Gangster Boy

Gangster Boy
Season 2 : Pengakuan


__ADS_3

Apa kabar Ken? Sejak menjadi mualaf sehari sebelum menikahinya, Aira belum pernah melihatnya melaksanakan sholat kecuali saat pertama kali dibimbing oleh Pak Amin, ustadz yang membimbingnya mengucapkan 2 kalimat syahadat. Betapa berdosanya ia yang tidak membimbing Ken, membiarkan status muslim hanya ada di kartu identitasnya semata.


"Ken, ayo sholat.." ajak Aira. Netranya menangkap jam dinding yang menunjukkan pukul 05.45 sore. Beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang.


Seketika Ken bangkit dari pangkuan Aira, ia menatap istrinya lekat-lekat.


"Sholat?" alisnya bertaut menyiratkan keheranan dengan jelas. Ya, selama hampir 7 bulan mereka bersama, ini pertama kalinya Aira mengajaknya sholat.


Aira mengangguk, "Umm, berdoa.. Beribadah.." jawabnya singkat agar mudah dimengerti suaminya yang masih sangat awam tentang Islam.


"Kenapa harus sholat?" tanya Ken datar.


"Karena itu kewajiban kita sebagai muslim." jawab Aira singkat.


"Bagaimana jika kita tidak melakukannya?"


"Itu sebuah kesalahan yang fatal Ken. Sangat fatal..." Aira menggenggam tangan suaminya yang kini duduk di hadapannya dengan erat. Keduanya duduk menatap wajah satu sama lain. Tatapan Ken yang intens seolah bersiap mendengarkan apa saja yang Aira katakan. Sebanyak apapun itu, tentang apa saja.


"Aku tidak bisa menjaga sholat lima waktuku, padahal aku terlahir muslim. Selama ini aku hanya sholat jika sempat, itupun hanya sebatas penggugur kewajiban bukan panggilan hati. Setelah melihat Ayana, aku sadar aku melakukan banyak kesalahan selama ini." Aira menundukkan wajahnya, merasa malu atas pengakuannya sendiri.


"Aku beberapa kali membaca artikel tentangnya, itu sedikit menggugah kesadaranku untuk beribadah. Ayana berhasil menemukan jati dirinya sebagai seorang muslimah di usia 16 tahun. Ia begitu gigih belajar tentang Islam, bahkan bisa mengajak adiknya masuk Islam. Tapi semangatku itu hanya sesaat, setelah disibukkan oleh deadline pekerjaan dan segala macam rutinitas kantor, aku kembali mengabaikan ibadahku. Dan saat aku mulai bertemu denganmu, aku semakin lalai dan melupakan kebutuhan rohaniku. Berjibaku dengan segala peliknya hidup, membuatku semakin jauh dari Tuhanku. Aku malu mengingat semua kebodohanku di masa lalu. Ken, apa kamu masih mau menerimaku dengan segala keburukanku ini?" Aira menatap Ken dengan mata berkaca-kaca.


Ken tersenyum, meraih tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan. Ia mengusap puncak kepala Aira penuh cinta, "Aku juga memiliki begitu banyak kesalahan padamu di masa lalu, aku belum bisa menjadi imam yang baik untukmu."


Deg


"Imam?" Aira menarik diri mendengar pengakuan Ken, ia heran dari mana suaminya itu tahu istilah 'imam'. Untuk mualaf sepertinya, itu pastilah sesuatu yang asing.


"Aku belajar Islam belakangan ini." aku Ken malu-malu. Pipinya memerah, ia bahkan sampai memalingkan wajahnya agar netranya tidak bersitatap dengan Aira.


"Belajar Islam?" Aira membulatkan matanya, tak percaya dengan indera pendengarannya sendiri. Ia bahkan sampai mengguncang lengan di hadapannya agar Ken kembali menatapnya.


"Ayo makan. Aku akan menceritakannya nanti." ajak Ken mengalihkan pembicaraan. Jujur saja ia belum siap mengatakan rahasianya selama ini.


*******


Jam dinding menunjukkan pukul delapan malam saat Ken dan Aira duduk di beranda apartemen mewah mereka. Menatap barisan bintang yang bertaburan di angkasa yang gelap gulita. Keduanya selesai makan beberapa saat yang lalu dan dilanjutkan dengan sholat berjamaah.


