
Yamaken mengajak Mone mendatangi pasar ikan di salah satu sudut kota Tokyo, tepatnya di Tsukiji fish market. Disana menjual berbagai jenis hasil laut. Bahkan di bagian belakang pasar tradisional ini, ada banyak lapak yang menjual buah-buahan dan sayuran segar. Dan yang lebih menariknya lagi, Yamaken bertemu dengan seorang bibi penjual sayur yang terlihat sangat mengenal keluarga Yamazaki.
Bibi itu berbicara tentang Ken dan Aira, bahkan juga menyinggung selera kakek Yamazaki yang dia sebut 'Si Tua'. Tanpa bertanya sekalipun, Mone yakin wanita paruh baya itu pasti bukan orang sembarangan. Dia bahkan tidak heboh meski tahu profesi Yamaken yang sering bermain di depan kamera.
Dan perjalanan mereka siang itu terus berlanjut ke sebuah lapak penjual buah. Ada berbagai komoditas pertanian organik yang mereka tawarkan, mulai dari apel merah-kuning-hijau, semangka, lemon, buah plum, buah persik, nanas, mangga, pir, jeruk, kiwi, stroberi, anggur hijau dan ungu, serta beberapa sayur mayur seperti bunga kol, kentang, paprika dan beberapa sayuran lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
Yamaken mengambil sebutir anggur hijau di depannya dan mendekatkannya ke depan mulut Mone, ingin menyuapinya.
"Ayo buka mulutmu. Coba ini," pinta pria berpakaian serba hitam itu.
Mone membuka mulutnya, kemudian tertutup lagi setelah buah kaya vitamin itu berada di antara gigi-giginya yang sedang mencacah makanan. Pipi bulat tembamnya bergerak naik turun, menjadi wadah makanan manis itu sebelum masuk ke kerongkongan.
"Manis?" tanya Yamaken kemudian dan hanya dijawab dengan anggukan oleh iced girl ini. Belum ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya sejak dia menjejakkan kaki di bandara dan bertemu dengan Yamaken.
"Benarkah?"
Cup
Yamaken menarik tengkuk gadisnya, ******* bibir itu dalam sekejap dan menerobos masuk ke dalam mulut Mone yang terbuka tiba-tiba karena terkejut. Waktu seolah berhenti seketika, tak ada suara, tak ada pergerakan. Hening. Serasa dunia hanya milik berdua.
Krakk
Yamaken semakin berani, menarik pinggang ramping Mone dan menariknya mendekat. Keranjang yang ada di tangannya kini mendarat di lantai, menimbulkan bunyi yang cukup nyaring, membuat isinya tumpah begitu saja.
Mone mengalungkan tangannya pada leher Yamaken di sela-sela aktivitas panas mereka. Dia bahkan menempelkan tubuhnya pada aktor tampan ini, membuat geleyar-geleyar aneh segera dirasakan oleh pria 28 tahun ini. Dia tidak pernah seantusias ini. Mone satu-satunya gadis yang berhasil merangsek masuk ke dalam hatinya, memporakporandakan prinsipnya yang tidak ingin menikah pada awalnya.
Cup
Lidah dan mulut Yamaken terus bergerak lebih jauh. Dia menjangkau apa saja yang bisa ia tangkap dan nikmati, tidak peduli pada pandangan orang-orang yang kini ada di sekitar mereka. Dia haus dan lapar. Yamaken menyadari, pantas saja Kenzo tidak keberatan menjadi budak cinta Aira. Ternyata wanita memang bisa membuat pria kecanduan, bahkan lebih parah dari efek narkotika dan zat psikotropika lainnya.
Srett srett
Yamaken menoleh ke samping, menatap seorang gadis enam tahunan yang berdiri di sebelah kakinya. Tangan mungilnya masih setia memegangi ujung sweater yang dia kenakan, sesekali menariknya seperti tadi.
__ADS_1
"Kakak cantik itu sudah pergi." Gadis kecil itu menunjuk ke arah Mone berada.
"Hemm?" Yamaken mengerutkan kening, heran dengan ucapan anak ini.
"Kakak cantik itu di sana," celoteh gadis bersurai panjang itu. Jari telunjuknya mengarah jauh ke depan, membuat Yamaken terpaksa menoleh, mengikuti arah pandang malaikat kecil ini.
Yamaken terhenyak, hatinya tiba-tiba merasa hampa. Kehangatan dan candu yang ia dapatkan dari Mone seketika menghilang. Dia menatap sekeliling, orang-orang masih sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Pandangannya tertuju pada sebutir anggur hijau yang masih ia pegang, juga keranjang belanjaan yang masih ada di tangan satunya.
"Kakak melamun, kakak cantik itu pergi. Kembalikan anggurku!" Gadis itu merebut sebulir anggur hijau di tangan Yamaken sebelum kembali ke sisi ibunya, bibi penjual buah yang kini tersenyum canggung pada Yamaken.
"Eh?"
Yamaken terhenyak lagi, menyadari keadaan yang ada. Mone sudah berada jauh darinya, mungkin sekitar 10 atau 20 meter. Anggur hijau di tangannya sudah diambil oleh gadis kecil itu, dan tidak ada keranjang sayur jatuh di lantai atau belanjaannya yang berserakan di lantai.
Tunggu!
