
Kedatangan nyonya Sumari mengganggu suasana romantis yang terjalin antara Ken dan Aira. Keduanya menjadi canggung.
Nyonya Sumari membagi pengalamannya dalam mengurus bayi dan menjelaskan perkembangan anak-anak pada usia dua bulan. Aira baru menyadari hal itu. Meski pernah mengikuti kelas parenting, tapi tidak dijelaskan secara detail seperti apa perkembangan anak-anak di bulan-bulan pertama setelah mereka sampai ke dunia ini.
Ken menelan ludahnya dengan paksa saat ibunya berusaha menguak segala kebohongan yang ia lakukan untuk menipu istrinya selama ini.
"Dia sudah membodohimu berkali-kali tapi kamu tidak menyadarinya." Nyonya Sumari menatap putranya dengan tatapan tajam, membuat ayah tiga anak itu hanya bisa menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap Queen of Monster di depannya ini.
"Membodohiku?" tanya Aira heran.
"Aku akan mengatakan semuanya. Kamu berhak marah dan menghukumnya setelah itu."
"Bu," Ken coba mencegah ibunya.
"Apa? Ibu mendiamkanmu selama ini. Sudah cukup kamu mempermainkan istrimu!" Nyonya Sumari sungguh memarahi putranya.
"Bu, sudahlah. Kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin." Aira berusaha menolong suaminya dari situasi genting ini, meski sebenarnya ia juga tidak tahu apa yang telah terjadi.
"Sakura, bawa ketiga cucuku masuk!" titah wanita 52 tahun ini pada pengasuh cucunya yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
"Baik, Nyonya."
Sakura dan seorang rekannya segera mendekat, melaksanakan perintah nyonya di keluarga Yamazaki ini. Mereka membawa baby Akari, Ayame, dan Azami masuk ke dalam rumah. Ia sendiri tidak tahu apa yang membuat Nyonya Besar ini marah.
"Akui perbuatanmu atau ibu yang akan mengatakannya!" Suara nyonya Sumari masih meninggi, menuntut anaknya untuk berkata jujur. Tampaknya wanita ini benar-benar marah.
"Aku sudah membohongi istriku," aku Ken lirih.
Hening
Tidak ada yang bersuara. Aira mengerutkan kening di belakang ibu mertuanya yang tengah berkacak pinggang. Dia tidak bisa menebak apa yang diinginkan oleh ibu mertuanya. Wanita ini terlihat begitu menakutkan di depan putra sulungnya.
"Bohong apa? Katakan dengan jelas!" desak nyonya Sumari.
"Ano... " Ken kesulitan menyatakan penjelasannya. "Aku akan meminta maaf pada Aira nanti," ungkap Ken lirih.
(Itu)
"Ambil posisi!" teriakan nyonya Sumari kembali menggema. Wajahnya merah menahan amarah.
"Bu... " Ken berusaha memohon belas kasih ibunya.
"Push up seratus kali. Sekarang!" titah wanita yang mengenakan dress hijau lumut sebatas lutut.
Ken tak bisa membantah lagi. Ia segera mengambil posisi push up dan mulai menjalani hukumannya. Ibunya ini sudah seperti komandan perang. Tak ada satu pun prajurit yang bisa terbebas dari perintahnya. Jika kakek menghukumnya dengan memukul betisnya menggunakan rotan, maka hukuman khas ibunya adalah push up, minimal seratus kali.
"1, 2, 3, 4, ... " Ken mulai menghitung sendiri hukumannya.
"Bu, tangan Ken belum sembuh total. Dia terluka." Aira memegang lengan ibu mertuanya, berharap hukuman Ken dibatalkan, atau setidaknya mendapat keringanan.
"Tangannya terluka?" Kamu yakin?" tanya nyonya Sumari dengan pandangan meremehkan Ken.
Ctakk
Nyonya Sumari memukul tangan kiri Ken dengan rotan yang ada di tangannya. Entah sejak kapan wanita itu memegang bilah panjang yang menjadi senjata andalannya selama ini untuk menghukum putra sulungnya.
Ken mengangkat tangan kirinya ke belakang punggung dan kembali meneruskan hukumannya. Ia push up dengan bertumpu pada satu tangannya, yakni tangan kanan yang Aira anggap terluka.
"34, 35, 36, ... " Ken melanjutkan hitungannya tadi.
Aira memicingkan mata, membuat alisnya seolah bertaut. Tangan Ken baik-baik saja.
"Kamu lihat baik-baik. Apa dia terluka?" ketus nyonya Sumari.
Aira berjongkok di depan Ken, memperhatikan ekspresi di wajah suaminya yang mulai berkeringat. Satu dua peluh mulai menetes melalui pelipisnya.
