
Langit telah gelap seluruhnya saat Shun sampai di sebuah ruangan bawah tanah di bawah pengawasan Zen Zen Massage and Spa. Dua buah anjing Herder yang polisi itu bawa, mengarahkan mereka ke ruangan tersembunyi ini.
German shepherd alias anjing herder adalah salah satu ras yang paling umum dipekerjakan dalam tugas deteksi aroma. Kemampuan hewan ini dipuji karena indra penciuman, fokus, kecerdasan, dan tekadnya yang kuat.
Mereka menemukan pakaian Kaori yang tergeletak di lantai. Tak jauh dari sana, ada cairan warna merah yang bercecer di atas meja. Hal itu membuat Shun penasaran dan mendekat. Matanya terbelalak saat melihat sebuah benda mungil yang sangat ia kenal ada diantara cairan merah itu. Dan benda super kecil itu adalah microchip.
Microchip adalah kepingan kecil terbatas yang tidak bisa dipakai oleh sembarang orang. Benda itu bisa digunakan untuk melacak sesuatu, bahkan seseorang. Sepertinya tuan Harada berhasil melepas microchip dari punggung tangannya beberapa jam yang lalu, terlihat dari noda darah ini yang mulai mengering. Dengan kelembaban ruangan bawah tanah ini, setidaknya membutuhkan waktu dua atau tiga jam sampai cairan merah ini mengering dengan sendirinya.
Jika dihitung-hitung, Kaori baru menghilang sekitar empat puluh menit yang lalu. Itu artinya, bukan Kaori yang melakukan operasi pada tuan Harada. Bahkan kemungkinan wanitanya tidak pernah menginjakkan kaki di tempat ini. Anjing-anjing pelacak ini datang kemari karena pakaian Kaori, bukan karena bisa mengendus bau istrinya. Shun harus kembali memutar otak. Bagaimana dia bisa menemukan wanita kesayangannya.
"Tuan, hanya ada pakaian di sini. Mungkinkah ini milik istri Anda?" tanya seorang petugas kepolisian yang mendekat ke arah Shun sambil membawa pakaian yang tergeletak di lantai.
Shun mengangguk. Dia masih berusaha mencari titik terang permasalahan yang cukup pelik ini. Hatinya yakin bahwa Kaori pasti baik-baik saja, tapi logikanya menolak. Jelas-jelas wanita itu tidak ada dimanapun, pasti seseorang menculiknya.
"Apa di sekitar sini ada kamera CCTV?" tanya Shun pada dua petugas yang menyertainya sejak beberapa jam yang lalu.
"Kamera pengawas hanya ada di depan sana, tepat di atas pintu masuk tempat spa ini. Kami mewajibkan semua panti pijat memasang kamera pengawas untuk meminimalisir kejadian kriminal."
"Izinkan saya melihatnya!" Permintaan Shun lebih terdengar sebagai sebuah perintah, dibandingkan permohonan. Dia menatap dua orang polisi itu bergantian, meyakinkan keduanya.
"Baiklah. Mari."
Seorang petugas membawa Shun ke kantor. Mereka langsung menuju ruang pengawasan di lantai dua gedung ini. Salah seorang staf segera mencari rekaman dari depan Zen Zen Massage and Spa. Disana tampak Shun dan Kaori memasuki bangunan 6 x 8 meter itu sambil bergandeng tangan. Beberapa menit kemudian, Shun pergi seorang diri.
"Apa bangunan panti pijat ini tidak memiliki pintu belakang?" tanya Shun yang melihat seorang karyawan tempat spa dan sauna itu membuang sampah melalui pintu depan. Umumnya, staf sebuah tempat perawatan kecantikan sangat menjaga image tempat mereka bekerja, karena itu akan mempengaruhi penilaian pelanggan.
Polisi itu menggeleng. "Hanya ada satu pintu keluar di setiap ruko itu," ungkapnya.
Mata Shun terbelalak. Itu artinya dia bisa mencari istrinya dengan memperhatikan rekaman kamera pengawas. Ia kehilangan Kaori hanya dalam hitungan menit. Matanya semakin tajam mengamati video yang terus berputar. Tepat sepuluh menit setelah dia meninggalkan tempat pijat itu, sebuah mobil laundry mendekat. Salah satu staf membawa keluar troli berisi ember berisi pakaian kotor dan sebuah dus besar. Mereka tampak kesulitan mengangkat dus itu, membuat Shun mengerutkan keningnya.
