
Jam digital di atas nakas menunjukkan tepat jam 12 malam, namun netra Mone masih terjaga. Ia tidak bisa melupakan kata-kata yang Yamaken ucapkan tiga hari yang lalu, saat dia menemuinya di apartemen manajer Yan.
"Mari kita menikah. Aku tidak sabar untuk melihatmu mengenakan gaun pengantin."
Buk buk buk
Mone menggerak-gerakkan kakinya di atas kasur. Tubuhnya tertelungkup ke bawah, menyembunyikan wajahnya. Dia senang tapi sekaligus malu. Akhirnya dia akan menikah dengan Yamaken dan bisa memiliki anak-anak yang lucu dan menggemaskan seperti Akari, Ayame, dan Azami.
Sudah sejak lama Mone mendambakan keluarga kecilnya kembali, seperti saat ibunya masih ada dulu. Dia akan menghabiskan waktu dengan ibunya di dapur, membuat berbagai kudapan manis dan kue-kue kering. Ah, lebih tepatnya dia mengganggu ibunya. Karena sejak kecil memang dia tidak suka memasal.
Selain itu, setiap akhir pekan, ayah akan mengajaknya pergi ke taman bermain. Mereka akan menghabiskan waktu bersama, menaiki komidi putar dan wahana lainnya yang menyenangkan. Benar-benar keluarga yang sempurna.
Namun, kebahagiaan itu terenggut begitu saja saat ibunya meninggal. Tanpa sakit, ibunya ditemukan tewas di dalam kamarnya. Mone yang saat itu masih kecil, tidak tahu apa yang terjadi. Dan hari-harinya kemudian hanya ditemani Sang Ayah. Kesibukannya di kantor membuat Mone kesepian, ditinggalkan beraama pengasuhnya di rumah.
"Bukankah itu sudah berlalu? Jangan rusak kebahagiaanmu dengan cerita sedih itu lagi!" Mone menghapus air matanya sendiri, berusaha melupakan cerita masa lalu yang tiba-tiba kembali ia ingat. Dia harus fokus pada masa depan, bukan masa lalu.
Dan sebentar lagi, dia akan menjadi seorang istri, calon ibu dari anak-anaknya dan Yamaken. Mone ingin memiliki keluarga yang harmonis, berbagi kebahagiaan satu sama lain. Dia akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat orang-orang tersayangnya tersenyum bahagia. Membayangkannya saja sudah membuat hati gadis 20 tahun ini berbunga-bunga. Sungguh luar biasa.
"Apa yang membuatmu begitu bahagia?" Suara Aira membuat Mone terkejut dan langsung mengambil posisi duduk.
"Kakak?!"
Grep
Gadis chubby itu langsung memeluk kakak sepupunya, menyalurkan kebahagiaan yang kini memenuhi hatinya. Ini pertama kalinya dia bertemu lagi dengan Aira setelah Yamaken mengajaknya menikah.
"Ada apa? Kenapa kamu belum tidur?" tanya Aira, melepas pelukan gadis mungil ini. Dia menatap manik mata Mone dalam-dalam, mencoba mencari tahu apa yang terlihat di sana. Ada gurat bahagia yang tak terkira. Baru kali ini Aira melihatnya.
"Apa kakak tahu apa yang terjadi padaku?"
Aira mengerutkan kening, kemudian menggelengkan kepala. Dia bukan cenayang yang bisa membaca garis tangan gadis ini. Mana dia tahu apa yanh terjadi.
"Aku lihat lampu kamarmu masih menyala tengah malam begini, jadi aku datang. Mungkin kamu terlelap dan lupa tidak mematikannnya. Dan ternyata kamu belum tidur."
Mone kembali menunjukkan senyum terbaiknya. Deretan giginya terlihat di sebelah gigi kelincinya.
Ckiit
"Hey, ada apa? Kamu membuatku penasaran." Aira mencubit pipi chubby di depannya dengan gemas. Membuat Si Empunya meringis, satu detik kemudian.
__ADS_1
Mone menunjukkan jari manisnya. "Kami akan menikah."
Aira mengerutkan keningnya, tak lantas percaya pada pernyataan adiknya ini. Dia tahu cincin itu pemberian Yamaken, tapi bukan cincin lamaran sama sekali. Bahkan mungkin Yamaken belum melamar Mone secara resmi.
"Kami akan menikah, Kak." Mone mengulangi perkataannya.
"Ayolah. Jangan berkhayal." Aira kembali mencubit pipi gadis ini.
"Sungguh. Kami akan menikah. Dia sudah melamarku tiga hari yang lalu. Ah, lebih tepatnya aku yang mengajaknya lebih dulu. Besok kami akan mencari cincin pertunangan."
"Tunggu. Tunggu," cegah Aira. "Kalian akan menikah?"
"Umm." Mone mengangguk mantap, yakin sekali dengan jawabannya.
"Dan kalian belum bertunangan secara resmi?"
Seketika senyum di wajah Mone menguap. Dia terlalu bahagia sampai tidak menyadari fakta yang satu itu. Apa dia terlalu bodoh?
Melihat gelagat yang adiknya tunjukkan, Aira menyadari bahwa tebakannya benar. Tepat sasaran. Yamaken dan Mone belum bertunangan.