"76, 77, 78, ...." Hitungan masih berlanjut dan Aira masih jongkok di hadapan suaminya. Ia masih belum mengerti apa yang terjadi tanpa ia ketahui sampai membuat ibu murka.
"98, 99, 100."
Hosh
__ADS_1
Hosh
Ken mengembuskan napasnya. Wajahnya tampak sedikit pucat dengan dada naik turun, senada dengan detak jantungnya yang melaju lebih cepat dari biasanya. Aira membantu Ken berdiri. Ia bahkan memapah suaminya yang hampir kehilangan keseimbangan.
Aira membawa Ken kembali duduk di atas bangku yang mereka tinggalkan beberapa menit yang lalu. Setelah Ken terlihat sedikit tenang, Aira memutuskan mendekat ke arah ibunya.
"Kalian semua pergi dari sini. Jangan ada yang menguping pembicaraan kami!" tegas Aira kepada para pengawal yang menyertai nyonya Sumari. Hanya tersisa wanita itu, Ken dan Aira.
"Bu, maaf jika aku lancang. Aku harap ini terakhir kali ibu memberikan hukuman pada Ken atas namaku!" tegas Aira dengan wajah tanpa ekspresinya. Ia benar-benar serius mengucapkan pernyataan ini.
"Apa maksudmu?" nyonya Sumari heran dengan sikap menantunya. Ia sedang membantu mendisiplinkan Ken, tapi Aira justru menentangnya.
"Mungkin Ken memang bersalah. Tapi aku tidak tahu apa salahnya. Tiba-tiba ibu datang, menuntutnya untuk mengakui sesuatu yang tidak jelas dan langsung menghukumnya. Ibu melakukan itu dengan dalih untuk membelaku karena Ken telah membodohiku."
"Aira, ibu memang melakukan ini untukmu. Suamimu itu... "
"Maaf, Bu. Aku tidak ingin mendengarnya dari mulut ibu." Aira memotong ucapan ibu mertuanya.
"Hah?"
"Aku ucapkan terima kasih karena ibu masih peduli pada kami. Tapi tidak seharusnya ibu menghukum Ken di depan orang lain. Jika memang ibu ingin menghukumnya, silakan saja, tapi bukan di depan orang lain. Ibu bisa menasehati kami saat hanya berdua. Jika ibu menegur Ken di belakang, maka dia akan tahu dengan jelas kesalahannya. Tapi jika ibu menegurnya atau bahkan menghukumnya di depan umum, itu sama saja seperti ibu melemparkan kotoran busuk di wajah putra ibu sendiri."
Nyonya Sumari mengerti arah pembicaraan memantunya ini. Mulutnya bungkam, merasa bersalah karena telah melewati batas. Ia terlalu emosi sampai kehilanyan akal sehatnya.
"Maaf jika ini terlihat tidak sopan, tapi bisakah ibu tidak mencampuri masalah rumah tangga kami?"
Wanita 52 tahun itu terhenyak. Ia seolah melihat pribadinya saat masih muda dulu. Keras dan tegas, namun masih mengutamakan etika yakni menghormati orang yang lebih tua.
"Kalaupun rumah tangga kami ada sedikit masalah, maka ibu tidak perlu repot-repot meluangkan waktu untuk menghukum Ken. Ibu hanya perlu menasehati kami. Biarkan kami menghadapinya bersama.
"Ken adalah suamiku, dan aku adalah istrinya. Jika ada hal buruk yang ia lakukan, itu karena keburukan yang ada padaku. Pun sebaliknya, ketidaksempurnaanku tercipta karena kekurangan yang Ken miliki. Aku selalu percaya bahwa laki-laki yang baik untuk wanita baik-baik, dan sebaliknya."
Nyonya Sumari mengangguk. Ia sepakat dengan pemikiran menantunya ini. Orang tua memang seharusnya tidak ikut campur terlalu jauh dalam urusan rumah tangga anak-anaknya, kecuali mereka memang meminta untuk didamaikan.
"Aku sungguh minta maaf jika sikapku ini lancang dan mungkin tidak berkenan di hati ibu." Aira menundukkan kepalanya sembilan puluh derajat, menunjukkan rasa hormatnya pada wanita yang telah melahirkan suaminya 28 tahun yang lalu.
Bukannya marah, nyonya Sumari justru mengelus kepala Aira dengan sayang. Dia memeluk menantunya dengan erat.
"Umm. Aku tahu, Bu."
Nyonya Sumari meninggalkan tempat itu setelah memeluk menantunya sekali lagi. Kini hanya tersisa Ken dan Aira di tempat yang mulai terasa panas itu. Matahari naik sepenggalah, sudah waktunya mereka masuk kembali ke dalam rumah. Namun Aira masih ingin mendengar penuturan dari Ken tentang apa yang sebenarnya terjadi.
