
Aira tertegun di tempat duduknya. Dia menatap Ken dengan pandangan penuh keraguan. Semua penjelasan yang Ken berikan tentang saudara kembarnya benar-benar tidak masuk akal. Seperti cerita yang direka-reka saja.
"Kamu bercanda, 'kan?" tanyanya, tidak bisa percaya begitu saja.
Ken mengangkat kedua bahunya. Dia sudah mengatakan semua rahasia yang dimilikinya tentang seorang Yamaken.
"Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja. Itu tidak masuk akal. Di luar logika."
Kali ini senyum miring yang terlihat dari wajah seorang Yamazaki Kenzo. Dia menundukkan kepala, menatap lantai mengilap di bawah sana.
"Aku juga sulit percaya. Bahkan aku sedih jika mengingatnya. Itu sebabnya dia lebih aman jika berkutat di depan kamera, setidaknya tingkah lakunya akan terus terjaga. Semakin banyak mata mengarah padanya, semakin dia tidak bisa menunjukkan dirinya yang sebenarnya."
Aira memilih bungkam. Dia tidak tahu bagaimana harus merespon pernyataan suaminya. Yamaken itu... Ternyata dia...
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat pasangan suami istri itu saling menoleh sebelum mengarahkan pandangan ke arah pintu.
"Sayang, makanannya sudah siap. Kalian bisa keluar jika sudah selesai. Ayo sarapan bersama." Terdengar suara Anita, menggema menembus dinding dan pintu yang menjadi penghalang kamar utama di rumah ini. Meski samar, tapi Aira dan Ken masih bisa mendengarnya.
"Kalau belum selesai, lanjutkan saja." Suara Anita sedikit melemah di akhir kalimat, sepertinya wanita paruh baya itu menahan tawa.
Blush
Wajah Aira merah merona. Dia tidak tahu apa yang ibunya pikirkan tentang mereka berdua. Nyatanya mereka tidak sedang melakukan hal yang tidak-tidak. Pembahasan mereka tentang Yamaken belum berakhir, namun sepertinya harus disudahi sampai sekarang.
"Aku akan turun ambil makanan untukmu." Aira segera beranjak, siap menyusul ibunya di lantai bawah.
"Tidak perlu. Kita makan bersama. Biarkan Sakura menjaga mereka." Ken menatap satu per satu anak-anaknya yang kembali terlelap meski jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi.
Ketiga bayi lucu itu masih asik bergelung di tempatnya masing-masing. Mungkin udara pagi ini yang terasa sedikit dingin membuat mereka memilih memejamkan mata, membiarkan kedua orangtuanya bercengkerama urusan lainnya.
Aira mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Pemikirannya masih bercabang. Otaknya terasa penuh, berisi Anna dan Maria dengan segala trik kotor yang akan mereka mainkan, Kaori, Mone, dan tentu saja Yamaken.
Ken keluar dari kamar terlebih dahulu, memanggil Sakura untuk menjaga bayi kembar tiga yang masih terlelap itu.
"Sayang," panggil Ken saat melihat Aira tidak memperhatikan langkahnya. Wanita itu hampir menabrak dinding di depannya, tidak berbelok sama sekali saat melalui koridor berkelok menuju tangga. "Sudah jangan pikirkan apa yang aku katakan tadi. Dia akan baik-baik saja selama tidak ada yang memprovokasinya."
__ADS_1
Kening Aira berkerut. Dia tidak yakin seorang pria bisa mengendalikan dirinya dengan begitu tenang. Dia takut Yamaken akan menggila jika sesuatu terjadi pada Mone. Begitu juga dengan Shun, jika hadiah dari Anna dan Maria mengancam keselamatan Kaori, Shun pasti tidak akan tinggal diam.
"Mereka akan baik-baik saja." Ken mengulangi ucapannya, berharap Aira tak lagi terbebani dengan apa yang telah ia katakan tentang adik kembarnya. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Wanita ini terlihat begitu memikirkannya dan justru membuat fokusnya terpecah seperti sekarang.
"Waktunya sarapan. Sudah jangan pikirkan yang lainnya, ya?" Ken meraih pinggang istrinya, membawa kesadarannya kembali sepenuhnya.
Aira hanya mengangguk. Dia tidak yakin bisa mengenyahkan segala pemikiran di dalam kepalanya. Tapi, tak ada salahnya untuk menyisihkan hal-hal itu sejenak. Dia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
"Akhirnya kalian turun juga." Anita meletakkan semangkuk sup di tengah meja.
"Saya permisi, Nyonya." Seorang juru masak yang sedari tadi membantu Anita memasak, kini undur diri. Dia tahu keberadaannya tak lagi penting di tempat ini.
"Terima kasih atas bantuanmu."
"Anda tidak perlu berterima kasih. Ini memang tugas saya." Wanita yang hampir seusia ibu Aira itu menundukkan badan sebelum pergi. Langkahnya terhenti di depan Aira dan Ken, kemudain menundukkan badan sekali lagi.
