
"Ann, aku akan pergi keluar sebentar. Segera istirahat setelah kamu selesai melihatnya." Maria memakai baju hangatnya dan pergi begitu memastikan nonanya tidak memerlukan bantuan apapun lagi. Dia juga sudah memberikan tips untuk petugas kebersihan yang ia panggil dua jam yang lalu.
"Umm. Aku tahu," jawab Anna sambil meraih gelas kaca di sebelah laptop miliknya. "Hati-hati di jalan, Bibi."
Maria mengangguk yakin. Tanpa kecurigaan sama sekali, wanita itu pergi meninggalkan Anna. Dia tidak tahu petugas kebersihan itu tersenyum saat punggungnya menghilang di balik pintu.
"Kesempatan bagus!" lirihnya tanpa terdengar oleh siapapun.
Anna masih berkutat dengan laptop di hadapannya. Dia sama sekali tidak peduli pada pergerakan pria asing tiga meter di belakang tubuhnya. Rekaman drone yang menampilkan setiap detail apartemen Kaori, masih menjadi pusat perhatiannya.
Diam-diam, pria petugas kebersihan itu mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Dia melepas perekat yang ada di belakangnya dan menempelkannya di tepi pot bunga, sedikit tertutup dari pandangan mata.
'Anna, hati-hati dengan apa yang kalian rencanakan. Kami akan langsung mendengarnya.' Pria misterius itu bergumam dalam hati, sibuk memasang alat penyadap di tempat lainnya yang tidak mudah terlihat. Tidak kurang dari sepuluh benda kecil itu terpasang di setiap sudut rumah mewah ini. Beberapa berbentuk bulatan hitam yang menempel di benda lain, dan sisanya berbentuk batu kerikil penghias tanaman.
"Hey, kamu!" panggil Anna.
Deg!
Seketika tubuh tegap itu menengang. Dia masih memebenahi peralatannya saat tiba-tiba suara Anna menggema. Dia berdiri di belakang, hanya berjarak dua langkah saja.
'Apa dia melihat apa yang aku lakukan? Mungkinkan aku tertangkap basah?'
"Tolong bereskan mejanya dan simpan laptop itu ke dalam laci. Jangan lupa tutup pintunya saat kamu pergi."
"Ba-baik, Nona," jawabnya tergagap. Dia merasa beruntung karena sepertinya Anna tidak menaruh kecurigaan sama sekali padanya. Untunglah.
Anna masuk ke kamarnya sendiri, membiarkan pria itu seorang diri.
"Hampir saja," cetusnya lega. Dia membuka masker yang sedari tadi menghalangi organ pernapasannya dan tampaklah wajah tampan seorang Kosuke Murasawa. Dia melakukan tugas dari Ken untuk memata-matai Anna. Dan sejujurnya dia sedikit terkejut saat mengetahui ada wanita Rusia lain yang ada di balik pergerakan orang itu.
Hening.
Tak ada suara apapun. Anna sudah masuk ke dalam kamarnya. Dia mengistirahatkan badannya sebelum tumbang. Sejak peristiwa ledakan itu, kondisi tubuhnya tidak lagi seperti dulu. Kelelahan sedikit saja bisa membuatnya tak berdaya. Dan selama ini, tidak ada yang tahu tentang hal itu kecuali bibi Maria.
"Kepalaku pusing," gumamnya sambil merebahkan badannya di atas ranjang empuk warna pink di kamar utamanya. Dia sama sekali tidak menaruh curiga pada pria panggilan bibi pengasuhnya. Dia memejamkan mata, dan masuk ke alam bawah sadar setelahnya.
Kosuke bergerak cepat, matanya memicing ke segala arah. Dia mengamati keadaan sekitar dan tidak mendapati kamera pengintai dimanapun. Itu artinya, dia bisa dengan leluasa melanjutkan pekerjaannya. Dan semesta seolah mendukungnya. Laptop milik Anna masih ada di atas meja. Wanita itu bahkan tidak mematikannya, entah lupa atau memang tidak mempedulikannya.
"Silent, saatnya kamu bekerja." Kosuke memasukkan USB ke dalam komputer jinjing milik wanita cantik itu setelah menyingkirkan gelas kaca bekas coklat hangat. Dia bersiap menanamkan malware untuk meretas isi komputer di hadapannya.
__ADS_1
Pemindaian data berlangsung cukup lama, membuat Kosuke sedikit waswas. Mata tajamnya sibuk menatap pintu masuk, pintu kamar Anna, dan juga layar monitor di hadapannya. Angka itu masih terus berjalan, sesekali tersendat saat memindai file yang cukup besar.
