
Keringat dingin semakin banyak membanjiri wajah Aira. Tubuh mungilnya kembali bergetar hebat membuat Ken menangkap jemari istrinya yang berusaha menutup telinganya dari bayangan suara Shun yang terdengar sangat menjijikkan di telinganya.
"Ai-chan... Tenanglah." ucap Ken sembari membawa istrinya dalam pelukan.
Matahari naik sepenggalah saat mobil yang dikendarai Minami terhenti karena lampu merah. Beberapa kendaraan lain tampak mengantri di belakangnya. Minami melihat nona-nya yang mulai tampak tenang dalam dekapan Ken.
"Aku akan meminta Kosuke membatalkan jadwal penerbangan besok. Perjanjian itu juga akan ku batalkan, tidak peduli berapa yang harus ku bayar padanya. Tidak akan ada yang pergi, entah itu Yoshiro atau Yu. Lupakan saja kejadian hari ini, anggap kita tidak pernah bertemu dengan orang itu." ucap Ken seraya menatap manik hitam Aira yang tampak lelah. Ken menempelkan keningnya pada Aira, meminta istrinya percaya pada semua rencana yang ada di kepalanya.
"Kita pulang yaa..." lirih Ken sambil mendekatkan wajah berusaha mengecup pipi istrinya, tapi Aira justru memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia melepaskan diri dari tautan Ken dan menjauh ke sisi lain kursi yang ia duduki.
"Gomen.." ucap Ken lirih. Ia tahu Aira masih trauma dengan perlakuan Shun sebelumnya.
(Maaf)
Hening
Aira diam tak bergeming. Netranya menatap ke luar dengan jemari bertaut. Tangannya masih sedikit bergetar, tapi nafasnya mulai teratur. Ia pasti berusaha mati-matian agar tetap kuat dan tidak menangis. Atau Ken benar-benar akan membantai orang itu jika sebulir air mata Aira sampai terjatuh lagi di pipinya.
Ken dengan sigap membukakan pintu untuk Aira. Mereka berjalan bersisian menuju lift yang akan membawa keduanya naik ke lantai 7, tempat dimana apartemen Ken berada.
Drrtt drrtt
Sebuah panggilan masuk ke ponsel Ken yang tersimpan di saku jaket hitam yang melekat di tubuhnya. Tertera nama Kosuke disana.
"Semua dokumen yang nona minta sudah lengkap. Saya akan sampai di kediaman Oguri-san 5 menit lagi." ucapnya.
"Tidak perlu. Datang ke apartemenku sekarang juga. Ada hal penting yang harus aku katakan padamu tentang orang itu." jawab Ken datar. Ia malas mendengar atau menyebut namanya. Dan tentang pembatalan perjanjian dengan orang itu, ia harus membahasnya dulu dengan Kosuke. Mengantisipasi penolakan Shun dengan segala trik liciknya.
Ting
Pintu lift terbuka, membiarkan Ken dan Aira melewatinya. Di belakangnya Minami mengikuti tanpa tapi, ia harus selalu ada di sisi Aira sepanjang waktu. Dia menyesal karena tidak tahu apapun yang terjadi di kediaman Shun karena Ken memintanya tinggal di luar.
"Apa kamu lapar? Aku akan membuatkan sesuatu untukmu." Ken menatap istrinya yang tertinggal satu langkah di belakangnya.
Aira hanya menggelengkan kepala. Ia masuk ke kamar dan langsung menuju kamar mandinya. Ia ingin membersihkan tubuhnya yang terasa menjijikkan setelah mendapat serangan tak terduga dari Shun. Menghilangkan semua aroma pria itu yang menempel di baju dan... bibirnya.
"Tuan muda, bisakah Anda mengatakan apa yang terjadi dengan nona?" tanya Minami hati-hati.
Ken memejamkan matanya sekilas, mengatur emosi.
"Senior berbuat tidak senonoh pada istriku. Dia menciumnya dengan paksa dan membuatnya ketakutan." jawab Ken singkat.
