Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Menebus Waktu yang Hilang


__ADS_3

"Aku ingin tinggal di rumah kakek dua minggu ke depan," tukas Aira.


Deg!


Ken tertegun dengan permintaan istrinya. Dia tidak menyangka Aira akan mengajukan sesuatu yang penting seperti ini. Tentu saja Ken tidak ingin menyetujuinya, dia tidak ingin berjauhan dengan istri dan ketiga anaknya. Tapi sebagai seorang pria sejati, ia harus memenuhi janjinya.


"Kenapa harus kesana? Apa rumah ini membuatmu tidak nyaman? Bagian mana yang tidak kamu suka? Atau kamu ingin mendekorasi ulang semuanya? Apa perabotan disini tidak sesuai seleramu? Terlalu sepi atau terlalu bising disini? Kamu ingin kita kembali ke apartemen? Katakan saja." Berbagai pertanyaan keluar begitu saja dari mulut pria itu. Dia akan menahan Aira sebisanya, mungkin saja wanitanya ini akan mengurungkan niatnya pergi ke rumah kakek.


Aira tersenyum mendengar rentetan pertanyaan yang terasa sedikit aneh. Pertanyaan yang Ken ajukan tak berbobot sama sekali, terkesan asal bicara untuk menghentikannya.


"Bukankah kamu sudah berjanji akan memenuhi permintaanku? Aku hanya ingin tinggal disana selama dua minggu, sampai masa nifasku selesai." Aira jujur pada suaminya. Dia tidak ingin menyembunyikan apapun dari pria ini.


"Apa aku membuatmu takut?" tanya Ken dengan ekspresi yang sulit untuk dijelaskan, antara khawatir, takut, kecewa, dan juga kesal. Ia kesal karena istrinya ini begitu keras kepala. Apa yang dia inginkan, tidak akan mudah untuk dilepaskan begitu saja. Ken harus memutar otak untuk memanipulasi kehendak istrinya.


"Bisa iya, bisa tidak," jawab Aira sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali. Menimang-nimang kata-kata yang tepat untuk membujuk suaminya ini. Ia tahu Ken tidak akan memberikan izinnya, terlebih lagi setelah sarapan pagi mereka yang ekstra hot sebelumnya.


"Hmm?"


"Aku takut kamu lepas kendali. Bagaimana jika aku juga khilaf? Aku juga manusia biasa, memiliki hasrat yang sama denganmu. Lihat apa yang terjadi sebelumnya, siapa yang bisa menjamin kita bisa bertahan sampai dua minggu ke depan?"


Ken diam tak menjawab. Apa yang dikatakan oleh Aira benar adanya. Semua orang bisa melakukan kesalahan, dan dia juga tidak bisa menjamin akan menahan dirinya lain kali.


"Aku mengatakan pada tuan Kobayashi bahwa aku ingin menghabiskan waktu dengan ibuku di rumah kakek. Suasana pegunungan disana akan mengingatkan masa kecilku yang tinggal di pedesaan. Aku ingin menebus waktu-waktu yang hilang bersama ibuku. Bagaimanapun juga, aku merindukan pelukan hangatnya." Aira menggigit bibir bawahnya, mengingat betapa sedihnya dia saat ibunya harus mendekam di balik jeruji besi, meninggalkannya bersama seorang nenek lanjut usia yang meninggal satu tahun kemudian. Padahal saat itu usianya baru menginjak 7 atau 8 tahun.


Sebulir air mata luruh membasahi pipinya, tapi Aira segera menghapusnya. "Aku ingin menggenggam tangannya sekali lagi," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh berharap bisa bersama ibunya, menghabiskan waktu berdua, berjalan di area persawahan yang membuatnya tenang. Sama seperti masa kecilnya dulu.


Ken segera memeluk istrinya, membiarkan wajahnya tersembunyi di depan perut six pack-nya yang tertutup bathrobe. Wanita itu mengalami masa kecil yang tidak mengenakkan, harus berpisah dengan ibunya karena kasus narkoba. Seharusnya, di usianya saat itu, ia asik bermain dengan teman-temannya. Bukannya menangis meratapi kepergian ibunya yang tak jua kembali bertahun-tahun setelahnya.


"Maafkan aku. Kamu boleh pergi sesukamu. Dua minggu, dua bulan atau bahkan dua tahun sekalipun. Kamu bisa menghabiskan waktu dengan ibumu." Ken mengelus kepala istrinya dengan lembut, membuatnya tenang.


"Terima kasih," ucap Aira mengurai pelukan suaminya. Ia menengadahkan kepala, menatap pria yang telah mengucap janji suci setahun yang lalu.


Cup


Ken tersenyum dan mencium kening istrinya selama beberapa detik. Aira memejamkan matanya, menikmati embusan napas suaminya yang beraroma mint yang kuat.


Tok tok tok

__ADS_1


"Tuan, sudah waktunya Anda berangkat." Terdengar suara Kosuke di balik pintu, membuat Ken terpaksa menyudahi kecupannya. Ia melempar senyum terbaiknya pada istrinya ini.


"Sudah, pergi sana!" usir Aira, bercanda. Ia pura-pura mendorong tubuh suaminya untuk menjauh, padahal ia masih menikmati kebersamaan mereka yang terasa manis ini.


"Dia memang suka mengganggu. Aku akan memberinya pelajaran." Ken menampilkan smirk di wajah tampannya.


"Pelajaran apa?" tanya Aira tak mengerti. Ia beranjak ke ruangan sebelah, bersiap mengambil pakaian yang akan dipakai oleh suaminya.