Dentang jam antik di sudut ruangan membuat pria ini terperanjat. Suasana tegang yang dirasakannya membuat adrenalinnya bekerja lebih cepat. Untung saja dia tidak memilliki riwayat penyakit jantung.
Kosuke segera memasang sikap biasa begitu mencabut USB miliknya. Tak lupa dia memakai maskernya lagi, takut Anna tiba-tiba keluar dan mengenalinya. Itu akan berbahaya.
"Tuan Muda, saya sudah melakukan semua perintah Anda," ucap Kosuke sambil memegang earpiece di telinganya. Dia memberikan laporan pada orang yang memberikannya mandat atas pekerjaan berbahaya ini. Dibandingkan menyuruh orang lain, Kosuke lebih yakin jika ia sendiri yang turun tangan.
"Jangan lupa sadap seluruh kamera keamanan di gedung itu. Kita tidak bisa membiarkan mereka memiliki satu kesempatan pun untuk lolos." Suara seorang wanita terdengar dan Kosuke tahu siapa di ujung sana. Sebelumnya, hanya Sang Suami yang terus memberikan komando padanya.
"Baik, Nona. Saya mengerti. Anda akan segera mendapat sambungan realtime-nya begitu saya selesai melakukan tugas itu." Kosuke membenahi semua peralatan kerjanya. Dia memastikan tidak ada satupun jejak mencurigakan yang ia tinggalkan di kediaman Anna ini.
Tak lupa dia menukar kacamata milik Anna yang tergeletak di meja dengan benda miliknya yang sudah dilengkapi dengan micro camera. Aira yang menyarankan ini. Mungkin saja wanita ini bertemu dengan orang lain di luar sana.
"Kami mengandalkanmu," pungkas Aira sambil menutup telepon di genggamannya. Sambungan dua arah itu terputus detik berikutnya. Dia menatap Ken yang terlelap di hadapannya sambil memeluk putra putri kesayangannya.
Tadinya memang Ken yang terus memantau asisten pribadinya. Tapi, ternyata kantuk mulai menderanya setelah berhasil menidurkan tiga malaikat kecil menggemaskan itu. Ken menepuk-nepuk pantat ketiganya sambil berbaring, membuat triple A itu tenang dan akhirnya tertidur.
"Apa kamu lelah, sayang?" Aira mengangkat tangan Ken dari bokong Azami, meletakkannya di samping badan.
"Aku masih punya cukup tenaga jika kamu ingin 'olahraga'," jawab Ken tanpa membuka matanya. Dia memang tertidur, tapi telinganya masih berfungsi dengan baik dan bisa merespon ucapan istrinya barusan.
Wajah bulat Aira merah merona seketika. Tadinya dia menganggap suaminya ini sudah tertidur lelap, jadi berniat membenahi posisi tidur ayah dari anak-anaknya. Dia lupa jika dia seorang yakuza. Meski matanya terpejam, telinganya masih awas dengan setiap suara yang tertangkap indera pendengarannya itu.
"Ai-chan, kita belum sempat membuat adik untuk mereka. Apa sekarang waktu yang tepat?" Ken membuka matanya, menatap Aira dengan pandangan menggoda. Dia sengaja mengerlingkan matanya dua kali, berharap wanita ini menyambut baik keninginannya.
Bugh!
"Dasar mesum!" Aira melemparkan bantal di belakangnya tepat ke wajah suaminya, membuat pria itu tertawa.
"Selalu itu saja yang ada di pikiranmu. Menyebalkan!" ketus Aira sambil lalu. Dia memilih menjauh dari pria yang setahun terakhir ia lihat wajahnya setiap pagi. Semakin kesini, bukannya merasa bosan, Ken justru semakin menempel padanya. Sejak dia melahirkan, Ken semakin manja, lebih parah dari sebelumnya.
"Mau kemana, Sayang?" goda Ken melihat Aira yang bersiap keluar kamar. Bukannya marah karena Aira melemparnya dengan bantal, pria ini justru semakin berbunga-bunga. Kantuk yang semula menguasainya, kini lenyap tak bersisa.
"Mau kemana, Sayang?" Aira menirukan ucapan Ken dengan bibir meleot-leot karena tidak suka. Dia benar-benar benci dengan keadaan ini. Ken lebih merepotkan dibandingkan ketiga bayinya. Jika benar dia mengandung dan melahirkan lagi, apa jadinya rumah ini?
BAMM
Aira tidak mempedulikan pertanyaan suaminya. Dia kesal karena Ken terus mengerjar hal itu sejak pernyataannya sore tadi. Dia terbawa perasaan dan mengatakan bersedia untuk hamil lagi. Tapi, setelah dipikirkan lagi, ketiga bayinya masih terlalu kecil. Mereka bahkan belum tumbuh gigi sama sekali. Bagaimana bisa memikirkan membuat anak lagi?
