
Langit telah gelap seluruhnya saat sebuah pesawat mendarat di landasan pacu Bandar Udara Internasional Suvarnabhumi, Bangkok, Thailand. Para penumpang yang ada dalam burung besi itu bisa bernapas lega setelah mengalami beberapa kali turbulensi.
Turbulensi adalah perubahan kecepatan aliran udara yang menyebabkan goncangan pada tubuh pesawat, baik kecil maupun besar. Turbulensi pada dasarnya merupakan hal yang wajar dan sama sekali bukan penyebab pesawat jatuh
Orang-orang seringkali menganggap guncangan yang terjadi adalah gejala awal sebelum pesawat jatuh. Padahal, pesawat sudah dirancang untuk menghadapi guncangan-guncangan tersebut. Bahkan ada teknologi terbaru yang bisa mengatasi gangguan penerbanyan ini agar membuat penumpang semakin tenang saat menggunakan moda transportasi udara ini.
Jika terjadi turbulensi, hal pertama yang harus dilakukan oleh penumpang adalah tetap tenang dan jangan panik. Mereka juga tidak diizinkan melepas sabuk pengaman di tubuhnya, apalagi sengaja berjalan-jalan tanpa pengamanan. Hal itu bisa membuat seorang penumpang cedera karena jatuh atau terbentur saat terjadi goncangan yang cukup keras.
Seorang pramugari nan rupawan mempersilakan para penumpang untuk mengecek barang bawaan mereka sebelum meninggalkan pesawat. Itu adalah salah satu standard operational prosedur yang harus dilakukan oleh seorang kru penerbangan.
"Hmm, udaranya hangat," ucap Kaori saat keduanya keluar dari bandara. Shun hanya tersenyum menanggapi istrinya yang begitu ekspresif.
Iklim dan udara di Thailand hampir sama dengan Indonesia, lebih hangat jika dibandingkan dengan negara empat musim seperti Jepang, China, atau Korea.
Seorang pria berpakaian hitam segera mendekat ke arah Shun dan Kaori. Ia dengan sigap mengambil alih dua buah koper yang sebelumnya ada dalam penguasaan Shun.
"Kita kemana?" tanya Kaori saat Shun membukakan pintu belakang mobil hitam yang ada di hadapannya.
"Malam ini kita istirahat di hotel dulu, aku sedikit lelah. Besok kita bisa pergi kemana pun kamu mau."
Kaori mengangguk, mengiyakan ide suaminya. Dia juga merasa sedikit lelah setelah perjalanan tujuh jam dua puluh menit yang mereka tempuh dari Jepang ke Thailand ini.
"Hati-hati kepalamu." Shun meletakkan tangannya di belakang kepala Kaori, mencegah agar kepala wanita kesayangannya tidak terbentur bagian atas pintu.
Shun sangat memeperhatikan setiap detail di depannya. Dia adalah orang yang hangat dan penuh perhatian, berbeda dengan image orang di luar sana yang mengatakan bahwa Shun adalah pria yang dingin dan arogan. Meskipun penilaian itu tidak sepenuhnya salah. Pria 29 tahun ini memang seringkali menampakkan wajah tanpa ekspresinya di depan umum, membuat orang-orang enggan mendekatinya. Jangankan mendekati, menatap matanya saja tidak berani.
"Terima kasih," tukas Kaori saat keduanya sudah duduk bersisian di dalam kendaraan roda empat ini. Pria berpakaian hitam tadi, kini duduk di belakang kemudi, membawa tuan dan puannya membelah jalanan kota Bangkok yang ramai oleh kendaraan.
"Apa seorang istri perlu berterima kasih pada suaminya?" celoteh Shun sambil meraih tangan Kaori.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Kaori, membuat wanita itu tersipu malu, pipinya memerah. Ia segera menarik tangannya untuk menutupi wajah. Dia seperti seorang remaja yang baru mulai mengenal lawan jenis, malu-malu kucing.
Shun segera mengelus puncak kepala istrinya dan memilih menatap keluar jendela, membiarkan detak jantung Kaori kembali normal. Jika ia terus bersikap manis padanya, takutnya Kaori akan mengalami serangan jantung karena berdetak terlalu cepat. Mobil berwarna putih itu berhenti di sebuah hotel bintang lima, beberapa kilometer dari bandara.