Hal mengejutkan terjadi, Ken bisa menjadi imam sholat untuk Aira. Meskipun dengan bacaan seadanya hanya sebatas surat al fatihah dan al ikhlas, namun hal itu berhasil membuat Aira berkaca-kaca hampir menangis.


"Kamu mengejutkanku.." ucap Aira sambil membelai surai hitam suaminya. Ken berbaring di pangkuan Aira seperti sebelumnya, sore tadi saat petang menjelang.


(surai : rambut kepala)


Ken tersenyum menatap wajah istrinya dari bawah sambil memainkan ujung rambut Aira yang sedikit ikal. Nampaknya itu akan jadi rutinitas yang menyenangkan untuk Ken kedepannya.


"Itu pujian atau cibiran untukku?" tanya Ken sembari mengangkat sebelah alisnya. Ia menarik sehelai rambut Aira dan mencabutnya dengan tiba-tiba, membuat mata Aira membulat seketika merasakan perih di salah satu sisi kepalanya.


"ITAI !!" Aira mencekal jemari Ken yang berusaha menarik helaian rambutnya sekali lagi, "Berhenti menggodaku ?!" pinta Aira sambil mencubit perut suaminya sebagai balasan karena mencabut sehelai rambutnya.


(itai : sakit)


"Aa.. Ai-chan. Yamete !! Ita... Itai..." teriak Ken. Seketika ia bangkit dari pangkuan Aira dan berdiri menjauh dari istrinya sambil memegangi perutnya yang terasa sakit.


(Aa... Ai-chan. Berhenti !! Sa... Sakit...)

__ADS_1


*yamete adalah kata perintah yang berasal dari kata yameru, artinya stop/berhenti. Lebih sopan jika ditambah 'kudasai': yamete kudasai


"Ishh... Kenapa emosinya mudah sekali berubah?" gumamnya lirih hampir tak terdengar. Ken mengangkat sebelah bibirnya, menemukan ide brilian untuk menggoda Aira. Ia membuka baju, mengusap perutnya perlahan yang terlihat kemerahan. Ken mengernyitkan keningnya pura-pura kesakitan.


"Apa yang kamu lakukan? Pakai bajumu ?!" perintah Aira kesal. Ia selalu canggung melihat tubuh bagian atas suaminya yang shirtless.


(shirtless : bertelanjang dada)


"Apa kamu malu?" Ken mendekat dan meraih dagu istrinya. Pipinya yang kemerahan benar-benar sesuai namanya, Khumaira : merona.


"Berhenti menggodaku !" Aira menangkap pergelangan tangan Ken dan menariknya agar duduk di sampingnya, membuat beberapa bantal terjatuh ke lantai.



Dekorasi balkon apartemen Ken terasa hangat dengan hiasan lampu berwarna kuning di bawah kursi kayu berlapis busa hitam yang Aira duduki. Lagi-lagi warna hitam. Aira tak habis pikir kenapa suaminya itu selalu memilih warna gelap itu dalam semua dekorasi ruangan di rumah mereka.


"Aku menyesal menggoda singa betina. Dia garang dan sangat kejam" sesal Ken menampilkan wajah sedihnya membuat Aira tak kuasa meraih tangan suaminya.


"Maafkan aku Ken..." ucap Aira merasa bersalah karena Ken tak mau menatapnya, "Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya kesal karena kamu begitu suka menggodaku." sesalnya.


Perlahan Ken menatap istrinya, bahkan menepuk puncak kepalanya dengan sayang.


"Tidak masalah. Aku tidak akan menggodamu lagi," Ken mencubit hidung istrinya, menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri yang berhasil membuat Aira menatapnya dengan garang.


"Ken?!" teriakan Aira terdengar sedikit aneh, suaranya tertahan dan sedikit berdengung karena hidungnya tersumbat dua jari suaminya. Ia memukul lengan Ken yang terus saja menggodanya, padahal ia ingin mendengar cerita Ken tentang hijrahnya.


"Baiklah... Baiklah..." Ken membaringkan Aira ke atas pangkuannya, "Apa yang ingin kamu dengar?"


"Sejak kapan kamu belajar tentang Islam?"


"Sejak kamu masuk akademi, mungkin 5 atau 6 bulan yang lalu." jawab Ken seraya menyisir rambut panjang Aira menggunakan jemarinya yang kokoh.


