Gangster Boy

Gangster Boy
Season 3 : Melepaskan Mone


__ADS_3

Itabashi, Tokyo


"CUT!" teriak seorang pria yang memakai topi coklat di kepalanya. Pria itu adalah Jun Masaki, sutradara dalam pemotretan kali ini. "Risa-san, urus artismu itu!" ketusnya sambil membanting salinan naskah di tangannya. Ia pergi dari ruang pemotretan dan menutup pintu di belakangnya dengan keras.


*Sutradara adalah orang yang bertugas untuk mengarahkan kru dan pemain saat proses pembuatan sebuah karya. Ia bekerja saat tahap pra produksi hingga pasca produksi. Sutradara juga yang akan berperan sebagai pengarah segala sesuatu yang ada di ketiga tahap pembuatan film/iklan.


Wanita yang bernama Risa Nagahara itu mendekat, ia menyerahkan sebotol air mineral pada Yamaken yang masih tertegun di tempatnya duduk, "Minumlah."



"Aku tidak haus." Yamaken memalingkan kepalanya ke samping, menolak pemberian manager sekaligus asisten pribadinya itu.


"Ada apa denganmu? Masih memikirkan gadis itu?" tanya wanita yang kini mengambil kursi dan duduk di dekat Yamaken. "Sudah satu bulan berlalu dan kamu masih mengharapkannya? Apa dia begitu penting untukmu?" tanya Risa heran. Ia menatap wajah pria 28 tahun yang terlihat sedih itu. Sejak kejadian fire sunset itu, Yamaken seringkali terlihat murung dan jarang tersenyum.


Yamaken beranjak dari duduknya, melepas jas hitam yang sedari tadi ia pakai. Biasanya ia hanya perlu dua kali pengambilan gambar dalam satu adegan, tapi sekarang? Sutradara belum puas juga walaupun sudah 10 kali take.


"Yamaken, ada apa denganmu?"


Pria lesung pipi itu tak menghiraukan panggilan managernya. Ia ingin menenangkan diri sejenak dengan menghirup udara bebas. Ruangan pemotretan ini membuat perasaannya semakin sesak saja.


Ia melangkahkan kakinya tanpa tujuan, menyusuri koridor panjang berwarna putih yang lengang. Netranya tertuju pada ujung koridor dimana ada kaca tembus pandang yang menampilkan angkasa luas di luar sana.


Ia mengamati arus lalu lintas yang terlihat di bawah sana, kemudian menyapukan pandangannya ke atas. Agaknya kegiatan ini tidak akan membuat mood-nya membaik. Ia memutuskan untuk pergi ke atap menggunakan lift. Pemandangan di sana mungkin akan membawa angin segar untuknya.


Ting


Lift terbuka dan seketika itu membuat tubuh Yamaken menegang. Seorang gadis cantik yang selalu mengganggu pikirannya sebulan terakhir, justru berdiri di depannya sambil memegang satu cup besar berisi popcorn di tangannya.



"Mone-chan," lirih Yamaken spontan.


Mone dan Yamaken saling pandang. Sama seperti Yamaken yang terkejut, Mone juga terdiam sambil menahan napas. Ia bahkan urung memakan popcorn yang ada di depan mulutnya.


"Yamazaki-san, apa kabar?" tanya Mone canggung. Ia menelan ludahnya dengan paksa, membasahi kerongkongannya yang tiba-tiba terasa kering. Ingatannya kembali pada perjumpaan mereka sebelumnya, juga pembicaraannya dengan kakek Yamazaki.


FLASHBACK


Srett


Kakek mencabut katana yang ada di belakangnya dan mengarahkan pedang tajam itu pada Mone. Ujungnya yang runcing berada tepat di bawah dagunya, membuat jantungnya seolah berhenti berdetak saat itu juga.


"Kamu sungguh menolak cucuku?" kakek menatap Mone dengan pandangan yang menusuk.


"Maaf atas kebodohan saya. Saya tetap tidak bisa menerimanya," jawab Mone, menatap kakek Yamazaki dengan sorot mata penuh ketakutan.


"Bahkan kamu akan tetap menolaknya jika aku yang memaksamu menerimanya?"


