Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Surat Wasiat Palsu


__ADS_3

Aira muntah begitu tersadar dari pingsannya. Saat ini Sakura tengah mengurusnya, mengganti pakaian dan alas kasur di bawah tubuhnya. Hal itu membuat Ken merasa semakin bersalah. Dia tidak ingin menyakiti Aira, tapi wanita itu bersikeras ingin menemui kakek untuk membicarakan tentang pembatalan keberangkatan mereka ke  ndonesia.


"Silakan, Nyonya." Sakura kembali meminta Aira meminum air hangat yang telah ia siapkan.


"Dimana anak-anak?" tanya Aira, menatap gadis dengan mata sipit yang telah merawatnya dengan tulus.


Sakura tersenyum, dia tahu benar besarnya kasih sayang Aira pada putra putrinya yang menggemaskan. Bahkan hal pertama yang dia tanyakan adalah anak-anak, bukan suaminya.


"Mereka sudah tertidur di kamar sebelah. Nyonya tidak perlu khawatir." Sakura semakin mendekatkan gelas di tangannya ke mulut Aira. "Silakan, Nyonya."


Aira kembali menyesap air tanpa warna itu, membiarkan cairan hangat segera melewati kerongkongannya. Dari ujung matanya, dia bisa melihat Ken yang berdiri di balkon sambil mencengkeram besi berulir di depannya.


"Apa yang terjadi? Dimana ini?"


Aira kembali memejamkan matanya, tepat setelah pertanyaan kedua dia lontarkan.


"Anda harus istirahat. Tolong jangan banyak bergerak atau berbicara." Sakura tampak khawatir melihat wanita ini kembali memejamkan mata dan menahan mual.


"Dokter akan segera datang. Saya akan menunggunya di bawah."


Aira menggeleng. Dia membuka matanya dengan paksa.


"Ya?" Sakura menatap wanita yang tampak begitu lemah ini.


"Jangan pergi," ucap Aira lirih tanpa suara, namun Sakura memahaminya.


Ada perasaan haru di dalam hati gadis ini. Dia tidak pernah melihat nyonya muda keluarga Yamazaki selemah ini. Bahkan bulir-bulir air mata segera menggenang di pelupuk matanya.


"Saya di sini, Nyonya." Sakura menjawab permintaan Aira sambil mengusap matanya, tidak ingin bulir air mata itu tumpah detik berikutnya.


Tok tok tok


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, membuat Sakura maupun Ken menengok ke arah kiri mereka. Sakura melepaskan genggaman jemari Aira dengan lembut, tidak ingin menyakiti perasaan nyonya yang sangat ia hormati


ini.


Seorang dokter masuk ke dalam ruangan bersama Sakura. Dia langsung memeriksa tanda vital wanita yang tergolek lemah di atas ranjang. Keningnya sedikit berkerut, mendapati hal yang tidak baik.


"Saya akan mengambil sampel darah Anda." Dokter wanita itu menyiapkan jarum suntik steril dari dalam tasnya.


"Tuan, mari kita bicarakan ini di luar," ajak wanita berkacamata itu.


"Aku ingin mendengarnya!" Aira berusaha berbicara, membuat Ken dan dokter itu saling pandang.


"Ada apa, Dok?" kejar Aira, menatap dokter itu dengan pandangan tajam. Dia adalah salah satu tenaga medis kepercayaan kakek. Aira pernah beberapa kali melihatnya bersama dokter Hugo.


Hening.


Dokter wanita itu menimbang-nimbang langkah yang tepat. Dia tidak ingin membuat pasien ini semakin depresi jika mendengar penjelasannya.


"Apa?" Aira sungguh keras kepala. Dia menuntut jawab akan keterangan yang berusaha dokter ini sembunyikan.


Terlihat wanita itu mengembuskan napas beratnya.


"Kondisi Anda tidak terlalu baik. Diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya secara detail." Dokter itu memutar otak, namun tetap saja tidak bisa mencari kata-kata lain yang bisa menenangkan pasiennya ini.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku pingsan? Berapa lama aku... Aghh... " Aira kembali memejamkan matanya. Tangannya meraba tulang belakangnya yang kembali terasa ngilu, sakit tak tertahankan.


"Ai-chan!!" Ken segera berhambur mendekat ke arah istrinya yang kembali pingsan.


"Dok?!" Ken tampak panik. Dia tidak tahu apapun tentang dunia medis, membuatnya tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.


Dokter wanita itu kembali memeriksa keadaan Aira.


"Saya akan memberikan obat penenang sekaligus pereda rasa sakit. Dia akan terbangun besok pagi dengan kondisi yang lebih baik."


"Arrghh!!!" Ken menjambak rambutnya sendiri, merasa frustrasi akan keadaan wanita yang telah memberikannya tiga orang malaikat menggemaskan untuknya.