Minami membulatkan mulutnya kemudian menunduk dalam, "Maaf, saya tidak bisa menjaga nona dengan baik." ucapnya merasa bersalah.
"Tidak, itu bukan salahmu. Aku yang terlalu ceroboh membiarkannya menemui senior seorang diri." jawab Ken mengakui kesalahannya.
Minami mengangkat sedikit kepalanya, menatap Ken yang kini berjalan menuju dapur. Sepertinya ia akan masak sesuatu untuk Aira karena sebentar lagi jam makan siang tiba.
__ADS_1
"Tolong bantu Aira membersihkan diri. Dia masih sedikit trauma, aku harus sedikit menjaga jarak sampai dia tenang kembali." pinta Ken.
"Baik." jawab Minami lugas.
Tok tok tok
Minami mengetuk pintu kamar Aira tapi tak ada jawaban apapun. Minami mengetukny sekali lagi namun tetap tak ada jawaban.
"Nona, saya akan masuk sekarang." Minami mulai membuka pintu berwarna putih di depannya. Netranya menatap sekeliling kamar namun tak mendapati siapapun disana, hanya gemericik air dari shower yang terdengar samar. Tertutup pintu kayu berwarna coklat.
Satu jam berlalu namun belum ada tanda-tanda Aira selesai dengan ritual mandinya. Ini terasa sedikit janggal, namun Minami tak berani mengganggu Aira. Mungkin nona-nya itu sedang berendam di bath tube untuk menenangkan diri.
Tepat saat itu Ken masuk, "Dia masih di dalam?" tanyanya penasaran. Minami hanya bisa mengangguk.
Seketika Ken merasa khawatir, ia mengetuk pintu kamar mandi di depannya tapi tak ada jawaban dari Aira. Hanya suara gemericik air yang terdengar.
BRAKK
Ken merangsek masuk dan mendapati Aira sedang menggigil di bawah guyuran shower dengan memeluk lutut. Ia menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya agar tak terlihat oleh siapapun. Ia membasahi tubuhnya yang masih berbalut palto krem yang dipakainya sejak di penginapan pagi ini.
"Ai-chan.." Ken segera mendekat dan mematikan saluran shower di depannya. Dengan sigap ia menarik handuk dan mengeringkan tubuh istrinya yang basah sempurna.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu bodoh?" tanya Ken spontan. Ia melepaskan pakaian Aira satu per satu dan memakaikan kimono mandi yang Minami ulurkan padanya.
"Aku akan membunuh orang itu jika terjadi sesuatu yang buruk denganmu!!" Ken menggendong Aira keluar dari kamar mandi dan meletakkannya di ranjang. Minami keluar dari kamar, memberikan privasi untuk kedua atasannya.
Ken tidak tega melihat kondisi psikis istrinya yang masih belum stabil. Ia menggenggam jemari mungil itu dengan erat.
"Aku akan menghapus semua jejaknya di tubuhmu. Mulai sekarang, hanya pikirkan keberadaanku. Aku akan selalu ada untukmu, dimanapun dan kapanpun itu." Ken mulai mencium kening Aira dengan lembut selama beberapa detik.
"Bolehkah?" tanyanya meminta izin.
Aira tak menjawab, tapi juga tak menolak. Ia terlalu takut sampai tidak bisa berpikir jernih.
"Aku akan menghapusnya secara perlahan. Jangan takut." ucap Ken sambil menempelkan keningnya. Belakangan ini, ia sangat sering melakukan hal itu pada Aira, ada ketenangan tersendiri saat ia bisa menatap Aira seintens ini. Kening mereka saling menempel, menegaskan bahwa pemikiran mereka akan menyatu.
"Ai-chan.. I love you." Ken mencium hidung Aira singkat sebelum bibirnya mendarat di mata bulat Aira yang sembab karena air mata.
Perlahan ia semakin mengetatkan jalinan tangan mereka, memberikan isyarat pada Aira bahwa mereka akan melangkah lebih jauh lagi.
