Gangster Boy

Gangster Boy
Masa Lalu


__ADS_3

"Anda membutuhkan sesuatu, nyonya?" tanya bibi Tsutsumi dari belakang.


"Aku lapar," jawabnya singkat.


"Saya akan menyiapkan makanan segera," wanita paruh baya itu dengan sangat cekatan bersiap memasakkan Aira sesuatu.


Aira menahan gerakan tangan wanita itu, "Aku akan makan buah saja. Bibi, lanjutkan istirahat mu," pinta Aira dengan wajah bersahabat.


"Nyonya..." lirihnya mengkhawatirkan keadaan gadis 25 tahun di depannya.


"Aku baik-baik saja," jawabnya lirih tapi sebulir air mata berhasil turun membasahi pipinya.


Aira terduduk di kursinya, memeluk pelayan wanita itu sambil menangis tersedu-sedu. Bibi Tsu menepuk-nepuk punggung mungil itu dengan iba. Dia tidak tahu apa masalah yang membuat wanita di depannya merasa sangat terguncang, tapi dari tatapan matanya sekarang terlihat ia seperti orang yang putus asa.


Tanpa mereka sadari, Ken berdiri di depan pintu dengan perasaan kalut. Ia tahu istrinya tidak baik-baik saja. Ia sudah mengambil harta paling berharga bagi seorang wanita. Dia melangkahkan kakinya mendekat tapi bibi Tsu menggeleng dan mengisyaratkan agar Ken tidak mengganggu Aira dulu.


Ken terpaku di tempatnya, ragu pada dirinya sendiri. Lagi-lagi pelayan 50 tahun itu menyuruh Ken pergi dengan isyarat tangannya. Wanita itu menggeleng beberapa kali, tidak mengizinkan Ken mendekat. Dengan berat hati, Ken kembali ke kamar dan memilih pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


10 menit berlalu...


Aira terlihat lebih tenang setelah meminum teh hijau yang bibi Tsu siapkan tadi. Matanya menerawang jauh ke halaman belakang, menatap cahaya temaram dari lampu yang menerangi kolam di tengah taman.


"Bibi, apa rasanya jadi seorang ibu?"


Wanita paruh baya itu tersenyum hangat, mencoba menenangkan lawan bicaranya. Ah, atau lebih tepatnya menenangkan dirinya sendiri.


"Menyenangkan," jawabnya singkat


Aira menatapnya tak mengerti, tapi tak menanyakan apapun.


"Seorang ibu adalah malaikat untuk putra putrinya, guru yang membantu mereka belajar, teman yang setia meladeninya bermain, dan sekaligus hakim yang menghukum mereka saat melakukan kesalahan."


"Kapan terakhir kali bibi bertemu dengan mereka?"


Wanita dengan kerutan di matanya itu tersenyum pahit, menunduk cukup lama sebelum akhirnya melepas kalung yang ia kenakan. Perlahan ia membukanya dan tampak foto seorang anak kecil berumur 3 atau 4 tahun di dalam liontin berbentuk oval itu.


"20 tahun yang lalu,"

__ADS_1


"Dimana dia sekarang?" Aira mengembalikan kalung itu pada pemiliknya.


"Dia di surga," ucapnya sambil tersenyum. Gurat kesedihan nampak jelas di wajahnya.


"Maaf," lirih Aira. Ia merasa tak enak hati sudah menyinggung hal menyedihkan ini. Seharusnya dari awal ia tidak menanyakannya.


"Tak apa. Melihat tuan muda Ken, rasanya sama seperti melihat putraku sendiri."


"Tuan muda? Bibi mengenalnya sebelum ini?"


"Aku mengurus rumah ini semenjak kematian putraku. Ken berusia 5 tahun saat pertama datang kemari. Aku juga masih baru menjadi pelayan di rumah ini"


Aira mengerutkan kening membuat alisnya bertaut, selama ini ia tidak peduli pada masa lalu Ken. Ia hanya mendengar kelakuan buruknya pada Kento karena Erina, selebihnya ia buta. Sama sekali tak tertarik untuk mencari tahu. Bahkan tanggal lahirnya saja ia tidak ingin tahu.


"Saat itu tuan muda datang bersama tuan Tsuguri dan nyonya Sumari. Mereka menitipkan Ken ke paviliun ini dan memaksanya masuk akademi disaat anak-anak seusianya masih asik bermain. Tuan besar mendidiknya dengan sangat keras. Beliau menghukumnya dengan hukuman yang berat, meski itu cucunya sendiri."


Aira menyimak dengan seksama story telling yang bibi Tsu jabarkan. Sesekali ia meminum teh hijaunya yang berhasil membuatnya tenang.


"Bagaimana dengan saudara kembarnya, Kento?"


"Aku tidak tahu banyak tentang saudara kembar tuan muda, yang ku dengar saat kecil ia punya lemah jantung. Makanya ia tidak bisa masuk ke akademi,"


"Benar. Beliau pindah beberapa bulan yang lalu karena kondisi kesehatannya sedikit memburuk. Kamu pernah bertemu dengan beliau?"