"Berhenti! Tolong perbesar nomor kendaraan itu."
Staf itu segera melakukan perintah Shun. Ia juga mencatat nomor polisi dan jenis mobil box itu.
"Lanjutkan!" Petugas kepolisian itu kagum dengan kejelian wisatawan asing ini. Dia merasa pasti Shun bukan warga sipil biasa. Terbukti dari pengamatannya yang menunjukkan bahwa dia orang yang berpengalaman dalam bidang ini.
Rekaman video berlanjut sampai Shun datang ke tempat itu. Jadi satu-satunya cara para penculik itu memindahkan Kaori hanyalah dengan mobil laundry itu.
"Kita bisa melacak mobil itu sekarang." Staf yang berjaga di depan kamera pengawas itu mencoba memberi solusi.
"Ada ratusan ruas jalan di tempat ini. Dan tidak semuanya terpasang kamera pengawas." Petugas yang datang bersama Shun memberikan pertimbangan.
Shun menatap arloji di tangannya. Semakin lama mereka menemukan jejak mobil itu, maka artinya ada kemungkinan merwka bergerak semakin jauh. Dia yakin itu mobil keluaran Jepang, dimana ada sinyal khusus yang dimiliki setiap mobil. Ia hanya perlu mengetahui kodenya dan bisa langsung mendapat posisi terakhir mobil itu, tanpa repot mengamati rekaman kamera pengawas yang pastinya akan memakan banyak waktu.
"Izinkan saya mencarinya sendiri." Shun menatap tepat di manik mata petugas yang berusia lebih muda darinya, mungkin sekitar umur 24 atau 25 tahun itu.
"Silakan."
Detik berikutnya, jemari Shun menari-nari di atas keyboard komputer dengan percaya diri. Deretan angka dan simbol segera muncul di monitor, menampilkan bahasa pemrograman yang canggih. Sesekali ia memasukkan nomor polisi mobil itu sebelum menekan tombol enter.
Voila. Sebuah hasil yang mencengangkan tampak di layar monitor, menunjukkan data lengkap tentang mobil box itu. Shun tersenyum miring, menyadari kebodohan para penculik istrinya yang tidak mengganti nomor polisi mobil yang mereka gunakan.
Dua orang petugas kepolisian Thailand itu terhenyak. Mereka tidak menyangka dengan metode pencarian yang dilakukan oleh orang asing di hadapan mereka ini. Bagaimana bisa dia melakukannya dengan sangat cepat? Apa dia seorang ahli peretas jaringan?
__ADS_1
Berbagai pertanyaan lain memenuhi kepala dua orang itu, sebelum kembali tercengang dengan hasil yang tampak di monitor. Entah cara apa yang Shun lakukan sampai berhasil menampilkan satu titik warna merah di peta real time yang diambil dari satelit.
"Mobil itu ada di sini. Bisakah Anda mengantar saya ke sana?" tanya Shun sambil menunjuk satu titik di monitor komputer.
Petugas itu kehabisan kata-kata. Dia hanya bisa menganggukkan kepalanya sebelum berlalu bersama Shun meninggalkan tempat ini. Dia masih terkagum akan kemampuan Shun dan mulai bertanya-tanya identitasnya. Dia yakin pria yang mengaku bermarga Oguri ini pasti bukan orang biasa.
...****************...
Udara malam semakin terasa dingin, menusuk kulit hingga ke dalam tulang belulang. Siapa saja tidak akan memaksakan diri berada di luar ruangan, kecuali Shun dan dua orang dari pihak kepolisian. Mereka mendatangi titik yang diperkirakan menjadi tempat persembunyian mobil penculik Kaori. Itu adalah sebuah tempat konstruksi yang terbengkalai di wilayah selatan Bangkok, Thailand.
Shun dan dua orang petugas melewati portal yang dijaga oleh seseorang. Kawasan itu terlihat gelap, seolah tak pernah ada kehidupan di sana.
"Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya pria lanjut usia yang mendekat ke arah tamunya itu.