"Pukulan itu terlalu keras, membuat fungsi sarafnya sedikit terganggu."


Ken menundukkan kepala. Dia tahu kesalahannya itu. Kesalahan fatal yang akan ia sesali seumur hidupnya.

__ADS_1


"Sama halnya seperti saat tangan atau kaki anda terbentur, pasti akan terasa nyeri atau ngilu. Inilah yang dirasakan oleh Nyonya. Pukulan yang Anda hadiahkan membuat tubuhnya terkejut. Jika daya tahan tubuh Nyonya sedang baik, maka tidak akan bermasalah. Kalaupun pingsan, paling lama hanya dua jam."


"Tapi karena kondisi Nyonya sedang lemah, maka itu membuat tubuhnya seperti mati suri. Saraf-saraf di dalam otaknya kehilangan kendali akan tubuhnya sendiri."


"Apa yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkannya?" Ken kahwatir. Dia tidak ingin istrinya berada dalam bahaya, atau dia bisa gila jika hal itu terjadi.


Dokter wanita itu menggeleng. "Saya sendiri tidak bisa menyelamatkannya, hanya saja bisa membantunya bertahan. Sistem imun di dalam tubuhnya akan berangsur membaik saat Nyonya mendapatkan istirahat yang cukup."


"Nyonya mual dan muntah. Bisakah Anda memberi resep pereda mual untuknya?" Sakura membuka mulutnya, ikut berbincang bersama dua orang di sekitarnya.


"Dia mual dan muntah?" Dokter 40 tahun itu mengernyitkan kening, menatap Aira yang memejamkan matanya.


"Benar, Dok. Nyonya juga merasa pusing dan mengeluh perutnya tidak nyaman.


Dokter itu kembali memeriksa perut Aira, menyingkirkan piyama yang sedari tadi menutupi perut rata miliknya.


"Bagaimana?" tanya Ken antusias. Dia sedikit berharap jika dokter ini mengatakan bahwa istrinya hamil.


"Perutnya baik-baik saja. Dia baru selesai datang bulan?" tebak dokter wanita itu, meminta jawaban pada Kenzo.


"Ah, iya, benar. Dia mengatakan hal itu beberapa hari yang lalu."


"Tidak masalah. Ini bukan hal yang serius."


"Bukan hal serius?" Ken belum bisa menerima penjelasan dokter yang kakek utus untuk menyertainya.


"Menurut catatan medis yang pernah saya baca tentang Nyonya, beliau memang sering mengalami kram perut sebelum dan setelah datang bulan. Dan kebetulan gejala itu berbarengan dengan fungsi sarafnya yang sedikit


terganggu kali ini. Seiring berjalannya waktu, dia akan membaik."


Baik Ken maupun Sakura sedikit bernapas lega.


"Sakura-chan, ada kantong kompres hangat?"


"Ada." Sakura sigap menjawab pertanyaan yang tertuju padanya.


"Isi dengan air hangat, letakkan di atas perutnya sampai kondisi Nyonya membaik. Jika rasa sakitnya tak juga berkurang dan beliau masih muntah, segera hubungi aku."


"Yamazaki-san," panggil wanita yang kini berdiri di hadapan Kenzo.


"Ya?"


"Ini bukan pertama kalinya Anda menyakiti Nyonya."


"Aku tahu." Ken segera menjawab. "Dan aku sangat menyesalinya."


Dokter itu menyimpan kacamata miliknya ke dalam saku. Dia mengingat kabar hampir setahun lalu, saat Ken menggila dan menyiksa Aira.


"Sebagai sesama wanita, saya tahu apa yang istri Anda rasakan."


Ken menunduk, tidak bisa menyangkal pelimpahan kesalahan yang memang dilakukannya ini.


"Meskipun kedudukan Anda lebih tinggi di banding saya, tapi usia saya jauh lebih tua. Saya berhak memberikan nasihat pada pasangan yang lebih muda, termasuk Anda dan Nyonya Khumaira."


"Aku akan mengingatnya." Ken bersimpati pada ungkapan dokter ini.


"Nyonya meninggalkan negeri indah dengan udara yang hangat ini demi Anda. Dia melupakan semua cita dan cintanya di tempat ini untuk bisa membersamai Anda dan anak-anak. Tolong hargai dia sebaik mungkin. Kita tidak tahu apa yang Tuhan tuliskan untuk kita, tapi setidaknya, jangan menyia-nyiakan karunia yang DIA berikan."


Ken menunduk dalam. Dia merutuki kebodohannya sendiri.


"Saya akan memeriksa sampel darah Nyonya, mengantisipasi hal lain yang mungkin terjadi. Semoga kondisinya segera membaik, dia hanya terkejut akan 'hadiah tak biasa' yang Anda berikan."