Aira hanya mengangguk.


"Oh, maaf saya lancang pada anda. Tidak seharusnya saya memanggil anda dengan sebutan 'kamu'," ralatnya segera.


"Bibi, jangan sungkan padaku. Tolong anggap aku seperti putrimu sendiri. Bolehkah?"


"Eh?" Bibi Tsu menatap Aira dengan heran. Permintaannya terdengar aneh.


"Ibu tidak pernah memelukku seperti yang bibi lakukan tadi. Itu pertama kalinya aku tahu rasanya dipeluk oleh seseorang yang biasanya dipanggil ibu,"


"Apa ibumu sudah tiada?" tanyanya hati-hati.


Aira menggeleng lemah, " Ibu masuk penjara sejak aku kecil. Aku berpindah-pindah dari rumah saudara yang satu ke yang lainnya. Dimanapun aku berada, mereka tak pernah benar-benar menerimaku. Mereka hanya iba padaku dan jika ada kesempatan mereka akan melemparku ke keluarga yang lain," Aira menunduk mengingat masa mudanya yang terbilang kacau tanpa keluarga.

__ADS_1


Bibi Tsu menggenggam tangan mungil itu, mengelusnya perlahan sambil tersenyum. Aira merasakan kehangatan di hatinya, ia bisa mengangkat dagunya dan menatap wanita di depannya dengan harapan mendapat teman berbagi cerita.


"Saat usiaku 12 tahun, aku memutuskan pergi ke kota besar seorang diri. Mungkin orang lain menyebutnya kabur dari rumah, tapi aku tidak benar-benar punya rumah. Aku menyusul teman masa kecilku yang pindah ke kota, tapi ternyata tak bisa menemukannya. Aku datang ke sebuah panti dan mereka mau menerimaku. Dengan kehidupan serba seadanya, aku lulus dari SMA dan mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan yang ternyata milik Ken. Dan sampailah aku disini sekarang," pungkasnya.


"Kehidupanmu begitu berat di masa lalu. Lalu bagaimana keadaan ibumu sekarang?"


"Ken sudah membebaskannya sebelum kami menikah, tapi..." Aira tak mampu meneruskan kata-katanya. Dadanya sesak akan perasaan benci dan rindu yang bersamaan.


"Ada apa?" Bibi tampak khawatir melihat Aira memukul-mukul dadanya sendiri.


"Aku membencinya. Aku benci karena dia tidak pernah ada di sampingku. Dia tidak pernah muncul saat teman-temanku mengambil rapor dengan ibu mereka. Ia tak pernah bertanya apa aku lapar saat tak ada sesuap nasi pun yang masuk ke mulutku hari itu. Aku tidak ingin bertemu ibu, dan aku tidak ingin menjadi seorang ibu,"


Bibi Tsu bangkit dan segera memeluk Aira yang masih terduduk di kursinya, "Tidak nak, bukan begitu. Ibumu pasti akan melakukan semua itu jika ia bisa. Ia tidak punya pilihan lain dan hanya bisa mendoakan kebaikanmu setiap waktu. Dalam lubuk hatinya yang terdalam ia sangat mencintaimu, sangat menginginkan kebahagiaanmu. Percayalah,"


Aira menggeleng lemah, "Aku sudah memutuskannya. Tidak ada yang namanya cinta, tidak ada yang namanya bahagia. Setiap rasa sakit yang aku derita, saat itu pula aku menikam satu belati ke hatiku yang masih saja berharap ibu kembali. Aku lelah membohongi diriku sendiri. Aku lelah berpura-pura baik-baik saja. Semua orang hanya ingin mendapatkan apa yang mereka inginkan. Bukan tentang cinta. Itu semua hanya kerjasama yang saling menguntungkan,"


Hening


Bibi tak menjawab apapun, tangannya masih setia mengelus pundak ringkih di hadapannya. Memberikan kekuatan pada gadis yang terjebak di situasi tak diinginkan ini.


Sementara beberapa meter di belakang mereka, Ken terpaku di tempatnya. Ia mendengar semua kisah masa lalu istrinya. Ia tidak seharusnya membuatnya menderita lagi.


"Aku akan membuatmu bahagia. Dan aku... Aku akan membuatmu mengerti arti cinta," tekadnya lirih.


*******


Konbanwa minna san...


Author balik lagi nih. Oh iya author keinget kata-kata ini,


Seseorang berubah karena ia pernah terluka. Mau tidak mau ia harus bertahan dan menguatkan dirinya sendiri saat tak ada lagi bahu untuk bersandar.


So keep spirit teman-teman. Kita pasti bisa menghadapi badai ini. Di masa depan nanti, kita bisa tersenyum menceritakan betapa hebatnya perjuangan kita hari ini.


Stay save, stay healthy, stay rebahan 😂😂 be strong 🤗


Love you all,

__ADS_1


Hanazawaeaszy


__ADS_2