"Maaf." Mone menutup matanya, bersiap merasakan sakit yang tak terperikan jika mungkin kakek akan menyabet lehernya saat ini juga.

__ADS_1


"Kamu bahkan rela mati daripada harus menyambut perasaan cucuku." Kakek berdiri menjulang di depan Mone. Pegangan tangannya semakin mengerat, ia mengangkat pedang itu menjauh seolah bersiap menebas leher di depannya.


"Maafkan saya," cetus Mone pasrah. Ia siap kehilangan nyawanya. Mungkin saatnya ia menemui ayah dan ibunya di alam baka.


(Episode 187. Season 3 : Siap Kehilangan Nyawa)


Hening


Beberapa detik berlalu tapi tidak ada yang terjadi. Mone membuka matanya dan mendapati kakek Yamazaki sudah kembali duduk di tempatnya semula.


"Kalian sama saja." Pria lanjut usia itu tampak putus asa. "Tidak bisakah kalian seperti wanita lemah yang lainnya?"


"Sumimasen ..." Mone tidak mengerti dengan maksud perkataan kakek Yamazaki yang menyebut 'kalian'. Bukankah itu artinya ada orang lain yang dimaksud selain dia?


(Maaf)


"Kamu sama seperti kakakmu. Kalian tidak takut mati."


Mone mengerutkan keningnya, membuat kedua alisnya hampir bertaut. Ia tidak pernah mendengar bagaimana kisah kakaknya yang terlihat lemah itu sampai bisa mendampingi pewaris keluarga ini. Pasti ia memiliki kelebihan yang membuat pria tua ini merestuinya.


"Apa yang terjadi dengan kakak saya?" Mone memberanikan diri bertanya. Jantungnya berdetak lebih cepat, menantikan jawaban dari tetua yakuza ini.


"Kakakmu dengan lantang mengatakan dia tidak bisa menggunakan senjata apapun. Bukankah itu sama artinya dengan cari mati di hadapanku? Bagaimana mungkin dia masuk ke keluargaku tanpa keahlian senjata sama sekali?" Kakek menarik sebelah bibirnya ke atas, mengingat kejadian hampir setahun yang lalu di aula. Ia begitu memandang rendah wanita yang berstatus sebagai istri cucu kesayangannya.


Mone terdiam, membeku di tempatnya berada. Ia tidak tahu kesulitan apa yang telah Aira alami sampai ahli menggunakan senjata api. Terakhir kali ia melihat Aira menggunakan senjata saat melawan para pengawal di Rusia. Dia bahkan berhasil meretas jaringan bank dunia untuk mendapatkan data tentang keberadaannya. Bagaimana mungkin kakaknya bisa bertransformasi secepat itu? Ia sendiri memerlukan waktu satu tahun pendidikan di Italia untuk bisa menyamai kemampuan para mafia di sana.


"Cari pria lain yang lebih baik dari cucuku dalam waktu tiga bulan, setelah itu aku akan melepaskanmu. Tapi jika sampai waktunya habis dan kamu tidak bisa mendapatkannya, jangan harap bisa menolak untuk jadi menantu keluarga ini. Bahkan nyawamu juga ada dalam genggamanku!"


FLASHBACK END


Ting


Denting lift bersamaan dengan pintunya yang terbuka membawa Mone pada kesadarannya semula. Ia menundukkan kepala dan segera keluar dari kotak besi itu. Kakinya menapaki lantai kasar berwarna hijau di depannya.


"Eh?" Mone tampak linglung. Ia menatap ruangan tak beratap di depannya, "Dimana ini?"


"Rooftop." jawab Yamaken singkat.


(Atap)


"Atap? Bagaimana mungkin? Teman kencan butaku..." Mone menepuk keningnya sendiri. Ia terjebak dalam lamunannya dan tidak menyadari bahwa lantai yang ia tuju sudah terlewat jauh.


Raut wajah Yamaken menegang mendengar kalimat terakhir yang Mone ucapkan.


'Kencan buta?' batin Yamaken terasa nyeri saat itu juga. Mone menolak perasaannya dan kini sedang berkencan, bagaimana mungkin ia menahannya? Tapi ada sesuatu yang harus ia katakan saat ini juga.