"Kamu berusaha agar layak masuk dalam duniaku, bukankah aku juga harus memantaskan diri sebagai suamimu?" jemari Ken berpindah menyusuri alis mata Aira, merabanya dari ujung ke ujung. Menikmati helaian rambut halus yang tertata rapi di atas mata bulat favoritnya itu. Semua bagian tubuh Aira sekarang menjadi candu untuknya, namun mata bulat itu tak pernah bisa Ken munafikan pesonanya. Tatapan yang tajam dan menusuk bisa membunuh Ken detik itu juga. Namun tatapan hangat dan manjanya membuat Ken ingin selalu merengkuhnya, membelai wanitanya dan tak ingin berpisah darinya.


"Aku menyadari ada begitu banyak hal yang belum aku ketahui. Tentang arti kita hidup di dunia ini."


"Jadi jawaban apa yang kamu peroleh?"


"Pak Amin mengatakan bahwa kita hidup di dunia ini seperti 'mampir minum', hanya sebentar dan ada tujuan lain yang lebih mulia, yaitu surga. Kita hidup untuk mencari ridho ilahi, entah apa pekerjaan kita, ataupun status sosial kita di masyarakat. Sebaik-baik manusia adalah yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain." Ken mengusap kepala Aira yang nampaknya mulai didera kantuk, terlihat dari pandangan matanya yang hanya tersisa beberapa watt saja. Mulai tampak sayu dan bersiap masuk ke alam bawah sadarnya.


"Beliau mengatakan pertemuan kita adalah takdir. Kamu adalah takdirku yang telah Allah siapkan bahkan sebelum aku lahir ke dunia ini. Aku akan mempertanggungjawabkanmu di hadapanNya kelak, jadi aku harus bisa menjadi pemimpinmu dalam segala hal, termasuk beribadah/sholat. Jadi, ayo kita bekerjasama, Ai-chan..." ajak Ken dengan semangat.


Zzzzz....


Tak ada respon apapun dari Aira. Ken menundukkan pandangannya dan mendapati Aira telah menutup mata. Nafasnya yang lemah namun teratur menandakan ia telah masuk ke alam bawah sadarnya dengan sempurna. Hal itu berhasil membuat Ken tersenyum lebar, menampilkan lesung pipi di kedua sisi wajahnya.


"Apa kamu mengabaikanku? Aku akan menghukummu.." sebuah seringai muncul di bibir pria kelahiran Tokyo itu. Ia memajukan wajahnya bersiap mencium Aira. Jarak keduanya hanya tinggal beberapa centimeter sebelum...


Drrtt drrtt


Getaran ponsel Ken membuatnya urung mencium Aira yang telah tertidur nyenyak. Nama yang tertera di layar membuat atensi Ken tersita. Ia mengerutkan keningnya dan terpaksa merelakan kesempatannya 'menikmati' Aira.


"Ada apa, senpai?" tanya Ken penasaran. Yoshiro menghubunginya lebih dulu, pasti ada hal mendesak yang ingin ia sampaikan.


(senpai : senior)

__ADS_1


"Seseorang mencuri data penelitianku tentang Aira. Pastikan kamu menjaga istrimu dengan baik disana, sisanya akan aku urus dari sini." ucap Yoshiro to the point.


"Siapa yang berani mengusik kita? Apa dia seseorang dari dunia gelap?" tanya Ken sarkas. Ia tidak menyadari Aira mendengar penuturan dua arah itu.


"Aku masih melacaknya. Jangan biarkan Aira pergi sendiri. Aku khawatir 'orang itu' akan menggunakannya untuk menyerangmu. Ingat prinsip sensei, cinta adalah kekuatan sekaligus kelemahan terbesar untuk 'pebisnis' seperti kita." Yoshiro mengingatkan Ken. Bukan tanpa alasan ia mengatakan hal itu, ada begitu banyak musuh mereka di dunia mafia, seperti halnya wanita dengan bekas luka di wajah, atau pria yang menyuntikkan racun ular saat Aira diculik. Mereka sama-sama menyasar Aira untuk melumpuhkan Ken.


"Aku tahu. Jangan menghubungiku lagi malam ini. Ada misi lain yang harus segera ku selesaikan." ucap Ken dengan percaya diri.


Ken menutup telepon seniornya itu tanpa berpamitan. Ia segera menonaktifkan ponselnya dan beralih menatap wajah chubby di hadapannya.