"Sawadee kha," sapa seorang petugas resepsionis wanita yang berdiri di belakang meja. Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada sambil menundukkan kepala. Itu adalah sikap khas orang Thailand yang dinamakan Wai.
*Sawadee kha adalah ucapan sapaan yang bisa dipakai setiap saat, entah pagi, siang, atau malam, mereka mengucapkan sapaan ini. Sawadee kha diucapkan oleh wanita, sedangkan jika yang mengucapkan pria maka berubah menjadi Sawadee khap.
Wai adalah sapaan khas masyarakat Thailand, yaitu sikap tubuh dimana kedua telapak tangan disatukan dengan jari-jari tangan diletakkan setinggi dagu disertai dengan sedikit menunduk. Wai lebih dari sekedar berjabat tangan. Wai merupakan cara untuk mengucapkan halo, selamat tinggal atau terimakasih. Rakyat Thailand memberikan wai pada lambang Budha, kuil, biksu dan orang dengan status yang lebih tinggi.
Shun tersenyum dan menunjukkan ponselnya dimana tertera kode pemesanan salah satu kamar di tempat ini. Mereka berdua segera menuju kamar setelah menyelesaikan prosedur administrasi di bagian resepsionis.
Brukk
"Hwaaahhh, akhirnya sampai juga." Kaori menjatuhkan badannya ke atas ranjang berukuran king size yang ada di tengah ruangan ini. Ia mengabaikan pandangan seorang petugas hotel yang masih berdiri di ambang pintu dengan dua koper di tangannya.
Shun mengambil alih koper, mencegah agar pria petugas itu tak perlu masuk ke dalam kamar. Dia memberikan beberapa lembar uang sebagai tips.
__ADS_1
"Kapunkap," ucap pegawai itu sambil menangkup kedua tangannya di depan dada, sama seperti petugas resepsionis tadi. Sebuah senyum hangat terukir di wajahnya.
Greg
Shun segera menutup pintu di depannya dan meletakkan kartu kamar di atas meja.
"Suka?" tanya Shun sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan ini. Semua sama seperti yang Shun lihat di website hotel ini sebelumnya. Tak sia-sia ia mengeluarkan biaya yang sedikit lebih mahal demi membayar kamar mewah ini.
"Umm." Kaori menatap sekeliling dengan pandangan bahagia. Ia puas, bahkan sangat puas dengan dekorasi ruangan ini. Sebuah ranjang besar, dinding kedap suara, kamar mandi yang luas, sebuah sofa empuk yang lengkap dengan LCD tv yang tertanam di dinding. Sebuah lampu kristal tergantung di atap, membiaskan sinar berwarna kuning yang terasa hangat, senada dengan lampu yang ada di belakang kepala ranjang. Dan yang paling membuatnya senang adalah pemandangan mengagumkan yang bisa ia lihat melalui dinding kaca transparan di salah satu sisinya.
"Hoam...." Kaori menguap. Ia memejamkan matanya detik itu juga. Dokter cantik itu terlelap karena terlalu lelah. Ia bahkan belum melepas jaket yang melekat di tubuhnya. Hal itu membuat Shun tersenyum.
Cup
"Istirahatlah, Sayang. Jangan harap kamu bisa istirahat nanti," bisiknya setelah mengecup kening Kaori yang telah masuk ke alam bawah sadarnya.
Shun segera masuk ke kamar mandi guna membasuh tubuhnya yang terasa tidak nyaman. Ia berkeringat meski AC telah dinyalakan. Udara di sini terasa sedikit pengap, sungguh berbeda dengan kesehariannya di Jepang yang cenderung lebih dingin.
-Tokyo, Jepang-
Di saat Kaori dan Shun menikmati liburan bulan madu mereka di Thailand, di belahan bumi yang lainnya justru tengah terjadi perang dingin. Aira mendiamkan suaminya, Yamazaki Kenzo.
Pria itu mengakui perbuatan liciknya, memberikan obat untuk memperkuat rahim agar istrinya bisa segera hamil lagi. Padahal masa nifas Aira baru saja selesai beberapa hari yang lalu. Entah apa yang Ken pikirkan, dia terobsesi pada perut istrinya yang membuncit. Aneh.
"Sayang, maafkan aku." Ken berbicara pada istrinya yang kini sibuk masak di dapur. Seorang asisten rumah tangga yang tengah membantu Aira menjadi canggung. Dia mundur beberapa langkah saat Ken terus saja mengekor, ikut melangkah kemanapun ibu tiga anak itu pergi.
