Gangster Boy

Gangster Boy
Gangster Boy : Postphital Dysphoria (PCD)


__ADS_3

Ken menuruni tangga sambil bersenandung lirih. Ia merasa bahagia setelah berhasil 'memiliki' istrinya lagi. Meski sedikit rasa bersalah menghantuinya, namun itu tak mengubah fakta bahwa ia mendapatkan kepuasan batin yang luar biasa.


Greg


Ken membuka lemari pendingin di depannya dan mengambil kotak berisi susu bubuk milik istrinya. Itu adalah asupan tambahan untuk ibu menyusui seperti Aira. Setidaknya ia menghabiskan tiga atau empat kotak susu bubuk seperti ini setiap minggunya. Itu untuk menunjang agar ASI yang ia hasilkan melimpah dan mencukupi kebutuhan ketiga buah hatinya. Selain susu coklat ini, Ken selalu meminta asisten rumah tangganya untuk memasak makanan bergizi untuk istrinya.


Sampai sekarang, sebenarnya Ken tidak tahu dengan jelas makanan apa saja yang baik untuk istrinya. Dia ingin anak-anaknya cerdas dan tumbuh dengan sehat. Begitu juga dengan Aira, Ken tidak ingin istrinya itu sakit karena mengurus ketiga buah cinta mereka.


Ken ingat, Aira sangat menyukai salad buah. Jadi ia memutuskan untuk membuatnya sebelum menyeduh bubuk coklat itu dengan air panas. Pria itu sibuk mengupas berbagai macam buah setelah merendamnya dalam air hangat beberapa detik. Itu untuk menghilangkan efek dingin yang tidak baik saat dikonsumsi malam hari seperti sekarang.


Sebenarnya, meski ibu menyusui tidak memperoleh nutrisi yang lengkap, ASI yang dikeluarkan masih bisa memenuhi kebutuhan gizi bayinya. Kekurangan jenis nutrisi tertentu akan diambil dari tubuh Sang Ibu.


Namun, jika dibiarkan dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi kondisi kesehatan ibu. Itulah sebabnya penting untuk tidak mengonsumsi hanya satu jenis makanan tertentu atau melakukan diet berlebihan. Hal ini dapat mengurangi kualitas dan jumlah ASI.


Ken pernah dengar dari Kaori bahwa karbohidrat kompleks baik untuk ibu menyusui. Makanan yang mengandung karbohidrat kompleks antara lain seperti gandum, kacang-kacangan, sayur, dan buah. Beberapa makanan itu merupakan pilihan yang baik untuk mencukupi kebutuhan energi selama masa menyusui. Hal ini karena karbohidrat kompleks dicerna lebih lambat daripada karbohidrat sederhana, sehingga dapat memasok energi lebih lama dan gula darah juga akan lebih stabil.


Selain zat yang sudah disebutkan sebelumnya, ada beberapa nutrisi lain yang termasuk penting untuk Aira seperti protein, lemak sehat, zat besi, dan kalsium. Ken ingin berusaha memenuhinya agar Aira tidak sampai tumbang.


Pria 28 tahun itu melangkahkan kakinya kembali ke kamar dengan membawa segelas susu coklat hangat dan semangkuk salad buah dengan parutan keju di atasnya. Dia yakin Aira pasti akan menyukainya.


"Sayang, aku bawakan... " Kata-kata Ken terhenti dengan paksa saat melihat wanitanya terlelap di balik selimut. Wajahnya tampak lelah dengan sisa air mata yang membekas di atas bantal. Sepertinya ia menangis lagi setelah Ken meninggalkannya beberapa menit yang lalu.


Cup


Sebuah kecupan lembut mendarat di kening Aira yang terlelap. Ken tetap menempelkan bibirnya disana selama beberapa menit sambil memejamkan mata, berharap kesedihan istrinya bisa ia ambil dengan cara itu.


"Maaf karena membuatmu menangis lagi," bisiknya sambil menyimpan beberapa helai rambut istrinya ke belakang telinga. Ia mengelus pipi chubby di depannya dengan sayang, merasa menyesal karena sudah memaksakan kehendaknya.