__ADS_1
Sekarang saja dia harus meminta bantuan pada Sakura dan dua orang rekannya untuk mengurus Akari, Ayame, dan Azami. Jika ia memiliki satu anak lagi, siapa yang menjamin sikap manja Ken akan menghilang? Bagaimana kalau dia justru semakin kekanak-kanakkan? Bersaing dengan keempat buah hatinya.
"Mengurus satu bayi besar sama merepotkannya dengan mengurus dua puluh bayi imut dan menggemaskan. Jika begitu, lebih baik aku mendirikan panti asuhan saja! Untuk apa repot-repot hamil dan melahirkan? Pria itu pasti akan tetap sama, bersikap manja seperti sebelum-sebelumnya!" gumam Aira seorang diri.
Langkah kakinya menapaki anak tangga pendek yang menghubungkan koridor di belakangnya dengan ruang tengah dan dapur di ujung sana. Dia haus dan ingin meminum sesuatu yang menyegarkan. Dia ingat membuat infuse water siang tadi.
"Aira!" serunya, memanggil nama sendiri. "Apa kamu bodoh? Bagaimana kalau kamu hamil lagi dan bukan hanya satu bayi? Bisa saja kamu melahirkan dua, tiga atau empat bayi?!" Aira terkejut dengan narasinya sendiri. Dia sampai menghentikan langkahnya, tepat dua meter dari lemari makanan dua pintu yang ia tuju sebelumnya. "HUH! Apa aku sudah gila?!"
Aira mengingat pernyataannya pada Ken. Dia tidak mungkin menarik ucapan itu kembali. Dengan langkah tertatih, dia akhirnya sampai di tempat yang dituju.
"Astaga! Aku menjebak diriku sendiri! Bagaimana ini?" Aira mencengkeram erat gagang pintu lemari makanan. Dia merasa haus, kerongkongannya kering dan harus dialiri air secepatnya. Berbicara dengan Ken benar-benar menguras emosi. Belum lagi pemikirannya sendiri yang justru semakin gila, membayangkan memiliki kembar dua, tiga, atau bahkan empat. Bahkan tidak ada ketidakmungkinan bahwa seorang wanita bisa hamil kembar enam.
"Aaarrggg! Apa yang aku pikirkan?!" Aira menggelengkan kepalanya kuat-kuat, tidak menyadari Ken yang kini tepat ada di belakangnya.
"Kamu memikirkanku, Sayang?" Ken merebut botol air mineral yang baru saja Aira ambil dari dalam sana. Dia belum sempat meneguknya, dan pria ini mengambilnya dengan paksa.
Gluk gluk gluk
Infuse water yang Aira siapkan enam jam yang lalu, kini tandas tak bersisa. Hanya potongan lemon dan daun mint yang teronggok di bagian bawah wadah plastik itu.
"Apa masih ada yang lainnya?" tanya Ken tanpa merasa bersalah sama sekali. Dia menggeser tubuh wanitanya ke samping dan mulai mengedarkan pandangan ke dalam sana. Rasanya masih haus. Selain itu, perutnya juga terasa kosong.
"Aku lapar. Bisa masakkan sesuatu untukku?" Ken mengambil jamur enoki kemasan dari dalam refrigerator dan mengulurkannya pada Aira. Dia ingin makan sesuatu yang hangat seperti sup jamur atau semacamnya.
"Aku lelah. Masak saja sendiri kalau mau!" Aira mengisi gelas di tanganya dengan air putih. Dan detik berikutnya, gelas itu kembali berpindah tangan. Lagi-lagi Ken merebutnya. Tampaknya dia memang sengaja ingin membuat wanita ini marah.
"Apa maumu?!" tanya Aira to the point. Dia tahu Ken sengaja mencari perhatian darinya.
"Mauku?" Ken memamerkan smirk andalannya. "Aku mau kamu!"
Aira sudah menduganya. Dia tidak lagi asing dengan gelagat pria ini. Dan dia juga bukan wanita bodoh yang bisa bersiasat.
"Baiklah. Kamu akan mendapatkan yang kamu mau," ucapnya sambil tersenyum penuh arti. Ada skenario cantik yang terbayang di dalam kepala ibu tiga anak ini. "Bukankah kamu lapar?"
Apa yang akan Aira lakukan pada suaminya? Mungkinkah dia akan menuruti setiap keinginan suaminya? Atau ada kejutan lain untuk pewaris mafia kelas kakap ini?
Nantikan di bab berikutnya. See you,
Hanazawa Easzy
__ADS_1