"Kau siap?" bisik Ken di telinga Aira yang hanya dijawab dengan anggukan. Ken tersenyum dan menciumi jemari istrinya yang tertahan di samping kepalanya. Ia melakukan tugasnya sebagai seorang suami, memberikan ketenangan lahir dan batin untuk istrinya.
Aira menahan nafas mendapat perlakuan manis dari suaminya. Perlahan bayangan Shun yang telah menodainya menghilang, tergantikan oleh aroma tubuh dan memori indah yang Ken ciptakan dengan sengaja. Kali ini Ken bersikap sangat lembut padanya, membuatnya lupa akan semua kesedihan yang ia rasakan sebelumnya.
*******
Aira sedang membersihkan diri di kamar mandi saat Minami dengan sigap mempersiapkan pakaian untuknya. Sebuah dress maxi lengan panjang warna navy dan manset hitam untuk melindungi tubuh nona-nya dari udara dingin. Tak lupa sebuah ikat pinggang mungil berwarna coklat ia pilih sebagai pelengkapnya.
__ADS_1
Aira keluar dari kamarnya dua puluh menit kemudian diikuti Minami di belakangnya. Hari beranjak sore, terlihat dari mentari yang mulai kembali ke peraduan dari singgasana tertingginya siang tadi.
"Ai-chan..." panggil Ken spontan, terpana dengan penampilan istrinya yang tampak cantik dengan balutan gaun simpel buatan salah satu designer Indonesia itu. Gaun double layer itu berkibar saat Aira berjalan mendekat.
Ken meletakkan berkas di tangannya dan datang menghampiri istrinya. Ia meraih puncak kepala istrinya yang tertutup jilbab pashmina dan menciumnya singkat.
"Kamu cantik." puji Ken.
"Aku lapar." ucap Aira lirih mengalihkan pembicaraan. Ia menundukkan wajahnya karena malu. Setelah penyatuan mereka siang tadi, Aira tertidur sampai 2 jam kemudian. Saat terbangun Ken tidak ada di sisinya, hanya ada Minami yang tersenyum ramah padanya.
"Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, tapi sepertinya sudah dingin. Aku panaskan sebentar ya." ucap Ken bersiap pergi.
"Tidak usah, kita langsung makan saja. Kami sudah kelaparan." jawab Aira sambil mengelus perutnya yang kini memasuki usia kehamilan 9 minggu.
Ken tersenyum dan langsung mencium perut Aira yang tertutup dress yang dipakainya.
"Daddy akan siapkan makanan untukmu. Tunggu sebentar yaa," ucapnya sambil mengelus perut istrinya sebelum beralih ke meja makan. Senyum manis terus bertahta di wajah putihnya membuat Minami dan Kosuke ikut tersenyum.
"Ah Kosuke-Minami, aku menantikan jagoan kalian." tantangnya sambil menatap kedua asisten pribadinya. Alisnya terangkat menantikan jawaban dari dua orang yang kini saling pandang. Wajah Minami memerah seluruhnya, sementara Kosuke menatap ke arah lain sambil melonggarkan dasinya yang terasa mencekik leher. Kelakuan Ken benar-benar diluar dugaan, membuat Aira tergelitik.
'Memangnya siapa yang mengganggu bulan madu kami?' gerutu Kosuke dalam hatinya.
*******
Author senyum-senyum sendiri bayangin adegan sweet merekaaa 😍
Aaaaaaaaaaa...... pengen teriak rasanya 😂😂
Antara ketik atau skip adegan dewasanya, author masih polos belum bermotif jadi ngga tau gimana gambarinnya. Takut aneh jadi skip aja deh.. Eh tapi nanggung banget, gantung gitu,
Ketik
Skip
Ketik
Skip
Akhirnya skip juga deh.. Ahahaha gomen ne kalo ngga memuaskan, banyak kekurangan, ada typo atau apapun itu. Kemampuan author masih sebatas itu 😋
Ditunggu like, komen & vote kalian yaa 😉
Jaa mata ne, sampai jumpa di episode berikutnya...
Hanazawa easzy ♡
__ADS_1