menata piring di meja makan.
"Ibu, kapan ibu datang?" tanya Aira saat melihat wanita berjilbab yang kini berjarak beberapa meter darinya.
"Khumaira!" panggil wanita bernama Anita itu. Ia segera mendekat ke arah putri semata wayang yang berhambur memeluknya.
...****************...
Abang Ken makin bucin dan author makin baper 😂🐣
Cogan mana cogan..
Suami mana suami... 😣😣
Sampai jumpa di adegan-adegan perbucinan berikutnya, jangan lupa like, komen, vote, share, dan sebagainya 🤗
Terima kasih atas semua dukungan kalian selama ini. Maaf ngga bisa disebutkan satu per satu. Yah, meskipun aplikasi ini baru aja mematahkan hati author, tapi author tetep berusaha update deh. Rejeki biar Allah yang atur 🤗💕💕
Jaa mata ne,
__ADS_1
Hanazawa Easzy 💃