"Kami mencari mobil ini. Apa Anda melihatnya?"
Pria enam puluh tahunan dengan wajah yang mulai keriput itu, memicingkan matanya. Dia mengamati gambar mobil box berwarna putih yang tercetak di kertas.
"Ada begitu banyak kendaraan roda empat yang terparkir di tempat ini setiap harinya. Mereka datang dan pergi setiap waktu. Bahkan gudang pakaian bekas itu juga memanfaatkan lahan ini sebagai tempat parkir. Setiap hari ada mobil yang mengantar maupun mengambil pakaian bekas dari sana." Pria itu menunjuk satu gedung di sebelah lokasi konstruksi tersebut.
"Bagaimana saya bisa tahu, mobil mana yang Anda cari? Mari silakan Tuan Tuan cari sendiri." Pria itu membimbing Shun dan dua rekannya masuk ke dalam area konstruksi. Tampak puluhan mobil terparkir di sana dengan sembarang, membuat tempat ini terlihat sesak.
"Bagaimana bisa ada begitu banyak mobil di sini?" tanya seorang petugas pada pria itu.
"Lokasi ini menjadi tempat penitipan mobil saat malam hari sejak lima tahun yang lalu. Itu karena proyek bangunan ini tidak diteruskan lagi oleh pemborongnya. Dibandingkan memarkirkan kendaraannya di bahu jalan yang akan mengganggu orang lain, para pemilik mobil ini memilih menitipkannya di sini."
Shun mengamati penjelasan pria lanjut usia ini. Dari raut wajahnya, dia terlihat tulus tanpa ada yang ditutup-tutupi sama sekali. Sepertinya dia tidak tahu apapun tentang penculikan Kaori, yang itu berarti bahwa dia bukan musuhnya.
Di saat Shun dan dua petugas berwajib itu memeriksa mobil-mobil itu satu per satu, gonggongan anjing terdengar begitu nyaring.
Salah satu petugas segera mendekat ke arah mobil yang dikendarainya tadi dan melepaskan dua ekor anjing Herder andalannya. Kedua hewan berkaki empat itu segera merangsek keluar dari kandang dan berputar-putar di satu tempat.
Shun segera menghampiri tempat dimana anjing-anjing itu sempat berputar-putar dan menemukan satu anting milik Kaori. Itu membuat matanya terbelalak. Itu benar-benar milik istrinya.
Dua anjing pelacak itu berlari cepat meninggalkan kawasan ini, mengejar sebuah mobil box warna putih yang tampak semakin menjauh.
"Komandan, mereka pergi."
Shun berlari ke arah mobil polisi dan masuk ke sana detik berikutnya. Sirene segera dinyalakan bersamaan dengan pergerakan mobil yang meninggalkan lokasi konstruksi ini.
Wiuu wiuuww
Mobil segera melaju kencang, membelah jalanan Bangkok yang mulai sepi oleh kendaraan. Satu dua tampak berpapasan, namun memilih acuh pada kejar-kejaran dua kendaraan berlainan jenis itu. Bukan urusan mereka, begitu pikirnya. Mereka berlalu begitu saja.
Dua penculik itu mulai panik saat menyadari keberadaannya terendus polisi. Pria di balik kemudi langsung menekan pedal gas di bawah kakinya, membuat kendaraan roda empat itu melaju kencang.
Di dalam box, Kaori berpegangan erat pada palang besi yang ada di sebelah kanannya. Suara sirene yang meraung-raung membuatnya sedikit tersenyum. Ia yakin Shun dan para polisi itu tengah mengejarnya. Ia hanya bisa berdoa, semoga kejar-kejaran ini tidak sampai membuat mobil mereka oleng apalagi sampai terjadi kecelakaan.
Duk
Duk
Sayang sekali, harapannya itu kandas bahkan sebelum ia mengungkapkannya. Mobil yang membawanya, bergerak tak beraturan ke kanan kiri, membuat kepalanya terantuk-antuk. Pegangannya semakin licin karena tangannya berkeringat. Belum lagi rasa pening luar biasa yang kini menyerangnya, membuat napas dokter cantik itu memburu.
