
Yuki, putra sulung tuan Hayato Harada, merasa cemas sekaligus ragu pada wanita misterius yang mendatanginya. Wanita itu mengaku bernama Anna. Dia memberikan laporan keuangan yang berkaitan dengan pengelolaan aset yang dimiliki geng Naga Hitam. Namun, hal itu tak lantas membuat pria ini percaya.
"Bagaimana? Sudah ada?" tanya pria kulit putih ini pada asistennya. Dia meminta bantuan pada Ken, pewaris keluarga Yamazaki untuk memberikan data tentang mendiang ayahnya.
"Belum, Tuan."
Yuki mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa menunggu lagi, atau Anna akan kembali datang dan mengatakan berbagai hal yang membuatnya ragu.
"Segera siapkan mobil. Kita ke Miracle sekarang!" titah Yuki detik berikutnya.
"Baik, Tuan."
Sejurus kemudian, mobil berwarna hitam mengilap itu sudah melaju di jalanan kota Tokyo yang padat merayap. Di dalamnya berisi Yuki, asisten pribadinya dan seorang supir.
Yuki tidak bisa mempercayai Anna begitu saja, dia harus mendapatkan data pembanding. Apakah benar semua yang Anna sampaikan? Atau itu hanya siasatnya saja untuk mengadu domba dia dengan keluarga Yamazaki?
"Hubungi asisten Yamazaki. Pastikan pria itu ada di tempatnya!"
"Baik, Tuan." Lagi-lagi pria berpakaian serba hitam ini mengangguk. Dia menuruti perintah tuannya.
* * *
Ken masih sibuk bersama Aira. Mereka mempersiapkan kebutuhan baby triplet, dibantu oleh Sakura dan dua rekannya. Tuan Kobayashi kembali menghubungi beberapa menit yang lalu, dan menjelaskan bahwa keberangkatan Ken, Aira, dan ketiga putra putrinya harus dipercepat.
"Apa kita harus pergi secepat ini? Bukankah jadwal seharusnya adalah besok?" Aira bersungut, kesal dengan keadaan ini. Dia tidak bisa menolak titah kakek.
"Maafkan aku." Ken merasa tidak nyaman, sama seperti istrinya. Tapi ini benar-benar di luar kendalinya.
"Tuan, Nyonya, semua barang sudah siap. Tinggal memasukkannya ke dalam mobil."
Ken menoleh ke arah salah satu asistennya itu. "Baiklah. Minta seseorang naik dan membawanya ke bawah. Kami akan bersiap."
Ken meraih tangan Aira dan membawanya pergi dari ruangan ini.
"Aku akan mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kamu tenanglah," ucap pria 28 tahun ini, berusaha menenangkan kekhawatiran istrinya.
"Bagaimana bisa tenang? Kakek mengusir kita seperti ini!!" Aira masih dilanda emosi.
Greg
Ken menutup pintu di belakangnya, menjadikan papan kayu itu sebagai penghalang antara dirinya dan Aira dengan para pengasuh bayi di belakang sana.
__ADS_1
"Sayang," bujuk Ken lirih. "Semua akan baik-baik saja. Percaya padaku." Ken memeluk istrinya dengan erat.
"Bagaimana bisa aku percaya padamu?! Kamu bukan Tuhan! Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya!!" Emosi Aira semakin meluap-luap, bahkan dia sampai menangis.
"Bagaimana jika Anna kembali dan menyerang kakek?"
"Ai..."
"Lalu bagaimana dengan Mone? Aku baru mendapatkan adikku kembali. Apa yang akan Anna lakukan padanya? Kenapa kita justru kabur seperti ini? Tidak bisakah kita menghadapinya bersama? Atau kakek tidak lagi menginginkan kita?!" Rentetan kata itu terucap begitu saja dari seorang wanita yang mengkhawatirkan adik dan kakek mertuanya.
"Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Yu, Yoshiro, Kosuke, Minami, Shun, dan juga Kaori? Mereka pergi ke Rusia atas permintaan kita, menghancurkan kediaman tuan Takeshi Kaneshiro tanpa ampun. Apa kamu pikir Anna akan memaafkan mereka?"
Ken bungkam. Semua yang Aira katakan benar adanya. Tapi dia juga sangat memahami kakek Yamazaki Subaru. Titahnya tak terelakkan.
"Antarkan aku ke rumah kakek!" titah Aira penuh penekanan di setiap suku katanya.
"Nani?"
(Apa?)
"Aku akan berbicara langsung pada kakek. Kita tidak akan pergi!"