Dokter wanita itu berpamitan, bersamaan dengan Sakura yang meninggalkan ruangan itu, menyisakan Ken dan Aira berdua saja.


"Ai-chan," ucap Ken lirih penuh penyesalan, "Maafkan aku."


Sebulir air mata membasahi wajah putih Yamazaki Kenzo. Dia menangis dalam diam, menyesali semua perbuatan bodohnya selama ini yang selalu saja menyakiti Aira tanpa dia sadari.


"Aku tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini. Aku janji."


Cup

__ADS_1


Ken meraup wajah istrinya, menciumnya dengan lembut.


* * *


Di sebuah gedung pencakar langit kota Tokyo, seorang wanita keluar dari dalam lift dengan wajah sumringah. Kerutan di wajahnya menunjukkan bahwa usianya tak lagi muda, tapi gerakannya masih gesit tak tampak kerepotan sedikitpun dengan banyaknya barang bawaan yang ada di tangannya.


Tit tit tit


Suara tombol pin yang ditekan, membuat wanita Rusia yang ada di dalam menoleh.


"Nona, aku kembali!" seru wanita itu.


"Bibi Maria. Apa yang terjadi? Kenapa bibi membawa begitu banyak bahan makanan ini? Apa kita akan berpesta?"


"Benar! Kita harus merayakannya!"


Anna mengerutkan keningnya. Ini bukan hari ulang tahunnya ataupun bibi Maria. Untuk apa mereka berpesta?


"Si Bodoh itu, dia masuk dalam perangkap!"


Anna memutar otaknya, berusaha mencari pemikiran yang sefrekuensi dengan wanita pengasuhnya ini. Si Bodoh yang mungkin mereka bicarakan adalah Yuki, putra mendiang tuan Harada yang tengah mereka manfaatkan untuk


membuat kekacauan.


"Ceritakan padaku apa yang terjadi, Bibi!" Anna tampak antusias.


"Aku membuat surat wasiat palsu dan meletakkannya di brangkas milik tuan Harada."


"Surat wasiat palsu?" Kening wanita cantik itu kembali berkerut dalam.


"Benar."


"Apa isinya?" kejar Anna, semakin penasaran dengan apa yang direncanakan oleh wanita kepercayaannya ini.


"Dia berpisah dengan Kaori beberapa tahun yang lalu setelah wanita itu keguguran."


"Kaori? Aku seperti pernah mendengar nama itu." Anna kembali berpikir.


"Tentu saja. Dia istri Shun Oguri, target utama kita."


"Ah, aku mengingatnya. Ceritakan lebih banyak lagi, Bi," pinta Anna.


"Menurut hasil penyelidikanku, perpisahan mereka terjadi karena Kaori gagal mempertahankan janin di dalam perutnya."


"Lalu?"


"Tuan Harada begitu bersikeras mengusir wanita itu, bahkan memblokir semua aksesnya untuk bertemu dengan Yuki beberapa tahun ini. Itu menjadi senjata tambahan untuk kita."


"Senjata tambahan? Apa yang bibi lakukan?"


"Aku menulis surat wasiat bahwa anak itu bukan darah daging Yuki, melainkan benih dari pria bernama Shun Oguri. Itu sebabnya tuan Harada begitu menentang keberadaan Kaori." Bibi Maria menjelaskan dengan berapi-api. "Cepat atau lambat, pria bodoh itu pasti membacanya. Dan kemudian.... BOOOMM!!! Dia akan menghancurkan Shun Oguri."


Mata indah Anna membola. Dia tidak menyangka ide brilian yang bibi Maria siapkan. Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dia tidak perlu mengotori tangannya untuk menyingkirkan pria itu.


"Apa yang harus kita lakukan, Bibi?"


Wanita licik itu menggeleng. "Tidak ada. Waktunya kita berpesta!!!"


Dan Anna segera berlari mengambil gelas kaca yang kemudian mereka gunakan untuk bersulang. Rencananya berjalan dengan mulus. Tadinya dia sempat khawatir karena kakek Yamazaki memblokade pergerakannya.


Benar apa yang bibi Maria katakan tempo hari, tertutup satu pintu, pasti ada jalan lain yang bisa digunakan. Saatnya mereka bersenang-senang, merayakan kemenangan mereka lebih awal.


Tanpa keduanya ketahui, seorang pria berdiri terpaku di belakang pintu. Tubuhnya menegang, mendengarkan percakapan dua orang wanita beda usia itu. Mereka tidak menyadari bahwa pintu apartemen belum tertutup


seluruhnya, membuat Yuki bisa mendengar semuanya. Tangannya mengepal erat, menahan amarah yang siap memuncak.


"Anna. Kita lihat seberapa jauh permainanmu!"


* * *


Waaahhh abang Yuki datang di saat yang tepat. Nantikan keseruan selanjutnya. See you,

__ADS_1


Hanazawa Easzy


__ADS_2