"Lepaskan tanganmu! Menjauh dariku sekarang juga!" ketus Aira. Ia mengucapkan dua kalimat itu dengan nada dingin dan tajam. Ia belum bisa memaafkan suaminya yang lagi-lagi bertingkah di luar nalar. Ada-ada saja. Tidak bisakah dia bersikap normal layaknya suami-suami lain di luar sana.
"Sayang," bisik Ken.
"Lepaskan dalam tiga hitungan! Satu... " Aira sungguh harus membuat pria ini menjauh. Bagaimana bisa ia menyelesaikan masakannya jika Ken terus menempel padanya?
Ken tetap memeluk Aira, justru semakin mempererat jalinan tangannya yang ada di depan perut Aira.
"Dua... "
Ken menggelengkan kepalanya, persis seperti anak kecil yang tengah merajuk pada ibunya.
"Lepas atau tidur di luar!" ucap Aira dengan penekanan di setiap kata yang terlontar dari mulutnya.
Ken terhenyak dan segera melepaskan tangannya, membebaskan tubuh Aira. Dia tidak ingin tidur di luar malam ini.
"Baiklah. Aku lepas." Ken segera menjauh dari istrinya. Ia tahu tabiat wanita Indonesia ini, jika ia terus bersikeras maka monster di dalam Aira akan murka. Jika itu terjadi, batinnya akan terus tersiksa. Bukan hanya tidur di luar saja, Aira mungkin akan mengusirnya dari rumah ini. Kalaupun tidak diusir, maka Aira yang akan pergi ke rumah kakek di Yamazaki. Ken tidak ingin hal itu terjadi lagi. Ia harus menuruti kemauan istrinya, ibu dari ketiga anaknya.
Ken duduk manis di meja makan, mengamati istrinya yang masih sibuk dengan berbagai olahan masakan di depannya. Ia tersenyum, menyadari betapa sempurna pendamping hidupnya ini. Aira adalah wanita yang penuh perhatian dan memiliki hati yang lembut. Dia bahkan menguasai berbagai senjata tajam dan bahan peledak.
Jangan lupakan kemampuannya sebagai seorang hacker yang tak tertandingi. Dia bisa meretas data apa saja, menembus pertahanan siapa saja tanpa pandang bulu. Ken sangat mengagumi kemampuan istimewa ini. Pengalamannya sebagai salah satu agen Pasukan Khusus Rajawali sungguh mengagumkan.
__ADS_1
Hanya satu kekurangan Aira di mata Ken, dia cepat marah. Jika ada seseorang yang melakukan kesalahan fatal di mata Aira, maka dia tidak akan segan-segan menunjukkan ketidakcocokannya. Jika itu musuhnya, maka Aira akan mencabik-cabik mereka sampai tak berbentuk.
Dan Ken selalu bertekuk lutut, tak bisa membantah apa saja titah wanita pemilik hatinya ini. Bahkan jika Aira ingin nyawanya sekalipun, maka Ken akan memberikannya. Semua itu karena janjinya yang akan membahagiakan Aira apapun yang terjadi. Ken merasa sangat bersalah karena sudah membuat Aira begitu menderita di awal-awal pernikahan mereka. Ia dengan bodoh memperlakukan Aira dengan buruk, mencambuknya, mengikatnya tangannya, bersikap kasar di ranjang dan membuatnya pingsan beberapa kali.
Belum lagi racun bisa ular yang terpaksa membuat Aira koma dan membahayakan kandungannya, semua itu adalah kesalahannya. Jika saja Ken lebih berhati-hati dan memperlakukan Aira dengan baik, maka wanita itu tidak akan mengalami hal-hal menyakitkan. Tapi, ibarat pepatah lama : nasi sudah menjadi bubur, semua sudah berlalu. Ken tidak bisa merubah masa lalu mereka. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah membahagiakan istrinya ini, tidak membuatnya menderita lagi. Bahkan satu bulir air mata saja tidak akan Ken biarkan luruh di pipi istrinya. Ya, Ken sudah bertekad untuk membahagiakan Aira dan buah cinta mereka.
Ctakk
Suara perpaduan mangkuk dengan meja kaca di bawahnya membuat lamunan Ken terhenti. Kesadarannya terpaksa ditarik keluar dari dunia paralel yang mengungkungnya beberapa detik terakhir.