"Terima kasih karena kamu sudah melindungiku."
"Haishh, berapa kali kamu akan mengatakan terima kasih?" Aira duduk di hadapan Ken yang masih mengatur napasnya. Ia sudah lama tidak mendapat hukuman dari ibunya. Olahraga pagi ini membuatnya sedikit kewalahan karena akhir-akhir ini dia jarang berolahraga.
Kesibukan di kantor membuatnya harus bekerja dari pagi hingga larut malam. Itu semua Ken lakukan agar bisa terbebas dari pekerjaan saat weekend seperti sekarang. Dia ingin menikmati quality time bersama istri dan ketiga anaknya.
Ckiitt
Aira gemas pada suaminya yang terlihat begitu lemah di hadapan ibunya sendiri. Ia mencubit perut rata Ken untuk kesekian kalinya. Ini menjadi hukuman wajib dari Aira untuk suaminya.
"Aku butuh penjelasanmu!" tuntut Aira.
"Ai-chan, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." Ken tampak canggung. Ia menahan jemari Aira agar tidak menghukumnya lagi.
"Tidak seperti yang aku pikirkan?" Aira membeo. "Aku tidak memikirkan apapun." Aira menekuk mukanya. "Bisa jelaskan padaku, apa yang terjadi? Kenapa ibu terlihat begitu murka?" tanya Aira ingin tahu.
Ken menarik napasnya dalam-dalam. Ia menata hatinya, siap mendapat kemurkaan dari istrinya setelah mengungkapkan rahasianya.
"Berjanjilah kamu tidak akan menjauhiku setelahnya," pinta Ken dengan wajah memelas.
"Tidak. Aku harus dengar dulu apa masalahnya. Ibu sampai murka seperti itu, kenapa aku tidak boleh marah?"
Hening
Tak ada suara apapun selain burung yang berkicau di dahan-dahan pohon sakura. Satu dua turun ke tanah, mengais biji-bijian yang akan memenuhi tembolok mereka pagi ini.
*Tembolok pada sistem pencernaan unggas adalah suatu pelebaran kerongkongan yang terdapat di antara proventrikulus (lambung kelenjar) dan mulut. Makanan disimpan untuk sementara waktu di dalam tembolok.
"Sepertinya dokter itu mengatakan pada ibu." Ken nampak kesulitan memulai narasinya.
__ADS_1
"Humm? Dokter? Siapa yang sakit?" kejar Aira namun mendapat gelengan kepala dari suaminya.
"Bukan. Tidak ada yang sakit." Ken memegang tengkuknya. Ia benar-benar mati kutu. Speechless. Tidak bisa merangkai kata di depan istrinya.
"Ada apa?" Aira semakin penasaran tapi juga merasa khawatir. Ia takut ada sesuatu yang terjadi pada Ken tapi tidak ia ketahui.
"Umm, kamu ingat pil kontrasepsi yang pernah ibu berikan di awal-awal kehamilanmu dulu?"
Aira mengerutkan kening. Ia ingat betul kejadian itu. Ken hampir membunuhnya setelah ia meminum obat pencegah kehamilan yang Minami berikan. Namun belakangan justru diketahui bahwa fungsi obat itu kebalikan dari bungkusnya. Ibu mertuanya sengaja meminta seseorang mengemas vitamin untuk menyuburkan rahimnya dalam bungkus obat pencegah kehamilan. Aira tidak akan pernah melupakannya.
"Sebenarnya, aku melakukan hal yang sama." Ken kembali memegang tengkuknya.
"Melakukan hal yang sama?" Lagi-lagi Aira meniru ucapan Ken. Ia tidak tahu apa maksud perkataan suaminya yang terdengar ambigu ini.
*Ambigu adalah sesuatu yang bermakna lebih dari satu; membuat sebuah kata atau kalimat menimbulkan keraguan, kekaburan, ketidakjelasan, dan sebagainya.
'Apa hubungan kemarahan ibu dengan vitamin penyubur rahim?' batin Aira bertanya-tanya.
"Aku... "
Glek
Ken menelan salivanya sebelum melanjutkan penjelasannya, "Sebenarnya vitamin yang kamu konsumsi selama ini adalah obat itu," lirihnya hampir tak terdengar.
"Apa? Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas." Aira ingin memastikan bahwa apa yang ia dengar tidak salah.
"Vitamin yang selama ini aku berikan padamu, bukan hanya untuk memperkuat tubuhmu, melainkan berfungsi untuk memperkuat rahimmu juga. Aku ingin membuat adik kembar untuk Aya." Ken mengungkapkan rahasianya dengan perasaan getir. Ia siap mendapat kemarahan dari istrinya.
