
"Berapa banyak wanita yang sudah melayanimu?" tanya Aira sarkas.
Ken masih terdiam. Tangannya mengepal erat di samping badan.
"Atau mungkin Erina meninggalkanmu karena hal ini?"
"DIAM !!" bentak Ken. Kemarahan telah naik ke ubun-ubunnya jika membicarakan gadis cinta pertamanya, "Tutup mulutmu atau kamu akan merasakan akibatnya,"
"Benarkah? Apa yang akan kamu lakukan? Membunuhku? Sayangnya aku dengar kamu tidak bisa membunuh seseorang setelah melihat cinta pertamamu sendiri meregang nyawa" tantang Aira.
Seketika Ken menarik ikat pinggangnya dengan amarah berkobar, "Aku tidak akan segan membunuhmu sekarang,"
Ctakk
Terdengar suara ikat pinggang yang Ken lecutkan menabrak meja. Ken menggenggamnya erat sambil menatap Aira penuh amarah, "Apa kamu takut?"
"Lakukan yang kamu inginkan," Aira berdiri membelakangi Ken. Perlahan ia membuka kancing piyamanya dan menariknya ke bawah. Membiarkan punggungnya terekspos. Bersiap menerima cambukan ikat pinggang tebal itu.
Seketika Ken ragu. Tangannya semakin erat menggenggam ikat pinggangnya, tapi hati kecilnya tak tega melakukan hal buruk itu pada punggung mungil yang berada di depannya.
"Pria lemah sepertimu hanya bisa menggertak," ucap Aira sambil menatap Ken sekilas, "Jika aku jadi Erina, aku juga akan meninggalkanmu," Aira sengaja memancing kemarahan suaminya.
"DIAM !!" bentak Ken.
Ctarr
Sebuah cambukan mendarat di punggung Aira meninggalkan bekas kemerahan memanjang dari punggung kanan ke pinggang kirinya. Sebulir air mata turun membasahi pipi chubby gadis itu. Nafasnya tercekat, tubuhnya menegang menahan sakit.
Ken terus melakukannya berkali-kali. Melampiaskan amarahnya pada Aira yang tetap berdiri di tempatnya.
"Tarik ucapanmu dan memohonlah, aku akan mengampunimu !!" bentak Ken di sela-sela gerakan tangannya mencambuk Aira.
Aira tak bergeming di tempatnya. Ia lelah berpura-pura baik-baik saja. Akan lebih baik jika Ken menghabisinya kali ini. Dia tidak perlu menjalani hari-hari penuh tekanan ini.
"Ken, apa yang kamu lakukan?"
Kento berteriak dari luar sembari menggedor pintu dengan tak sabar. Ken tak merasa terusik dan meneruskan perbuatannya.
"KEN.... BUKA PINTUNYA," teriak Kento tanpa menghiraukan sekitar.
Naru, ayah, ibu dan kakek mendekatinya. Beberapa pelayan juga melihatnya dari jauh. Mereka bisa mendengar suara cambukan dari dalam kamar.
__ADS_1
"Ayah tolong bantu aku," pinta Ken. Ia dan ayah mengambil ancang-ancang di depan pintu.
"1... 2... 3...,"
Brakk
Mereka mendobrak dengan paksa pintu kayu itu. Kento langsung menghambur ke dalam dan melihat Ken yang sedang memegang ikat pinggangnya. Seketika ia menoleh ke arah lain dan melihat Aira dengan punggung penuh luka kemerahan dan beberapa terlihat mengeluarkan darah.
"KEN," Kento mencoba menahan lengan kakak kembarnya dan merebut ikat pinggang hitam itu. Tapi Ken mendorong adiknya menjauh dan kembali menghujani tubuh istrinya dengan cambukan lagi.
Bugghh
Kento memukul rahang Ken dengan sekuat tenaga dan berhasil membuatnya limbung. Ikat pinggang itu langsung Kento buang menjauh dari kakaknya.
"Apa kamu gila? Kamu bisa membunuhnya !" teriak Kento tak percaya pada ulah kakaknya sendiri.
Naru dan ibu segera menghampiri Aira yang seketika itu luruh ke lantai. Ia kehabisan tenaga, rasa perih menjalar di sekujur tubuhnya. Naru menopangnya dan segera memakaikan piyamanya menutupi punggung yang penuh luka. Air matanya menetes dalam diam, merasa iba pada kakak iparnya itu. Mengingatkannya pada Erina yang bersimbah darah 5 tahun lalu.
"Bodoh. Apa yang kamu lakukan pada istrimu?" Kento mencengkeram krah Ken dengan penuh emosi.
"Bukan urusanmu," jawab Ken datar.