"Dia sedang 'puasa' kan? Sama seperti saat trimester awal kehamilanmu dulu, sepertinya Minami juga menjaga jarak dengan Kosuke." Ken mengerlingkan sebelah matanya pada Aira, bersiap menjahili asisten pribadinya itu.


"Jangan keterlaluan. Kasihanilan dia," ucap Aira sambil sibuk memilih dasi untuk suaminya. "Kamu juga hampir gila saat itu."


Krekk


Ken membuka pintu di depannya, pura-pura menguap untuk mendukung aktingnya. Padahal jelas-jelas rambutnya saja masih basah, mana ada orang bangun tidur dengan rambut basah?


"Hoam. Nani?" tanya Ken dengan suara yang dimalas-malaskan. Ia mengucek matanya beberapa kali, memandang Kosuke dengan tatapan sayu seolah baru bangun tidur.


(Apa?)


Glek


Kosuke menelan ludahnya dengan paksa. Ia kesal sejadi-jadinya dengan tuannya satu ini. Aktingnya benar-benar buruk dan pria itu pasti sengaja menunjukkan tanda kemerahan di tubuhnya. Ya, Ken sengaja menyulut emosinya, berharap ia kesal karena iri padanya.


"Ada rapat pagi ini dengan dewan direksi dan para investor satu jam dari sekarang. Apa Anda akan datang menggunakan handuk mandi itu?" tanya Kosuke menahan gondok di hatinya. Ia menetralkan wajahnya yang sedikit teekejut sebelumnya.


Ingin sekali Kosuke mengucapkan sumpah serapah untuk memaki Ken, namun itu hanya ada di dalam kepalanya saja. Ia harus bersikap profesional di depan atasannya ini, meski dengan hati bergejolak menahan emosi.


"Saya akan menunggu Anda di bawah." Kosuke pergi tanpa memandang Ken lagi. Ia enggan kembali menatap tanda kemerahan di tubuh tuannya. Itu hanya akan membuat hatinya semakin memanas. Minami menolaknya semalam dan pagi ini Ken justru menggodanya. Menyebalkan!


Ken terkekeh geli melihat asistennya yang pergi dengan langkah yang begitu cepat, hampir seperti berlari. Nampaknya ia berhasil menggoda pria satu itu.


"Berhasil?" tanya Aira sambil mendekat pada suaminya. Ia meletakkan jas di tangannya ke atas ranjang.


"Tentu saja. Dia pasti akan uring-uringannya sepanjang hari." Ken membuka bathrobe di tubuhnya, bersiap memakai kemeja yang diulurkan Aira. Ia memasukkan tangannya pada lengan baju putih yang Aira bentangkan. Interaksi mereka sungguh terlihat romantis, hal sepele yang menunjukkan betapa harmonisnya kehidupan rumah tangga keduanya.


"Meskipun dia cukup profesional dalam bekerja, tapi kamu harusnya tidak sengaja menggodanya. Bagaimana kalau dia meninggalkanmu? Kamu bahkan tidak akan bisa bernapas saat hal itu terjadi." Aira memperingatkan suaminya.

__ADS_1


"Jika itu terjadi, aku akan mengangkat asisten baru. Seorang wanita yang cantik."


Ckiit


Aira mencubit perut suaminya di sela-sela aktivitasnya memasangkan kancing kemeja. "Aku akan menerornya agar dia mengundurkan diri di hari pertamanya bekerja!" tegas Aira penuh penekanan di setiap katanya.


"Hahaha. Istriku begitu mengerikan. Pantas saja aku jatuh cinta padamu."


Cup


Ken menarik pinggang Aira dan mengecup bibirnya sekilas, berlanjut dengan menghujani ciuman di seluruh wajah bulat itu.


"Cukup! Hentikan! Kamu harus pergi bekerja!" Aira mendorong tubuh suaminya dengan paksa. Jika begini terus, Kosuke akan semakin marah karena tuannya ini terlalu asik di kamar dan melupakan pekerjaannya. Sebelum hal itu terjadi, Aira harus mencegahnya. Kosuke adalah aset paling berharga yang suaminya miliki. Bahkan sepuluh orang pengawal atau asisten paling profesional sekalipun, tidak akan bisa dibandingkan dengan dedikasi dan pengorbanan Kosuke selama ini.


"Aku masih lapar," ucap Ken seduktif. Ia kembali mendekatkan bibirnya ke wajah Aira.


BUGH


"Mesum!" Aira memukul dada suaminya, menjauhkan pria itu dari hadapannya.


Ken tersenyum melihat penolakan yang dilakukan istrinya. Ia hanya bercanda dan ternyata berhasil membuat wajah istrinya merona. Dia sungguh begitu menggemaskan.


"Wajahmu begitu menggemaskan, membuatku ingin melahapnya." Ken mengacak rambut istrinya sebelum beranjak memakai sepatu yang telah Aira siapkan.


"Jadi, tuan Kobayashi akan menjemputmu?" tanya Ken mengalihkan topik pembicaraan. Dia sudah cukup puas menggoda istrinya.


"Tidak. Sakura ada bersamaku. Aku hanya memintanya untuk menyampaikan pada kakek tentang keinginanku tinggal disana bersama ibuku."


"Baiklah. Aku tidak akan khawatir jika ada Sakura bersamamu. Dia memiliki kemampuan mumpuni dalam memakai senjata, hampir sama dengan kemampuanku. Kami dididik dengan ketat oleh kakek," jelas Ken.


"Aku tahu. Aku bisa melihatnya."


...****************...


See you next episode,


Hanazawa Easzy

__ADS_1


__ADS_2