"HAH?" Aira membuka mulutnya lebar-lebar, tak bisa berkata-kata. Apa yang suaminya katakan benar-benar membuatnya terkejut.
"Ai-chan, maafkan aku. Aku tidak ingin menyakitimu. Percayalah padaku. Aku benar-benar minta maaf. Aku hanya ingin rahimmu segera sembuh dan kita bisa... " Ken tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa kering setelah mengatakan satu akal bulus yang ia gunakan untuk menjerat istrinya.
Ya, Ken bersabar selama masa nifas istrinya. Dia bisa menepati keinginan Aira agar tidak menyentuhnya selama kondisi Aira belum benar-benar membaik. Rahimnya harus istirahat sejenak setelah menampung ketiga janin yang dilahirkannya dua bulan yang lalu. Tapi Ken tetaplah seorang pria. Dia ingin mendapatkan kepuasan lahir dan batin setelah berpuasa selama ini.
"Aku terobsesi saat melihat perutmu yang membuncit, kamu terlihat begitu menggemaskan. Jadi, aku sengaja meniru taktik ibu. Aku menyuruh seseorang mengemas obat penyubur rahim dalam kemasan vitamin. Aku ingin melihatmu hamil lagi."
"Astaga."
Plakk
Aira menepuk keningnya sendiri. Ia menutup kedua matanya, tidak habis pikir dengan obsesi aneh yang Ken miliki.
'Bagaimana bisa pria ini terobsesi melihat perutku yang membuncit?' batin Aira tak terima.
"Apa kamu pikir hamil itu mudah? Mual di trimester awal, tidak bisa makan. Belum lagi saat kehamilan semakin besar, kaki bengkak, tidak leluasa bergerak, pinggang nyeri, tidak bisa tidur, sering buang air kecil tengah malam. Apa kamu memikirkan kesulitan yang aku alami? Bagaimana bisa kamu terobsesi melihat aku hamil? Coba sehari saja kamu menjadi wanita hamil, maka kamu akan tahu betapa 'nikmatnya' menjadi seorang ibu!" ketus Aira dengan nada suara berapi-api. Dia sungguh kesal dengan keinginan suamimu.
"Itu.... Aku... " Ken ingin meredam kemarahan istrinya, namun tidak tahu apa yang harus ia katakan.
"Dan kamu sebaiknya tahu. Obat kesuburan wanita dianjurkan oleh dokter jika mengalami masalah kesehatan seperti gangguan ovulasi atau semacamnya yang membuat seorang wanita sulit untuk hamil. Tapi aku baik-baik saja. Rahimku sehat dan sudah melahirkan tiga orang bayi untukmu. Bagaimana bisa kamu begitu rakus ingin memiliki bayi lagi?!"
"Ai-chan, aku... "
"Pantas saja ibu marah padamu. Ibu memintaku untuk berhati-hati padamu, suamiku sendiri. Tadinya aku tidak tahu apa maksud ucapan ibu. Aku bahkan membelamu di depannya, meminta ibu jangan menghukummu, tapi ternyata kamu... " Kali ini Aira yang kehilangan kemampuan untuk memilih kata yang tepat untuk memarahi suaminya.
"Ai-chan," lirih Ken. Ia meraih tangan istrinya dan bersimpuh di depan lututnya. "Maafkan aku."
"Sudahlah. Aku tidak ingin mendengar apapun darimu." Aira beranjak dari tempatnya dan kembali ke dalam rumah, mengabaikan Ken yang masih bersimpuh di tanah.
"Ai-chan.... Sayaaang...." Ken segera berlari, menyusul istrinya ke dalam rumah. Ia tidak bisa membiarkan Aira marah. Akan berbahaya jika Aira sampai mendiamkannya seperti dulu. Itu adalah penyiksaan terberat baginya.
...****************...
Astaga... Si Abang ada-ada aja sih 😥
Marah dah tuh mamak anak-anak. Udah punya baby triplet masih aja kurang, Bang 😂😂 Pantes si emak juga marah. Dia kan juga wanita, jadi tahu betapa amazing-nya jadi wanita hamil 🙄
Eh tapi, btw, obsesi mah sah-sah aja yaa. Ngga ada yang bisa maksain kita buat terobsesi sama sesuatu. Juga ngga bakal mudah buat hilangin obsesi kita dari sesuatu atau seseorang. Yaah, kembali ke masing-masing orangnya sii, nyatanya Author juga masih punya satu obsesi yang cuma Author dan Tuhan yang tahu. Hehe,
Dah ah, makin ngaco aja 😄
Bai bai,
__ADS_1
Hanazawa Easzy