"Ai-chan, ayo kita lanjutkan." Ken kembali mendekati wajah istrinya. Ia menutup matanya, bersiap menempelkan bibirnya pada Aira.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Aira dengan nafas tercekat. Tangannya menahan dada Ken agar tetap di posisinya, tak semakin mendekat ke arahnya. Jujur saja, ia juga gugup saat ini. Jantungnya berdegup kencang seolah sedang berdisko meski tanpa musik yang mengiringinya.


"Aku lapar. Kamu punya sesuatu untuk dimakan?" tanya Aira sambil menarik kepalanya dari kungkungan Ken. Ia memasang wajah tanpa dosa dan berusaha mencari alasan lain agar bisa kabur dari serangan suaminya.


Hal itu membuat Ken menghembuskan nafasnya dengan kasar, ia beranjak ke dapur mengambilkan makanan untuk Aira. Seperti yang dokter katakan, istrinya itu harus banyak makan agar kondisi janin di perutnya tetap sehat.



"Apa ini cukup mengenyangkan kalian?" tanya Ken dengan wajah masam. Bagaimana tidak? Ia gagal mencium Aira, justru harus repot membuat makanan agar istri dan anaknya tidak kelaparan. Dokter bilang terkadang seorang istri meminta sesuatu yang aneh, dan bisa jadi itu adalah permintaan janin di dalam rahimnya, bukan keinginan si ibu.


Ken tahu betul kebiasaan baru Aira, ia tidak akan makan apapun lewat dari jam 8 malam. Ia juga melakukannya sesuai bimbingan sensei di akademi, demi penampilan perutnya agar tidak buncit.


(sensei : guru/pembimbing)


Aira tersenyum melihat salad buah yang Ken bawa. Terlihat segar dan menggugah selera makannya. Ia membenarkan piyamanya kemudian menggulung rambutnya ke atas, sebelum menusukkan sebuah tusuk rambut yang tersimpan di sakunya. Gerakannya itu berhasil menampilkan lehernya yang mulus. Beberapa helai rambutnya berhasil lolos dan kembali turun ke sisi lehernya.


Glek


Ken menelan salivanya dengan kasar, terlihat dari jakunnya yang turun kemudian naik lagi dengan cepat. Ia adalah pria yang normal, sangat normal. Melihat gerakan Aira barusan, membuat libidonya meningkat. Sayangnya Aira tidak menyadarinya. Ia tidak bisa mendengar detak jantung Ken yang seperti sedang menabuh genderang sebelum perang. Atau memang Ken sudah mulai berperang melawan dirinya sendiri?


Ingin sekali rasanya ia menikmati 'hidangan' di hadapannya, tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat atau ia akan membuat Aira marah lagi. Jika hal itu terjadi, bukan perutnya saja yang akan menjadi korban, bisa jadi ia akan diusir dari kamar mereka.


Ken berdiri agak jauh dari Aira setelah menyerahkan semangkuk buah segar itu pada istrinya, sedikit menjaga jarak aman. Ia takut akan lepas kendali jika terus menempel pada Aira dengan segala pesonanya. Pesona yang tidak disadari oleh wanita chubby 153 cm itu.


"Habiskan makananmu.." Ken berlalu, masuk ke kamar mereka dan mulai bersembunyi dibalik selimut. Ia memejamkan matanya mencoba meredam iblis dalam dirinya yang mencoba bangkit.


Beberapa menit berlalu tapi ia tidak bisa mengenyahkan keinginannya untuk menyentuh Aira. Ia memutuskan untuk masuk ke kamar mandi dan mulai membasahi tubuhnya di bawah guyuran air dingin yang terpancar dari shower.


Jika bukan karena larangan dokter yang memintanya membiarkan Aira 'istirahat' selama beberapa hari, mungkin ia tidak akan tersiksa seperti ini.


"Baka..!"


(baka : bodoh)


*******


Hai readers tercinta... Akhirnya author come back 😢😢


Selamat menikmati kehaluan author ini. Maaf yaa update nya lama. Terima kasih untuk semua doa dari kalian, see you next day. Semoga author bisa up secepatnya yaa...


Selamat hari raya Idul Adha untuk yang merayakan. Jadikan momentum ini agar kita semakin dekat dengan Allah. Be smart muslim/muslimah yaa dear, 🤗😘


Jaa mata ne,

__ADS_1


With love,


Hanazawa easzy ^^


__ADS_2