"Terima kasih, Bibi." Aira mengapresiasi wanita yang selama ini bertanggung jawab pada pasokan makanan ia dan suaminya, juga semua pengawal yang menyertainya.
"Kalian, ayo kemari." Suara Anita membuat Ken dan Aira melanjutkan langkahnya. Mereka segera duduk dan melihat hidangan pagi ini. Ada sup bayam, ayam asam manis pedas, telur bulat balado, dan beberapa makanan lain yang tak kalah menarik. Semuanya menggugah selera, membuat mata Ken berbinar cerah.
"Makanlah." Anita tersenyum. "Ini untukmu."
Ketiganya melanjutkan makan pagi bersama, menikmati momen langka yang jarang ada. Sejak Aira menikah dan ikut suaminya ke Jepang, Anita baru pernah bertemu beberapa kali. Dan seringkali itu pertemuan yang terbatas waktunya. Dan sekarang dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu yang meninggalkan Aira seorang diri. Setidaknya, dia ingin membuatkan makanan sederhana ini untuk putri dan menantunya.
...
Di waktu yang sama, seorang pria masuk ke dalam apartemennya sendiri. Dari wajahnya dia terlihat begitu bersemangat. Seorang gadis 152 cm mengekor di belakangnya.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Mone, tak bisa lagi menahan rasa ingin tahunya. Yamaken berjanji akan memberitahu rencananya untuk menghadapi Anna. Tapi, 24 jam sudah berlalu dan pria ini belum mengatakan apa-apa.
"Apa rencanamu untuk menghadapi mereka?"
"Aku tidak punya rencana. Ikuti saja apa yang ada." Yamaken melepas jaket panjang yang sedari tadi melekat di tubuhnya. "Semua akan baik-baik saja."
Mone mengerucutkan bibirnya, sebal karena Yamaken sepertinya menganggap ini perkara sepele.
"Anna atau siapalah itu, tidak akan berani menyakitimu. Aku yakin itu."
__ADS_1
Mone mengembuskan napasnya. Dia juga tahu kalau Anna begitu menyayanginya. Tapi tidak dengan Maria. Wanita itu terlihat memiliki misi lain, justru memanfaatkan nonanya.
"Lagipula, kamu Black Diamond. Siapa yang berani melawanmu, huh?"
Lagi-lagi Mone tak bersuara. Dia tidak yakin dengan keselamatannya sendiri. Sisi iblisnya baru akan muncul saat dia merasa terancam atau orang yang ia sayangi terluka. Jika tidak, dia sama seperti gadis lainnya, terlihat lemah tak berdaya.
"Kalau begitu, katakan apa yang kamu bicarakan dengan kakak ipar. Kenapa dia memintamu mengambil earpiece itu pada Kosuke. Pasti dia memiliki pemikiran lain terhadap masalah ini."
Yamaken tersenyum. "Sudah jangan panik. Aku tidak mungkin membahayakan nyawaku sendiri. Kamu tidak perlu khawatir. Aku punya sesuatu untukmu. Tunggu di sini."
Yamaken berlari ke arah kamar pribadinya di ujung sana, meninggalkan Mone seorang diri di sofa bed di tengah ruangan ini.
Seketika napas berat Mone terembuskan. Dia terlalu tegang, memikirkan banyak hal tentang Anna dan Maria. Kepalanya berdenyut, perhatiannya tak bisa fokus pada satu hal. Ada terlalu banyak urusan yang harus ia selesaikan, mengamankan Kaori dan Shun, mencari jejak Anna, dan satu yang pasti, mengantisipasi pergerakan wanita Rusia itu.
Biasanya Anna segera mengirimkan hadiah mengejutkan sehari setelah drone itu mengamati area atau tempat sasarannya. Tapi, hampir dua hari berlalu dan belum ada tanda-tanda selanjutnya.
"Apa mungkin dia mengganti cara kerjanya? Dia tahu aku ada di pihak kakak angkat dan Kaori. Bagaimana ini?" Mone menggigit bibir bawahnya. "Aku tidak tahu cara apa yang akan diambilnya sekarang."
"Taraaaa...." Suara Yamaken berhasil membuat Mone terkejut. Ia terperanjat, tidak menyangka pria ini akan muncul tiba-tiba di belakangnya. Dia terlalu asik bermain dengan pikirannya sendiri, tidak mendengar langkah kaki Yamaken yang mendekatinya.
"Untukmu." Yamaken mengulurkan tangannya, membuat kedua netra gadis ini membola.
"Heih?" Mone mengerutkan kening detik berikutnya. "Itu? Untukku?"
Yamaken mengangguk mantap. "Benar. Untukmu."
Mone tersenyum canggung. Dia menatap Yamaken dan benda di tangannya dengan pandangan penuh tanda tanya.
* * *
Benda seperti apa yang ada di tangan Yamaken? Kenapa membuat Mone mengerutkan keningnya?
Jangan lupa tinggalkan jempol dan like kalian yaa. Ini Author lagi baik. Doube up deh yaaaa...
Jaa mata ne,
Hanazawa Easzy
__ADS_1