Yamaken menggelengkan kepalanya beberapa kali, berusaha menyadarkan dirinya sendiri tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dia meraba bibirnya yang masih tertutup masker kain warna hitam.
"Ini...."
'Jadi ciuman tadi hanya khayalanku?!' batin Yamaken kembali bertanya-tanya.
Plakk!
Sebuah tepukan mendarat di keningnya sendiri. Dia patah hati karena semua yang ia anggap terjadi barusan, ternyata hanya sekadar halusinasi atau imajinasinya saja. Nyatanya Mone sudah ada di depan sana, jauh dari jangkauan tangannya. Shit!!
Yamaken mendekati Mone yang kini berdiri di depan penjual ikan. Tangannya sigap memasukkan beberapa ekor udang ke dalam kantung plastik dan menyerahkannya pada penjual untuk ditimbang. Lagi-lagi Mone menyerahkan uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada penjual itu.
Tak lama kemudian, langkah mereka berdua sampai di tempat parkir dimana banyak kendaraan teronggok diam, ditinggalkan oleh pemiliknya. Mone menengadahkan tangannya, meminta kunci mobil. Dia ingin mengendarainya sendiri, enggan menumpang pada pria ini.
Bukannya menyerahkan kunci yang Mone inginkan, Yamaken justru menyalami tangan mungil di depannya sambil tersenyum. Mone mengerutkan keningnya, tidak sepaham dengan pria ini.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Mone tajam dan menukik. Dia menghempaskan tangan kekasihnya begitu saja dan mengambil kunci mobil di dalam saku jaket Yamaken.
__ADS_1
Detik berikutnya, gadis berwajah bulat itu sudah ada di balik kemudi, mengabaikan aktor tampan yang terpaku di tempatnya berdiri. Apa yang terjadi barusan benar-benar membuatnya semakin merasa bodoh di depan gadis ini.
Sepanjang perjalanan, tidak ada satu pun percakapan di antara dua insan yang terpaut usia delapan tahun ini. Keduanya sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Mone yang masih enggan berbicara, hatinya masih berkecamuk antara terus menjadi seorang pembunuh atau cukup sampai di sini. Sedangkan Yamaken merasa canggung. Dia merutuki kebodohannya sendiri yang sudah memikirkan hal memalukan gara-gara sebutir anggur.
Yamaken menatap pemandangan di luar saat mobil silver ini melaju di jalan raya, meninggalkan pasar ikan di belakang sana. Pria ini merasa begitu pengecut, tidak seperti kakak kembarnya, Yamazaki Kenzo. Ken adalah sosok yang paling mendominasi dalam sebuah hubungan. Mencium kekasihnya bukanlah hal yang sulit, berbanding terbalik dengannya yang bahkan tidak berani menanyai Mone tentang apa yang terjadi. Lain kali, mungkin dia harus sedikit lebih berani.
...****************...
Di saat yang bersamaan, Ken masuk ke dalam ruangan dokter Hugo. Dia sudah membuat janji temu sebelumnya, membicarakan kondisi Aira yang ia duga sedang hamil.
"Pusing dan mual tidak melulu menjadi tanda bahwa istrimu hamil. Dia mungkin hanya kelelahan mengurus buah hati kalian. Dua gejala itu bukanlah suatu penyakit, melainkan tanda adanya penyakit tertentu. Keduanya dapat berhubungan satu sama lain atau berdiri sendiri sebagai dua penyakit yang berbeda."
"Aku yakin dia hamil, Dok." Ken masih bersikeras, meminta dokter senior ini untuk mengamini pendapatnya. Namun, dokter itu menggeleng dengan tegas.
"Bukankah kamu mengatakan dia pusing? Pusing adalah istilah yang sering digunakan untuk menggambarkan berbagai sensasi yang dialami, seperti limbung, kehilangan keseimbangan, atau seperti akan pingsan. Keluhan pusing yang disertai mual dapat disebabkan banyak hal. Antara lain, gangguan hormonal (seperti kehamilan), mabuk perjalanan, penyakit mag, tekanan darah tinggi atau rendah, kadar gula darah tinggi atau rendah, ataupun vertigo."
"Anda harus datang memeriksanya. Dia pasti hamil."
Dokter Hugo tersenyum. Dia paham betul tabiat pria 28 tahun ini.
"Tanpa memeriksanya, saya yakin istrimu hanya kelelahan dan kemungkinan mengalami tekanan darah rendah seperti yang pernah terjadi sebelumnya. Tekanan darah normal adalah 120/80 mm Hg. Di bawah 90/60 mmHg, seseorang sudah tergolong mengalami tekanan darah rendah. Adapun di atas 140/00 mm Hg dapat dikatakan tekanan darah tinggi. Tekanan darah yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat menyebabkan keluhan pusing, sakit kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan penurunan kesadaran."
Ken mengepalkan tangannya erat-erat. Dia tidak percaya pada pernyataan dokter kepercayaan keluarganya. Ayah tiga anak ini tetap yakin bahwa istrinya hamil lagi. Dia bertekad untuk membuktikan bahwa pendapatnya kali ini pasti tidak akan salah.
...****************...
Si Abang emang keras kepala yaak 😥😂😂
Kita liat aja next episode, keyakinannya bener atau enggak 🤗
Btw, hubungan Mone sama si Yamaken kok alot gitu yaa? Kasian dia 😢😭😭
See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1