"Itadakimasu," ucap Aira setelah membaca doa makan dalam hati. Ia melahap hidangan di depannya tanpa mempedulikan pandangan Ken. Pria itu terharu karena Aira masih tetap menyajikan makanan untuknya meski dia sedang marah.
(Selamat makan)
"Terima kasih," ucap Ken.
"Hmm," gumam Aira sembari meletakkan sepotong chicken katsu ke atas mangkuk nasi yang ada di depan Ken.
Ken segera memakan santap malamnya dengan hati gembira. Ia tahu Aira akan tetap bersikap baik padanya meski ia sudah melakukan kesalahan fatal. Wanita ini tahu apa yang harus ia lakukan untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri, salah satunya menyiapkan makan malam untuknya seperti sekarang ini.
"Buka mulutmu." Aira menyuapkan satu sendok berisi sup hangat ke depan mulut suaminya. Ia berniat menjahili suaminya yang sudah membuatnya kesal ini.
Ken membuka mulutnya, bersiap menerima suapan dari Aira. Tapi bukan Aira namanya jika ia tidak jahil. Tepat setelah ujung sendok itu menempel di bibir Ken, Aira justru segera menarik benda cekung itu menjauh. Ia memasukkan sendok di tangannya ke mulutnya sendiri, menyisakan mulut Ken yang terkatup tanpa menelan apapun.
"Hahaha, lucu sekali wajahmu." Aira tertawa melihat ekspresi Ken yang terhenyak di tempat duduknya. Pria itu baru saja merasakan bahagia yang tak terkira saat melihat Aira menyuapinya, seolah ia terbang ke awang-awang dengan perlakuan istrinya ini. Namun detik berikutnya, ia justru dihempaskan ke jurang, benar-benar menyakitkan.
Ken sungguh heran dengan istrinya ini. Namun satu hal yang pria itu sadari, ia melihat istrinya tersenyum, bahkan tertawa. Itu artinya kemarahannya sudah mereda. Ia bisa segera mendapatkan haknya sebagai seorang suami setelah dua bulan ini berpuasa. Pasang surut kehidupan rumah tangganya sungguh membuatnya semakin mencintai wanita di depannya ini.
"Ai-chan," panggil Ken lirih. Ia menahan lengan Aira, membuat wanita itu menghentikan tawanya. Ia menolehkan kepala demi menatap wajah Ken yang kini menatapnya dalam-dalam.
Cup
Ken mencium bibir istrinya dengan lembut, menyalurkan seluruh perasaan cintanya. Ken bahkan menahan tengkuk Aira, mencegah wanita itu agar tak bisa menjauh darinya sedikitpun. Aira terhenyak dengan mata membola. Jantungnya seolah siap terlepas dari tempatnya, begitu terkejut atas dominasi suaminya kali ini.
Ken menggigit bibir bawah istrinya. Dia seperti serigala kelaparan, menahan mangsanya dan tidak ingin melepaskannya sama sekali. Satu tangannya meraih pinggang Aira, menariknya dalam sekali sentakan, membuat mereka tak lagi berjarak.
Aira berusaha melepaskan diri dari Ken, namun agaknya usahanya kali ini sia-sia. Bukannya terlepas, Ken justru membawanya semakin dekat. Entah sejak kapan Aira duduk di atas pangkuan Ken, membuat beberapa asisten yang ada di sana segera pergi. Mereka cukup tahu diri untuk tidak mengganggu privasi tuan dan puannya ini.
Plakk
Sebuah tepukan yang cukup keras mendarat di kepala Ken, berhasil membuat pagutan keduanya terlepas. Ken dan Aira segera menoleh demi melihat pemilik tangan yang sudah berani mengganggu kesenangan pasangan suami istri ini. Ah, lebih tepatnya kesenangan Ken, karena Aira tak membalas ciuman suaminya ini, justru ingin segera melepaskannya.
"Dasar mesum!"
...****************...
Hwaaaaa.... Si Abang keganggu lagi dah 😂😂
Siapa yaa yang berani mukul kepala Ken? Haha, Author bahagia syekali kalo ada yang nindas bapaknya triplet ini 💃
__ADS_1
Maaf yaa baru bisa up. Sampai jumpa di episode berikutnya 😄😉
Hanazawa Easzy