"Cincin yang ini, hanya tanda mata darinya sepulang dari China. Dia memberikan ini sebagai oleh-oleh, 'kan?"
"Kalian sudah meminta izin kakek, ayah, dan ibu?"
Pertanyaan Aira hanya dijawab dengan gelengan kepala. Baik dia maupun Yamaken belum memikirkan persetujuan orang-orang tua itu.
Aira mengembuskan napas beratnya. Mone dan Yamaken melupakan satu poin penting, restu kakek. Tanpa persetujuan darinya, pertunangan ini tidak akan terjadi.
"Dan satu hal lagi, Yamaken itu selebriti. Ada begitu banyak penggemarnya. Bahkan dia mendapat julukan husbu sejuta umat. Kamu tahu maksudnya, 'kan? Suami idaman seluruh wanita di dunia, tua, muda, Asia, Eropa, bahkan mungkin sampai Afrika." Aira menjabarkan pemikirannya.
"Kamu harus siap menghadapi fans-fansnya yang menggila. Bahkan beberapa penggemar fanatik bisa saja berniat mencelakaimu, berharap hubungan kalian berakhir. Sekali kalian mengungkapkan hubungan kalian di depan media, maka seluruh dunia akan mengenalmu. Dan jangan salahkan Yamaken atas hal itu, dia juga tidak akan bisa mengendalikannya."
Mone bungkam. Dia tahu apa yang Aira katakan ini tidak salah. Yamaken mungkin berusaha melindunginya, tapi cepat atau lambat pasti media akan mengenalinya juga.
"Kalian harus memikirkannya dengan matang. Mungkin ada baiknya jika pertunangan kalian tidak diungkap ke publik. Itu demi keselamatanmu sendiri."
Mone mengangguk, setuju dengan saran kakak sepupunya.
"Dan sebelum itu, kalian harus menghadap kakek. Itu sungguh kunci berhasil tidaknya rencana kalian."
__ADS_1
"Apa kakak bisa membantuku?" tanya Mone penuh harap. Dia tahu bahwa Aira menjadi kesayangan kakek saat ini. Besar kemungkinan pria lanjut usia itu akan melunak jika Aira ikut berbicara.
"Tidak. Aku tidak akan membantu kalian."
Mone mematap Aira dengan gurat kecewa.
"Ini saatnya kalian menunjukkan kesungguhan di depan kakek. Sudah pernah aku peringatkan sebelumnya, kamu harus hati-hati di depannya. Beliau memiliki mata di seluruh dunia. Apa yang tidak orang lain ketahui, bisa beliau lihat dengan mudah. Bahkan mungkin kakek memiliki mata tembus pandang. Jangankan melihat secara fisik, menilai kepribadian seseorang hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja."
Mone kembali menundukkan kepala.
"Hey, tapi bukan berarti ini menjadi tidak mungkin." Aira mengangkat dagu adiknya. "Jadilah dirimu sendiri. Tunjukkan ketulusan hatimu untuk Yamaken, pasti kakek akan memihakmu. Jika sudah mengantongi izin darinya, ayah dan ibu tidak akan berani menentangnya."
"Dan satu lagi, putuskan hubunganmu dengan dokter itu. Bahkan jangan membalas pesannya sekalipun itu tentang pekerjaan. Kamu sudah resign, ya sudah. Tidak ada alasan agar kalian bisa tetap berkirim pesan satu sama lain. Itu akan menjadi ancaman besar. Kita tidak tahu apa yang akan kakek lakukan jika beliau berpikir kamu menduakan cucunya."
Mone mengingat tragedi foto mesranya dengan dokter pria itu yang ibu tunjukkan. Jika ibu saja bisa tahu, bukankah kakek pasti juga mengetahuinya dengan mudah?
"Perbaiki hatimu. Keluarkan siapapun itu yang ada di sana. Kamu hanya boleh mengisinya dengan Yamaken, bukan orang lain. Meskipun dia bukan pencemburu seperti saudara kembarnya, tapi dia tetaplah seorang pria. Dia tidak ingin membagi wanitanya dengan siapapun. Apa kamu bisa menangkap apa yang aku sampaikan?" tanya Aira setelah penuturan panjang lebar yang ia sampaikan pada gadis ini.
"Aku tahu."
Aira tersenyum, mengelus kepala gadis di hadapannya.
"Sekarang istirahatlah. Kakek akan datang kemari besok siang. Bahkan dia mengatakan akan menginap di sini. Kalian bisa berbicara padanya secara pribadi. Pastikan beliau melihat ketulusan yang ada di hatimu."
Mone mengangguk. Dia menyembunyikan tubuh mungilnya di balik selimut.
"Oyasuminasai, Mone-chan."
(Selamat tidur/istirahat)
"Oyasumi," jawab Mone lirih.
Aira beranjak dari duduknya, meninggalkan gadis muda ini seorang diri. Dia tersenyum karena bisa memberikan pendampingan pada adiknya, memberikan nasihat yang akan berguna bagi hubungan gadis ini dengan adik iparnya.
...****************...
See you next episode,
Hanazawa Easzy
__ADS_1