Ken merasa bersalah dan harus mencari tahu penyebab istrinya menangis. Dan satu-satunya orang yang mungkin ia tanyai adalah dokter Kaori.


"Ada apa, Ken?" tanya Kaori begitu panggilan telepon antar negara itu terhubung. Ya, Kaori saat ini masih ada di Thailand untuk bulan madu bersama suaminya, Shun.


"Apa aku mengganggumu?" tanya Ken lirih, merasa tak enak hati karena menelepon lewat tengah malam seperti sekarang.


"Tidak. Kami baru saja pulang melihat festival bunga. Ada apa? Ada yang bisa ku bantu?"


Hening

__ADS_1


Ken tak lantas menjawab pertanyaan dokter cantik ini. Ia bingung bagaimana harus mengungkapkannya.


"Ken? Kamu masih di sana?" kejar Kaori karena beberapa detik berlalu tapi Ken belum membuka suaranya.


"Dimana Senior?"


Kaori melirik Sang Suami yang kini sedang memeluk perutnya dari belakang. Shun mendekatkan telinganya pada telepon istrinya, ikut mendengarkan pembicaraan dua arah antara Ken dengan Kaori. Sebenarnya dia sedikit kesal karena aktivitas menyenangkan ia dan istrinya terganggu.


"Ada. Dia sedang istirahat," kilah Kaori, merasa tak enak hati jika mengatakan bahwa mereka sedang melakukan 'itu' saat ponsel pintarnya berdering.


"Bisa aku minta waktumu sebentar?" Ken serius dengan ucapannya. Dia benar-benar meminta waktu untuk konsultasi, Kaori tahu itu. Dari nada bicara pengusaha muda ini, terdengar dia seperti memiliki permasalahan yang begitu pelik.


"Apa ini berhubungan dengan istrimu?" tebak Kaori to the point.


"Umm." Ken membenarkan dengan gumama dari mulutnya.


"Ada apa?"


"Dia menangis setelah kami berhubungan. Aku tidak tahu apa yang terjadi padanya. Dia hanya menggeleng saat aku menanyakannya." Ken mengatakan keluhannya dengan berat hati.


"Apa kamu memaksanya?"


"Ken?!" Panggilan Kaori membuat pria itu menelan ludahnya dengan paksa.


Keterdiaman Ken membuat Kaori menyimpulkan bahwa dugaannya benar adanya. Pasti Ken yang bersalah disini. Ia tahu tabiat sahabatnya, ibu tiga anak itu tidak akan marah atau menangis tanpa alasan yang jelas.


"Katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya!" titah Kaori emosi. Ia tidak ingin siapapun membuat Aira bersedih, apalagi sampai menangis. "Kamu bersikap kasar padanya?"


Mulut Ken terkunci, tak bisa menyangkalnya.


"Yamazaki Kenzo!! Apa kamu gila? Apa yang kamu lakukan pada istrimu?!" teriak Kaori dengan lantang, membuat Ken harus menjauhkan ponsel miliknya dari telinga. "Jangan diam saja. Jawab pertanyaanku!"


"Aku... " Ken menundukkan kepala. Ia mencengkeram besi berulir di depannya. "Maaf," lirihnya penuh penyesalan.


"Jangan meminta maaf padaku. Katakan itu pada istrimu!" hardik Kaori sambil melepaskan diri dari Shun. Ia kesal pada Ken, membuatnya ikut merasa kesal pada Sang Suami yang terus mendusel ke lehernya. "Bagaimana keadaannya sekarang?"


"Dia sedang tidur." Ken berucap lemah.

__ADS_1


Kaori mengembuskan napas beratnya. Ia berjalan menjauh dari Shun, berdiri di balkon sambil menikmati indahnya kota Pattaya di malam hari. Bintang gemintang tampak menggantung di langit, membuat Kaori sedikit tenang.


"Katakan padaku bagaimana kamu bisa membuatnya menangis!" titah Kaori.