"Kak, kakak ipar pingsan," panggil Naru menghentikan gerakan Kento, "Kita harus segera membawanya ke rumah sakit,"
Kento segera mendekati mereka dan mengangkat Aira dalam gendongannya, bersiap membawanya keluar. Langkahnya terhenti karena Ken menghalangi jalannya.
"Minggir !" perintah Kento panik.
Ken menahan bahu adiknya, "Dia milikku. Apa kamu ingin mengambilnya lagi seperti sebelumnya?" tanya Ken datar.
Seketika hati Kento mencelos, ia merelakan Aira yang sekarang berpindah ke dalam gendongan kakaknya. Ia terdiam di tempatnya, memandang kepergian semua orang keluar dari kamar ini.
"Gomen ne, Erina, Aira," ucapnya lirih.
*******
Rumah sakit, 07.23 a.m
Aira menatap bunga krisan ungu yang ada di meja. Pandangannya kosong. Ia bahkan tak menyahut saat Naru menanyakan keadaannya barusan.
"Kakak ipar," panggil Naru seraya mengelus lengan mungil di depannya itu perlahan.
__ADS_1
Gadis itu duduk didepan Aira dan tersenyum dengan tulus. Berusaha menguatkan hatinya sendiri agar tak menangis melihat luka yang dibiarkan terbuka itu. Sebuah selimut biru hanya menutupi tubuh Aira bagian depan.
Aira memandangnya tanpa ekspresi. Ia seolah mati rasa. Tak ada kebahagiaan di matanya, semua penuh dengan kesedihan yang mendalam.
"Kak, aku bawakan buah. Aku akan mengupasnya," Naru beranjak ke wastafel untuk mencuci apel dan beberapa butir anggur. Ia dengan telaten mengupas dan memotongnya.
"Kak, buka mulutmu" pinta Naru seraya menyuapi Aira dengan sepotong apel yang ia siapkan tadi.
Aira meliriknya sekilas dan kembali menatap bunga krisan di belakang Naru. Tak menghiraukan adik iparnya yang kini tampak berkaca-kaca.
Ceklekk
Pintu terbuka dan menampilkan Ken yang datang sembari membawa nampan berisi sarapan untuk istrinya yang sudah disiapkan oleh rumah sakit. Naru segera beranjak dan berdiri di belakang kakaknya.
"Makan," Ken menyodorkan sesendok makanan di depan mulut Aira, bersiap menyuapinya. Namun lagi-lagi Aira tak bergeming.
Seketika Ken memasukkan makanan itu ke mulutnya sendiri, mengunyahnya beberapa kali kemudian mendekati Aira dan langsung mencium bibirnya. Ia mendorong makanan di dalam mulutnya agar masuk ke mulut Aira dengan paksa.
"Uhukk uhukk.." Aira terbatuk karena terkejut dengan perlakuan suaminya. Ia hendak memuntahkannya saat Ken menarik diri.
"Telan atau ku lakukan yang lebih ekstrim," ancamnya.
Aira terpaksa menelannya dengan susah payah. Sebulir air mata membasahi pipinya. Ia masih trauma dengan perlakuan Ken semalam, dan pagi ini laki-laki itu berulah lagi. Naru hanya bisa mematung di tempatnya melihat hal itu. Dengan karakter kakaknya yang pemaksa, ia tidak akan bisa menghentikannya.
Ken menyuapi Aira dalam diam. Sebenarnya ia juga merasa tidak tega melihat keadaannya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, ia tidak bisa kembali ke masa lalu. Yang bisa ia lakukan sekarang hanya mengurus Aira dengan baik agar ia lekas sembuh.
*******
3 hari berlalu, luka di punggung Aira mulai mengering. Dan hari ini ia diizinkan pulang.
"Perjanjianku dengan kakek benar adanya. Apa kamu ingin berpisah denganku sekarang?" tanya Ken dingin sambil mengoles obat di punggung Aira.
Aira tak menjawabnya, merapatkan selimut yang menutupi dadanya yang masih terduduk di brangkar rumah sakit. Sejak kejadian itu, tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Entah itu ibu, Naru atau bahkan Ken sekalipun, ia tetap mendiamkannya. Ia marah pada orang-orang ini. Sejak awal mereka mengetahui perjanjian itu tapi tak berbuat apapun. Aira merasa dirinya hanya sebagai properti perjanjian, bukan sebagai istri yang sebenarnya.
Ken meletakkan tas berisi baju ganti Aira di ujung brangkar, "Pakailah. Kita pulang sekarang," ungkap Ken seraya membereskan obat-obatan yang barusan ia gunakan untuk mengoles luka Aira.
"Maafkan aku," ucap Ken lirih.
Aira tak menggubrisnya dan berlalu ke kamar mandi.
*******
__ADS_1