Mone berbalik, bersiap menuju lift. Namun sayang, benda itu sudah melesat turun cukup jauh. Perlu beberapa waktu sampai kotak itu kembali lagi ke atas.


"Tangga darurat ada di sana." Yamaken menunjuk papan bergambar tangga yang ada di salah satu sudut bangunan ini. "Apa kamu buru-buru? Bisakah kita berbincang sebentar? Dua menit saja." Yamaken menatap jam yang ada di pergelangan tangannya.

__ADS_1


Mone menghela napasnya, mengurungkan niat untuk lari dari pria ini. Cepat atau lambat mereka pasti juga akan bertemu lagi.


"Seseorang menungguku di bawah. Apa ada yang ingin kamu katakan?" tanya Mone setelah duduk di salah satu silinder besi panjang yang ada di sana.


Yamaken menetralkan wajah tegangnya, mengondisikan hati dan logikanya agar berjalan seirama dengan mulutnya.


"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan dengan kakek, abaikan saja. Pria tua itu seringkali bertindak semaunya sendiri. Jangan merasa terbebani, anggap saja kamu tidak pernah mendengar apapun."


Mone menatap pria yang kini berdiri di belakang portal, memunggunginya. Ia mendengar suara pria itu sedikit bergetar, mungkin tengah menahan luapan emosinya.


"Beliau menantangku untuk menemukan sesorang yang lebih baik darimu dalam waktu tiga bulan. Jika aku mendapatkannya, beliau akan melepaskanku." Mone mendekat dan berdiri beberapa langkah dari pria ini.


Yamaken tersenyum. "Dan kamu percaya?"


"Apa?"


"Kakekku seorang yakuza. Dia bisa menyingkirkan apa saja yang tidak dia sukai, bahkan siapa saja tidak akan bisa melawannya. Bagaimana mungkin kamu sebodoh itu dengan menerima tantangannya?"


Deg


Jantung Mone seolah berhenti. Apa yang Yamaken katakan benar adanya. Bagaimana mungkin dia senaif itu dengan mempercayai kata-katanya?


"Jangan khawatir. Aku akan bicara pada kakek. Kamu tidak perlu merasa terbebani. Lakukan saja apa yang kamu mau. Jaga kesehatanmu, jangan sungkan untuk menghubungiku jika kamu membutuhkan bantuan." Ken menoleh, menatap gadis di sampingnya sambil tersenyum.


'Bagaimana mungkin dia bisa tersenyum seperti itu setelah aku menolaknya?' batin Mone.


"Maaf," ucapnya tak enak hati.


"Kenapa harus minta maaf? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun." Yamaken mendekat dan mengelus puncak kepala gadis di hadapannya, membuatnya tersipu dan menundukkan kepala.


"Aku harus pergi. Sampai jumpa lain waktu," pamit Yamaken, meninggalkan Mone yang terpaku di tempatnya berdiri. Ia harus merelakan gadis itu, tidak ingin menyulitkannya. Yamaken mempercayai kata-kata dari kakak iparnya, membiarkan semesta menuntun jalan mereka. Jika memang ditakdirkan bersama, maka suatu saat nanti, ia akan bisa mendapatkan gadis ini. Jika tidak, maka Mone memang tidak berjodoh dengannya. Satu yang pasti, ia akan percaya pada takdir. Tugasnya kali ini hanyalah melepaskan ambisinya untuk memiliki Mone.


Mone menatap punggung Yamaken yang menghilang dibalik pintu lift. Seketika ia luruh di lantai, membiarkan popcorn di tangannya berserakan di hadapannya. Mone menangis sedu sedan. Hatinya terasa sesak saat satu orang yang tulus menyayanginya kembali pergi.


"Baka! Baka iro!" ucapnya sambil menghantam lantai kasar di sisi badannya dengan tangan terkepal.


(Bodoh! Dasar bodoh!)


...****************...


Kesian si abang, broken heart again 😣😭😭😭


Baik-baik abang Yamaken. Be stronger bang meskipun jadi sadboy 💔


Sini-sini author peluk 😘😘


With love,


Hanazawa Easzy ⚘

__ADS_1


__ADS_2