Ken menceritakan kronologi kejadiannya, membuat Kaori menggelengkan kepala karena heran. Serigala tetaplah serigala, entah dia bersikap semanis apa, tetap ada sisi buas yang ada di dalam dirinya.


"Ada beberapa alasan wanita menangis setelah berhubungan biologis. Salah satunya karena postphital dysphoria (PCD). Kondisi ini menyebabkan seorang wanita memiliki dorongan untuk menangis karena rasa sedih yang tidak tertahankan."


"Apa itu masalah yang serius?" tanya Ken khawatir.


"Tidak terlalu serius. Tapi, seharusnya sebuah hubungan menjadi hal yang menyenangkan bagi setiap pasangan. Namun, yang terjadi dapat menjadi hal yang menyedihkan, menakutkan, bahkan membuat trauma. Dan seringkali pihak wanita merasakan perasaan melankolis, cemas, marah, tertekan, atau agresif setelah berhubungan. Tangis yang terjadi menggambarkan perasaan marah, malu, atau kehilangan jati diri."


Ken mengembuskan napas lega. Bukan hal yang serius ternyata. Tadinya dia sudah berpikir berlebihan, takut Aira menangis karena kesakitan atau semacamnya.


"Tidak hanya pada wanita, kondisi ini juga bisa dialami pada pria. Mereka bisa saja merasa sakit dan tertekan. Dia seperti merasa tidak nyaman dengan tubuhnya sendiri. Perasaan ini kemudian diluapkan dengan kesedihan dan air mata." Penjelasan Kaori masih berlanjut.


"Tangisan istrimu mungkin juga sebagai bentuk reaksi biologis atas apa yang kamu lakukan padanya. Tubuh memproduksi beragam jenis hormon dalam jumlah yang cukup besar. Perubahan hormon ini mempengaruhi bagian otak yang mengatur reaksi emosional seperti sedih dan tangis. Reaksi ini akan berbeda-beda bagi setiap orang. Seseorang yang mudah tersentuh seperti Aira mungkin akan memiliki risiko yang lebih besar untuk meluapkan emosinya. Terlebih lagi, dia mungkin mengalami kelelahan karena mengurus tiga bayi kalian."


"Aku takut dia merasa kesakitan atas perbuatanku. Dia hanya menggeleng dan tidak mengatakan sepatah kata pun," sesal Ken.


"Aku tidak bisa memastikannya sebelum mendengar kesaksian dari istrimu. Entah karena dia merasa kesakitan, bahagia, rapuh, sedih, takut kehilangan, atau takut membuka diri pada orang lain."


"Aku bukan orang lain. Aku suaminya!" Ken memotong ucapan dokter 30 tahun ini. "Mungkinkah itu karena trauma?" tanya Ken.


"Mungkin saja," jawab Kaori. "Beberapa orang merasa sedih dan bahkan menangis setelah berhubungan badan karena trauma tertentu. Misalnya karena pernah keguguran atau karena pernah mendapatkan kekerasan seksual. Momen-momen menyakitkan ini bisa membuatnya trauma dan takut meskipun berhubungan biologis dengan pasangannya sendiri. Kamu seharusnya masih ingat betapa ganasnya perlakuanmu sebelum Yoshiro membawa pergi Aira saat itu."


Glek


Lagi-lagi Ken hanya bisa menelan ludahnya dengan paksa. Ia masih mengingat peristiwa itu dengan sangat jelas. Pastilah Aira juga tidak bisa melupakannya. Bahkan kenangan pahit itu akan terus tersimpan di dalam hati hingga akhir hayatnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ken lirih. Ia kembali melakukan kesalahan fatal tanpa ia sadari.


...****************...


Hmmm, selalu dah penyesalan datengnya di akhir. Kalo di awal namanya pendaftaran 😂😂


Makanya hati-hati, Bang. Kasian emaknya anak-anak kan kalo udah gini. Dia masih trauma sama kejadian waktu itu. Heuheuuu... 😥

__ADS_1


See you,


Hanazawa Easzy


__ADS_2