__ADS_1
Shun yang duduk di kursi depan, mencengkeram tangannya erat-erat saat mobil yang mereka kejar terlihat semakin menjauh. Para penculik itu mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan, membuat pria Jepang ini semakin marah. Petugas polisi yang ada di balik kemudi tidak berani menambah kecepatan melebihi batas. Dia adalah pria yang taat hukum. Sial!
Shun menurunkan jendela kaca di sampingnya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain ia gunakan untuk mengambil pistol di balik bajunya. Tidak ada cara lain, ia harus menembak mobil di depan sana agar mereka berhenti dengan paksa.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?" tanya petugas polisi berpakaian navy itu. "Menggunakan senjata saat berkendara juga tidak diperbolehkan."
"Peduli setan! Mereka membawa istriku, haruskah aku diam?!" geram Shun. Ia mengeluarkan sebagian tubuhnya, bersiap membidik targetnya di depan sana. Polisi muda yang mengemudikan mobil ini hendak mencegah apa yang Shun lakukan, namun petugas lainnya menghalangi. Dia yakin dengan kemampuan pria asing ini.
Shun memicingkan matanya, menatap mobil box itu tanpa berkedip. Ia berhasil mengunci target.
DOR
Sebuah tembakan melesat dari senjata api yang ada di tangannya. Sebuah timah panas mendarat di kaca spion sebelah kiri mobil yang mereka kejar, membuat kendaraan itu oleng sedikit. Mungkin pengemudinya sedikit terkejut, tidak menyangka akan mendapat serangan tiba-tiba seperti ini.
Satu penculik itu mengeluarkan pistol dan berniat menyingkirkan mobil polisi yang mengejarnya. Ia melakukan hal yang sama seperti Shun, mengeluarkan sebagian tubuhnya dari jendela. Sebuah tembakan ia lesatkan begitu saja, jauh dari target yang ditujunya. Tembakan itu tak mengenai Shun maupun mobil yang ia tumpangi. Kemampuan menembaknya benar-benar payah.
"Lebih cepat lagi!" titah Shun, tidak peduli pada peraturan yang ada di negara ini. Dan entah sihir atau apa, petugas polisi itu menuruti perintah Shun, melajukan kendaraan yang masih menyuarakan sirene itu dengan lebih cepat.
"Tamatlah riwayatmu!"
DOR
Shun menembak penculik itu tepat di bagian kepalanya yang muncul di jendela. Ia tidak takut akan mendapat sangsi nantinya. Satu yang pasti, ia harus menyelamatkan istrinya sekarang.
Pengemudi mobil box kehilangan fokus saat melihat rekan kriminal yang duduk di sampingnya sudah tumbang. Mobil yang ia kendarai mulai naik ke atas jembatan. Tangannya gemetar ketakutan, membuat mobil yang ia kendarai mulai masuk ke jalur yang berlawanan. Sebuah truk kontainer melaju dari arah sebaliknya.
TUT TUT TUTTT
BRAKK !!
Kecelakaan tak terelakkan, membuat mobil yang lebih kecil itu terpelanting ke arah lain. Truk kontainer berhenti seketika, namun tak bisa mencegah apa yang terjadi.
BYURR
Mobil box itu tercebur ke dalam sungai, membuat Shun membulatkan matanya. Rasa sesak seketika merayap di dalam dadanya.
Ckiitt
Mobil polisi itu terhenti, Shun segera berlari ke tepi jembatan dan menatap mobil yang membawa istrinya kini mulai tenggelam ke dasar sungai. Tidak ada cara lain, Shun harus segera menyelamatkan Kaori. Ia naik ke portal besi di tepi jembatan ini dan terjun detik berikutnya.
Di saat yang sama, di dalam mobil box itu, Kaori mulai panik. Air mulai menenggelamkan kotak besi tempatnya berada, membuatnya harus berjuang mencapai pintu keluar, satu-satunya jalan keluar baginya.
DUK DUK DUK !!!
Kaori memukul pintu besi di depannya, berharap bisa terbuka saat itu juga. Sayangnya, itu hanya harapan kosong untuknya. Stok oksigen di dalam paru-parunya semakin menipis, membuat Kaori panik.
DUK DUK !!
...****************...
Aaaaghhhh Kaori-chan. Ayo Abang Shun selamatkan istrimu 😢😭😭
Hanazawa Easzy
__ADS_1