"Aku, dengan segenap kemampuan yang ku miliki, tidak akan menyerah untuk melindungi orang-orang di sekelilingku. Mone adalah saudaraku satu-satunya. Bagaimana bisa aku meninggalkannya seperti ini? Dimana wajahku nanti saat ibu menanyakan keberadaan adikku?"
Cengkeraman tangan Aira semakin erat di lengan atas suaminya. Wanita ini sudah memiliki tekad yang kuat. Harus bertemu dengan kakek Yamazaki. Harus!
Ken memejamkan mata, menengadahkan kepalanya ke atas. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Mengikuti perintah kakek untuk segera bertolak ke Indonesia? Atau mendukung kemauan istrinya yang jelas bertentangan dengan pria tua itu?
"Ken?!" panggil Aira, menggoyangkan lengan suaminya.
Dengan berat hati Ken menggeleng. "Tidak ada waktu. Kita harus pergi."
"HAH?"
"Ayo ganti pakaianmu. Kita harus segera meninggalkan rumah ini."
Takk
Aira menepis tangan suaminya, membuat pria itu mengerutkan kening. Dia bahkan mengabaikan pergelangan tangannya yang terantuk sisi tempat tidur. Keduanya ada di dalam kamar.
"Aku akan pergi sendiri!" Aira bersikeras. Dengan gerakan cepat, tanpa keraguan sama sekali, ibu muda ini membenahi penampilannya. Dia akan tetap pergi, menemui kakek dan membicarakan masalah ini. Keputusannya sudah bulat, tetap tinggal apapun yang terjadi.
__ADS_1
"Ai-chan, dengarkan aku!" Ken berusaha mengurungkan niat kekasih hatinya. Mereka tidak akan bisa melawan perintah kakek. Tidak sama sekali!
"Kamu boleh pergi. Silakan. Aku akan tetap tinggal di sini, bersama Mone dan yang lainnya!"
Lagi-lagi Ken menarik napasnya dalam-dalam. Dia harus memutar otaknya, menemukan cara paling ampuh untuk mencegah keras kepala istrinya. Ken yakin perintah kakek pasti beralasan, tidak mungkin hanya asal perintah tanpa memikirkan efek domino yang akan ditimbulkan nantinya.
"Kakek tidak bisa mengusir kita begitu saja. Aku harus..."
"Maafkan aku," gumam Ken lirih.
Dukk
"Aahh." Aira kehilangan kesadarannya setelah Ken memukul tengkuknya dengan keras. Tubuh rampingnya jatuh melangsai, hampir terjerembab ke lantai jika saja pria lesung pipi inii tidak menangkapnya.
Perlahan nyeri luar biasa Aira rasakan menjalar di sekujur tulang belakangnya. Kesadarannya ada di ambang batas. Serangan Ken yang tiba-tiba, membuat fungsi sarafnya lumpuh sementara. Pandangannya mulai kabur. Bayangan wajah Ken perlahan memudar.
Hening.
Tak ada suara apapun yang tertangkap oleh telinga wanita ini. Dia tahu dirinya akan pingsan detik berikutnya.
"Maafkan aku. Hanya ini satu-satunya cara agar kamu tidak lagi membantah. Maafkan aku." Ken merasa sangat bersalah, menatap wajah tembam yang kini memejamkan matanya. Aira pingsan setelah menerima pukulan telak darinya.
Dengan segenap cinta, Ken membawa Aira dalam dekapannya. Ini salah satu hal yang paling dia takutkan selama ini, yakni saat Aira bertumbuh semakin kuat. Saat dia tidak bisa memberikan keamanan maupun kenyamanan pada Aira, maka dengan otomatis wanita tangguh ini akan melangkah seorang diri. Menerjang badai yang mereka hadapi.
"Maaf," lirih Ken dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, dia menyakiti Aira dengan kesadaran penuh. Wanita yang sudah memberikan tiga buah malaikat tak bersayap untuknya, harus dia lumpuhkan dengan cara licik seperti ini. Hatinya sakit, melihat ketidakmampuannya dalam melawan kehendak kakek.
Ken memangku kepala Aira, mengelus pipinya dengan segenap penyesalan yang menikam hatinya. Dia suami yang kejam.
Cup
Kecupan hangat mendarat di kening Aira. Ken lemah melihat wanita ini tidak berdaya.
"Kamu boleh marah padaku. Aku siap menerima hukuman darimu nanti. Maafkan aku."
* * *
Whooaaaa kok papa Ken jahat sii sama mama AIra? Hiks hiks. Jadi mewek kan Author nih. Papa jahat!!
Btw, kenapa papa gitu yaa? See you next day.
Hanazawa Easzy
__ADS_1